
By: Farham Rahmat
Santri Khatamun nabiyyin
Fathimah adalah manifestasi Rasulullah, satu satunya wujud menggambarkan sosok rasulullah secara paripurna. Artinya, mengenal Rasulullah adalah mengenal Fathimah. Tidak mengenal fathimah maka juga tidak menganal sosok Rasulullah. Kita bisa saja menelusuri gambaran dan rekam jejak beliau dalam sejarah, namun yang paling penting, bagaimana mengikuti beliau dari segala aspek dalam bingkai perbuatan sehari hari.
Barangsiapa yang ingin mencari jalan kesucian menuju Nur Muhammad, tidak ada jalan lain kecuali dari mengenal putrinya Fathimah.
Dalam ziarah fathimah, kita diajarkan dengan do’a “
السَّلامُ عَلَيْكِ يَا مُمْتَحَنَةُ امْتَحَنَكِ الَّذِي خَلَقَكِ فَوَجَدَكِ لِمَا امْتَحَنَكِ صَابِرَةً أَنَا لَكِ مُصَدِّقٌ صَابِرٌ عَلَى مَا أَتَى بِهِ أَبُوكِ وَ وَصِيُّهُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمَا وَ أَنَا أَسْأَلُكِ إِنْ كُنْتُ صَدَّقْتُكِ إِلا أَلْحَقْتِنِي بِتَصْدِيقِي لَهُمَا لِتُسَرَّ نَفْسِي فَاشْهَدِي أَنِّي ظَاهِرٌ [طَاهِرٌ] بِوِلايَتِكِ وَ وِلايَةِ آلِ بَيْتِكِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ
Salam atasmu wahai wanita teruji, yang Zat Penciptamu mengujimu lalu telah menemukanmu sabar terhadap semua yang ditimpakan atasmu, Aku membenarkan kesabaranmu dalam memikul apa yang telah dibawa oleh ayahmu dan washinya as. Aku memohon kepadamu, ketika aku membenarkanmu, agar mengumpulkanku bersama mereka berdua supaya jiwaku menjadi bahagia. Maka, saksikanlah bahwa aku menang karena mencintaimu dan keluargamu (semoga shalawat Allah tercurahkan atas mereka semua
Mari kita Renungi, ada makna kesabaran yang sungguh agung, kesabaran itulah mengantarkan kepada sebab kesempurnaan. Makna ujian itu sebelum diciptakan adalah apakah ada eksistensi sebelum fathimah ? dalam filsafat islam, wujud paling rendah adalah wujud materi fisik itu sendiri.
Contoh sederhana, Al-Qur’an yang kita baca adalah perwujudan mempunyai arti tadrij. Artinya berangsur angsur diturunkan, dalam keadaan seperti itu, lalu wujud hakiki Al-Qur’an dimana ?, jawabannya ada di Lauh Mahfuzh. Setelah itu masih ada wujud yang paling tinggi lagi, yaitu Ummul Kitab. Mengapa mempunyai tingkatan wujud, Agar kita tahu Al-Qur’an sebagai hakikat yang sesungguhnya.
Manusia juga seperti itu, manusia seperti kitab. Ini terbukti pada saatrasul dinamakan Qur’an yang berjalan. Jadi, wujud sayyidah fathimah adalah insan kamil juga perwujudan Al-Qur’an itu sendiri dalam bentuk kitab yang berjalan. Seperti sebelum adam diciptakan di dunia ini, Rasulullah sudah mempunyai wujud yang lain. Keberadaan manusia adalah karena wujud historis, sementara keberadaan ruh kita tidak terbatas, dan tidak terikat ruang dan waktu.
Alqur’an menjelaskan Al-a’raf:172
“dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anakAdam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
QOLU BALA SYAHIDNA. Allah tahu kita sebelum kita dicipatakan di dunia ini. Wujud kita disebut sebagai wujud ilmi, dalam bentuk Ilmu tuhan. Allah tahu semua apa yang manusia lakukan di dunia ini. Dan ketika Allah menguji kita, maka itu disebut sebagai ujian takwini yaitu pada saat ditanya sebelum diciptakan. Ada juga ujian tasyri’I seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Mulk
“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”
Sayyidah fathimah Az-Zahra pertama kali diuji secara takwini setelahnya adalah ujian tasyri’I. Maka Allah mengetahui semua yang dilakukan. Semua diperlihatkan apa yang akan terjadi nanti di dunia ini. Dalam diri fathimah, Hanya ada potensi baik, tanpa ada potensi buruk. Allah menguji fahtimah bagaima kenapa ? karena untuk mencapai kesempurnaan hakiki. Cinta ada secara mutlak ada juga yang terbatas. Mencintai lahiriah keindahan adalah wajar, namun Semua ini terbatas, dibaliknya ada keindahan sempurna. Yang menciptakan semua keindahan ini lebih indah dari keindahan. Fitrah manusia diciptakan untuk mencintai keindahan yang paling indah.
Lantas, kita mencintai seseorang kita akan berkorban untuknya, bagaimana ketika mencintai Allah, kita akan melakukan semua perintah Allah. Dan itu adalah bukti. Jadi, Cinta itu tdak bisa dialami secara hakiki oleh manusia yang tidak arif dan paripurna. Karena dia harus mengenal tuhan secara sempurna pula. Karena tidak mengenal pasti tidak mencintai juga. Apalagi sampai menyaksikan Allah secara langsung. Seperti Sayyidina Ali berkata: saya tidak akan menyembah sesuatu yang aku tidak lihat.
Fathimah hadir dan menerima ujian sebagai keindahan tersendiri. Manusia biasa tidak akan mampu menerima ujian seperti itu, itulah mengapa dia menerima gelar insan kamil. Allah memeberi gelar itu karna sudah mengalami ujian berat. Itulah mengapa para wali Allah selalu diberi ujian, karena proses penyempurnaan itu, seperti diberi ujian ketika ingin penaikan kelas, dan hadiah yang paling berharga setelah melewati ujian berat dari Allah adalah menjadikannya Al-Kautsar untuk Rasulullah ayahandanya.
Dalam kehidupan ini kita diberikan kenikmatan duniawi, tapi memanfataakan duniawi adalah aksidental bukan essensial. Karena itu, sifatnya hanya kebutuhan sementara. Dengan tubuh aksidental disitu adanya potensi, sehingga kita mempunyai potensi menyempurna terus menerus. Itulah mengapa kita harus memanfaatkan secara aksidental untuk peneyempurnaan.
Contoh kecilnya, siswa Tidak bisa belajar dengan baik ketika tubuhnya bermasalah, mungkin sakit atau cacat. Dan ini adalah alasan kenapa kita harus memanfaatkan duniawi untuk penyempurnaan ukhrawi.
Sayyidah fathimah mengajarkan untuk memnafaatkan dunia secaraminimalis dan sederhana.
Gunakan kebutuhan secukupnya, setelah itu bukan kebutuhan lagi, melainkan yang ada hanyalah tidak penting dan sekunder. Hal hal yang bersifat Sekunder, satu pun sayyidah Fathimah tidak pernah mencicipi kenikmatan itu , selalu yang penting dan sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan.
Banyak orang menghabiskan waktunya untuk mengejar duniawi memperkaya diri memiliki barang barang mewah, sementara Fathimah hanya sekedar menjaga kesehatan dan melangsungkan hidup, itu saja, padahal beliau mampu lebih dari itu.
Ada beberapa Ujian Fathimah yang direkam oleh sejarah. Pertama, dalam usia muda, beliau disakiti oleh kaum quraish, waktu ayahandanya di embargo di sekitar mekkah. Kedua, ibunya sudah meninggal padahal umurnya masih belia. Ketiga, waktu ingin menikah, beliau diolok olok orang quraish, bahwa Sayyidina Ali tidak pernah kaya, tidak mempunyai jabatan.
Keempat, . Diuji dengan rumah tangga. Sangat sunyi, sempit dan fakir. Kelima, ketika ayahandanya wafat. Keenam, dikabarkan oleh ayahandanya tentang anaknya Hasan dan Husain yang akan dibunuh nantinya. Keenam, jauh dari ayahandanya sehingga banyak juga terror dari kaum munafiqin seperti saat Ali juga dibunuh oleh kaum khawarij Abdurrahman Ibnu muljam.
Satu hari salman AL-Farisi masuk ke rumah fathimah, salman mendapati fiddah (pembantu), tidur sementara Fathimah sendiri yang bekerja, bertanyalah salman, mengapa demikian ? lalu fathimah menjawab “kita ini membagi waktu untuk bekerja”.
Selain itu, beliau juga mendidik perempuan saat itu, direkam dalam khutbah-khutbah beliau.
Shobri min al-iman ka ro’si min jasad. Iman tanpa kesabaran tidak beratti apa apa. Iman beraal dari amanah, aman, selamat dan tidak ada ancaman sama sekali. Seorang mukmin dengan allah. Dekat dengan Allah perlu kesabaran yang intens. Semakin tinggi makam sesorang maka semakin tinggi ujianya. Mengaa karena allah ingin hambanya yang dicintai dekat dengannya.
Kalau mau dekat dengan keluarga nabi, maka harus diuji dan berdarah darah. Adakah nabi yang tidak diuji, ?. dirumah azzahra tidak ada makanan sama sekali, lalu fathimah disuruh mencari makanan di rumah rasul. Rasul berkata, ada lima kambing disini, pilih ini atau kata kata yang diajarkan oleh jibril. Lalu beliau memilih kata kata itu. Dan kembali. Dia pergi dengan mencari dunia, dan datang membawa akhirat. Dan allah yang memebrikan kepada kami akhirta dan duniawi itu.
sabarlah atas paitnya dunia untuk keindahan akhirat mu nanti. Beliau menjawab, Alhamdulillah atas kenikmatan ini. Gak pernah mengeluh. Dan syukur kepada allah atas nikmatnya. (Wa la saufa yu’tika wa tardha). Nama sayyidah Az-zahra karena bercahaya, kenapa cahaya itu bersal dari mihrabnya. Mihrab dipenuhi oleh cahaya.
Jakarta, 16 maret 2019
Luar biasa…
Fathimahkanlah aku ya Allah
SukaDisukai oleh 1 orang
Kerennn…
SukaSuka