MENGUCAPKAN HARI NATAL MERUPAKAN TOLERANSI BER-AGAMA BUKAN TOLERANSI AGAMA

OLEH: USMAN SUIL

Pada dasarnya, agama selalu menawarkan kebenaran baik agama samawi ataupun agama buatan manusia. Karena esensial dari agama itu sendiri adalah kebahagiaan bukan kesengsaraan, rahmat bukan kerusakan, ketenangan bukan kesusahan, kesejahteraan bukan saling menyakiti.

Berbicara tentang NATAL berarti berbicara tentang MAULID karena natal merupakan hari kelahiran Yesus Kristus. Hal ini, termasuk bagian dari sub-sub agama, untuk itu tidak jarang kita temukan pro-kontra antara pemeluk agama Islam sehingga dengan demikian, ada perdebatan antara posisi afirmasi (membolehkan pengucapan hari natal) dan negasi (tidak membolehkan pengucapan hari natal) mengakibatkan seakan-akan agama itu keluar dari prinsip A=Tidak dan GAMA=Kacau (agama=tidak kacau).

Mengapa Agama seakan-akan sumber kehancuran? Bukankah agama itu menawarkan kebenaran dan kebahagiaan? Lalu mengapa masih saja ada pro-kontra yang mengakibatkan agama seakan-akan bermuka iblis dan kolot? Tidakkah agama itu progresif kenapa malah sangat sensitif?

Dengan beberapa pertanyaan keluhan diatas, maka secara jelas ada yang salah dalam hal ber-agama, ada yang tidak sesuai cara merefleksikan pemahaman tentang agama, ada yang tidak seimbang tentang interpretasi agama sehingga terdapat virus reduksi dari pada pengimplementasian paham ber-agama.

Jadi, apa yang perlu kita perhatikan dan di lakukan?Secara umum, hidup selalu bergandengan tiga hal, yaitu realitas, nilai dan kebenaran. Realitas adalah keniscayaan hidup yang harus selalu kita evaluasi, nilai adalah kapasitas diri dalam mengarungi jalan realitas ini, sementara kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan.

Penyataan dan kenyataan hanya akan dapat sesuai dengan jalan penyesuaian konteks. Pertanyaannya apakah kita harus menkontekskan teks ataukan mentekskan konteks? Bagi saya dua-dua harus dipakai dengan selalu melihat maslahat dan mudharatnya.Toleransi dalam beragama berarti berusaha meramu perbedaan dalam keyakinan dan itulah yang disebut dengan persatuan keyakinan bukan penyatuan.

Ketika kita menerima keyakinan orang lain bukan berarti menyatukan tetapi mempersatukan perbedaan agar hidup tetap harmonis dan teratur.Toleransi ber-agama berarti bersinggungan dengan akhlak atau perilaku dan esensi dari pada akhlak adalah toleransi dengan kata lain menerima perbedaan sementara toleransi agama bersinggungan dengan akidah.

Dengan kata lain, Akidah adalah sesuatu yang sangat sensitif dan sama sekali tidak boleh disentuh oleh keyakinan lain.

Agenda hidup adalah banyak istigfar. Tashwif Shaufa akan, syaithan selalu mengatakan akan. Setelah sakaratul maut, ayat penundaan mati.

Yang kedua, bekal hidup untuk akhirat harus cukup. Kisah Harun ar-rasyid, Coba jelaskan 5 kenapa benci kematian ? Jawab. Karena kalian 1. Membangub dunia menghancurkan akhirat. Pasti benci tempat hancur, ketimbang bangunan dunia.

Siapa hari ini kurang dari kemarin, dia rugi. Sama dia tertipu, lebih baik beruntung. Bukan hadits tapi Atsar dari Sayyidina Ali.

Barangsiapa yang berdusta atas namaku dg sengaja, maka siap siap menempati neraka.

Allhaunma ajala akhirat kalami la ilaha illallah. Doa dia hari akhir hayat.

Wahai orang beriman, bertaqwalah kepada Allah, hendaklah kalian melihat hari esok. Makna esok Ada dua. 1. Esok hari. 2. Hari kiamat.

Alqayyiz orang cerdas. Dia yang selalu mawas diri. Orang yang inginnya sama dg Ingin Allah.

Annahl 92, siapapun yang diantara cewek cowok berbuat amal, pasti kami berikan yang terbaik. Mekakukan syariat pasti baik. Tapi sekarang udah jadi style.

Orang cerdas adalah menundukkan hawa nafsunya. Beramal untuk kehidupan setelah dunia.

Hasan basri, didstangi orang Dan bicara dunia. Barang siapa yang mengajak ku dalam urusan dunia, maka harus saingi dia dalam akhirat.

Umar Dan Abu bakkar bersaing untuk bersedekah. Barangsiapa yang menjadi contoh untuk orang lain dapat pahala.

SEMINAR NASIONAL LINTAS AGAMA SYIAR CINTA 2019

Jakarta, 2 November 2019

Syiar Cinta Meneladani Para Tokoh Patriotisme Pemuda Lintas Agama

Jakarta, (Sabtu) 2 November 2019, Khazanah Intelektual Muslim (Khatam) Institute Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin menyelenggarakan Seminar Nasional dan Taman Teologi Lintas Agama (stand diskusi dan bazar buku) yang disebut dengan SYIAR CINTA 6.

Kegiatan yang diadakan di Aula Gedung Khatamun Nabiyyin, Balekambang, Jakarta Timur ini dilaksanakan dalam rangka memperingati momentum Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan Nasional. Oleh karena itu, SYIAR CINTA 6 mengangkat tema “Membangkitkan Spirit Patriotisme Pemuda; Meneladani Tokoh Pemuda Lintas Agama”.

Syiar Cinta adalah konsep kegiatan yang telah diinisiasi oleh Khatam Institute dari Tahun 2015. Setiap tahunnya acara ini mengangkat berbagai tema-tema menarik lintas agama seperti konsep altruisme, kepemimpinan berasaskan cinta, gerakan pembebasan perempuan dalam agama-agama hingga tema tafsir Sila Pertama Pancasila. Konsistensi pelaksanaan kegiatan ini rutin tiap tahun dibangun atas dasar spirit penyelenggara memfasilitasi forum temu dalam mendialogkan perbedaan untuk satu dalam cinta.

Adapun dalam sambutan sekaligus selaku pembuka acara SYIAR CINTA 6, K.H Akbar Saleh (Pimpinan Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin) menyampaikan bahwa masa muda adalah masa yang paling urgen untuk pembentukan diri manusia sehingga masa depan dirinya, bangsa, negara dan agama ditentukan oleh apa yang dia lakukan dan dapatkan di masa mudanya.

Pada era globalisasi dan era revolusi industri 4.0 ini tantangan untuk para pemuda sangat berat, sehingga diperlukan perhatian khusus dalam pendidikan dan pembinaan karakternya. “Patriotisme salah satu spirit penting yang harus ditumbuhkan dalam diri pemuda kita. Karena itu, perlu mereka diperkenalkan figur-figur patriot yang bisa menjadi sumber spirit dan penggerak mereka.

Jadi, seminar Syiar Cinta 6 ini diadakan dengan harapan bisa menggali jiwa patriotisme dari para tokoh patriot agama dan patriot bangsa yang pastinya mereka diantara figur nyata yang terbaik.” tambahnya.

Disampaikan oleh Direktur eksekutif Khatam (Khazanah Intelektual Muslim) Institute, Andi Arifah bahwa tujuan dari kegiatan lintas agama ini antara lain, sbb: Mempererat hubungan harmonis antar agama demi persatuan dalam NKRI; Mengomparasikan konsep kebangkitan pemuda yang patriotis oleh masing-masing agama; Memperkenalkan tokoh-tokoh pemuda teladan dari sejarah tiap agama yang mengajarkan nilai patriotism; dan Menemukan bentuk gerakan bersama dalam membangun manusia religius Indonesia yang berkualitas pancasila.

Sifat kepahlawanan pada pemuda dapat menjadi kekuatan besar, sebagaimana capaian yang diukir oleh sejumlah pahlawan muda di masa perjuangan kemerdekaan yang lampau. Sejumlah pahlawan yang meraih kesyahidan di usia muda di antaranya seperti, Martha Christina Tiahahu (17 tahun), Supriadi (22 tahun), RA Kartin (25 tahun), Abdul Halim Perdana Kusuma (25 tahun), Radin Intan II (24 tahun), dan masih banyak lagi baik mereka yang sempat terrekam dalam referensi sejarah maupun tidak.

Kontribusi mereka dalam kemerdekaan yang kita nikmati saat ini tidak membuat kita menanyakan apa latar belakang suku ataupun agama mereka, sebab hakikat kebaikan dan kebenaran adalah satu. Fase produktif dengan kelincahan, kecerdasan dan kekuatan merupakan faktor emas untuk menghasilkan dan mencapai tujuan suatu bangsa.

Sehingga, pada satu sisi potensi besar para pemuda pun bisa menjadi faktor yang menghancurkan suatu bangsa jika tidak digerakkan pada positif. Pada tahun 2030-2045, Indonesia diprediksi akan memasuki masa bonus demografi.

Bonus demografi adalah suatu masa dimana jumlah penduduk usia produktif mencapai angka yang cukup tinggi. Menyongsong masuknya Indonesia pada fase ini, seharusnya mendorong kita untuk menciptakan iklim yang kondusif untuk perkembangan jiwa dan akal pemudanya, sehingga lebih berkualitas.

Adalah benar kata bijak, bahwa setiap bangsa membutuhkan pahlawan. Tantangan bangsa Indonesia sebagaimana yang disampaikan dalam pesan Ir. Soekarno adalah bukan lagi menghadapi bangsa penjajah semata, melainkan menghadapi sebangsa sendiri. Inilah yang terjadi pada Indonesia saat ini.

Ketika pemuda bangsa Indonesia mampu berpegang teguh pada Pancasila dalam prinsip kesatuan bernegara, maka Indonesia benar-benar mampu mengguncang dunia. Saat ini, perbedaan suku dan agama yang telah membentuk ciri khas Nusantara, masih selalu dijadikan bahan penyulut api konflik oleh pihak tertentu.

Dengan demikian, penghayatan kembali atas prinsip persatuan dalam Sumpah pemuda harus ditekankan tiap momentum khususnya tiap tahun 28 Oktober. Selain itu, spirit patriotisme harus hadir dalam diri tiap pemuda agar tidak saling menunggu dan berharap orang atas orang lain. Dalam hal ini, sesuai dengan pernyataan salah satu tokoh pemuda dalam sejarah Islam berkata “Pemuda bukanlah ia yang berkata ini bapakku! Melainkan yang berkata ini adalah AKU!”

Dalam kalimat ini menekankan agar generasi muda Indonesia tidak cukup dengan membanggakan kemapuan dan jasa orang lain, baik itu orang tuanya, kerabatnya yang penguasa maupun pahlawan terdahulu. Oleh karena itu, para pemuda wajib menjadikan dirinya sosok pahlawan bagi Negara dan agamanya di masanya sendiri.

Acara yang dihadiri oleh para akademisi, perwakilan sejumlah instansi intelektual, keagamaan dan kebudayaan, serta masyarakat secara umum ini memperoleh apresiasi positif dari sejumlah pihak. Hal ini tergambar dari sambutan-sambutan yang disampaikan oleh perwakilan Kementrian Dalam Negeri RI, Kementrian Agama Republik Indonesia, serta pemaparan keynote speaker oleh Perwakilan Asisten Teritorial (ASTER) Panglima TNI.

Pihak Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh Drs. H. Taufik, M.M, M.Pd. Kepala Subag Hukum dan Kerukunan Umat menyampaikan bahwa kegiatan ini harus sering diadakan apalagi dengan tema kepemudaan kali ini. Adapun Kemenag RI yang diwakili oleh Dr. H. Nifasri, M.Pd (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag RI) dalam sambutannya menyatakan apresiasi yang tinggi atas Ponpes Khatamun Nabiyyin khususnya Khatam Intitute dalam upayanya ikut mengawal agenda kerukunan bersama antar umat beragama.

Sedangkan, oleh Drs. Syarmadani, M.Si, (Direktur Ketahanan Ekonomi Sosial dan Budaya Ditjen Polpom) mewakili Kementrian Dalam Negeri RI menekankan pentingnya pembangunan ekonomi mandiri dalam negeri yang dapat diselenggarakan oleh para pemuda, dimana salah satunya berangkat dari potensi besar pemberdayaan para santri di pondok-pondok pesantren. Hal ini merupakan salah satu wujud pengejawantahan spirit patriotisme pemuda itu sendiri yang dibutuhkan bangsa di era saat ini.

Kemudian, dalam pemaparan keynote speakernya, Kolonel Agustinus, SH,. M,Si mewakili Aster Panglima TNI berkata bahwa dari sekian banyak kegiatan dialog lintas agama yang diselenggarakan, mengapa masih saja belum mampu menghapus sejumlah isu perpecahan yang ada? Hal ini menjadi renungan agar semangat persatuan dalam ruang-ruang dialog lintas agama seperti ini tidak hanya berhenti di ruangan seminar itu saja, melainkan harus dijawantahkan dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat dan bernegara.

Sebagaimana ciri khas konsep Syiar Cinta dari tahun ke tahun, kegiatan ini diramu dengan muatan materi berupa penekanan pada pengenalan tokoh-tokoh yang inspiratif dalam agama masing-masing. Para Narasumber perwakilan agama yang memaparkan materi terkait tema SYIAR CINTA 6 ini, menunjukkan satu suara bahwa tiap agama mengajarkan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya. Hal ini dapat dilihat dari keteladanan patriotik oleh tokoh-tokoh pemuda dalam sejarah tiap agama. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Bhikku Dhammasubho Mahatera, bahwa dalam Budha meneladani kehidupan sosok Sidharta Gautama yang memulai perjalanan penyempurnaannya di usia yang muda hingga menyebarkan ajaran cinta kasih yang prinsip-prinsipnya relevan untuk dijadikan landasan prinsip bermasyarakat dan bernegara.

Adapun perspektif Khonghucu yang dipaparkan oleh Dr. Drs. Chandra Setiawan, M.M,, Ph, (Anggota MATAKIN) mengangkat tokoh Confusius dan Kwan Khong sebagai simbol patriotisme yang telah dijalankan sejak usia muda bagi masyarakat Khonghucu. Dari kisah perjuangan kedua tokoh ini,dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuda adalah mereka yang harus pandai memanfaatkan peluang, tentunya dengan melewati berbagai tempaan melalui “ketahanmalangan” dalam rangka membentuk ketangguhan.

Diuraikan oleh Dr L.G Saraswati Putri, M.Hum bahwa kemerdekaan Indonesia saat ini diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa dari berbagai latar belakang agama, salah satunya tokoh pahlawan muda I Gusti Ngurah Rai (wafat di usia 29 tahun) yang tercatat memperjuangkan tanah air dalam Perang Puputan.

Dari Pahlawan Nasional ini menekankan bahwa kecintaan yang diajarkan agamalah yang melahirkan kecintaan dan keinginan merdeka pada suatu bangsa, dimana tugas tersebut ada di tangan para pemuda. Adapun K.H Nuril Arifin Husein (Gus Nuril) menyebutkan bahwa dalam Islam sendiri terdapat banyak contoh teladan pemuda yang menunjukkan sikap patriotik. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya selain Rasulullah saw itu sendiri terdapat juga Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Hasan bin Ali dan Sayyidina Husain bin Ali.

Salah satu sisi yang ditekankan oleh tokoh-tokoh ini dalam keteladanan style of leadership adalah menjadi para pemimpin yang dekat dengan rakyat. Hal ini ditambahkan juga oleh Miftah Rahmat bahwa tokoh-tokoh pemuda dalam Islam mengajarkan tentang pentingnya kepedulian terhadap sekitar, sebagaimana kutipannya dari perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Jika engkau ingin melihat wajah Tuhan, maka lihatlah kaum yang tertindas”.

Dengan demikian, para pemuda yang berjiwa patriotik adalah mereka yang dekat dengan orang-orang miskin dan tertindas, sehingga untuk meraih keridhaan Tuhan haruslah memperjuangkan keadilan bagi orang lain. Kemudian, pemaparan para narasumber ditutup dengan pembacaan bersama maklumat persatuan NKRI.

Kegiatan yang dilaksakan dari pukul 08.30-14.30 WIB ini dirangkaikan dengan berbagai persembahan seni, bazar buku lintas agama, dan diskusi stand lintas agama. Di antaranya terdapat persembahan dari Paduan Suara Pemuda Nusantara Ilmiah dengan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan seperti Indonesia Raya, Bagimu Negeri, dan Bangun Pemudi-Pemuda.

Kemudian, persembahan Nasyid Cup Song dari Ikatan Mahasiswi Cahaya Qur’ani (ISYQI). Selain itu, tampil pula Khatam Band memberikan persembahan musikalisasi puisi Gugur Bunga, Mush Up Tanah Air dan Rayuan Pulau Kelapa, dan Indonesia Jaya di penghujung acara. Terdapat pula beberapa penerbit yang berpatisipasi dalam bazar buku serta diskusi stand lintas agama yang disebut dengan taman lintas agama.

Cp. 085255002054 (A.Arifah)

CINTA TITIK TEMU KEMANUSIAAN

Oleh: Alan

Santri Khatamun Nabiyyin

Forum titik temu “Kerja sama Multikultural Untuk Persatuan dan Keadilan” Rabu 18 September di DoubleTree Hillton Hotel Jakarta diselenggarakan oleh tiga organisasi besar Nurcholis Madjid Society, Gusdurian dan Ma’arif Institute. Setelah petuah dari Ibu Omi Komaria, Ibu Shinta Nuriyah Wahid dan Prof. Quraish shihab, forum secara resmi dibuka oleh bapak presiden RI Ir. Joko Widodo.

Forum dihibur oleh budayawan Sudjiwo Tedjo, kemudian dipandu moderator Gus Ulil Abshar Abdallah, mempersilahkan pertama kepada Bikhu Ratu shr Bhagawan Narayana Nana Suryanadi, dan mengatakan “Bijaksana harus dimulai dengan bijaksini, sambil menunjuk dadanya dan mempertegas disini, didalam hati ini ada kebijaksanaan. Mulai dari dalam diri, kemudian keluar dari diri dan bijaksana kepada orang lain”.

Suatu ketika ada orang bertanya, Apa perbedaan konsep kemanusiaan Gusdur dan paham kemanusiaan ala barat? Ternyata, Gusdur menganut kemanusiaan transendental, kemanusiaan yang didasari oleh ketuhanan”, ini disampaikan oleh Romo Simon Petrus Lili Tjhayadi.

Kota harus berjumpa dengan pelosok dan hidup bersama. Perbedaan bisa dituntaskan dengan sering bertemu. Seperti orang yang menyatakan saya lurus dan anda sesat. Karena saya benar dan lurus, maka saya berhak hidup dan lainnya harus mati. Dengan pertemuan kita bisa menuntaskan orang yang selalu merasa benar sendiri seperti tadi”, oleh Ma’arif institute Abdul Rohim Ghazali.

Yayasan cahaya Guru Ibu Henny Supolo Sitepu bergumam, “Pendidikan harus berkeadilan, dan keadilan harus berpendidikan. Pendidikan yang berkeadilan tanpa terkecuali, semua anak bangsa menikmati. Dunia pendidikan harus diisi dengan cinta, narasi positifnya adalah mengenal lingkungan dalam keragaman bukan penyeragaman, sebab pendidikan harus berakhir pada kesadaran bukan sekedar pengetahuan”.

Rohaniawan Bapak Ws. Dr. Chandra Setiawan, direktur eksekutif global peace foundation bercerita tentang pengalaman dengan sosok Gusdur. “Beliau Pidato dimanapun berada, semua agama sejuk mendengarkan pidato Gusdur. Menggambarkan bijaksana, cinta kasih dan keberanian seperti yang ada dalam tiga pusaka dari Konghuchu, mencipta 4 penjuru lautan manusia, intinya semua kita bersaudara”.

Ibu Lies Marcoes seorang antropolog juga mengatakan bahwa “Keragaman adalah fakta. Namun kadang-kadang dalam politik fakta itu bisa hilang. Hari ini, mari kita merajut perbedaan itu menjadi titik temu untuk mengungkap fakta keragaman”.

Rektor IAIN Kendari Prof. Faizah binti awad menegaskan, “Tidak apa apa saya dimaki secara individu. Tapi saya harus marah ketika ideologiku dihina. Meskipun resiko mengancam, kebangsaan harus diutamakan. Kerjasama multikultiral harus dimulai sejak dini dalam pendidikan”.

Dra. Yayah Khisbiyah dosen Universitas muhammadiyah surakarta, berkata “Tiga pendekar dari chicago, Buya syafi’i maarif, Amien rais, Nurcholis madjid. Semua yang terjaring ini mendapat julukan sesat dari golongan ekstrem. Sementara pemikiran beliau sangat progresif dan universal multikultural, mengampanyekan kedamaian dalam kebersamaan”.

Hari ini, kita butuh nyali, tidak cukup dengan kekuatan akal dan hati. Mayoritas Muslim moderat yang diam akan dikalahkan oleh kelompok minoritas ekstrem yang berkoar. Kita sudah dikepung. Mereka sudah menghimpit pendidikan, mulai dari sekolah sampai universitas. Kita semua punya kaki, namun tidak akan bisa jalan jika tidak ada jalan. Maka kaki minta jalanan, artinya gagasan sudah banyak, tinggal bekerja”. Pungkas Dr. Haidar Baqir.

Keadilan tidak bisa tercapai tanpa persatuan. Begitupun sebaliknya, persatuan akan hampa tanpa keadilan. Harta tidak merata pada masyarakat miskin. Ibarat matahari memancarkan cinta universal semua menikmati. Tapi dalam fakta sosial, manusia cenderung mengembangkan kasih sayang yang sesuai dengan dirinya saja, keluarga, kerabat dan kolega. Mestinya yang berbeda harus terconnect. Perluas interconnectif, sebab lama-lama yang berbeda itu malah menjadi asyik dan sama. Hubungan sosial harus dirajut sedemikian rupa. Walfare (kesejahteraan) meningkat maka kriminalitas turun, sebaliknya walfare menurun kriminalitas melambung”. Orasi Dr. Yudi latif.

Gagasan bisa banyak, namun ketika kita masuk ke masyarakat, terkadang ada persoalan yang susah diurai. Contohnya, jika masyarakat ditanya tentang konsep negara, mereka menjawab secara universal adalah pancasila ideologi negara, namun ketika menanyai lebih praktis lagi, bagaimana yang beda keyakinan? terkadang mereka bisa membunuh orang lain, kan aneh”. Kata putri bungsu Gusdur Mba Inayah Wulandari Hahid.

Bapak Richard louhenapessy, walikota ambon menyampaikan, “Ambon harus penuh dengan cinta. Seperti kata Gusdur mengatakan damai kepada rakyat ambon ditengah kerusuhannya, beberapa delegasi berdiskusi dengan gusdur pada saat sakit di kamar beliau. Hasilnya, sekarang ambon adalah tingkat Kerukunan umat beragama terbaik di indonesia”.

Closing statement, oleh Prof. Azyumardi Azra berargument bahwa “Masing masing suku bertemu dengan agamanya. Beda agama bisa ketemu di suku. Beda kedua duanya, mungkin ketemu di ideologi dan sebagainya, semua kita punya titik temu. Momentum titik temu di hari 17 agustus 28 Oktober, 10 November, 1 juni dan sebagainya. Empat pilar adalah titik temu, dan genda revitalisasi pancasila harus lanjut, jangan berhenti. Perkuat bhineka tunggal ika bukan hanya pada bangga-banggan. Untuk tercipta negara demokrasi yang kuat, tapi tidak otoriter”.

Terakhir, Prof. Quraish Shihab menutup forum titik temu dengan senandung “Semua yg kita ucapkan dan diselenggarakan adalah baik. Satu kata yang diulang-ulang namun tidak beraksi, itu omong kosong. Sebuah kisah tentang orang yang ingin mengubah dunia, namun gagal. Lalu diturunkan ingin mengubah bangsanya, gagal lagi. Diturunkan lagi ingin mengubah sukunya, gagal lagi. Diturunkan lagi ingin mengubah kampungnya, namun gagal lagi. Lalu berfikir untuk mengubah keluarganya dan masih gagal, sampai akhirnya terbaring sakit lalu menyesal dan bergumam “seandainya aku mulai berubah dari diriku sendiri, maka niscaya aku bisa mengubah dunia

Jakarta, 18 September 2019

KARBALA: PERTARUNGAN DUA MATRIKS KEHIDUPAN (Hikmah Husainiyah Ustadz Rusli Malik)

Konsekwensi mencintai Allah adalah mengikuti Rasulullah. Allah berfirman surah al-Imran:31
Qul inkuntum tuhibbunallah, fattabi’uni yahbibkumullah.
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penggunaan diksi “ikut”, bukan hanya ikut ibadah mahdhah seperti ikut sholat seperti Nabi, hajinya Nabi, puasanya Nabi dan sebagainya. hanya mengikuti gerakan fisik dalam ibadah saja. Lebih tepatnya diksi “Ittabi’uni” adalah wujud kecintaan kepada Rasulullah dan keluarganya yang selalu berada diatas matriks kebenaran.

Kolom kehidupan selalu mendapat dua konsekwensi di akhirat, yaitu syurga dan neraka. Jika akhirat hanya ada dua, maka di dunia juga ada dua wilayah, yaitu matriks benar dan salah. Coba perhatikan, sesuatu yang salah itu bisa banyak, sementara sesuatu yang benar, harus dan mesti satu. Logika matematika mengatakan jika 1+1=2 itu benar, maka itu mutlak yang benar hanya satu, dan yang salah banyak, seperti 1+1=1 atau 1+1=3 atau 1+1=4, 1+1=5 dan seterusnya.

Karena salah itu cenderung banyak, sehingga Nabi diutus untuk mengingatkan manusia kebanyakan. Sementara kebenaran, tolak ukur kebenaran bukan pada mayoritas melainkan pada kualitas sebab melalui media aqli. Maka fungsi al-Qur’an adalah al-Furqon sebagai pembeda antara benar dan salah, dan itulah fungsi akal. Fungsi akal secara universal di seluruh dunia sama, jadi dimanapun kita berada dan siapapun dia logika akal dan matematika pasti sama.

Akal bekerja dan mengatakan sebelum semuanya ada, maka yang ada hanyalah Allah, tidak pernah didahului ketiadaan dan selalu ada atau sebabnya tidak tersebabkan. Setelah Allah, makhluk pertama yang diciptakan adalah Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad lahirlah semua semesta alam, sampai pada alam paling bawah yaitu alam materi. Nur muhammad dititipkan di tubuh kasar manusia, sehingga al-Qur’an berbicara dalam surah al-hijr ayat 28-29

Wa idz qola robbuka lilmalaikati inni khalikun basyaran min shalshaalin min hamaain masnuun Fa idz qola sawwaituhu, wa nafakhtu min ruhi faqauu lahu saajidin

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”

Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud

Penciptaan manusia dari materi, setelah sempurna maka kutiupkan padanya ruh dengan kalimat “Min Ruhii”, kepada Manusia. Ketika Allah mendeklarasikan manusia kedua kalinya maka manusia pada saat itu adalah khalifah, surah al-Baqarah ayat:30. Artinya manusia adalah materi yang rendah dan hina dari tanah namun diberikan keistimewaan oleh Allah dengan ruh dan menjadikannya ciptaan terbaik (surah at-Tin:4). Ada yang lulus menjadi makhluk terbaik (Ahsanu taqwim), ada juga yang jatuh terperosok menjadi makhluk terburuk (Asfala saafilin).

Lalu, mengapa adam dilantik menjadi khalifah? Karena tubuhnya diliputi oleh materi yang hina namun mengandung sesuatu yang suci yaitu ruh Allah. Tranformasi ruh kepada jasad, tidak ada yang berkurang dari jasad dan ruh degan cara mengajari ilmu pengetahuan. Sejak saat itulah adam menjadi manusia sempurna maka adam mendapat gelar representase dari Allah. Jika demikian, mengapa ada manusia turunuan dari adam menjadi kotor dan jahat?

Ketika Allah berfirman “fasajaduu…!” bersujudlah para malaikat, illa iblis kecuali iblis. Dengan demikian, sudah nampak jelas ada dua eksistensi, taat dan pembangkangan. Pada saat iblis menolak untuk sujud, maka dialah yang mengambil peran antagonis dalam sejarah kehidupan manusia. Iblis bisa masuk ke dunia manusia dan jin, memainkan peran kebathilan. Asal muasal pertentangan haq dan bathil dari sini, sangat jelas dan nampak terjadi di tragedi karbala.

Manusia adalah makhluk materi, memiliki common sense alat indra, naturalis yang sama yaitu berpegang kebenaran, karena memang berasal dari kebenaran. Namun iblis dan syaitan bekerja untuk membisikkan was-was keraguan dari mengenal kebenaran seperti dalam al-Qur’an surah an-Nas. Manusia untuk membendung was-was, maka harus menggunakan kekuatan akal, manusia disebut hayawan namun nathiq, benar kalau termasuk golongan hewan namun mampu mengenali kebenaran dengan akalnya.

Apa yang dikatakan oleh iblis “Ana khairun minkum” penggunaan diksi aku sangat berbahaya, Allah menggunakan kata “Aku” selalu didahului bahasa Qul (katakanlah Muhammad). Mengapa demikian? Karena sang aku hanyalah Allah, iblis berasal dari Allah juga, ketika mengaku aku berarti telah melangkahi hak prerogatif Allah. Maka apapun yang diperbuat oleh iblis maka pasti itu adalah bathil keburukan.

Ketika adam telah hidup didunia, dua matriks benar dan salah masih tetap eksis. Syaithan memberikan was-was kepada manusia, dan wujudnya adalah qobil dan habil, pertarungan antara bathil dan haq kembali terjadi. Al-Baqarah ayat 30-39, ayat 30-34 bicara adam yang suci, ayat 35-39 berbicara adam yang terjatuh, dari sini lahir perseteruan. Adam yang jatuh adalah qobil sebagai golongan kiri. Bahasa qobil adalah “la aqtulakum” saya akan membunuhmu. Yang terseret dengan bahasa iblis, selalu cenderung berbahasa darah, senjata, kekerasan dan kebencian.

Sementara habil menggunakan diksi

Allah hanya akan menerima, persembahannya orang yang bertaqwa saja

jawaban habil tidak reaksioner. Jika jawabnnya melawan juga maka posisinya sama. Dua karakter ini, kembali bertarung lagi pada zaman Nabi Nuh, sangat sedikit masuk golongan kanan, termasuk anaknya juga terjerat dalam lembah kiri. Hampir 950 tahun berdakwah hanya mendapatkan 100 pengikut, ada yang mengatakan 70 orang, 8 anggota keluarganya.

Menariknya, ketika sudah sampai detik-detik terhempas, Nabii Nuh masih memberikan penyelamatan kepada kaumnya dan anaknya dengan bahasa al-qur’an

Ya bunayya irkab ma’ana, wa la takun ma’a al-kafirin”, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama Kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Peristiwa dua matriks kebenaran dan kebathilan selalu dan akan selalu bertarung. Dan ini kembali terjadi di karbala. Begitupun dengan Nabi Shaleh, dua matriks kembali bersanding dalam issue hewan unta. Akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya.

PESAN MADRASAH KARBALA (Hikmah Husainiyah Habib Utsman Sahab)

Imam Husain adalah sosok yang suci, dari rahim yang suci, ibu dan ayahnya manusia suci, kakeknya adalah sayyidul wujud Rasulullah Muhammad Saw. Tidak ada mazhab dalam islam yang tidak mencintai imam Husain dan tidak ada mazhab dalam islam yang menolak tragedi karbala.

Coba kita perhatikan redaksi jelas dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 33.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Seluruh mufassir sepakat dan mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat pensucian, dan itu hanya ada pada keluarga Nabi bukan selainnya. Mishdaqnya adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Rasulullah bersabda dalam beberapa kitab ahlussunnah “husain minni wa ana min husain”.

Jika husain adalah dariku (Rasulullah) wajar, karena imam husein adalah cucu Rasulullah, keturunan dari Nabi suci. Namun ketika redaksi, “ana min husain”, bagaimana mungkin Rasulullah berasal dari husain? Ini adalah ungkapan yang begitu dalam dan bermakna. Rasulullah bersabda:

Inni silmu liman salamakum, harbun liman harabakum”

Aku menyatakan salam bagi yang menyatakan salam kepadamu, dan menyatakan perang kepada yang memerangimu.

Belum lagi, Ayat al-qur’an mengatakan dalam surah asy-syuura ayat 23 “Qul laa as’alukum alaihi ajran illa Mawaddata fi Al-qurba”

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”.

Apa arti Mawaddah? dan apa perbedaan dengan Mahabbah?. Mahabbah hanya sekedar mencintai tanpa memperdulikan dan mengikuti ittiba’ apa saja yang dilakukan oleh al-mahbub. Sementara mawaddah adalah cinta sekaligus mengikuti segala tindak tanduk yang dicintainya. Maka pantaslah kita menyimak pesan karbala dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bentuk kasih sayang al-mawaddah kepada Rasulullah dan keluarganya, khusus pada pembahasan ini adalah imam Husein.

Ada 10 pelajaran karbala termanifestasi dalam pesan konteks imam husein.

Pertama, Ikhlas. Sikap ikhlas bukan untuk manusia atau makhluk apapun melainkan untuk allah. Seperti dalam al-qur’an surah al-an’am ayat 162

“Qul, inna as-shalati wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati lillahi rabbil a’lamin”

Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

Mengapa demikian? Karena semua ini hanya hak pakai dari Allah, bukan hak milik. Ketika Allah memanggil kapan waktunya, maka tidak ada kata tawar menawar. Ketika Rasul memanggil, al-Qur’an memanggil, Sunnah memanggil, ahlulbait memanggil maka mutlak harus dijawab. Seperti sayyidah zainab melihat fenomena karbala sebagai sebuah keindahan adanya. “Ma raitu illa jamilah”. Semuanya indah jika berjalan di garis Allah. Namun jika bukan digaris Allah, semuanya tidak indah.

Tujuan apapun yang kita tempuh, semua menjadi kecil dan ringan jika Allah menjadi niat. Jika Imam ingin harta, beliau lebih kaya dari segalanya, ingin tahta, ingin kenikmatan seluruh dunia, imam Husain bisa memperolehnya dengan mudah, tetapi jawabannya tidak. Sebab tujuan Imam ke karbala bukan untuk duniawi apalagi politis, melainkan untuk perjuangan lillahi ta’ala.

Sebuah hadits qudsyi mengatakan “Didalam dirimu ada wadah, yang ketika aku (Allah) mengisinya, maka kuringankan bebanmu, namun jika dunia mengisinya maka akan kulelahkan segala urusanmu” kita sering lelah dan mengeluh dengan segala nikmat yang kita miliki, rumah, jabatan, tahta, harta, keluarga, padahal nikmat Allah lebih besar dari semua nikmat duniawi itu.

Imam husain menangis di padang karabala, sejatinya tidak menangisi derita pada dirinya, imam menangisi manusia yang mengaku umat Rasulullah namun jauh melenceng dari qur’an dan ajaran kakeknya Muhammad.

Yang kedua, imam tidak ingin berperang, karena islam adalah agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Nabi, Tiga belas tahun tahun diperangi dan ditambah 8 tahun setelahnya, namun pada saat fathul makkah Nabi mengatakan alyaum al-marhamah, jangan khawatir kalian hari ini adalah hari kasih sayang. Begitu juga dengan imam husain.
Agama kakeknya adalah agama yang penuh rahmah, imam keluar ke karbala untuk mengajak umat untuk kembali kepada ajaran rasulullah.

Tiga kali imam husain melakukan diplomasi untuk menghindarkan perang, namun jawaban musuh tetap ingin membunuh imam husain, maka tegas imam menyatakan perang demi kebenaran. Al-qur’an mengatakan surah an-nahl:125

serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk

Setelah menyatakan perang, imam husain mengumandangkan kata “haihat min az-zhillat” artinya apa? Kita tidak ingin dalam kehinaan, pantang memberi dakwah dalam kehinaan, jika sudah menasehati dengan nama Allah, nasehati lagi, lagi dan lagi, jika sudah tidak bisa maka “haihat min az-zhillat” kita selalu menyeru pada kebenaran dan mempertegas identitas kepada siapa kita berpihak.

Yang ketiga, dalam kondisi apapun, jangan pernah meninggalkan syariat. Di malam lailah al-ma’rokah malam ke 10 di tanah karbala, dalam keadaan kering tenggorokan imam mengumpulkan semua sahabatnya untuk tetap menegakkan syariat, imam mengajak tahajjud, membaca al-qur’an, bahkan sholat dzhuhur berbagi waktu, sebagian sholat, sebagian berjaga.

Ribuan anak panah menghujam, ancaman pedang dan tombak mengintai namun syariat tetap harus ditegakkan, apapun situasi dan kondisinya tidak ada dispensasi untuk tidak menegakkan syariat. Dasarnya adalah apakah kita lalai atau ingat kepada Allah.

Jakarta, 12 September 2019

Nasib Cucunya Si Muhamad

Oleh: Mursyid Al Haq

Jangan terlalu mendalami sejarah jika kau tak mau mendengar kisah darah yang tertumpah dengan murah begitu ucap temanku. Aku pikir nasib temanku yang satu ini sangat beruntung, karena ia hidup di tengah keluarga yang agamis. Liat nama kakeknya aja Muhamad, betapa islaminya bukan? Namun mendengar pernyataan temanku tadi, muncul pertanyaan dalam benaku. apa hubunganmya sejarah dengan kisah darah yang tertumpah dengan murah. Untuk menjawab rasa penasaran itu aku mulai menambahkan buku sejarah ke dalam daftar bacaanku, terutama sejarah Agama Islam. Karena latar belakang pendidikan temanku tadi di lembaga islam, tentu analisis yang diutarakannya tak akan keluar dari sejarah Islam.

Setelah berlalunya waktu dan beberapa buku sejarah islam selesai aku baca, akhirnya aku mulai mengerti betapa perjalanan kehidupan manusia ini penuh kengerian. Tak berlebihan mengingat komentar temanku tentang sejarah khususnya yang berkenaan dengan Agama ini. Agama yang secara etimologi berarti tidak kacau ternyata tak semulus yang kita bayangkan.

Islam sebuah ajaran Tuhan setelah lebih seribu empat ratus tahunan ditinggal sang utusan yang membawanya ke bumi serta mengajarkannya pada penghuni planet ini telah melalui masa kelam yang cukup banyak dan mendalam. Bayangkan saat sang Nabi wafat, umatnya sambut dengan pertengkaran soal kepemimpinan tanpa hiraukan jenazah yang mestinya segera dikuburkan. Hanya segelintir keluarga dekat dan beberapa sahabat yang mengurus jenazahnya dengan setia.

Selanjutnya soal sumber referensi penting Agama Islam yakni hadis, pernah dilakukan pembakaran besar-besaran dengan alasan yang tidak aku dapat mengerti. Selanjutnya perang saudara yang menimbulkan banyak korban, dan lagi-lagi alasan yang banyak dicantumkan hanya kesalahpahaman. Tanpa ada pihak yang benar dan salah semuanya di buat abu-abu. Itu hanya sebagian kecil dari teka-teki sejarah yang dalam pandanganku masih membutuhkan banyak analisis guna mengungkap dan mengambil hikmah darinya.

Ada satu kisah yang cukup menyayat hati.Sejarah ini jarang diceritakan. Akupun kaget saat mendengarnya. Sesesekali disampaikan dengan tidak tuntas dan tanpa memberi kejelasan. Soal tragedi karbala. Pembunuhan terhadap Sayyidina Husain cucunda Baginda Nabi Agung Muhammad Saw. Tragisnya dalam pembataian ini leher Sayyidina Husain dipenggal lalu kepala mulia itu ditancapkan di ujung tombak dan diarak keliling kota. Bahkan dalam beberapa riwayat kepala itu sempat ditendang-tendang dipakai mainan. Yang melakukan hal seperti itu bukan Yahudi, Nasrani atau agama lain, tapi orang-orang yang mengaku beragama Islam.

Dalam kejadian yang memilukan ini, keluarganya sayyidina Husain juga banyak menjadi korban. Beberapa anaknya dari yang masih bayi hingga yang paling dewasa juga terbunuh dalam tragedi ini. sejarah ini sangat jarang dan sedikit sekali dibahas. Terlebih lagi untuk dianalisis dan melakukan kajian mendalam tentangnya.

Aku sendiri merasa aneh, tidak pernah kutemui guru ngaji atau guru agama di sekolah yang mengisahkan cerita ini dengan jelas. Sehingga jarang sekali orang yang mengetahui sejarah ini. sempat aku mengobrol dengan Kakek dan nenek tentang kisah tragis ini, Mereka tak mengetahui kecuali hanya sedikit.

Alasannya tidak pernah mendegar penjelasan mendalam atau mempelajarinya waktu sekolah madrasah. Bahkan sempat juga kutanyakan pada beberapa temanku yang mengenyam pendidikan pesantren mereka tak mengenal banyak tentang sejarah kehidupan keluarga Nabi. Termasuk sejarah tragis pembataian cucu tercinta Nabi Sayyidina Husain. Temanku yang satu ini karena ia seorang santri sedikit memberikan alasan kenapa sejarah ini jarang disampaikan.

Menurut penjelasan ustadznya, Islam punya sejarah kelam dan kita selaku umatnya tidak perlu berlarut-larut dalam situasi itu. Jangan mengorek luka lama yang sudah kering begitu singkatnya. Lalu spontan aku timpali jawaban yang aku pikir ngaco itu. Ini bukan soal berlarut-larut dalam sejarah. Namun bagaimana umat manusia itu dapat mengambil pelajaran dan hikmah jika tak mengenal sejarah agamanya.

Jika seperti ini yang tejadi akan nampak cenderung ditutupi dan akhirnya menimbulkan pertanyaan besar. Sejarah itu Perlu kita kaji lebih mendalam. Kenapa cucunya Nabi bisa terbunuh dengan sangat sadis. Betapa murah darahnya padahal dia orang mulia. Bagaimana dengan darah manusia yang lainnya yang bukan siapa-siapa tentu akan lebih tak berharga pada masa itu.

Aku rasa kita perlu mengetahui sejarah bahkan yang paling kelam sekalipun. Tentu akan ada banyak hikmah dan pelajaran yang terkandung di baliknya. Aku bertanya-tanya, kenapa sejarah yang dalam pandanganku cukup penting ini sedikit sekali orang ketahui. Atau mungkin karena Sayyidina Husain sebagai korban adalah sosok yang tak begitu penting sehingga terlupakan. Tapi mengingat beliau sebagai cucu Sang Nabi rasanya miris sekali jika kejadian ini dianggap tidak penting, bahkan cenderung disepelekan dan dilupakan.

Bukankah dalam beberepa cerita dan riwayat dikisahkan betapa Nabi mencintai keluarganya termasuk cucunya Sayyidina Husain. Nabi pernah berkata bahwa cucunya Hasan dan Husain adalah dua pemuda penghulu surga. Bukankah seluruh aspek kehidupan Nabi perlu kita contoh. Termasuk bagaimana cara Nabi mencintai anak dan cucunya, juga harus kita ikuti selaku umatnya. Karena yang Nabi lakukan tidak sedikitpun keluar dari hawa nafsunya semata.

Malang sekali nasib cucunda Nabi Agung Muhammad Saw. Sayyidina Husain harus mati terbunuh dengan cara yang mengerikan. Tubuh dan kepala harus terpisah disaat meregang nyawa. Kakaknya Sayyidina Hasan mati terbunuh karena racun yang begitu dahsyatnya. Aku tidak dapat membayangkan betapa sedihnya kanjeng Nabi Saw. Cucu yang semasa hidupnya ditimang-timang, diciumi, bahkan membuat sang nabi berlama-lama sujud karena Sayyidina Hasan dan Husain sedang bermain dipunggung beliau, harus terbunuh di tangan umatnya yang mengaku memegang teguh risalah yang diajarkannya.

Apakah umatnya hari ini juga akan berusaha melupakan atau mengubur kisah ini tanpa mau mengambil pelajaran dan hikmah?
Setelah beberapa lama secara tak sengaja aku bertemu dengan teman yang pernyataannya membuat aku terangsang membaca kembali sejarah. Halo bro, sapaku padanya. Kemana aja? Lama kita ngga ngobrol sambil ngopi bareng. Nasib ente beruntung yah bisa mengenal sejarah dengan baik. Bahkan sudah dapat memotivasi orang lain termasuk ane, untuk membuka kembali lembaran sejarah yang sudah tak lagi menarik di mata kawula muda. Kakek ente sehat? Ente benar-benar cucunya Kakek Muhamad yang top deh.

IMAM HUSEIN ADALAH PUNCAK KERIDHOAN

Perjuangan Imam husein, sudah mencapai titik puncak Maqam keridhoan. Apa itu ridho dalam pengertian madrasah husainiyah? Salah satu mishdaq (realitas luar) surah al-Fajr ayat 27-30

 • •      •       • 

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang Ridho lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku”.

Allah mengundang langsung bagi hambnya yang memiliki jiwa yang tenang. “Silahkan anda masuk ke syurgaku” adalah bahasa undangan langsung dari Allah. Mengapa masuk daftar nama yang diundang oleh Allah?, karena dia memiliki keridhoan, dan allah pun meridhoi. diRidho, keridhoan dan meridhoi satu syarat menjadi makhluk yang diundang langsung oleh Allah. Keridhoan seorang hamba dan keridhoan Allah mensaratkan cinta hakiki. Salah satu bukti real ayat ini, adalah syahidnya cucunda Rasulullah imam Husein di karbala.

Ketika menjelang hari kiamat, malaikat meniup sangkakala dua kali. Tiupan pertama adalah kehancuran makhluk, semua musnah, al-qur’an bercerita tsunami, air laut tumpah kedarat lalu terbakar, kenapaa bisa terbakar ? karena unsur air mempunyai zat yang mudah terbakar yaitu hidrogen dan oksigen. Tiupan sangkakala kedua adalah membangkitkan kembali semua makhluk. Dalam hari kebangkitan itu semua manusia sibuk dengan dirinya masing maisng, tidak memperdulikan yang lain. Sampai ibu, anak, istri dan suami semuanya tidak dipedulikan. Qur’an Surah Abatsa ayat: 33-40

  •                                

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu”.

Secinta-cintanya orang kepada kekasih, kepada ibu atau saudara, keluarganya, tetap tidak akan memperdulikan di akhirat kelak. Saking sibuknya orang dengan urusan masing masing. Kemudian ada sekelompok orang yang yang mempunyai sayap dan terbang begitu cepatnya. Tidak melewati jembatan sirath dan neraka, malaikat bertanya kenapa anda langsung kesini? Kata mereka kami tidak perlu dihisab lagi atas pernintah Allah, kata mereka, kami adalah orang-orang yang Ridho.

Bagi orang yang ridho, Apapun yang terjadi tidak akan berpengaruh. Bagi orang ridho, kaya miskin, sakit sehat, derita bahagia, manis pahit, semuanya sama. Contoh sederhana, belaian dan cubitan seorang kekasih itu sama. Tidak pengaruh, sakit atau tidaknya, baginya adalah ridho karena kecintaan. Maqam nafs al-mutmainnah pasti mencapai kondisi ini.

Dua tokoh sufi yang bertemu, basyar alhafi bertanya kepada fudhail al-ayyad, mana yang lebih tinggi zuhud dan ridho? Zuhud masih proses mencinta, sementara ridho adalah kesampaian antara pencinta dan dicinta. Ridho lebih tinggi ketimbang zuhud.

Sayyidina Ali berkata: Sungguh yang paling tenang jiwanya adalah orang dalam hidupnya ridho dengan apa yang Allah berikan, makanya badannya akan sehat dan kuat. Sejatinya badan mengikut kepada jiwa, ada terapi penyembuhan badan dengan jiwa, seperti pada film avenger Doktor strange. Jika jiwa sudah kuat dan badan ikut, maka hukum badan tidak akan berlaku lagi, tidak terikat materi sakit dan derita badan tidak terasa. Inna qorib al-iman huwa ridho. Sebaik-bakinya kerabat iman adalah keridhoan.

Juga Orang yang paling cerdas (mengenal Tuhan) adalah orang yang paling ridho, semua ciri keridhoan itu ada pada imam Husein. Dalam sifat ridho, terdapat juga sakinah, ada beberapa riwayat menyebutkan, sakinah adalah angin surga yang menghembus ke hati seseorang, sehingga hati orang tersebut menjadi tenang.

Malik bin auf ketika berbicara kepada penghulu kabilah, kemungkinan Nabi akan menyiapkan pasukan dari 2.000 orang dari fahtul mkkah, dan 10.000 orang yang sudah bersamanya. Ketika sampai di hunain maka musyrikin memblokade kaum muslimin secara serentak tidak terduga, semua terpencar dan amburadur barisan. Namun Ali tidak gentar dan tetap tenang. Kenapa demikian karena Ali sadar sedang memegang amanah, dan ridho akan amanah itu, kenapa demikian? karena Allah telah memberikan sakinah dalam hati keimanannya.

Perjuangan imam Husain di karbala telah menemui puncak tawakkal, puncak sakinah, puncak keridhoan. Dengan pasukan yang sedikit, tanpa setetes air minum melewati kerongkongan, tenda-tendanya dibakar, perempuan dianiaya, harta dirampok, anak-anak, bahkan bayi pun dibunuh, semua penderitaan juga mencapai puncaknya di tanah karbala.

Imam husein tempuh untuk menegakkan agama kakeknya Rasulullah. Sehingga zainab pun bergumam “ma raitu illa jamilah” tidak ada penampakan yang saya lihat, kecuali keindahan, semua itu adalah ridho dari ketentuan Allah.

Jakarta, 5 September 2019

LISAN, UKURAN KEHEBATAN MANUSIA (Syarah Nahj Al-Balaghah)

Pesan Sayyidina Ali dalam Kitab Nahj Al-Balaghah ke-148

المرء مخبوء تحت لسنه

Manusia itu tersembunyi, tertutupi dibawah lisannya

Kehebatan Manusia, salah satunya bisa diukur dari bahasanya. Bahasa yang dimaksud disini meliputi lisan dan tulisan, apakah dengan media berbicara atau media tulis. Sayyidina Ali sudah lama mengingatkan akan menjaga harkat martabat dan kewibawaan dengan Lisan tulisan.

Sementara era digital sudah mereduksi makna dan tidak sedikit yang terjebak dengan dunia simbol. Orang tampil gagah di youtube dengan media Lisan, berbicara sesuai dengan kemampuannya.

Begitupun media sosial seperti Facebook, Whats’app, Instagram, twitter dan sebagainya, juga menampilkan bahasa tulisan. Semua media di era digital penuh dengan pesan lisan dan tulisan. Wibawa seseorang bisa diukur bagaimana dia berkomunikasi di medsos baik itu tulisan ataupun lisan.

Jangan terlalu banyak bicara, supaya terjaga wibawanya. Sebab jika sudah keluar kata kata itu, maka bukan milik kita lagi. Hati hati dengan kata kata, sebab itu bisa menjadi petaka, juga bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Seperti kasus yang baru terjadi, hanya dengan bahasa, itu bisa mengundang petaka bagi kelompok yang lain. Menimbulkan Konflik, intimidasi ras kepada saudara saudara kita yang ada di Papua.

Sebab itulah pesan ke-149 Melanjutkan

“هلك أمرؤ لم يعرف قدره”

Binasalah seseorang yang tidak mengenal kapasitasnya

Dia akan menghancurkan dirinya sendiri. Dia mengemban amanah diluar dari kemampuannya. Kapasitasnya hanya mampu menjadi warga biasa, malah memaksakan diri menjadi pemimpin RT pemimpin Desa, pemimpin kecamatan bahkan menjadi Wakil Rakyat.

Banyak yang ikut ikutan mengembang amanah rakyat hanya dengan Gengsi dan ketenaran, bukan mengukur kualitas dirinya. Lebih celaka lagi, kadang-kadang gengsi itulah bisa menutup pengetahuan, ilmu dan kualitas. Ikuti saja kehidupan itu, sesuai dengan Kemampuanmu. Sebab dalam kehidupan tidak ada pencapaian. Semuanya adalah proses.

Jadi presiden, kepala desa, anggota DPR, pengantin baru bahkan jomblo pun juga proses, semuanya adalah proses. Setelah menikah juga proses. Oleh sebab itu perbaiki proses itu untuk mencapai hasil yang baik. Terkadang banyak yang gagal karena merasa sudah sukses dan disebut sebagai pencapaian hakiki.

Pencapaian hakiki hanya ada pada akhirat, bukan Dunia. Proses kadang kadang juga dipengaruhi era milenial. Sehingga berproses tidak memperhatikan kualitas. Semua suka hura-hura dan hubbu rohah seperti Main game dan sebagainya. Tidak menempa dirinya dengan kekuatan dan kualitas, menghasilkan manfaat dan faedah berkah.

Jakarta, 29 Agustus 2019

MENGHIDUPKAN WILADAH DAN SYAHADAH PARA AIMMAH

(Kuliah Umum Ustadz Rusli Malik)

Oleh:

Husain Haidarullah Muqimuddin

Senin 15 Juli 2019, di aula pondok pesantren Khatamun Nabiyyin Jakarta.

Alhamdulillah marilah pertama kita ucapkan syukur atas wiladahnya Imam Ali bin Musa Ar Ridho, dan pada hari ini ada pembahasan yang menarik tentang kata Rasul, bahwasanya kata Rasul itu berasal dari kata rasala-yarsilu atau arsala-yursilu yang bermakna mengutus, adapun kata Rasul disini bukan hanya terfokus untuk para rasul yang diutus Allah SWT saja.

Karena di dalam surah Yusuf ayat 50 menggunakan kata Rasul juga yang makna ayat tersebut “Utusan dari sang Raja Mesir ke Nabi Yusuf”, atau para sahabat hawariyun nabi Isa As yang di mana mereka semua di gelari dengan kata Ar-Rasul juga, kesimpulannya siapapun itu yang diutus maka dia dinamakan dengan rasul atau Mursal, sedangkan orang yang mengutus disebut dengan mursil.

Surah Yasin ayat 13-14 juga menjelaskan tentang kaum hawariyun yang Nabi Isa utus ke suatu tempat, utusannya nabi Isa juga merupakan utusan Allah SWT karena pada ayat 14 surah Yasin menggunakan kata Arsalana yang ada keterlibatan makhluk sama pencipta-Nya untuk mengutus orang.

Ayat Al-qur’an menggunakan kata domir ana dan nahnu bukan hanya sekedar ingin memperindah sastra yang terdapat pada Al-Qur’an, melainkan bermakna kata penggunaan nahnu berarti ada keterlibatan makhluk selain pencipta dalam melaksanakan tugas-Nya, seperti Allah SWT yang menurunkan Al-Qur’an melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad Saw, dan ini ada keterlibatan makhluk Tuhan. Adapun penggunaan kata ana memang hanya Allah SWT saja yang melakukan seperti pada ayat “Wa Nafakhtu min ruhi” yang tidak ada keterlibatan makhluk.

Sekarang adalah bulan Dzulhijjah, bulan ini merupakan bulan musim haji dan ghadir kum yang keduanya ini tidak bisa dipisahkan. Imam juga dikategorikan sebagai Mursalun karena beliau semua dipilih melalui nabi untuk kita, utusan dan pilihan Nabi juga merupakan pilihan Allah SWT.

Setiap Nabi terlekat pada dirinya berupa risalah-Nya, begitupun dengan para imam. Karena Risalah yang akan disampaikan oleh Imam Mahdi kelak diberikan oleh ayahnya yaitu Al-Hasan, dan beliau mendapatkan juga dari ayahnya hingga berujung kepada Nabi Muhammad Saw, dan itu merupakan mata rantai yang tidak akan terputus.

Adapun kewajiban yang pertama kali yang harus nabi lakukan tatkala mereka diutus oleh-Nya, menyatakan bahwa tugas dan diri mereka sebagai Mursal yang diutus, dan Para Imam pun sama. Karena Imam juga Mursalnya nabi yang dimana tujuan mereka dipilih sebagai cahaya pada umat, dan adapun para umatnya mau mempercayai mereka atau tidak itu bukan urusan kita.

Karena itu murni dari pribadi mereka lah yang hanya bisa menentukan dan mempercayainya. Adapun orang-orang yang sudah percaya kepada mereka para Imam, hendaklah mereka melakukan tugas mereka dengan cara menyiarkan cahaya ini ke tengah-tengah umat dengan menghidupkan perayaan hari-hari WILADAH & SYAHADAH para Imam. Karena kita tidak perlu mengajak mereka untuk masuk ke AB, tapi hanya menghidupkan hari hari tersebut.

Pada dasarnya manusia itu hakikatnya suka mencari sehingga mereka dinamakan dengan Tolib, walaupun yang mereka cari dan dapatkan sesuatu yang tidak begitu penting, seperti manusia yang sedang berpergian dari Kalimantan ke Jakarta melalui pulau kemudian mereka terperdaya oleh banyaknya godaan jajanan berupa ikan dan buah-buahan sehingga mereka banyak mengisi tas mereka dengan itu semua, padahal di Jakarta lebih banyak terdapat buah buahan dan ikan dengan harga lebih murah, dan begitu lah kerugian dari manusia. Andaikan saja mereka mengisi tas mereka dengan sesuatu yang berharga seperti emas yang harga 1 gram nya kini sudah 500.000 ribu, pasti mereka akan untung, akan tetapi ini merupakan contoh dari sifat mencarinya manusia.

Sehingga para nabi dan imam memperingati mereka untuk mencari dan mengumpulkan lah sesuatu yang penting saja dalam kehidupan ini. Adapun orang yang banyak mengumpulkan sesuatu hal yang tidak penting dalam hidupnya, maka orang tersebut sudah tergoda oleh kehidupan dunia.

Al-Qur’an sudah memberi peringatan kepada mereka dengan kata Wal Asri demi waktu dan orang-orang yang merugi pada makna surah asr tersebut, atau dengan ayat innamal Hayatud Dunya laibun wa lahwun, atau dengan ayat Qod aflaha man tazakka yang mensucikan diri dari sesuatu yang tidak penting dalam kehidupan ini.

Al-Qur’an pada zaman ini telah memberikan Tasdik pada kehidupan dunia dengan ini, dan menyatakan bahwa segala sesuatu akan fana kecuali Wajah Allah Swt. Manusia janganlah mudah tergoda pada kehidupan dunia dengan apa yang telah Al Qur’an katakan “karena betapa banyaknya manusia yang mengikuti kehidupan dunianya” watu sirunal Hayatad Dunya.

Jadikanlah kehidupan ini sebagai sebuah sarana untuk menuju ke akhirat. Para Nabi dan Imam berusaha untuk membawa umat menuju kepada Akhirat.

Yang telah terjadi saat ini, betapa banyaknya orang-orang yang merupakan lulusan pesantren, akan tetapi mereka belum bisa untuk menerapkan tasdiq Alquran pada kehidupannya, sehingga betapa banyak dari mereka keluar dari pesantren bukannya menjadi figur dan panutan akan tetapi mereka lebih buas dan ganas dalam masalah material, dan banyaknya orang yang berilmu agama tapi yang membunuh sesama saudaranya di masjid. Contohnya saja seperti Abdurrahman Bin Ibnul Muljam yang merupakan seorang hafidz Qur’an membunuh imam Ali Di Masjid tatkala Shalat fajar yang lebih baik dari seluruh kehidupan dunia.

Kehidupan dunia ini hanya sementara, karena faktanya tidak ada orang yang hidup abadi di dunia ini. Dan bertujuanlah kepada Akhirat karenanya kehidupan disana abadi dan kelak, karena faktanya tidak terdapat seorang mayatpun yang sudah mati bisa hidup kembali di dunia ini.

Manusia digambarkan dalam Al-Qur’an tatkala mereka bangkit menuju alam barzakh seperti hewan laron yang berterbangan dan tak tau asalnya darimana.

Di dalam surah Al qomar terdapat empat ayat tentang Alquran mudah untuk dihapal, dibaca, dikaji, sehingga Al-Qur’an ini tidak perlu dipertanyakan kesahihannya, atau sanadnya atau tidak perlu dibawa masuk kedalam ilmu dirayah dan semacamnya, karena Alquran tidak dibuat sulit, kalo memang dibuat sulit, misalnya kita bisa menjadikan ini sebagai argumentasi di hadapan Tuhan.

Orang yang bodoh dan merugi yang di mana mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan dirinya. Seperti orang yang ditawarkan uang sebesar 1.000 rupiah dan seratus ribu tapi orang tersebut malah memilih uang yang 1000 rupiah.

Kata fahal min muddakir merupakan kalimat tanya, yang di mana sedikitnya manusia yang mengambil pelajaran dari Alquran. Akan tetapi lebih sibuk dengan grup Wanya atau lebih sibuk menghabiskan waktunya dengan banyaknya menonton film Korea, dan itu semua tidak akan dipertanggungjawabkan di hari hisab kelak, karena tidak terdapat pertanyaan dari malaikat berapa rating sinetron Korea yang terbagus, dan lainnya.

Adapun ayat ini terdapat pada surah Qamar yang bermakna bulan dan bulan hanya memantulkan cahaya tugasnya, adapun Al-Qur’an laksana bulan yang memancarkan cahaya Allah pada yang membaca dan mengambil pelajaran darinya. Sehingga manusia bisa mendapatkan cahaya Allah SWT melalui Alquran. Yang menjadikan Al-Qur’an itu mudah ada 2 hal yaitu:

1. Al-Qur’an ini memiliki bentuk dan tulisannya.

2. Al-Qur’an ini memiliki pasangan yaitu para Mursalun (Nabi Dan Imam).

Karena kehidupan para imam itu merupakan cerminan dan jelmaan dari Alquran. Jangan sampe salah figur dalam kehidupan ini. Adapun santri tatkala mereka keluar dari ranah pesantren harus bisa menjadi figur yang baik, dan jangan hanya fokus untuk bergelut dengan bahasa Arab saja karena abu lahab pun lebih jago bahasa arabnya, dan jangan terfokus masalah jilbab saja yang diurus karena biarawati di film Maryam pun berjilbab yang syar’i, dan jangan terpokus dengan hafalan Qur’an saja karena Wahabi pun banyak penghafal qurannya. Santri ini harus bisa bermanfaat pada umat dengan cara memerdekakan pikiran yaitu menolak segala hegemoni yang sedang menjajah kita, yang awalnya mereka menjajah melalui pikiran, hingga kita menyerahkan kepada mereka segala SDM yang ada.

Menolak segala hegemoni pada dasarnya dengan kata la ilaha illah.

Semoga bermanfaat, amiin.

Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad Wa Ali Muhammad.

Jakarta, 15 Juli 2019