KETIKA BUKU MENJADI TAHANAN TEKNOLOGI

Oleh : Hamzah Ali Ahmadi

Santri Khatamun Nabiyyin

Dengan adanya teknologi dapat mempermudah segalanya, akan tetapi ketika kita sudah terjerumus lebih dalam yang terjadi adalah kita menjadi seorang tahanan dari ciptaan kita sendiri.

Contohnya seperti membaca buku, yang tadi nya berbentuk kertas tapi saat ini sudah sedikit sekali minat terhadap buku tersebut. Seolah-olah buku bukan lagi sesuatu yang menyenangkan, kini teknologi memang sangat unggul dibandingkan dengan tumpukan kertas yang penuh dengan makna.

Bukan hanya buku yang saat ini terorganisir, bahkan manusiapun akan tergantikan oleh teknologi yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Jepang, yaa mereka sudah memulai membuat sebuah robot untuk mempermudah pekerjaan manusia. Padahal sejak kecil kita diajarkan melalui buku-buku, akan tetapi ketika kita mulai besar akan ada yang nama nya rasa malas untuk membaca buku dan kita lebih memilih teknologi tersebut.

Namun, ada sebagian dari kita terus mengembangkan membaca buku untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Mereka selalu berusaha untuk mengangkat dan membebaskan buku dari tahanan teknologi ini.

Memang kita butuh teknologi, akan tetapi ketika kita sudah terjerumus terlalu dalam, maka yang tadi nya semangat untuk membeli buku dan membacanya.

Albert enstein pun tidak akan bisa jadi seorang penemu tanpa membaca buku, Ibnu sina tidak akan bisa jadi seorang yang pandai tanpa membaca buku, Aristoteles, Plato, Al- Farabi, Ulama-ulama terdahulu pun mereka awalnya dari membaca buku-buku. Karena buku adalah jembatan ilmu untuk kita semua.

SEKOLAH PARENTING (SIAP MENJADI ORANG TUA MILLENNIAL)

(MUNIF CHATIB)

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Di amerika serikat ada rumah yang menyediakan lemari besar, isinya hanya mainan anak saja, mereka sadar betul pendidikan anak berpengaruh pada pola perilaku dan peradaban nantinya. Penyakit modern hari ini abad digital hilangnya kepekaan sosial, hubungan silaturahmi hanya ada pada status saja dan aplikasi. Tantangan abad ke 21 ini juga harus diperhatikan oleh orang tua dalam mendidik anak, sayyidina Ali berkata: “didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”.

Ciri abad ke 21 adalah Multitasking, multimedia, online, online info searching, video visual information, hyper competitor, rapid change. Tujuh ciri menggambarkan zaman digital, terkadang orang menyebutnya sebagai Zaman edan, artinya zaman anak kita lebih berat ketimbang zaman kita dahulu. Hampir semua sisi kehidupan tersedot ke kotak hitam itu. Jaringan networking terbuka, manusia ikut membludak, semuanya terhubung lintas wilayah, cara bersosialisasi pun dengan cara online, bahkan mencari informasi apapun ada pada google.

Dengan demikian, ada beberapa penelitian tentang pola laku siswa, masalah utama yang dilaporkan oleh guru pada tahun 1940 an itu hanya sekedar berbuat gaduh, berlarian, mengunyah permen karet, lalai mengerjakan tugas, melanggar pakaian. Lihat Sekarang kenakalan anak siswa, mengonsumsi obat obatan terlarang, penyalahgunaan alkohol, kehamilan, bunuh diri, pemerkosaan, perampokan, tawuran. Sekelumit bukti ini adalah tantangan zaman now lebih berat ketimbang zaman old.

Lalu, Sekarang apakah betul Ali dan Fathimah adalah orang tua millenial mampu menembus zaman sampai hari ini dan masa depan ? seperti kata Ali: didiklah anakmu sesuai dengan zamannya ? ada tiga bab besar dan penting untuk difahami orang tua milenial. Pertama, Paradigma (benar dalam mendidik anak). Kedua, Pola asuh (sesuai dengan usia perkembangan). Terakhir, bakat dan minat (anak selalu dipantik dan didukung).

Kita mulai dari pertama tentang PARADIGMA, Balada bik nih, demikian sebutannya, sebuah cerita tentang doktor PAUD, dan bapak munif chatib diundang hadir untuk memberikan materi tentang pendidikan anak. Pak munif berkata “Saya tahu kalian punya anak, sekarang saya mau tanya, tolong jawab jujur. Anda ingin jadi apa anak kalian ?” semua jawabannya beda beda enam doktor ini. Kesimpulannya isi kepala orang tua ingin dikeluarkan lalu dimasukan ke otak anaknya.

Anakmu bukanlah kamu, biarkan kita sendiri membiarkan mereka berkembang sesuai dengan bakatnya. Tumbuh kembang menjadi remaja sampai dewasa, dan akhirnya sukses. Namun, perjalanan sukses itu tidak semudah itu. Terkadang ada anak lahir dengan tanda autisme ada problem secara otak, jiwa, ada juga problem fisik.

Balada ahmad orang sukabumi menjadi orang tuanya manusia dalam buku Munif Chatib, orang tua ahmad adalah teman SMA. Bertemu dengan temannya yang dulu nakal menjadi alim sekarang. Ada anaknya ahmad di kursi roda, temannya dulu waktu kuliah nakal, saat menikah nakal, sampai punya anak juga nakal, namun ketika lahir ahmad yang hanya duduk di kursi roda dan tidak bisa berucap satu kata pun, saya dan istri menjadikan ahmad sebagai guru yang membimbing saya dekat dengan Allah. Dengan keterbatasan anak saya ahmad mengajarkanku bagaimana menjadi orang tua yang baik. Jadi, apapun kondisi anak kalian, mereka tetap bintang.

Jangan menilai anak dari satu sisi, kemudian dikatakan hebat. Padahal tidak melihat dari sisi lain, mungkin satu sisi dia hebat matametika, hebat bengkel mekanika, cerdas, hafal al-qur’an, dan sebagainya. Namun jarang sekali orang tua melihat anak dari influence effect membawa pengaruh kepada orang lain. Kecerdasan yang dimiliki oleh anak hanya sebatas individual dan tidak membawa pengaruh kepada yang lainnya. Ahmad, dalam keterbatasannya hanya duduk di kursi roda memiliki kecerdasan merubah orang lain menjadi baik, dan itu disebut sebagai influence intelgencia.

Kita semua yakin dalam keyakina bahwa sayyidina Hasan dan Husain ketika dilahirkan pasti mendapatkan pola pendidikan yang sangat ampuh dan sempurna, kakeknya Muhammad berkata, cucu saya akan menjadi pemimpin seperti ayah dan kakeknya. Kenapa ? karena sayyidah fathimah Ketika mengandung, beliau memperlakukan janinnya dengan komunikasi dan bercerita dengannya, dan kerennya, sudah ada alat komunikasi dari orang barat tentang itu, ternyata khadijah juga melakukan itu waktu mengandung fathimah.

Kemudian lakukan discovery ability (menjelajah kemampuan anak) pada anak anda. Sebutkan kelebihan anak anda. Dalam sosio eksperiment. Ibu yang menilai anaknya, dan anak menilai ibunya terjadi perbedaan signifikan. Ibu menilai anaknya terkadang rendah berkisar sampai 7,8,9 tidak pernah sampai nilai 10. Tapi anak disaat menilai ibunya malah semuanya memberikan nilai 10. Orang tua terkadang tidak sepenuhnya menilai anaknya pad sisi kemampuannya, sehingga tidak pernah memberikan nilai sempurna. Jelajahi kemampuan anak dan dukung, serta lihat ketidakmampunnya dan atasi.

Positive karakter, seperti gunung es, dibawah samudra ada tiga lapisan. Yang kelihatan sangat kecil di permukaan, itu adalah alam sadar, selebihnya adalah alam bawah sadar. Jika karakter ini selalu diberikan kata kata positif atau disebut crystalyzing eksperience, akan membentuk karakter yang baik juga dengan kata aku bisa, aku berani, aku hebat, akan menjadikan karakter anak menjadi kuat dan pemberani. Begitupun dengan nutrisi kata paralyzing eksperience, bahasa yang tidak baik seperti lemah, bodoh, jelek akan membentuk self image (cerminan diri) dan akhirnya sugesti terbawa sampai karakter selanjutnya dan berkata, “aku lemah, aku bodoh, aku jelek”.

Kedua pengalaman anak ini sangat jauh berbeda dan membawa pengaruh baik dan buruk terhadap perkembangan anak, akhirnya personality terbentuk dan menjadi kebiasaan, dan menjadi karakter yang susah disembuhkan. jika tidak disembuhkan dari awal, akan membentuk cangkang. Cangkang itu terdapat di alam bawah sadar paling bawah. Paradigma adalah anak kita bukanlah kita, semua anak kita adalah bintang, serta fokus pada kelebihan anak. Berikan crystalyzing eksperience agar membentuk karakter yang baik.

Kedua, tentang POLA ASUH ANAK. Imam ali membagi, tingkat perkembangan anak pada tiga bagian, pertama saat menjadi Raja, kedua, menjadi pembantu, dan ketiga menjadi wazir (mentri). Anak tujuh tahun pertama adalah seorang raja, memperlakukan semau maunya dan jangan pernah membentak dan merahinya, biarkan dia bebas bergerak dan berkreasi. Tujuh tahun kedua menjadi pembantu, siap bekerja sama dalam urusan apapun, dan tujuh tahun ketiga adalah mentri, setiap ada masalah sudah bisa menjadi teman diskusi untuk menyelesaikan masalah. Sudah dijelaskan oleh imam Ali bahwa Syarat tujuh tahun pertama berhasil akan tujuh tahun kedua berhasil. Ada anak yang salah pola tujuh tahun pertama, Akan mengalami diskomunikasi dnegan orang tua, dan cirinya selalu mengundur waktu jika ada perintah dari orang tua, dengan kata “iya ma… sebentar”.

Dalam islam perkembangan anak dibagi menjadi empat tahap. Yaitu Usia dini, usia baligh, remaja dan dewasa. Usia baligh luput dari penelitian barat, padahal disana adalah pintu gerbang untuk masuk ke ruang baik dan buruk bagi anak. Pola asuh harus kita fahami, bahwa dalam teori barat tidak ada masa akil baligh. Sementara banyak orang tidak merayakan masa akil baligh anak putra-putrinya. Bahkan ada orang tua memberikan hadiah, hadiahnya adalah kanvas putih kecil dan cat air warna. Dan berkata “Hari ini, lalu dan sekarang kamu adalah kanvas putih, setelah itu lukislah masa depanmu dengan warna apa yang kamu sukai” . Ibunya memberikan bunga mawar dan berkata “sebentar lagi anda jadi mawar dan jadikan durimu sebagai pelindungmu dari setiap kumbang yang datang.

Jadi, pertama Memahami usia perkembangan anak. Kedua, memahami kebutuhan anak sesuai usianya, memberikan pendidikan spritiual dan terakhir harus melek media. Suatu saat Jubah Rasulullah sering ditarik oleh anak anak. Untuk diajak bermain dan dijadikan unta atau kuda. Karena oleh rasul pernah menjadi kuda dan unta bermain bersama cucunya sayyidina hasan dan husain. Setelah itu rasul diberitahu oleh bilal untuk memimpin sholat jamaah di masjid, dan para sahabat sudah menunggu. Rasulullah tidak spontan menurunkan anak itu dari punggungnya, namun memberikan alternatif lain memberikan buah kenari segar untuk bisa lolos dari kejaran anak anak yang ingin bermain. Rasulullah tahu betul kebutuhan anak, mainan anak juga rasulullah tahu sehingga pola asuh Nabi kepada anak sangat lembut, serta memberikan alternatif permainan yang disenangi anak.

Pola asuh anak juga memperhatikan pendidikan Akhlak. Spritual akhlak al-karimah tidak akan lekang oleh waktu dan senatiasa relevan pada era apapun. Sayyidah fathimah mendidik anaknya pertama menunjukkan akhlak al-karimah. Sebab anak kecil pasti meniru, apakah bersifat Hablu mi An-nas, Hablu min Allah. Seperti fathimah, bekerja untuk orang sampai melepuh tangannya. Atau Rasulullah memberikan hadiah baju pengantin saat ingin menikah dengan imam Ali. Baju yang akan dipakai saat pengantin itu malah diberikan kepada pengemis. Setelah itu Rasul datang dan berkata aku telah berhasil mendidik mu wahai putriku. Berikan hartamu kepada orang lain dan hiduplah sederhana dan minimalis.

Generasi hari ini bisa kita lihat dalam enam bagian, pertama Builder pada tahun 1900-1945, kemudian Baby boomer 1946-1964, gen-X sekitar tahun 1965-1980, gen-Y tahun 1981-1994, gen-Z tahun 1995-2010, terakhir generasi Gen-A tahun 2011 sampai sekarang. Generasi akhir ini sering disebut generasi Alpha, yaitu tergantung pada empat tanda, pertama ketergantungan gadget, kedua, satu skill, obsesi pada produksi baru, dan obesitas. Semua ciri ini ditandai pada aktivitas anak yang bergelut dengan gadget. Bahayanya, gadget menimbulkan ketergantungan/adiktif bagi pemakainya.

Satu contoh, adiktif terhadap pornografi dan pengakses situs porno, 2009 indonesia ranking 3 dunia, juli 2010 sampai sekarang menempati ranking satu di dunia. Sumber berita dari koran jawa pos. Demikian strategi orang barat merusak moral generasi anak kita, mula mula membangun perpustakaan mental pornografi dengan memunculkan unsur pornografi pada setiap media. Kemudian menyebarkan penyakit otak adiktif pornografi pada anak kita. Akibatnya adalah menjadikan generasi pelanggang tetap mengakses situs pornografi.

Terkahir kita bicara Bab III yaitu “BAKAT DAN MINAT” bakat adalah Kemampuan khas, rasa suka jika terus dilakukan akan memunculkan kemampuan tertentu. Bakat adalah rasa suka yang tidak bisa dihalangi, rasa suka yang menjadikan pembelajar cepat ketika dipelajari. Sementara minat muncul dipengaruhi oleh lingkungan, bukan dari dalam dirinya. Gabungan dari keduanya antara bakat dan minat disebut Passion. Passion ditandai dengan profesional, profesional adalah dia berkarya di profesi dan mengatasi masalah juga pada profesinya. Jadi, Sekolah harus menjadi penumbuh bakat dan minat anak, bukan penjara yang mematikan bakat serta mengurung minat anak.

Tiga

bab pelajaran parenting ini perlu adanya ditopang dengan kekuatan akhlak untuk sukses seorang anak juga. Seperti yang diajarkan Fathimah Az-zahra membantu perjuangan ayahnya dari kekejaman masyarakat jahiliah. Juga, Ali bin abi thalib pemuda yang rela mati tidur di ranjang nabi untuk lolos dari kepungan musuh saat hijrah. Mush’ah bin umar, diplomat muda yang diutus rasul ke madinah sebelu hijrah. Itab bin usaid, gubernur mekkah pertama yan berusia 21 tahun setelah penaklukkan mekkah. Atau kesuksesan usamah bin zaid, panglima perang islam yang berusia 18 tahun untuk menyerang imperium romawi.

Jakarta, 4 Maret 2019

PEMIKIRAN FATHIMAH AZ-ZAHRA DALAM ASPEK EKONOMI

(Orasi Usman Saleh La Ede, SE)

By: Salman Al-Farisi

Santri Khatamun Nabiyyin

Pemikiran Sayyidan Fatimah dalam aspek ekonomi, tentunya ditandai dengan bentuk hadis ataupu teks yang lainnya. Namun sepertinya juga menemukan dalam bentuk praktis yang terjelmak dalam tindakan keseharian beliau. Kerangka seperti ini merupakan pemikiran yang dibangun untuk memahami posisi praktis Sayyidan Fatimah dalam aspek ekonomi.

Paling tidak, ada empat pembahasan dalam kajian ini, yang pertama adalah struktur pemikiran ekonomi islam. Kedua adalah Sayyidah Fatimah dalam permulaan sejarah islam. Ketiga, adalah peran Sayyidan Fatimah dalam kesejahteraan umat. Keempat adalah kontekstualisasi peran beliau dalam aspek ekonomi.

Kita mulai dari yang pertama, cenderung pada pembahasan struktur pemikiran ekonomi islam. Ada empat hal yang didiskusikan dalam pembahsan ekonomi Islam. Yang pertama adalah masalah distribusi faktor produksi, yang termasuk di dalamnya seperti mesin dan alat-alat lain lain yang bisa mendukung aktivitas ekonomi. Pada bagian ini kita tidak berbicara masalah uang, karena uang adalah pembahasan masalah pasca produksi. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang yang mana pembahasan pertama kali adalah tentang modal.

Inilah perbedaan antara ekonomi Islam dengan ilmu ekonomi Islam. ilmu ekonomi Islam akan banyak masuk dalam kerangka kajian Matematis Sedangkan ekonomi Islam berawal dari doktrin teologis seperti aqidah, fikih dan akhlak. Sementara ilmu ekonomi islam tidak bicara tentang akhlak dan akidah tapi murni fiqih muamalah.

Kedua adalah pembahasan tentang produksi, berbicara tentang pemanfaatan sumber daya bagi setiap orang dalam produksi. Lalu, dilanjut yang keempat yakni dengan distribusi pasca produksi. Tahap ini adalah penyaluran hasil-hasil yang bisa kita hasilkan agar bisa dikonsumsi oleh masyarakat secara luas. Itulah yang dimaksud dengan distribusi pasca produksi.

Kemudian yang terakhir berbicara tentang jaminan sosial. Pada bagian ini kita akan banyak membahas tentang Sayyidah Fatimah dalam persoalan-persoalan sosial yang dia hadapi dan ini adalah kerangka untuk memahami peran Sayyidah Fatimah dalam aspek ekonomi. Inilah yang dimaksud dengan jaminan sosial bagi umat islam. Kemudian distribusi pra-produksi. Pada pembahasan ini berbicara tentang kepemilikan yang terdiri dari tiga bentuk kepemilikan:

1. Kebijakan negara atas faktor produksi yang mana seluruh fasilitas-fasilitas produksi di bawab penguasaan Nabi Muhammad.
2. Kepemilikan publik atas faktor produksi, ini adalah fasilitas-fasilitas yang bisa dimanfaatkan oleh setiap individu dari masyarakat.
3. Kepemilikan individu atas faktor produksi, ini adalah apa-apa yang bisa dikonsumsi oleh individu karena. Karena individu hanya bisa mengonsumsi apa yang ia usahakan.

Selanjutnya berkaitan tentang pemanfaatan faktor produksi yang telah diberikan kepada setiap individu dalam masyarakat. Bagaimana masyarakat memanfaatkan fasilitas yang ada. Ini adalah fasilitas yang diberikan sebagai hak yang diberikan kepada masyarakat di bawah penguasaan kepemilikan masyarakat. Kemudian pemanfaatan itu akan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu, maka di dalamnya akan ada kegagalan dan akan ada keberhasilan. Ketika ada kegagalan maka akan berlaku jaminan sosial.

Berbicara tentang distribusi atau pasca produksi, artinya apa yang dihasilkan oleh rumah tangga perusahaan atau aktivitas ekonomi itu akan melalui proses pendistribusian. Maka di sinilah akan dibahas persoalan financial. Uang sebagai alat tukar terhadap barang yang digunakan, akan tetapi masalahnya adalah tidak ditemukan dalam sejarah awal tentang pertukaran uang.

Kaidah pertama yang harus digunakan dalam distribusi adalah pemerataan distribusi hasil produksi. Dengan perincian Merata, Jadi apa yang dihasilkan oleh rumah tangga atau industri itu harus distribusikan secara merata ke seluruh golongan masyarakat. Tidak menimbun dan bahkan hal itu diharamkan dalam islam. Artinya adalah kebutuhan yang dibutuhkan oleh sekelompok masyarakat tidak boleh ditahan oleh sebagian orang.

Kemudian yang diusahakan sejalan dengan prinsip islam yakni tidak boleh mengambil banyak, sehingga masyarakat lain yang membutuhkannya tidak bisa mendapatkannya. Karena ada orang lain yang membutuhkan atas hasil produksi tersebut. Misalkan ada seseorang yang membeli beras secara masif, sehingga orang lain tidak bisa sehingga orang lain tidak bisa menikmati beras tersebut, maka ini termasuk kezaliman dan ini tidak diperkenankan dalam islam.

Selanjutnya adalah berkenaan dengan jaminan sosial hal ini berlaku ketika masyarakat tidak mendapatkan haknya atau terjadi kegagalan didalamnya. Misalkan ada alat yang sudah digunakan namun tidak bisa menghasilkan sesuatu, maka di sana berlaku jaminan sosial. Jaminan sosial berlaku untuk banyak hal dalam ekonomi seperti sandang, pangan dan papan. Biasanya pembahasan jaminan sosial dalam konteks kita hari ini lebih terfokus dalam hal konsumsi. Orang-orang miskin hari ini dibahas dari sudut pandang ketidakcukupan dalam hak konsumsi.

Puncak penjajahan ekonomi adalah penjajahan akal sehingga mereka menjadi budak. mereka para budak tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Akhirnya mereka mengalami yang namanya perbudakan. Oleh karena itu penguasaan atas sumber daya ekonomi yang sama menyebabkan orang lain banyak tidak mendapatkan haknya dalam mengelola sumber daya ekonomi tersebut. Ketika mereka tidak mendapatkan pengelolaan sumber daya ekonomi yang mapan maka mereka akan berusaha untuk mendapatkan ekonomi dari hal lain.

Sehingga mereka tidak mendapatan kesempatan atau bahkan berpikiran untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak. Sehingga ada aspek yang kurang dalam dirinya yaitu penjagaan akal. Karena itulah mengapa setiap budak berada pada posisinya yang paten dan tidak pernah meningkat. Pola perbudakan ini masih ada di era modern ini dengan bentuk yang berbeda tentunya. Maka dari itu secara tidak sadar sekarang banyak seseorang diperbudak sejarah pemikiran.

Selanjutnya masuk dalam pembahasan inti yakni berkenan tentang Sayyidah Fatimah. Ada empat pembahasan, yang pertama adalah kelahiran Sayyidah Fatimah dari tahun kelima bi’tsah sampai zaman pemboikotan. Kebanyakan pengikut Rasulullah adalah para perempuan dan orang-orang miskin dan dengan orang-orang inilah Rasulullah mengalami pemboikotan. Dalam sejarah dikatakan ada tiga orang non muslim yang memberikan suplai makanan kepada Nabi. Disanalah kita belajar dari Sayyidah Fatimah dari proses pemboikotan tersebut dan dalam usia yang dini mampu bertahan dari embargo ekonomi tersebut.

Kedua adalah masa sebelum hijrah dan awal hijrah. Kehidupan yang mereka hadapi adalah sebuah kemenangan awal untuk termasuk pada fase baru sebuah dalam kehidupan sosial. Hal ini berarti perbudakan bagi mereka sudah selesai dan menjalani kehidupan yang baru dalam kehidupan sosial. kemudian pada setelah hijrah yakni 10 tahun di Kota Madinah. Pada fase ini terdapat banyak pelajaran dari Sayyidah Fatimah. Terutama dalam menjaga anak-anak dan perempuan-perempuan yang ditinggalkan oleh mereka yang pergi bersamanya. Maka fase ini adalah fase yang sangat bagus untuk mempelajari apa yang dilakukan oleh Sayyidah Fatimah setelah islam diterima dengan luas oleh masyarakat.

Fase yang terakhir adalah fase yang sangat singkat yakni pada pasca wafatnya Rasulullah sampai wafatnya Sayyidah Fatimah. Dalam ensiklopedia Fatimah sudah banyak menjelaskan tentang apa saja aktifitas Sayyidah Fatimah. Seperti memberikan bantuan medis kepada orang yang mengikuti perang uhud dan yang lainnya, juga menyiapkan makanan bagi para pejuang perang. Kemudian pada fase fathu al-makkah juga beliau yang menjamin para perempuan dan anak-anak yang berjalan bersamanya, dan beliau juga lah yang menjamin konsumsi bagi mereka.

Dalam hal pendidikan, hal ini bisa didapati pada pembantunya Sayyidah Fatimah yakni Fiddah. Beliau banyak berbicara dengan Imam Ali atau Sayyidah Fatimah dengan bahasa al-Qur’an. Beliau a.s juga yang mengurusi persoalan jaminan sosial untuk anak-anak atau masyarakat yang yang ditinggalkan oleh suaminya dalam peperangan. Setiap yang mereka diskusikan, pertanyaan dan jawabannya menggunakan bahasa al-Qur’an. Berbeda dengan orang-orang Arab pada saat awal-awal islam yang memandang budak sangat hina dan tidak layak untuk dididik. Sayyidah Fatimah menjamin pengetahuan orang-orang yang ada di sekitarnya. Selain itu, Sayyidah Fatimah sebagai manajer. Beliaulah yang mengelola harta daerah penghasilan dan mengelola gandum untuk masyarakat banyak.

Sekarang, kita masuk ke dalam kontekstualisasi, ada dua hal yang perlu dikaji, yang pertama kita memiliki sumber daya daya manusia kemudian yang kedua kita memiliki modal. Inilah dua hal yang kita dapati dalam kehidupan sosial kita hari ini, mari kita bercermin dan melihat Sayyidah Fatimah. Beliau mengatur masyarakat anak-anak dan ibu-ibu serta perempuan dan kemudian beliau mendidik mereka.

Beliaulah yang mengorganisir sumber daya masyarakat. maka dari itu dalam kontektualisasi ini, kita memiliki sumber daya yang banyak. Banyak masyarakat yang cerdas dan ikatan sosial yang kuat. Selanjutnya sumber daya sosial, dengan segala sumber daya yang kita miliki seperti tenaga, waktu, dan aspek sosial sehingga kita bisa memperkuat ikatan kita dengan masyarakat sosial. Kapan kita hanya memikirkan diri kita saja (Individualisme) tanpa memikirkan orang lain maka ikatan sosial kita telah putus. Di antara kita ada yang punya kemampuan di bidang ekonomi, ada yang punya kemampuan di bidang pendidikan, punya kemampuan di bidang lebih punya kemampuan di bidang keterampilan menjahit bagian adalah bagian dari sumber daya yang kita miliki, dengan sumber daya yang banyak itu kita bisa mencapai target sesuai dengan tujuan bersama.

Dalam ekonomi islam dikatakan bahwa tindakan manusia berasal dari doktrin teologis. dalam artian setelah kita memahami masalah tauhid kemudian kita terapkan kepada permasalahan fiqih dan kemudian kita memahami akhlak. tiga hal inilah yang harus dibangun dalam tindakan objektif atau perilaku keseharian kita. karena dalam ekonomi islam kembalinya harus selalu kepada Tuhan bukan kembali kepada individu karena dalam ekonomi islam tidak memahami bahwasanya dari tuhan kembali kepada individu.

Jadi semua fasilitas yang diberikan kepada kita kemampuan atau kepada kita semuanya adalah harus mengarah pada satu tujuan. Satu tujuan inilah yang kita tidak mencapainya dalam konteks sosial karena masing-masing punya kepentingan. Ada yang bertujuan mendapatkan keuntungan individu baik itu harta, tahta, jabatan, nama. Maka ketika masing-masing punya kepentingan dan tujuan masing-masing, maka mereka sudah sampai pada tujuan.

Otomatis pemberdayaan sosial akan menjadi berantakan dan tidak teratur. Maka dari itu kita bisa melihat bahwasanya para manusia suci adalah satu tujuan dan semuanya berjalan pada satu visi dengan walaupun dengan misi yang berbeda-beda. Inilah yang dibangun oleh Sayyidah Fatimah dalam aspek sosial dan ekonomi. Karena ketika kita berbicara tentang ekonomi maka tidak akan bisa dipisahkan dari aspek sosial. Maka dari itu yang perlu dibangun dalam masyarakat sebelum membahas ekonomi adalah membahas aspek sosial agar terjadi singkronisasi antara keduanya.

Jakarta, 5 Maret 2019

ERA FOUR POINT ZERO TANTANGAN SARJANAWAN

(Orasi Rektor STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah DR. Muhammad Zain. MA)

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Mahasiswa STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah

Hari ini kita menghadapi tantangan revolusi industry Four Point Zero 4.0. Schawab mengatakan 4.0 adalah perjalan panjang dari revlusi industry abad ke 18 dengan perubahan yang sangat cepat. Generasi pertama (one point zero) 1.0 kita mengenal mesin uap yang ditemukan oleh Thomas Jeffrey, menghasilkan kapal dan kereta api. Generasi kedua (Two Point Zero) 2.0 ditandai dengan era mesin listrik, banyak alat teknologi yang bergantung kepada listrik, seperti handphone, computer, lampu dan sebagainya. Ketiga adalah (Three Point Zero) 3.0 ditandai dengan era informasi komunikasi, cirinya hndaphone diproduksi secara besar-besaran. Saat ini kita generasi keempat 4.0 mengalami revolusi industri era digital, semua kebutuhan manusia dikendalikan oleh digital, seperti jual beli, transportasi, pesan makanan cukup dengan aplikasi.

Revolusi industry 4.0 adalah trend otomatis dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik, menghasilkan pabrik cerdas berstruktur moduler, system siber fisik yang mengawasi proses kehidupan secara fisik, cetakan dunia fisik dikendalikan oleh dunia virtual. Lewat komputerisasi, semua bisa mengakses semua layanan komunikasi informasi tanpa batas dan menjalani kehidupan dengan digital. Yang membahayakan adalah ketergantungan pada dunia digital sangat kuat dan mempengaruhi segala lini kehidupan.

Satu contoh kecil, jika ada mahasiswa berangkat ke kampus tertinggal dompetnya, dia tidak akan kembali, namun jika ketinggalan handphonenya pasti dia akan kembali, artinya fenomena mahasiswa hari ini connect dengan digital menjadi mahasiswa maha-terconnect, demikian Rektor STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah jakarta, DR. Muhammad Zain, rabu 20 februari 2019 di Aula perpustakaan nasional salemba.

Begitupun pola perilaku kita dirumah, saat ingin tidur, dengan handphone, ketika bangun tidur cari handphone. Bahkan ada orang yang sakit dengkul, setelah diagnosa dokter ternyata bukan hipertensi atau penyakit lainnya, namun karena terlalu banyak membaca Whats’app atau main game. Fenomena olahraga jempol sudah dimana-mana, di mobil, rumah, kereta, masjid, kampus, pasar, hampir semua tempat aktivitas menunduk terfokus ke layar kecil. Lebih mengerikan lagi, tamu ada di depan, pun juga kita baca whats’app, dan sedikit memperdulikannya.

Fenomena tersebut menggambarkan penyakit manusia digital, yang sering kita kenal sebagai manusia yang bermasa bodoh. Sebab itulah, orang yang dilanda dan hadir di era industry generasi keempat sudah mengalami itu. Ada buku yang berjudul The Village Effect, sekarang orang-orang kota merindukan desa, kota jakarta kita akan menemui begitu banyak restoran tempat makan yang berbau desa seperti restaurant bumbu desa di cikini, juga ada nama tempat makan “Bebek samping sawah, padahal tidak ada sawah disampingnya. Kenapa ? karena ada kerinduan kepada desa. Lantas kenapa desa ? karena desa kita temukan kehangatan, artifisial nan alami.

Di desa, waktu makan kita akan merasakan komunikasi kekeluargaan, tidak ada yang sibuk dengan handphone ketika makan. Di jakara kita sibuk dengan layar segi empat itu bahkan pada waktu makan dengan keluarga, apalagi kalau hanya teman, sambil senyum-senyum sendiri, tidak memperhatikan anak, ayah, ibu. Hilang kehangatan diskusi, hilang karakter human stage dan seperti itulah fenomena yang terjadi hari ini.

Dr. Muhammad zain menegaskan, Alumni STAI al-aqidah harus mampu membangun komunikasi yang hangat di tengah tengah masyarakat. Harus menjadi alumni yang tidak hanya pintar namun juga arif bijaksana. Begitu banyak orang hebat dan cerdas, namun tidak bijaksana, dan hari ini kita tidak mengharapkan orang pintar, tapi kita mengharapkan orang yang bijaksana. Itulah mengapa terjadi perdebatan public sana-sini.

Terjadi perdebatan medsos yang membludak tak terkendali, karena semua orang bicara. Coba kita perhatikan, dahulu yang berbicara agama hanya kiyai, ulama. Hari ini siapapun bisa berbicara agama, yang penting punya akun medsos. Facebook, whats’app, twitter, instagram semua sama dan tingkatan pun sama.

Ada empat point yang ingin saya sampaikan, Pertama, Seorang antropolog sahabat beliau dari UGM memprediksikan bahwa Indonesia tahun 2045 indonesia akan mengalami manusia yang bermasa bodoh. Dahulu di kampung, jika ada orang yang terpeleset di pematang sawah, spontan dengan naluri kemanusiaan berlari untuk mebantunya. Hari ini di kota, jika ada orang yang terpeleset, barangkali kita tidak menolongnya, melainkan photo, video atau menertawakan dulu baru ditolong, itupun kalau ditolong. Dan seperti itulah dampak teknologi generasi keempat yang terjadi hari ini.

Kedua, manusia hari ini mengalami era distrubtion yaitu era gangguan. Dahulu kehidupan pesantren anak anak santri sangat gampang dikontrol, karena tempat ganggu seperti bioskop masih jarang adanya. Bisokop hanya ada satu dalam satu kabupaten, hari ini bioskop sudah ada dirumah kita sendiri. Anak-anak sudah bisa mengakses apapun tanpa batas. Pada saat yang sama, karena komunikasi informasi yang membludak terjadi juga yang disebut dislokasi agama. Di kampung menjelang bulan ramadhan meriah dan kekuatan relegiusnya sangat kental. Semua rajin beribadah, menghidupkan malam dengan sholat tarwih. Sekarang umat muslim menjelang ramadhan, ramadhan dan menjelang idul fitri semua lari ke mall dan pasar.

Ketiga, Lebih bahaya lagi adalah terjadi pergesaran ulama. Ulama juga di distrubsi. Ulama yang sejak kecil belajar sampai tua pun juga digeser posisinya. Itulah mengapa Negara-Negara bagian timur tengah mengalami kekacauan, karena ulama mereka sudah tidak didengarkan lagi. Ulama mereka berkata dan berfatwa, mereka mengambil jalan terbalik. Seperti itulah data dan fakta yang diungkap langsung dari Muftih Syiria waktu bertemu dengan DR. Muhammad Zain. Oleh sebab itu, mari kita mengormati ulama, kiyai, asatidz dan asatidzah di negri kita tercinta. Jika tidak, maka itu akan menjadi bom waktu untuk Negara dan bangsa kita tercinta. Alumni STAI Al-aqidah sudah diajarkan dan mengamalkan bagaimana harus menghormati ulama.

Begitupun dengan orang tua, anak anak sekarang lebih dekat dengan game ketimbang orang tuanya. Ketika ditanya tentang tokoh islam seperti abu bakkar as-shiddiq, umar ibnu khattab, usman bin affan, ali bin abu thalib mereka justru tidak tahu, tetapi ketika mereka ditanya tentang pokemon, mobile legend, superman, avenger, dan sebagainya semua sudah pasti tahu. Realitas menggambarkan telah terjadi pergeseran makna sampai kepada anak-anak juga.

Yang keempat, telah terjadi kerendahan literasi agama. Hari ini orang banyak yang mempelintir ayat ayat Al-Qur’an dari maknanya. Ayat ayatnya difahami secara tidak pas. Ada ayat yang mengurangi istri malah dipakai untuk menambah istri. Seperti sahabat Nabi Abu bakkar As-Shiddiq sebelum turun ayat ini memiliki istri Sembilan, setelah turun istrinya tinggal empat. Surah An-Nisa ayat 3:

Ada juga ayat ayat sosiologis, tapi difahami secara teologis. Seperti Q.S. surah Al-Baqarah:120. Orang-orang yahudi dan nashrani tidak akan ridho kepada kita sebelum kita ikut kepada millah mereka (budaya dan agama mereka). ayat ini bermuatan sosiologis yang memotret keadaan madinah pada masa awal islam, yang puluhan tahun asset ekonomi dan kekuasaan politik dikuasai oleh anshrani dan yahudi saat itu. Datangnya islam menguasai madinah dengan kecanggihan politik dan ekonominya. Pantaslah secara sosiologis kaum Nashrani dan Yahudi tidak ridho kepada islam. Ayat ini jangan dibacakan di daerah-daerah yang sensitive yang kebanyakan agama tertentu. Orang bisa perang agama gara gara ayat ini.

Ada juga ayat yang bermuatan teologis malah ditafsirkan secara sosiologis, seperti QS. Al-Fath:29 Orang islam tidak boleh ada toleransi apapun. Kita tidak boleh menggadaikan akidah dan prinsip kita. Dan inilah yang harus kita ajarkan kepada generasi kita khususnya mahasiswa yaitu menjadi manusia yang otentik, dan inilah yang kurang di republic ini. Orang yang tidak menyatu dengan perkataan, hati dan pikirannya, bukan manusia otentik tapi manusia plastic. Kepada mahasiswa Jadilah manusia yang jujur, santun. Mendidik orang untuk menjadi pintar, cukup hanya membaca buku sebanyak-banyaknya. Namun jika ingin menjadi manusia otentik belajarlah kepada guru dan ulama yang benar.

Terakhir, hari ini kita mengalami abad kearifan. Siapa yang memiliki kearifan, dialah sebenarnya the winner pemenang hari ini. Apa itu kearifan ? DR. Muhammad zain mengutip sebuah kisah menarik untuk menjelaskan makna kerifan itu. Suatu ketika ada dua orang santri yang berdebat di pondok pesantren tentang matematika, santri pintar melawan santi bodoh.

Santri bodoh bertanya, 3×7 berapa ? santri pintar menjawab 21. Santri bodoh membantah, bukan tapi 28. Akhirnya berdebat, sampai berlarut-larut. Saking yakinnya santri bodoh dia mengatakan: “Pokoknya kalau bukan jawabannya 28, maka penggal kepalaku”. Kemudian santri pintar mengatakan, kalau begitu ayo kita menghadap ke pak kiyai, mengadaplah keduanya.

Tiba disana kedua santri tersebut bertanya permasalahan yang ada, bahwa 3×7 selama ini yang diajarkan pak kiyai adalah 21, tapi santri yang satu akan bunuh diri jika bukan 28. Jawaban pak kiyai adalah: “yang benar adalah 28 nak… bukan 21” setelah itu, marah santri yang pintar ini, membanting kopernya dan pulang dari pondok sembari berkata: “Pondok pesantren apa ini ? sudah mengajarkan kebodohan kepada saya”

Pak kiyai berkata: “diluar sana banyak masalah dan petir menggelegar, jika kau takut dan ingin berlindung, maka pondok pesantren membuka gerbang selebar-lebarnya untukmu nak…” ditengah jalan ternyata demikian petir menggelegar dan hujan deras, santri ini takut dan kembali ke pondok, dan pak kiyai sudah berdiri di gerbang untuk menyambutnya kembali.

Pak kiyai berkata: “nak… kamu memang benar, tapi kamu tidak arif, saya harus menjawab 3×7=28, karena kalau tidak, temanmu yang bodoh itu akan bunuh diri gara gara itu”. Itulah kearifan yang harus kita raih. Ambillah hikmah dari manapun asalnya. Di masyarakat akan kita temui kearifan-kearifan yang luar biasa. Sarjana, mengenakan toga, ijazah yang saya tandatangani itu hanyalah symbol untuk mendapatkan kearifan-kearifan itu, tutup pidato DR. Muhammad Zain.

Jakarta, 21 Februari 2019

MENOLAK PEMBUSUKAN FILSAFAT

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Menolak Pembusukan filsafat adalah tema diskusi 13 Februari 2019 di Tjikini lima jakarta pusat. Berhasil mendatangkan pembicara yang handal seperti Goenawan Muhammad (Sastrawan Senior), Donny Gahral Adian (dosen filsafat UI), A. Setyo wibowo (Dosen Filsafat STF Driyarkara) dan Akhmad sahal (Alumni STF Driyarkara) dan Mochtar Pabbottingi. Audiens yang hadir membludak, ruang diskusi menyempit tidak kuat menampung, bahkan Prof Komaruddin Hidayat, Prof Franksiskus Mudji Sutrisno, Prof Toeti Heraty, dan masih banyak tokoh filsuf juga hadir menyimak.

Diskusi yang sangat menarik ketika Akhmad Sahal mulai mengatakan, ketika ada pembusukan filsafat artinya filsafat itu masih hidup di tengah masyarakat. Dalam fenoemena hari ini sikap kritis sangat dipengaruhi oleh kondisi krisis juga. Kondisi mensyaratkan kita untuk kritis. Bahayanya, sifat kritis cenderung ke arah pemaknaan politik pilpres no urut 1 atau 2. Polarisasi yang terjadi di belahan dunia bukan hanya di Indonesia. Politik adalah adu absolute dalam kebenaran masing-masing mempertahankan.

Seseorang belajar filsafat artinya dia sudah merasakan ketidak tahuan, semakin tahu maka semakin dia tidak tahu, kehati-hatian, kita tahu kalau kita tidak tahu. Sangat bertentangan dengan absolutism yang terjadi dalam politik hari ini. Hannah Arendt menjelaskan kebenaran dan politik, bahwa kebenaran politik adalah doksa. Doksa adalah bukan ajaran tetapi opini. Dan kita tidak tahu mana yang paling benar. Jadi absolutism kebenaran dalam politik tidak dibenarkan.

Olehnya itu, kebenaran dalam politik sifatnya tentative, tugas filsafat disini. Juga filsafat bermakna tendensi polarisasi yang mengatakan bahwa akal berpihak kepada beberapa pihak. Jangan dipake akal itu untuk menutup selubung selubung ideologis itu. Contoh sederhana, diksi kitab suci itu fiksi oleh Rocky Gerung. Jika diperhatikan lebih detail, Rocky tidak sedang membahas kitab suci, namun sedang membela fiksinya prabowo yang menyatakan 2020 indonesia bubar, dan itu adalah fiksi. Rocky tidak mau bilang kalau fiksi itu imaginasi, tetapi makna terkandung dan ingin disampaikan rocky adalah jangan ruwet melihat fiksi prabowo, karena itu justru membuat kita kreatif. Intinya adalah argument indah itu hanya pembelaan politik dengan senjata filsafat ideologis. Dan itulah pembusukan filsafat.

Problem hari ini adalah upaya menjadikan sesuatu secara mutlak, sehingga cenderung mengatakan moral atau tidak moral. Padahal pilpres ini hanyalah memilih orang yang kita kontrak selama lima tahun setelah itu selesai. Lanjut lagi pemilu dan kontrak lagi, setelah itu selesai lagi. Tapi dengan gaya retorika, selubung ideologis mencipta suasana seolah olah ini adalah perang antara partai Allah melawan partai setan. Goenawan Muhammad melalui forum itu, mengajak para pilsuf untuk turun dari perpustakaan menuju kejalan-jalan melihat kondisi masyarakat. Namun ada pilsuf, di perpustakaan tidak ada, di jalan juga tidak ada. Saya memaknai bahasa itu, pilsuf yang sedang asyik bertengger di kursi basah.

Pilsuf dikenal memang selalu di perpustakaan, namun setelah turun ke jalan, dia tidaklah menginginkan kekuasaan, uang, jabatan, dan tepuk tangan kebanggaan. Pilsuf menginginkan nilai kebenaran tersampaikan. Terkadang pilsuf juga harus berpolitik, namun politik pilsuf adalah membawa nilai dasar filsafat yang tidak terganggu dengan factor factor menggiurkan, apalagi sampai melalaikan hati dan akal sehat. Pilsuf itu tidak meneror pemikiran dengan doktrin-doktrin yang ada. Jika kita di perpustakaan ingat jalan, jika kita dijalan ingat perpustakaan. Keseimbangan antara gagasan dari perpustakaan harus dirasakan oleh masyarakat di jalanan.

Mukhtar Pabboottingi, melanjutkan akan pentingnya kerendah hatian. Filsafat dan Demokrasi sama sama menghendaki kerendah hatian, tidak berusaha mencari kebenaran-kebenaran final. Demokrasi membenarkan system apa yang bagus lima tahun kedepan, bukan membenarkan kebenaran sebagaimana kebanaran itu. Jika kebenaran itu final, maka sama saja membunuh demokrasi dan filsafat. Wisdom tidak mencari kebenaran final, tetapi bagaimana kita saling mencintai dengan baik. Dari dasar ini, perkataan Rocky Gerung dengan diksi kitab suci itu adalah keliru adanya. Karena milyaran orang menganggap kitab suci bukan fiksi. Bangsa ini menghendaki untuk kita menghormati kebudayaan.

Clifort gertz mengatakan tentang kebudayaan yang nyata, dan yang nyata adalah kitab suci itu, kenapa ? karena ada wisdom disitu. Seperti Abu Thalib tidak memeluk islam, bukan karena tidak tahu islam, tapi memikirkan apa yang selama menjadi pegangan kita, harus kita buang semuanya dan akhirnya menjadi chaos, begitupun dengan kejatuhan roma, karena tidak memelihara tradisi sebagai identitasnya. Wisdom harus mampu membuka pikiran untuk mengormati sesama. Lalu dengan independensi pemikiran bukan semata pikiran, tetapi kita bisa berdiri sendiri dengan wisdom itu. Artinya tidak dijajah oleh orang lain.

Terakhir Romo setyo Wibowo menuliskan naskah mengukur kata, kembali ke data. Filsafat dikenal sebagai ibu semua ilmu, orang yang belajar filsafat lantas merasa bisa mengomentari segala hal. Sehingga Socrates dalam gurauan bersama Kritias mengingatkan “HATI-HATI DENGAN CLAIM FILSAFAT SEBAGAI ILMU YANG MAMPU MEMBAHAS SEGALA SESUATU”. Karena dengan kecanggihan kata-kata filosofis yang diungkapkan, ternyata terbukti membicarakan sesuatu yang tidak ilmiah atau sesuatu yang bukan ilmu. Hati hati dengan claim filsafat sebagai ilmu universal yang bisa berujung pada “Omong kosong”. Pesan Socrates, aku tahu bahwa aku tidak tahu, artinya kita mesti tahu diri, harus berhati-hati supaya tidak “Sok Tahu”.

“Platon Adalah Musuh Besar Sofisme, Meski Ia Tak Selalu Menang Atasanya”.

Jakarta, 15 Februari 2019

MENGUCAPKAN HARI NATAL MERUPAKAN TOLERANSI BER-AGAMA BUKAN TOLERANSI AGAMA

OLEH: USMAN SUIL

Santri Khatamun Nabiyyin

Pada dasarnya, agama selalu menawarkan kebenaran baik agama samawi ataupun agama buatan manusia. Karena esensial dari agama itu sendiri adalah kebahagiaan bukan kesengsaraan, rahmat bukan kerusakan, ketenangan bukan kesusahan, kesejahteraan bukan saling menyakiti.

Berbicara tentang NATAL berarti berbicara tentang MAULID karena natal merupakan hari kelahiran Yesus Kristus. Hal ini, termasuk bagian dari sub-sub agama, untuk itu tidak jarang kita temukan pro-kontra antara pemeluk agama Islam sehingga dengan demikian, ada perdebatan antara posisi afirmasi (membolehkan pengucapan hari natal) dan negasi (tidak membolehkan pengucapan hari natal) mengakibatkan seakan-akan agama itu keluar dari prinsip A=Tidak dan GAMA=Kacau (agama=tidak kacau).

Mengapa Agama seakan-akan sumber kehancuran? Bukankah agama itu menawarkan kebenaran dan kebahagiaan? Lalu mengapa masih saja ada pro-kontra yang mengakibatkan agama seakan-akan bermuka iblis dan kolot? Tidakkah agama itu progresif kenapa malah sangat sensitif?

Dengan beberapa pertanyaan keluhan diatas, maka secara jelas ada yang salah dalam hal ber-agama, ada yang tidak sesuai cara merefleksikan pemahaman tentang agama, ada yang tidak seimbang tentang interpretasi agama sehingga terdapat virus reduksi dari pada pengimplementasian paham ber-agama.

Jadi, apa yang perlu kita perhatikan dan di lakukan?

Secara umum, hidup selalu bergandengan tiga hal, yaitu realitas, nilai dan kebenaran. Realitas adalah keniscayaan hidup yang harus selalu kita evaluasi, nilai adalah kapasitas diri dalam mengarungi jalan realitas ini, sementara kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Penyataan dan kenyataan hanya akan dapat sesuai dengan jalan penyesuaian konteks. Pertanyaannya apakah kita harus menkontekskan teks ataukan mentekskan konteks? Bagi saya dua-dua harus dipakai dengan selalu melihat maslahat dan mudharatnya.

Toleransi dalam beragama berarti berusaha meramu perbedaan dalam keyakinan dan itulah yang disebut dengan persatuan keyakinan bukan penyatuan. Ketika kita menerima keyakinan orang lain bukan berarti menyatukan tetapi mempersatukan perbedaan agar hidup tetap harmonis dan teratur.

Toleransi ber-agama berarti bersinggungan dengan akhlak atau perilaku dan esensi dari pada akhlak adalah toleransi dengan kata lain menerima perbedaan sementara toleransi agama bersinggungan dengan akidah. Akidah adalah sesuatu yang sangat sensitif dan sama sekali tidak boleh disentuh oleh keyakinan lain.

“TAKBIRLAH PADA TEMPATNYA BUKAN TAKBIR GAGAH-GAGAHAN”

(Syarah Nahj Al-Balaghah Ustadz Akbar Saleh)

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Masih dalam petuah ampuh Sayyidina Ali yang disampaikan oleh guru kita Ustadz Akbar saleh. “Rubba Alim Qod Qatalahu, Wa Ilmuhu Ma’ahu La Yanfauhu” Artinya: Betapa banyak orang yang berpengetahuan telah dibunuh oleh kebodohannya, dan ilmu yang bersamanya tidak bermanfaat adanya.

Apa hakikat kebodohan ? dijelaskan dalam bait ini bahwa bodoh yang sebenarnya adalah bukan dia yang tidak berpengetahuan, melainkan dia yang penuh dengan pengetahuan namun seluruh kecerdasannya berorientasi kepada dunia semata. Sementara ilmu itu suci sebab berasal dari maha suci dan maha agung, seharusnya orientasi ilmu juga harus suci dan bersifat ukhrawi.

Ilmu hakikatnya satu dan menyatu, tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu non agama. Hari ini banyak kita temui pemisahan ilmu, dikatakan ilmu agama adalah ilmu untuk akhirat dan ilmu non agama adalah ilmu untuk dunia. Jika kita perhatikan lebih teliti, bukan ilmu yang berbeda, melainkan penggunaan ilmu yang harus tepat pada tempatnya. Dalam bahasa sederhana jika anda ingin mengetahui arsitektur bangunan jangan memakai rumus fiqih didalamnya. Begitupun sebaliknya, jika anda ingin tahu tata cara ibadah jangan pakai rumus arsitek didalamnya.

Sekularisasi ilmu bukan hanya terjadi pada masyarakat pada umumnya. Lebih celaka lagi, ini Sering juga terjadi pada ustadz yang merasa memahami agama dengan sempurna. Terkadang mereka menggunakan ilmu agamanya untuk mendoktrin perempuan, sehingga mampu beristri satu, dua, tiga sampai empat perempuan. Itulah mengapa ilmu empiris lebih terasa manfaat bagi masyarakat luas ketimbang ilmu agama. Michael Faraday menemukan teori pembangkit listrik, Thomas Alfa Edison mencipta bola lampu, Alexander Graham Bell menemukan alat komunikasi genggam atau Diesel menemukan mesin yang digunakan mobil, motor, pesawat, kapal laut bahkan alat teknologi kecil sekalipun. Semua itu adalah ilmu empiris namun membawa manfaat besar bagi manusia.

Ilmu seringkali menjadi hijab, bahkan membawa petaka bagi pemiliknya. Ilmu digunakan untuk kepentingan duniawi dan meninggalkan sisi akhiratnya. Jadi jangan heran, ilmu seringkali menimbulkan konflik, permusuhan, kebencian merajalela, kekerasan, pembunuhan bahkan genosida pengahancuran satu suku bangsa atau Negara kerap terjadi, akibat penyalahgunaan ilmu. Albert enstein tidak menginginkan bom atom dijadikan alat untuk membunuh sesama manusia, namuan realitas politik global memaksa untuk mempertahankan kepentingan kelompok satu untuk membasmi kelompok lain. Ilmu adalah alat seperti pisau, pisau digunakan untuk menyembelih hewan atau memotong wortel no problem. Namun ketika pisau digunakan untuk menikam manusia, atau menggorok leher sesama manusia adalah the big problem.

Jean Jacques Reassou berkata “saya menemui banyak manusia cerdas, namun saya tidak melihat kebaikan dan kepercayaan” semakin berilmu malah semakin jauh dari nilai agama. Mirip manusia yang banyak belajar kepada Mr. Google, kita kenal mampu menjawab semua pertanyaan, namun dari Mr. Google juga banyak lulusan internet yang tersesat olehnya. Hanya membaca satu artikel di internet langsung menganggap dirinya paling benar, selain dirinya adalah salah, termasuk ulama dan para kiyai yang sudah dari kecil belajar kitab berjilid-jilid di pondok pesantren pun juga disalahkan.

Wa ilmuhu ma’ahu la yanfauhu, inilah penyakit yang banyak ditemukan pada intelektual masa kini. Berilmu namun tidak bermanfaat bagi dirinya dan manusia lainnya. Sang guru berkata: “Orientasi ilmu adalah Lillahi ta’ala. Betapa banyak manusia yang menemukan Rumus namun lupa dengan peracik rumusnya. Betapa banyak manusia yang menemukan teori namun melupakan pencipta teorinya. Betapa banyak manusia menyaksikan fenomena alam namun lupa dengan arsitek alamnya, betapa banyak manusia yang berkarya namun lupa dengan kekuatan yang mengasilkan karyanya. Semua Ilmu, Rumus, Teori, Fenomena, karya bahkan ilmu yang luput dari manusia pun bersumber dari Allah.

Manusia hanya merangkai teori pengetahuan dan membagi dalam spesifikasi ilmu dengan kekuatan akalnya. Kekuatan akal pun juga dari Allah, sehingga kita mampu menganalisis dan meramu teori dengan indah. Ketika manusia mampu menyingkap rahasia ilmu, maka saat itulah takbir (Allahu Akbar) cocok untuk didentumkan, karena takjub atas ke-Maha Ilmu- an Allah. Bukan sedikit sedikit takbirrr…. Sedikit sedikit takbirrr… takbir yang bukan pada tempatnya, takbir yang bukan lahir karena takjub keagungan Allah, melainkan takbir karena gagah-gagahan ingin disebut muslim sejati.

Jakarta, 21 Desember 2018.

“LANGKAH KECIL SI KERDIL”

Oleh: Dewi Alwiyah Idris

Kesalahan terbesar adalah membiarkan diri menetap di zona tidak nyaman, dengan berharap semua akan berakhir. Pada dasarnya semua manusia memiliki berbagai macam permsalahan yang beranekaragam. Namun memilih untuk berpasrah diri kepada suatu keadaan yang tidak nyaman akan mengurangi tingkat antusiasme kita dalam menjalani hidup. Berbagai kepahitan akan menjadi manis ketika manusia mampu menjadikan dirinya sebagai penentu dalam perjalanannya. masalah boleh jadi datang seperti monster yang mungkin akan menelanmu dalam perjalanan ketika kamu tidak mampu mengendalikannya.

Segala keburukan akan menjadi sebuah keindahan ketika mata ini memandang dengan kaca mata cinta, dan ketika semua manusia bersikap buruk terhadapmu, saat itulah peluangmu untuk menajadi seorang besar. Terkadang kita harus mencicipi rasanya makan hati, agar kita dapat berbesar hati menghadapi pahitnya kehidupan. Ketika semua wajah sedang menampakkan kemasamannya kepadamu, cukup senyum ikhlas dari hati yang menjadi penawarnya. Mugkin saja, si wajah bermuka masam akan menjumpaimu di hari-harimu dan itulah kondisi yang akan kamu rindukan ketika ia menghilang dari pandanganmu, kenapa? Karna ia telah mengajarimu bersabar dan berbesar hati dalam perjalananmu.

Jika semua hendak menjadi duri dalam perjalananmu, maka jadilah seorang yang mampu mencabut duri yang hendak menghadang tujuanmu. Dengan cinta perjalananmu akan menjadi jejak kristal yang hendak menajadikanmu sang ratu di wajah masa depanmu. Alam semesta ini terlalu besar untuk kita berhenti melangkah. Terlalu banyak jalan sukses yang Allah janjikan hingga jiwa yang sempit akan optimis akan menjadikannya buta dalam tujuannya. Manusia akan semakin merasakan susah melangkah dan menganggap dunia ini sempit ketika putus asa telah menjelajah dalam hatinya. Ketika itu telah mewujud dalam diri maka sukses akan malu menjemputmu, dan kesempatan enggan merangkulmu. Dan ketika itu terjadi, apa yang hendak kita lakukan, selain tetap melangkah dan temukan jalannya.

Berbagai jenis alamat kehidupan akan menawarimu kebahagiaan. Dan pada akhirnya semua kembali kepada diri ini dengan alamat apa kita ingin menemui kebahagian itu. Bukankah manusia di kehidupan ini menginginkan sesuatu yang lebih dari dunia? Maka atas dasar itulah cinta akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kita. Jika manusia hendak terlepas dari langkah cinta, maka jiwanya akan hendak menjadi gersan dipinggiran sungai jernih. Dan akan rapuh di bawah pohon berdaun lebat. Lalu apalagi yang hendak menjadi kebahagian ketika langkah ini menjadi langkah ini jauh dari cinta Ilahi meniti surga-NYA?

Tidak sedikit di antara manusia, bermandikan air mata dalam perjalan ini. sebut saja fulan yang selalu menjadi tangisan sebagai nyanyian semangat ketika ia rapuh dikehingan malam di atas mihrobnya. Menangislah ketika air mata itu dapat menjadi pembangkit semangatmu, menangislah ketika itu dapat meluaskan hatimu yang sedang sempit, sebab dengan menangis terkadang manusia mampu menyampaikan bahasa hatinya yang tidak terwakili oleh kalimat di atas kertas dan tidak juga di lisan.

Gagal, itu pasti..!! berbahagialah ketika kamu mengalami kegagalan dalam usahamu, agar kamu dapat merasakan nikmatnya kesuksesan, Nikmatilah gelap ketika malam menjamah, agar kamu dapat bersyukur ketika pagi menyapa dan biarkan si kerdil tetap melangkah di bumi Tuhannya agar ia dapat merasakan lezatnya akhirat. Wahai manusia pahamilah ketika mentari hendak meningkalkanmu dan menghadiakanmu gelap, maka yakinlah terang masih menunggu senyummu. Dan biar sayap cinta tetap menjadi pelindungmu dalam langkahmu manusia kerdil.

Jakarta, ….,…., 2017

MATINYA KREATIVITAS KEPENDIDIKAN KARENA IMBALAN PART II

OLEH: USMAN SUIL

Santri Khatamun Nabiyyin

Aku selalu yakin bahwa pendidikanlah yang akan memakmurkan segala sendi kehidupan seseorang. Latar belakang pendidikan akan menentukan nasib seseorang bahkan nasib bangsa ini. Semakin tinggi wacana mengenai pendidikan maka akan semakin tinggi tingkat kesejahteraan begitupun sebaliknya semakin rendah wacana mengenai kependidikan juga akan membawa kesejahteran semakin menurun, baik secara personal ataupun secara bersama-sama. Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah sikap kreatif seperti apa yang akan kita tuangkan hari ini.

Kreativitas berarti berbicara tentang sikap motivasi karena sikap kreatif itu fokus pada tugas serta cara penyelesaiannya. Saat ini, ada dua sikap secara umum yang bisa dilihat di dunia pendidikan tentang kebertujuan meraih sebuah prestasi. Prestasi akan ditentukan oleh motivasi tersebut, keduanya adalah kekreatifan dalam bentuk performance (prestasi karena kinerja) atau bentuk mastery (prestasi karena menguasai). Kedua bentuk tersebut akan sangat menentukan hasil akhir baik seorang pengajar atau yang diajar.

Apa perbedaan antara performance dan mastery dari sisi aplikasinya? Performance (kinerja) adalah seorang pelajar atau guru hanya mengejar nilai dalam tes dan ujiannya saja tanpa memikirkan apakah sudah dikuasai atau tidak sementara mastery (penguasaan) adalah mengejar atau mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap suatu objek yang diteliti atau dipelajari, tentu keduanya sangat berbeda tentang hasil akhir yang akan dicapai disebabkan hanya fokus sama kinerja sementara yang satu fokus sama kepenguasaannya.

Dari sini dapat kita lihat bahwa orientasi pada level kinerja akan menjadi superfisial, artinya tidak akan akrab terhadap ilmu yang dipelajari karena tidak terlalu menantang ketika memproyeksi pengetahuan sebab titik fokusnya hanya pada hasil akhir dan mengabaikan prosesnya. Adapun orientasi pada level mastery akan menghargai proses belajarnya, lebih memilih untuk menghadapi tantangan, percaya diri tentu memiliki banyak starategi untuk bisa menguasai apa yang ingin dipelajarinya.

Pendidikan hari ini pun telah direfeleksikan diantara kedua level diatas. Aplikasi pengetahuan dan keterampilan untuk meramu pendidikan secara fokus telah mengalami pergesekan atau perubahan. Kurangnya kreativitas pada pelajar ataupun pengajar telah menutup banyak jalan untuk mencapai kesuksesan. Sebenarnya sikap kita mengahadapi pendidikan bergantung dari cara kita memaknai kesuksesan itu seperti apa.

Saya menggaris bawahi bahwa hari ini kita lebih banyak memilih kreativitas dalam bentuk kinerja dibandingkan dengan kepenguasaan. Alasannya adalah karena kita belajar hanya untuk memperbaiki nasib, memperbaiki perekonomian, memperbaiki keuangan. Padahal kalau kita teliti lebih jauh lagi, untuk bisa memperbaiki taraf hidup menjadi lebih baik kedepan seharusnya lebih memperhatikan level kepenguasaan bukan pada kinerjanya. Baiknya kinerja ditentukan oleh sejauh mana kita menguasai bidang tersebut. Yang lebih jauh memperhatikan adalah “Semakin banyak imbalan yang kau tawarkan semakin banyak kreatifitas yang aku tawarkan” pada akhirnya kerja kita jauh dari keikhlasan dan dan banyaknya terbunuh kekreatifan seseorang karena ditentukan oleh uang.

MATINYA KREATIVITAS KEPENDIDIKAN KARENA IMBALAN PART I

Oleh: Usman Suil

Santri Khatamun Nabiyyin

Ada banyak hal yang perlu kita lakukan dalam hidup ini. Semuanya mengacu pada sifat dan keahlian berdasarkan status masing-masing. Namun semuanya ditentukan berdasarkan cara pandang kita memaknai hidup itu sendiri. Apakah melakukan sesuatu itu karena memang kita menikmatinya ataukah kita melakukan karena ada unsur lain?

Segala sesuatu memiliki masalah sendiri-sendiri namun masalah itu akan terselesaikan dengan proses pemecahannya secara kreatif. Si jenius akan memikirkan solusi yang tidak biasa kemudian akan memodifikasinya sesuai dengan tuntunan praktis dari situasi tersebut. Itulah hebatnya manusia, karena dalam dirinya terdapat jiwa kreatif yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Menjadi pribadi yang kreatif, semua orang memilikinya namun terkadang terdapat atribut lain yang ikut berpartisipasi menjadi mentor tiap-tiap langkah si jenius ini bahkan sudah mendominasi dirinya secara utuh yang mungkin sewaktu-waktu tombol kontrolnya tidak berfungsi lagi baginya.

Dalam hal ini, secara perspektif psikologi sosial, kita akan berhadapan dengan pertanyaan bagaimana lingkungan sosial memengaruhi sikap kreatif manusia? Maka jawabannya terdapat pada tingkatan kesadaran manusia dalam melakukan tugas tertentu.

Dalam kekreatifan manusia, selalu ada dua tombol keyboard yang menjadi kontrol motivator terhadap seseorang apabila ingin menejewantahkan sifat kreativitasnya, yaitu motivator intrinsik dan motivator ekstrinsik. Keduanya akan selalu ada dalam diri manusia.

Meskipun kreativitas sebagai jalan pemecahan masalah, tapi pada saat yang sama pun juga akan menjadi alat picu timbulnya masalah kehidupan seseorang, sudah keniscayaan yang tidak bisa terhindarkan. Alasannya karena kreativitas adalah sebuah konsep multidimensional.

Pada dasarnya, motivasi intrinsik akan selalu mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa atau bahkan tidak bisa dilakukan oleh orang lain karena motivasi ini bercirikan selalu mendukung kekreatifan, sebaliknya motivasi ekstrinsik memiliki efek ganggu terhadap kreativitas karena menurunkan motivasi dalam menjalankan tugas.

Sistem pendidikan formal hari ini pun tak kalah pentingnya tentang sifat kreatif ini, apa yang terjadi? Ternyata kreatif guru dan murid telah menjadi satu kesatuan dalam menjalankan proses belajar mengajar. Yang terjadi adalah malah matinya kreativitas karena selalu bergantung pada imbalan. Ini termasuk kesadaran yang sifatnya magis artinya kesadaran yang menganggap bahwa segala sesuatu bergantung pada imbalan atau dengan kata lain logika untung.

Pada hal ini, George Bernard Shaw mengatakan bahwa “Sekolah itu lebih buruk daripada penjara” saya memaknai bahwa terkadang pendidikan itu sendiri membuat para murid ataupun para pendidik tidak bisa mengejawantahkan potensinya karena kebergantungannya pada sistem sehingga masih jauh dari apa yang diharapkan dengan kata lain seperti dalam penjara yang hanya bisa melihat dari luar tapi tidak mampu berbuat dan menemukan hal baru untuk kita persembahkan ke bangsa dan negara ini. Buktinya dapat dilihat disekeliling kita bagaimana moral, kecerdasan serta pengaplikasian pengetahuan bagi mereka yang sudah lama mengenyam pendidikan belum sesuai dengan visi misi pendidikan itu sendiri, faktanya hanya segelintir saja yang terlihat. Ini tentu suatu hal yang tidak wajar.

#Bagian1