OLEH: USMAN SUIL

Santri Khatamun Nabiyyin

Aku selalu yakin bahwa pendidikanlah yang akan memakmurkan segala sendi kehidupan seseorang. Latar belakang pendidikan akan menentukan nasib seseorang bahkan nasib bangsa ini. Semakin tinggi wacana mengenai pendidikan maka akan semakin tinggi tingkat kesejahteraan begitupun sebaliknya semakin rendah wacana mengenai kependidikan juga akan membawa kesejahteran semakin menurun, baik secara personal ataupun secara bersama-sama. Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah sikap kreatif seperti apa yang akan kita tuangkan hari ini.

Kreativitas berarti berbicara tentang sikap motivasi karena sikap kreatif itu fokus pada tugas serta cara penyelesaiannya. Saat ini, ada dua sikap secara umum yang bisa dilihat di dunia pendidikan tentang kebertujuan meraih sebuah prestasi. Prestasi akan ditentukan oleh motivasi tersebut, keduanya adalah kekreatifan dalam bentuk performance (prestasi karena kinerja) atau bentuk mastery (prestasi karena menguasai). Kedua bentuk tersebut akan sangat menentukan hasil akhir baik seorang pengajar atau yang diajar.

Apa perbedaan antara performance dan mastery dari sisi aplikasinya? Performance (kinerja) adalah seorang pelajar atau guru hanya mengejar nilai dalam tes dan ujiannya saja tanpa memikirkan apakah sudah dikuasai atau tidak sementara mastery (penguasaan) adalah mengejar atau mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap suatu objek yang diteliti atau dipelajari, tentu keduanya sangat berbeda tentang hasil akhir yang akan dicapai disebabkan hanya fokus sama kinerja sementara yang satu fokus sama kepenguasaannya.

Dari sini dapat kita lihat bahwa orientasi pada level kinerja akan menjadi superfisial, artinya tidak akan akrab terhadap ilmu yang dipelajari karena tidak terlalu menantang ketika memproyeksi pengetahuan sebab titik fokusnya hanya pada hasil akhir dan mengabaikan prosesnya. Adapun orientasi pada level mastery akan menghargai proses belajarnya, lebih memilih untuk menghadapi tantangan, percaya diri tentu memiliki banyak starategi untuk bisa menguasai apa yang ingin dipelajarinya.

Pendidikan hari ini pun telah direfeleksikan diantara kedua level diatas. Aplikasi pengetahuan dan keterampilan untuk meramu pendidikan secara fokus telah mengalami pergesekan atau perubahan. Kurangnya kreativitas pada pelajar ataupun pengajar telah menutup banyak jalan untuk mencapai kesuksesan. Sebenarnya sikap kita mengahadapi pendidikan bergantung dari cara kita memaknai kesuksesan itu seperti apa.

Saya menggaris bawahi bahwa hari ini kita lebih banyak memilih kreativitas dalam bentuk kinerja dibandingkan dengan kepenguasaan. Alasannya adalah karena kita belajar hanya untuk memperbaiki nasib, memperbaiki perekonomian, memperbaiki keuangan. Padahal kalau kita teliti lebih jauh lagi, untuk bisa memperbaiki taraf hidup menjadi lebih baik kedepan seharusnya lebih memperhatikan level kepenguasaan bukan pada kinerjanya. Baiknya kinerja ditentukan oleh sejauh mana kita menguasai bidang tersebut. Yang lebih jauh memperhatikan adalah “Semakin banyak imbalan yang kau tawarkan semakin banyak kreatifitas yang aku tawarkan” pada akhirnya kerja kita jauh dari keikhlasan dan dan banyaknya terbunuh kekreatifan seseorang karena ditentukan oleh uang.

Tinggalkan komentar