
Pesan Sayyidina Ali dalam Kitab Nahj Al-Balaghah ke-148
المرء مخبوء تحت لسنه
“Manusia itu tersembunyi, tertutupi dibawah lisannya”
Kehebatan Manusia, salah satunya bisa diukur dari bahasanya. Bahasa yang dimaksud disini meliputi lisan dan tulisan, apakah dengan media berbicara atau media tulis. Sayyidina Ali sudah lama mengingatkan akan menjaga harkat martabat dan kewibawaan dengan Lisan tulisan.
Sementara era digital sudah mereduksi makna dan tidak sedikit yang terjebak dengan dunia simbol. Orang tampil gagah di youtube dengan media Lisan, berbicara sesuai dengan kemampuannya.
Begitupun media sosial seperti Facebook, Whats’app, Instagram, twitter dan sebagainya, juga menampilkan bahasa tulisan. Semua media di era digital penuh dengan pesan lisan dan tulisan. Wibawa seseorang bisa diukur bagaimana dia berkomunikasi di medsos baik itu tulisan ataupun lisan.
Jangan terlalu banyak bicara, supaya terjaga wibawanya. Sebab jika sudah keluar kata kata itu, maka bukan milik kita lagi. Hati hati dengan kata kata, sebab itu bisa menjadi petaka, juga bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Seperti kasus yang baru terjadi, hanya dengan bahasa, itu bisa mengundang petaka bagi kelompok yang lain. Menimbulkan Konflik, intimidasi ras kepada saudara saudara kita yang ada di Papua.
Sebab itulah pesan ke-149 Melanjutkan
“هلك أمرؤ لم يعرف قدره”
“Binasalah seseorang yang tidak mengenal kapasitasnya”
Dia akan menghancurkan dirinya sendiri. Dia mengemban amanah diluar dari kemampuannya. Kapasitasnya hanya mampu menjadi warga biasa, malah memaksakan diri menjadi pemimpin RT pemimpin Desa, pemimpin kecamatan bahkan menjadi Wakil Rakyat.
Banyak yang ikut ikutan mengembang amanah rakyat hanya dengan Gengsi dan ketenaran, bukan mengukur kualitas dirinya. Lebih celaka lagi, kadang-kadang gengsi itulah bisa menutup pengetahuan, ilmu dan kualitas. Ikuti saja kehidupan itu, sesuai dengan Kemampuanmu. Sebab dalam kehidupan tidak ada pencapaian. Semuanya adalah proses.
Jadi presiden, kepala desa, anggota DPR, pengantin baru bahkan jomblo pun juga proses, semuanya adalah proses. Setelah menikah juga proses. Oleh sebab itu perbaiki proses itu untuk mencapai hasil yang baik. Terkadang banyak yang gagal karena merasa sudah sukses dan disebut sebagai pencapaian hakiki.
Pencapaian hakiki hanya ada pada akhirat, bukan Dunia. Proses kadang kadang juga dipengaruhi era milenial. Sehingga berproses tidak memperhatikan kualitas. Semua suka hura-hura dan hubbu rohah seperti Main game dan sebagainya. Tidak menempa dirinya dengan kekuatan dan kualitas, menghasilkan manfaat dan faedah berkah.
Jakarta, 29 Agustus 2019