OLEH: USMAN SUIL

Santri Khatamun Nabiyyin

Pada dasarnya, agama selalu menawarkan kebenaran baik agama samawi ataupun agama buatan manusia. Karena esensial dari agama itu sendiri adalah kebahagiaan bukan kesengsaraan, rahmat bukan kerusakan, ketenangan bukan kesusahan, kesejahteraan bukan saling menyakiti.

Berbicara tentang NATAL berarti berbicara tentang MAULID karena natal merupakan hari kelahiran Yesus Kristus. Hal ini, termasuk bagian dari sub-sub agama, untuk itu tidak jarang kita temukan pro-kontra antara pemeluk agama Islam sehingga dengan demikian, ada perdebatan antara posisi afirmasi (membolehkan pengucapan hari natal) dan negasi (tidak membolehkan pengucapan hari natal) mengakibatkan seakan-akan agama itu keluar dari prinsip A=Tidak dan GAMA=Kacau (agama=tidak kacau).

Mengapa Agama seakan-akan sumber kehancuran? Bukankah agama itu menawarkan kebenaran dan kebahagiaan? Lalu mengapa masih saja ada pro-kontra yang mengakibatkan agama seakan-akan bermuka iblis dan kolot? Tidakkah agama itu progresif kenapa malah sangat sensitif?

Dengan beberapa pertanyaan keluhan diatas, maka secara jelas ada yang salah dalam hal ber-agama, ada yang tidak sesuai cara merefleksikan pemahaman tentang agama, ada yang tidak seimbang tentang interpretasi agama sehingga terdapat virus reduksi dari pada pengimplementasian paham ber-agama.

Jadi, apa yang perlu kita perhatikan dan di lakukan?

Secara umum, hidup selalu bergandengan tiga hal, yaitu realitas, nilai dan kebenaran. Realitas adalah keniscayaan hidup yang harus selalu kita evaluasi, nilai adalah kapasitas diri dalam mengarungi jalan realitas ini, sementara kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Penyataan dan kenyataan hanya akan dapat sesuai dengan jalan penyesuaian konteks. Pertanyaannya apakah kita harus menkontekskan teks ataukan mentekskan konteks? Bagi saya dua-dua harus dipakai dengan selalu melihat maslahat dan mudharatnya.

Toleransi dalam beragama berarti berusaha meramu perbedaan dalam keyakinan dan itulah yang disebut dengan persatuan keyakinan bukan penyatuan. Ketika kita menerima keyakinan orang lain bukan berarti menyatukan tetapi mempersatukan perbedaan agar hidup tetap harmonis dan teratur.

Toleransi ber-agama berarti bersinggungan dengan akhlak atau perilaku dan esensi dari pada akhlak adalah toleransi dengan kata lain menerima perbedaan sementara toleransi agama bersinggungan dengan akidah. Akidah adalah sesuatu yang sangat sensitif dan sama sekali tidak boleh disentuh oleh keyakinan lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s