Konsekwensi mencintai Allah adalah mengikuti Rasulullah. Allah berfirman surah al-Imran:31
Qul inkuntum tuhibbunallah, fattabi’uni yahbibkumullah.
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penggunaan diksi “ikut”, bukan hanya ikut ibadah mahdhah seperti ikut sholat seperti Nabi, hajinya Nabi, puasanya Nabi dan sebagainya. hanya mengikuti gerakan fisik dalam ibadah saja. Lebih tepatnya diksi “Ittabi’uni” adalah wujud kecintaan kepada Rasulullah dan keluarganya yang selalu berada diatas matriks kebenaran.

Kolom kehidupan selalu mendapat dua konsekwensi di akhirat, yaitu syurga dan neraka. Jika akhirat hanya ada dua, maka di dunia juga ada dua wilayah, yaitu matriks benar dan salah. Coba perhatikan, sesuatu yang salah itu bisa banyak, sementara sesuatu yang benar, harus dan mesti satu. Logika matematika mengatakan jika 1+1=2 itu benar, maka itu mutlak yang benar hanya satu, dan yang salah banyak, seperti 1+1=1 atau 1+1=3 atau 1+1=4, 1+1=5 dan seterusnya.

Karena salah itu cenderung banyak, sehingga Nabi diutus untuk mengingatkan manusia kebanyakan. Sementara kebenaran, tolak ukur kebenaran bukan pada mayoritas melainkan pada kualitas sebab melalui media aqli. Maka fungsi al-Qur’an adalah al-Furqon sebagai pembeda antara benar dan salah, dan itulah fungsi akal. Fungsi akal secara universal di seluruh dunia sama, jadi dimanapun kita berada dan siapapun dia logika akal dan matematika pasti sama.

Akal bekerja dan mengatakan sebelum semuanya ada, maka yang ada hanyalah Allah, tidak pernah didahului ketiadaan dan selalu ada atau sebabnya tidak tersebabkan. Setelah Allah, makhluk pertama yang diciptakan adalah Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad lahirlah semua semesta alam, sampai pada alam paling bawah yaitu alam materi. Nur muhammad dititipkan di tubuh kasar manusia, sehingga al-Qur’an berbicara dalam surah al-hijr ayat 28-29

Wa idz qola robbuka lilmalaikati inni khalikun basyaran min shalshaalin min hamaain masnuun Fa idz qola sawwaituhu, wa nafakhtu min ruhi faqauu lahu saajidin

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”

Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud

Penciptaan manusia dari materi, setelah sempurna maka kutiupkan padanya ruh dengan kalimat “Min Ruhii”, kepada Manusia. Ketika Allah mendeklarasikan manusia kedua kalinya maka manusia pada saat itu adalah khalifah, surah al-Baqarah ayat:30. Artinya manusia adalah materi yang rendah dan hina dari tanah namun diberikan keistimewaan oleh Allah dengan ruh dan menjadikannya ciptaan terbaik (surah at-Tin:4). Ada yang lulus menjadi makhluk terbaik (Ahsanu taqwim), ada juga yang jatuh terperosok menjadi makhluk terburuk (Asfala saafilin).

Lalu, mengapa adam dilantik menjadi khalifah? Karena tubuhnya diliputi oleh materi yang hina namun mengandung sesuatu yang suci yaitu ruh Allah. Tranformasi ruh kepada jasad, tidak ada yang berkurang dari jasad dan ruh degan cara mengajari ilmu pengetahuan. Sejak saat itulah adam menjadi manusia sempurna maka adam mendapat gelar representase dari Allah. Jika demikian, mengapa ada manusia turunuan dari adam menjadi kotor dan jahat?

Ketika Allah berfirman “fasajaduu…!” bersujudlah para malaikat, illa iblis kecuali iblis. Dengan demikian, sudah nampak jelas ada dua eksistensi, taat dan pembangkangan. Pada saat iblis menolak untuk sujud, maka dialah yang mengambil peran antagonis dalam sejarah kehidupan manusia. Iblis bisa masuk ke dunia manusia dan jin, memainkan peran kebathilan. Asal muasal pertentangan haq dan bathil dari sini, sangat jelas dan nampak terjadi di tragedi karbala.

Manusia adalah makhluk materi, memiliki common sense alat indra, naturalis yang sama yaitu berpegang kebenaran, karena memang berasal dari kebenaran. Namun iblis dan syaitan bekerja untuk membisikkan was-was keraguan dari mengenal kebenaran seperti dalam al-Qur’an surah an-Nas. Manusia untuk membendung was-was, maka harus menggunakan kekuatan akal, manusia disebut hayawan namun nathiq, benar kalau termasuk golongan hewan namun mampu mengenali kebenaran dengan akalnya.

Apa yang dikatakan oleh iblis “Ana khairun minkum” penggunaan diksi aku sangat berbahaya, Allah menggunakan kata “Aku” selalu didahului bahasa Qul (katakanlah Muhammad). Mengapa demikian? Karena sang aku hanyalah Allah, iblis berasal dari Allah juga, ketika mengaku aku berarti telah melangkahi hak prerogatif Allah. Maka apapun yang diperbuat oleh iblis maka pasti itu adalah bathil keburukan.

Ketika adam telah hidup didunia, dua matriks benar dan salah masih tetap eksis. Syaithan memberikan was-was kepada manusia, dan wujudnya adalah qobil dan habil, pertarungan antara bathil dan haq kembali terjadi. Al-Baqarah ayat 30-39, ayat 30-34 bicara adam yang suci, ayat 35-39 berbicara adam yang terjatuh, dari sini lahir perseteruan. Adam yang jatuh adalah qobil sebagai golongan kiri. Bahasa qobil adalah “la aqtulakum” saya akan membunuhmu. Yang terseret dengan bahasa iblis, selalu cenderung berbahasa darah, senjata, kekerasan dan kebencian.

Sementara habil menggunakan diksi

Allah hanya akan menerima, persembahannya orang yang bertaqwa saja

jawaban habil tidak reaksioner. Jika jawabnnya melawan juga maka posisinya sama. Dua karakter ini, kembali bertarung lagi pada zaman Nabi Nuh, sangat sedikit masuk golongan kanan, termasuk anaknya juga terjerat dalam lembah kiri. Hampir 950 tahun berdakwah hanya mendapatkan 100 pengikut, ada yang mengatakan 70 orang, 8 anggota keluarganya.

Menariknya, ketika sudah sampai detik-detik terhempas, Nabii Nuh masih memberikan penyelamatan kepada kaumnya dan anaknya dengan bahasa al-qur’an

Ya bunayya irkab ma’ana, wa la takun ma’a al-kafirin”, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama Kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Peristiwa dua matriks kebenaran dan kebathilan selalu dan akan selalu bertarung. Dan ini kembali terjadi di karbala. Begitupun dengan Nabi Shaleh, dua matriks kembali bersanding dalam issue hewan unta. Akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s