KETIKA KRISTEN BERBICARA SILA PERTAMA

(Orasi Prof. Magniz suseno dalam Acara Seminar Lintas agama Syiar Cinta 5)

Oleh: Salman Al – Farisi

Santri Khatamun Nabiyyin

Prof magniz memulai dengan latarbelakang bahwa Lahirnya Pancasila bukanlah hal yang kebetulan dan terjadi secara tiba-tiba. Namun lahirnya Pancasila melalui proses dan penyaringan yang panjang dan pelik. Dalam perjalanannya pembentukan dasar negara melewati banyak proses sehingga bisa terbentuk yang namanya Pancasila.

Tokoh pendiri bangsa meskipun mereka bergama islam namun mereka memikirkan bagaimana nasib bangsa mereka bisa berdiri langgeng dan kokoh. Mereka jauh berfikir kedepannya dalam merumuskan segala hal terutama Pancasila. Tentunya pacasila bukan hanya pandangan secara filosofis makna namun harus diejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jikalau Pancasila hanya berhenti pada ejeaan kata maka tidak akan memberikan pengaruh sama sekali dalam kehidupan. Karena pedoman dasar inilah bangsa Indonesia bisa bertahan hingga saat ini, karena ikatan yang erat dari pancasila itu. Dan Hal yang terpenting dalam Pancasila adalah sila pertama, dan masih banyak masyarakat yang masih primitif dalam menghadapi perbedaan yang ada dan menjadikannya sebagai perselisihan.

Agama menjadi hal yang sangat sensitif di kalangan masyarakat. banyak konflik yang muncul akibat permasalahan agama, masyarakat lebih mudah tersulut emosi mereka dengan hal-hal yang berbau keagamaan. Terutama di Negara Indonesia tercinta ini.

Melihat kondisi yang seperti ini tentunya menjadi sasaran yang sangat empuk bagi para pengadu domba. Namun sayangnya masyarakat indonesia kurang sadar akan hal ini. Sehingga mereka sudah tidak menghiraukan lagi makna persatuan yang menjadi ciri khas bangsa indonesia. Akar dari kekurang sadaran ini tentunya muncul akibat mereka selalu melihat perbedaan yang ada sebagai perselisihan. Sementara perbedaan adalah suatu kelaziman yang ada dari sejak manusia pertama kali bersosial. Jika kita selalu melihat pada perbedaan maka permasalahan yang ada bukan malah selesai namun menjadi lebih keruh.

Mereka melupakan bahwasanya persaudaraan bukan hanya dalam agama dan mazhab tertentu. Tentunya ini adalah pemaknaan yang sangat sempit dalam persaudaraan. Persaudaraan yang sebenarnya adalah sesama manusia. Mereka melupakan bahwa kita memiliki kesamaan yakni ketuhanan yang maha esa. Kesadaran akan perbedaan ini lah yang akan memersatukan kembali.

Maka dari itulah seminar syiar cinta ini digalakkan dengan tema “Studi Komparatif Tafsir Sila Pertama Pancasila”. Bertujuan memberikan pandangan kepada masyarakat yang berbeda agama agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam berpandangan terhadap agama lain.

Sosialisasi seperti ini bisa memberikan pengaruh yang nyata dalam penerapan berbangsa dan bernegara. Karena kebanyakan akar permasalahan adalah kesalahpahaman tentang agama yang berbeda dengan kita. pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan pandangan agama kristen berkenaan dengan pancasila sila pertama yakni ketuhanan yang maha esa.

Mungkin sebagian dari kita salah faham bahwa agama kristen meyakini tiga tuhan. Namun setelah kita menelusuri kebenarannya, ternayata mereka hanya menyembah satu tuhan. Yang menjadikannya tiga adalah kesalahpahaman manusia yang terbatas. Maka dari itu perlu bagi kita untuk berfikir dan menilai secara objektif.

Dalam ajaran Kristen Musa adalah nabi bukan Rasul. kita tidak bisa menyamakan perspektif Islam dengan Kristen. Karena perbedaan definisi maka beda pula pemaknaannya antara Islam dan Kristen. Kita harus objektif dalam memandang sesuatu permasalahan, misalkan dalam segi kerasulan dan kenabian ini.
Trinitas berasal dari kata Trias dan unitas dan Itu adalah 3 sifat Ilahi bapak. Banyak pemaknaan tentang bapak. Bapak yang dimaksud di sini bukanlah seseorang laki-laki sebagimana yang kita Gambarkan. Sebutan bapak dalam umat Kristen bukanlah Bapak laki-laki sebagaimana orang Islam yang menyebut Allah adalah sebagai anta dan huwa.

Tentunya kita memahami bahwa tidak ada satupun agama di dunia ini yang menafsirkan bahwa Tuhan adalah laki-laki termasuk Islam, Kristen, Yahudi bahkan Hindu dan Budha sekalipun. Dalam konsep agama Hindu dan Budha Ada sosok laki-laki dan perempuan namun itu bukanlah Tuhan itu sendiri melainkan jelmaan dari sifat-sifat Tuhan.

Dalam ketuhanan ada yang disebut dengan Firman Ilahi dan sumber Ilahi. Yang dimaksud disini jika bukan dalam pengertian bahwa Tuhan memiliki anak sehingga dia disebut Tuhan bapak. Umat Kristen menyatakan percaya pada satu Allah. Dalam bahasa Ibrani disebut juga sebagai iluhim nu’min biilahin wahid itu dalam pengertian umat Islam.

Dalam Kristen ada konsep one god atau konsep uluhiyah. Dalam konsep uluhian ini ini tidak ada seorangpun yang bisa melihat Allah. Dalam Yohanes ayat 18 menyatakan “bahwa Tidak seorangpun pernah melihat Allah”. Tuhan dalam konteks Yesus itu adalah Lord bukan ilah. Yesus disebut Allah itu karena dalam konteks firman Allah adalah Allah, janganlah kita terjebak pada pola-pola yang salah.

Orang kristen tidak pernah menuhankan Yesus sebagaimana manusia. Namun sebutan Tuhan di sini adalah junjungan. Yang disebut Allah adalah sang bapak, Yesus adalah FirmanNya Sang Bapak. Ada Firman yang kekal dan ada Firman yang temporal dalam bentuk manusia. Jikalau dalam pemahaman Husein Nasr al – Qur’an Lauhul Mahfudz ada yang berbentuk kertas dan ada yang berbentuk Abadi. Begitu juga dengan pemahaman kita terhadap Yesus sebagai Firman Allah Dan Allah sebagai bapak. Ilham disini diumpamakan sebagai Putra bukan sebagai anak yang lahir sebagaimana yang kita tahu, itu hanyalah kiasan untuk mendekatkan pemahaman kita tentang hal tersebut.

Sebagaimana seseorang melahirkan sebuah gagasan, gagasan bukan dimaknai sebagai kelahiran sebagaimana oleh orang yang hamil kemudian melahirkan seorang anak. ide yang saya lahir kan dari pikiran saya itu bukan berarti pikiran memiliki ibu sehingga dia bisa melahirkan seorang anak. Maka dari itu Nabi Isa lahir dari bapak yang tanpa ibu.

Konsep ajaran Kristen juga meyakini Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan sebagaimana yang islam yakini. Tuhan adalah gelar yang diberikan ketika Mesias turun ke dunia. Bukan dimaknai Tuhan sebagaimana Allah Sang Bapak. Tuhan artinya adalah tuan atau Lord dan bukan Allah. Pada hakikatnya semuanya adalah satu wujud. sebagaimana saya, roh saya dan perkataan saya.

Jika pikiran saya menjadi buku maka apakah buku itu termasuk saya? Iya itu adalah termasuk bagian dari saya secara terpisah, tapi dan saya telah menjelmakan diri saya menjadi buku. Bukan saya berubah sepenuhnya menjadi buku, ini adalah pendapat Katolik, Protestan, Ortodok, dan semua kristen sebelum terjadinya perpecahan. Namun yang kita lihat sekarang Bahwa gereja di barat mengalami banyak penafsiran yang bebas yang mana penafsiran tersebut disebabkan kesalah pahaman dan ketidak setiaan mereka terhadap sumber – sumber yang autentik. Yang autentuk inilah yang dinamakan dengan apostolic fathers atau tulisan tulisan yang berkaitan dengan Rasul langsung yakni dari murid Yesus.

Karena itulah mengapa kebanyakan orang yang tidak memahami dengan dalam agama kristen maka ia akan beranggapan bahwasanya kristen memiliki tiga tuhan.
Melihat penjelasan yang sedemikian jelasnya maka tentunya sudah tidak ada lagi yang beranggapan bahwasanya tuhan mereka adalah tiga. Namun tuhan mereka adalah esa sebagaimana islam yang meyakini bahwasanya tuhan adalah maha esa. Maka konsep ketuhanan yang dianut oleh agama kristen tentunya sesuai dengan Pancasila sila pertama. Demikian ulasan pendapat agama kristen semoga bermanfaat dan makin bisa membuka cakrawala kita sebagai umat yang toleran.

Khatamun nabiyyin, 15 Desember 2018.

SILA PERTAMA TITIK TEMU LINTAS AGAMA-AGAMA

(SEMINAR LINTAS AGAMA SYIAR CINTA KE-5)

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Sabtu, 15 desember pondok pesantren Khatamun Nabiyyin mengelar kegiatan seminar nasional lintas agama syiar cinta ke-5 dengan tema “sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa” berhasil menghadirkan enam pembicara nasional, lima pembicara dari tokoh agama seperti islam, Kristen, budha, hindu, konghuchu, dan satu pembicara dari kalangan pemerintahan. Seminar lintas agama syiar cinta yang ke-5 ini adalah rangkaian panjang dari seminar syiar cinta pertama sampai syiar cinta kelima. Masing masing syiar cinta mempunyai ciri khas tema tersendiri, tentunya bermuatan titik temu lintas agama-agama.

Pembicara dari Kristen hadir Prof. Franz Magnis Suseno. SJ, dari hindu hadir I Ketut Budiasa. ST. MM, dari budha hadir Prof. DR. Philip Widjaya, konghuchu hadir JS. Sugiandi Surya Atmaja S. KOM, M.AG, dari islam ada DR. Abdul Aziz Abbasi serta dari kementrian agama Prof. DR. PHIL Komaruddin Amin. M.A. Sebelumnya direktur khatam institute Andi Arifah. SE. memberikan orasi ilmiah berkenaan dengan pilosofi dan ketangguhan pancasila sebagai perekat bangsa, kemudian seminar dibuka secara resmi oleh pengasuh pondok pesantren Khatamun Nabiyyin Kiyai Akbar Saleh. BA. Dilanjutkan keynote speaker dari kementrian agama DKI jakarta H. Saiful mujab. MA.

Dari semua tokoh agama ini duduk bersama membincang satu topic pembahasan, sebagai titik temu nilai universal lintas agama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, dan dipimpin oleh direktur khatam institute Andi Arifah. Pembicara yang pertama adalah Prof Magnis Suseno, beliau mengatakan bahwa nilai sila pertama adalah kebebasan beragama, bukan berarti bebas dalam memeluk agama melainkan mendapat pengakuan dari Negara serta tidak mencampuri dan menggganggu keyakinan warga Negara lainnya. Rasa aman itu harus dijaga oleh Negara bukan hanya pada lima agama yang diakui Negara, melainkan juga beberapa aliran keperyaan yang berkembang di Indonesia, beliau melanjutkan bahwa rasa aman itu harus dimiliki oleh semua untuk semua seperti Nabi Muhammad dari islam diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, membawa rasa aman kepada semua makhluk.

Pembicara kedua dari agama budha Prof. DR. Philip widjaya, beliau mengatakan bahwa nilai inti sila pertama ada pada kalimat “Duhai para biksu ada sesuatu yg tidak terjelma dan tidak tercipta. Duhai parab biksu, jika tidak demikian maka tidak akan ada penjelmaan dan penciptaan”. Agama budha percaya sebab akibat, adanya penciptaan artinya harus ada sesuatu yg tidak tercipta, dan itu adalah tuhan yg maha Esa. Jika tuhan tidak tercipta maka pasti mustahil manusia mampu mengatahuinya. Tuhan yang maha esa adalah zat yang tanpa alasan, manusia untuk mendekati zat tuhan itu, maka manusia harus bermeditasi, harus menjalani proses penyucian jiwa.

Pembicara ketiga dari hindu, I Ketut budiasa, beliau memaparkan bahwa nilai sila pertama ini melihat pencipta adalah zat yang tdak bisa dideteksi, sebab pemikiran kita tidak sampai kesana, namun kita harus percaya itu. Dalam istilah hindu disebut ketuhanan dalam Weda. “Sat cit ananda Brahman” artinya sesungguhnya tuhan adalah pengetahuan tak terbatas. Aku adalah jati diri yang bersemayam di dalam setiap makhluk. Aku adalah permulaan juga ditengah tengah, dan juga akhir dari setiap yang ada. Hindu meyakini trimurti dewa Brahman, dewa wisnu dan dewa siwa. Ketiga disebut sebagai Esa, satu dalam penciptaan, pemeliharaan dan peleburan. Hanya saja nama yang berbeda. Esa yang hakiki disebutkan bahwa itu adalah maha dewa, tuhan dari segala tuhan.

Pembicara keempat dari tokoh islam oleh DR. Abdul aziz abbasi, beliau mengatakan ketuhanan yang maha esa adalah tuhan itu sendiri yang memperkenalkan dirinya sendiri, manusia mustahil mengetahuinya. Makna ahad adalah esa artinya tunggal tdk bermakna satu. Sesuatu yg sederhana tidak tersusun dan berangkap. Tuhan yg maha esa adalah semua makhluk membutuhkan tuhan. Esa tidak lepas dari sesuatu dan tidak melepaskan dari seuatu itu juga. Surah al-ikhlas menjelaskan ketidakbergantungan kepada sesuatu. Teori piramida mengatakan, semakin kita naik semakin kita bersatu, semakin kita turun semakin beragam. Oleh sebab itu, semua agama yang beragam ketika mencoba untuk naik, maka akan beetemu pada satu titik yaitu tuhan. Seperti ilmu adalah satu titik yg diperbanyak oleh orang bodoh. Ilmu satu titik ibarat tuhan dan orang bodoh adalah manusia yang beragam itu.

Pembicara terakhir dari konghuchu JS. Sugiandi surya atmaja, menjelaskan pemahaman konghuchu mengenai sila pertama adalah RU JIAO, agama leluhur tionghoa sebelum menjadi konghuchu adalah RU JIAO. Pembahasan sila pertama terdapat pada kitab suci Yi Jing yang mengatakan QIAN bahwa tuhan itu maha esa, maha sempurna, pencipta alam semesta. QIAN berkumpul energy positif dan negative yang disebut sebagai ying dan yang. Nama asli tuhan konghuchu bisa dibagi dalam tiga pemaknaan. Pertama YI, artinya satu, DA artinya besar dan REN artinya manusia. Ketuhanan yang maha esa adalah TIEN yang mempunyai kebesaran tinggi, keindahan, maha merahmati, menjadikan orang memperoleh hasil perbuatannya.

Seminar lintas agama berakhir seiring masuknya waktu sholat dzuhur dan istirahat, setelah itu dilanjutkan oleh para santri dalam acara taman teologi. Taman teologi membagi pembicara dari masing masing agama, follow up pembahasan yang belum selesai pada seminar. Santri khatamun nabiyyin begitu terlihat antusias menggali pengetahuan dari tokoh agama ini, semangat santri menyadari betul bahwa ilmu begitu luas, sehingga harus lanjut belajar pada taman teologi. Begitupun dengan tulisan ini, tidak akan mampu menampung semua pemikiran tokoh nasional pada acara seminar lintas agama tersebut.

Jakarta, 16 Desember 2018

JADILAH SEPERTI IBNU LABUN (ANAK UNTA)

(Pesan Sayyidina Ali Di tengah pusara Politik, Syarah Ustadz Akbar Saleh)

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Ditengah tengah pusara politik yang makin menggerus kencang, masyarakat dihadapkan dengan realitas yang kabur dan political bullshit zaman now. Masyarakat dihidangkan dengan peta pertarungan dua kekuatan besar di negri ini, masing masing menganggap kelompok mereka yang paling benar dan kelompok sebelah pasti salah. Tampilan seperti ini membuat masyarakat bingung mendeteksi sebuah kebenaran. Mirip seperti film jepang kuno berjudul “Rashomon” diceritakan dalam buku politik labirin Indonesia karya alfan alfian.

Berhadapan dengan dinamika politik buram seperti ini, pesan Sayyidina Ali yang sungguh relevan untuk kita semua, membuka jalan dari jalan jalan tikus yang tercipta hari ini. Malam itu, sang guru berkata: Diingatkan oleh pesan Sayyidina Ali dalam kitab Nahj Al-Balaghah “KUN FIL FITNATI KA IBNI LABUN, LA DOHRUN FA YURKABA WA LA DHOR’UN FA YUHLABA ” Artinya: Dalam kondisi fitnah (kondisi yang tidak jelas) ini, jadilah seperti anak unta. Dia tidak memiliki punggung untuk ditunggangi, dan tidak memiliki susu untuk dimanfaatkan.

Dalam kondisi ketidak jelasan politik, pada saat semua berbicara kepentingan kelompok dan kepentingan pribadi, maka jadilah engkau seperti anak unta betina (Ibnu Labun). Kenapa anak unta ?, karena dia tidak memilki punggung untuk membawa barang, dalam bahasa politik, tidak bisa sama sekali ditunggangi orang dalam mengangkut barang barang kepentingan. Dan tidak memiliki susu sehingga tidak bisa dimanfaatkan, sebab mereka yang menenggelamkan diri dalam politik hanya akan memeras dan memperalat untuk manfaat segelintir orang saja.

Sayyidina Ali mengajarkan kita untuk tidak berpihak diantara dua kubu yang tidak jelas. Tidak tahu Mana yang hak yang mana yang bathil. Masing masing saling menampakkan keburukan lawan dan mencitrakan kebaikan kelompoknya. Selama bukan konflik antara kebenaran dan kebathilan, artinya sudah pasti kepentingan yang berbicara. Jika jelas kebenaran dan kebathilan maka kita diwajibkan untuk memihak kepada yang haq.

Bersifat acuh terhadap kondisi politik, sehingga menampakkan diri seolah olah tidak mempunyai kemampuan untuk memikul barang dan memberikan manfaat. Bukan berarti kita harus cuek dengan kondisi yang ada. Jika tidak mau tahu kondisi politik akan dikhawatirkan terjadi ketertindasan nantinya. Sehingga makna anak unta (Ibnu Labun) adalah tidak terjerumus politik namun harus faham arus politik secara tuntas untuk tidak dibodohi.

Menyemplung kedalam dunia politik dengan memperjelas identitas keberpihakan adalah terjerumus ke narasi politik yang tidak jelas dan saling bermusuhan satu sama lain. Tetap lah dalam garis objektif tidak memihak ditengah realitas yang kabur, ditengah politik yang kosong makna. Jadilah seperti ibnu labun yang senantiasa mengembangkan keilmuan dan kesadaran masyarakat, membimbing masyarakat agar tidak tergerus arus politik yang ganas mematikan. Jadilah seorang muslim yang mengedepankan Islam washotiyyah, menjadi obat peredam bagi manusia manusia yang gila akan kekuasaan.

Jakarta, 6 Desember 2018

KEPEMIMPINAN PROFETIK DALAM NAHJ AL-BALAGHAH

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Salah satu wasiat politik Sayyidina Ali yang disampaikan kepada gubernur mesir Malik Al-asytar dalam kitab Nahj Al-Balaghah surat ke-53 “Wa Asy’ar Qalbaka Ar-Rahmata Lil Ra’iyyati, Wa Al-Mahabbata Lahum Wa Al-Luthfata Bihim, Wa La Takunanna Alaihim Sabu’an Dhoriyan Tagtanimu Aklahum, Fa Innahum Shinfani: Imma Akhun Laka Fi Ad-Din Wa Imma Nazhirun Laka Fi Al-Qhalki”.

Artinya “Buatlah hatimu merasakam kasih sayang kepada rakyat, dan cinta kepada mereka, dan bersikap lembutlah kepada mereka. Jangan sekali kali engkau menjadi binatang buas yang memakan semua yang ada pada rakyat. Sesungguhnya manusia dibagi dalam dua: yaitu saudaramu dalam satu agama, dan saudaramu sesama manusia dalam ciptaan.

Ada tiga kualitas yang digambarkan oleh sayyidina Ali yaitu pertama adalah Rahmah, yang kedua adalah Mahabbah dan ketiga adalah Luthf. Menjadi seorang pemimpin mempunyai Rahmah kasih sayang kepada Rakyatnya, dengan demikian akan memperhatikan aspek sosial dan keadilan.

Tingkatan selanjutnya yaitu mahabbah mencintai Rakyat, Cinta sudah sampai pada konsep peleburan antara aku dan kamu, Yang ada adalah Kita. Artinya Pemimpin merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Sehingga konsep cinta berujar “Pemimpin harus makan makanan yang paling rendah dari rakyatnya. Contoh sederhananya Pemimpin tidak boleh makan Pitza kalau masih ada rakyat yang makan hanya ikan asin”.

Kemudian tingkat yang paling tinggi adalah Luthfa atau lemah lembut. Bukan hanya sekedar menyayangi dan mencintai Rakyat melainkan dalam pergaulan sehari hari, pemimpin harus berlemah lembut tidak kasar, keras namun memberi kesejukan dihati Rakyat. Kelembutan ini datangnya dari hati, dan hanya bisa dicapai oleh orang yang sudah melewati batas rahmah dan mahabbah. Ketiga aspek inilah harus dimiliki oleh pemimpin untuk mencipta tatanan kemanusiaan yang harmoni.

Menjelaskan tiga aspek Sayyidina Ali menekankan pada gubernurnya bahwa jangan pernah berfikir bahwa saya adalah orang yang mendapatkan mandat dari pemerintah karena itu, saya memerintahkan dan kalian rakyat harus mengikuti saya, jangan sekali kali engkau menjadi serigala yang menerkam rakyatmu jangan mentang mentang kamu mendapatkan jabatan maka kamu terus merasa berhak ditaati oleh masyarakat.

Sayyidina Ali menggunakan kata kata yang sangat keras seperti Sabu’an Dhoriyan binatang buas, Alasannya sederhana, Karena sayyidina Ali ingin mencontohkan bahwa yang menindas rakyat pantas disebut srigala yang buas yang memakan hak rakyat .

Sekarang itu sungguh terjadi di negara kita, beberapa pejabat negara terlibat kasus korupsi. Kenapa gampang terjadi penyelewengan kekuasaan ? sebab kekuasaan cenderung untuk berkuasa dan menindas atau Sering kita sebut sebagai abuse of power, anda the power of corrupt.

Kemudian Sayyidina Ali membagi manusia dua bagian, Imma Akhun Laka Fi Ad-Din Wa Imma Nazhirun Laka Fi Al-Qhalki yaitu saudara sesama muslim dan saudara sesama manusia. Meskipun berbeda latarbelakang keimanan dan ideologi, ada juga suadara saudara kita yang sama dalam ciptaan. Sehingga hak kaum muslim dan hak kaum non muslim adalah setara.

Tidak ada perbedaan diantara keduanya dalam hal hak. Muslim dan non muslim secara wujud ciptaan tidak tinggi rendah karena dua duanya adalah Nadzirun Laka Fil Qholki, yaitu orang yang setara dengan kamu dalam ciptaan.

Sayyidina Ali melanjutkan “Yafrathu Minhum Az-Zalal, Wa Ta’ridu Lahumu Al-Ilal, Wa Yu’tha Ala Aidihim Fil Amdi Wal Khotho”. Apapun yang mereka lakukan karena boleh jadi mereka tergelincir melakukan kesalahan-kesalahan atau terjangkit penyakit penyakit, atau mungkin saja melakukan kesalahan karena sengaja atau karena tidak sengaja.

Pesan ini menegaskan bahwa terkadang mereka berbuat salah kepada sesama manusia lainnya baik itu dia orang muslim ataupun non muslim. Dari itu, Sayyidina Ali memberikan nasehat bahwa juga tidak kalah penting yang harus dimiliki oleh pemimpin adalah mempunyai sifat pemaaf.

Sebagai manusia biasa niscaya akan tetap ditempeli kesalahan dan kekhilafan. Dan suka memaafkan adalah kebiksanaan yang tepat dari seorang pemimpin.
Imam atau pemimpin dalam sebuah Negara kewajibannya harus mengeluarkan kebijakan yang terkait dengan kemaslahatan rakyat. Inilah yang disebut dengan sayyidina Ali dalam surat politiknya tentang rahmah, mahabbah dan luthfi.

Dan jadikanlah dirimu bukan serigala yang suka menggertak dan memerintah. Raja raja slelalu berkarakter seperti itu. Seperti yang terjadi pada pemimpin bani ummayah pada kepemimpinan mu’awiyah dengan landasan faham jabariyyah untuk melanggengkan kekuasaannya. Dengan logika statementnya adalah kekuasaan yang saya dapatkan adalah takdir dari Allah. Jadi kalian memberontak maka sama saja memberontak kepada Allah.

Dari sini muncul lah hasan al-bashri menentang faham itu, mengatakan bahwa takdir itu tidak ada, yang ada adalah ikhtiar murni dari manusia, sayangnya waktu itu faham demikian dinggap bid’ah. Lalu Hasan Al-Bashri dengan pantainya menjawab: Sengaja saya membuat bid’ah untuk melawan bid’ah nya Bani umayah.Bid’ah harus dilawan dengan Bid’ah.

MOMENTUM PERSATUAN

Oleh Usman Suil

Keseruan Asean Games tahun ini paling menyejukkan ketika salah satu peraih medali emas dari Indonesia atas nama Hanifan Yudani Kusumah dalam laga final pencak silat. Beliau setelah berlari-lari kecil merayakan kemenangannya lalu menghampiri kedua Capres yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang pada saat itu ikut menyaksikan langsung pertandingan tersebut.

Menurut saya momentum ini sangat mengharukan bagi kita semua warga negara Indonesia. Kenapa tidak?? Karena peraih medali emas ini memeluk keduanya (Jokowi dan Prabowo) yang disaksikan banyak penonton pada saat itu, baik secara langsung ataupun lewat televisi.

Walaupun ada yang berpendapat bahwa Hanifah menggunakan kesempatan itu untuk menyatukan antara keduanya tapi bagi saya bahwa gerakan pelukan itu sifatnya refleks karena kesenangan yang paling dalam bagi si atlet ini.

Dalam gerakan refleks tersebut memberikan tanda bahwa semuanya itu tidak terlepas dari tangan Tuhan untuk memperlihatkan kepada kita semua bahwa warga Indonesia berhak bersatu dan saling mendukung satu sama lain tanpa ada politik kotor.

Hanifan adalah salah satu tangan Tuhan yang diturunkan untuk memperlihatkan bahwa Indonesia akan berkembang, jaya dan merdeka seutuhnya kalau kita mampu meramu perpolitikan dengan baik dan terorganisir.

Hanifan juga salah satu kecamata Tuhan yang disengaja diperlihatkan bahwa kita para pendukung dari masing-masing calon presiden harus menghargai perbedaan tidak memakai cara hasud dan mengumbar- mengumbar kesalahan masing-masing calon.

Mudah-mudahan mata hati kita terbuka dengan adanya momentum ini.

KONTEKSTUALISASI PEMIKIRAN FATIMAH AZ-ZAHRA DALAM PENDIDIKAN

(Orasi Ustadz Akbar Saleh. BA.)

By: Husein Haidarullah Muqimuddin

Santri Khatamun Nabiyyin

Gagalnya suatu pendidikan sungguh tidak tepat jika mengkambinghitamkan system, namun, coba kita perhatikan bagaimana cara mengaktualkan system tersebut ke arah yang lebih efektif. Satu contoh kecil, memprogram system kehidupan kita sehari-hari saja, itu masih banyak yang belum tentu teraktualisasi seluruhnya, diakibatkan banyaknya halangan dan rintangan yang menghadang. Jadi sebagai catatan penting sekarang adalah bagaimana cara untuk mencari uswah atau figur kehidupan dalam kehidupan kita. Sebab, proses pendidikan itu tidak harus dilakukan di dalam kelas saja, dimana pun bisa untuk melakukan pendidikan selama memberikan pengajaran di dalamnya.

Definisi pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, dan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan.

Hakikat pendidikan, Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh para pelajar, ketika mereka ingin mengetahui akan hakikat pendidikan dalam kehidupan, pertama, Upaya dalam proses pembentukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani menuju tingkat kesempurnaan. Kedua, Proses pematangan intelektual, emosional dan kemanusiaan yang dilakukan secara terus menerus seperti gerak jauhariyah. Ketiga, Usaha sadar yang dilakukan melalui proses bimbingan, serta pengajaran dan latihan. Keempat, Upaya pengaruh dan usaha dan bantuan merekea cakap dalam melaksanakan tugas hidupnya. Kelima, Proses perkembangan kualitas diri menuju tingkat kesempurnaan. Keenam, Proses perubahan tingkah laku, pikiran, serta perasaan peserta didik.

Sebelum mengkaji bagaimana system pendidikan yang diajarkan oleh sayidah Fathimah kepada umat datuknya, mari kita melihat akan kehidupan tatanan social masyarakat pra islam dan awal islam. Salah satu metodologi yang digunakan masyarakat arab sebelum pra islam ialah adanya system monarki yang dilakukan oleh masyarakat. System itu adalah konsep kabilah-kabilah, dan kepercayaan yang mereka anut kepercayaan pluralis dengan beragama-agama, dan salah bentuk budaya dan peradaban yang masyhur dimiliki oleh mereka adalah peradaban jahiliiyah.

Namun, dalam peradaban jahiliyah disini bukanlah peradaban masyarakat yang jauh dari ilmu pengetahuan dan primitive, melainkan sebuah peradaban yang terkontaminasi dengan penyimpangan nilai, kerusakan moral, pembangkangan, penindasan, pendustaan serta pendurhakaan mereka terhadap kebaikan, sehingga diutuslah Baginda Muhammad Saw untuk mensucikan (Yuzakkihim) dan mengajarkan (Yuallimuhum) mereka dari itu semua.

Fatimah Az-Zahra lahir tumbuh dewasa di rumah seorang Nabi, serta guru seluruh alam ini dengan penuh kasih, dan Nabi mendidik dan membimbingnya sedemikian rupa sehingga beliau menjadi sosok manusia yang sempurna, murid terbaik dan madzhar manifestasi keberhasilan didikan Nabi teragung yang paling mulia, sehingga ada satu surat dari beberapa surat yang terkhusus untuk sayidah Fatimah Zahra, yakni Al-Kautsar

Lalu apa relevansinya hari ini ? konten, cara, dan teknis sinkronisasi dengan konteksnya masing-masing. Para figure dan teladan memilki landasan “prinsip universal” pada setiap perbuatannya yang teknisnya disesuaikan dengan konteks yang berjalan seiring dengan kehidupan yang dinamis. Setiap Nabi dan para figure lainnya memiliki prinsip yaitu berpikir global, tetapi dalam bertindak mereka bersifat local. Salah satu ajaran Rasulullah adalah membentuk masyarakat adalah masyarakat yang aktif, inovatif, dan kreatif.

Kita analogikan akan makna aktif disitu, bukanlah seperti figure pahlawan di film-film avenger, spiderman, aquaman justice league dan sebagainya, mereka hanya datang untuk menyelamatkan manusia yang membutuhkan pertolongannya, sehingga mereka membutuhkan bantuan pada figure pahlawannya tersebut, dan ini adalah makna yang pasif bukan aktif. Lalu, inovatif itu tergantung akan budaya yang berada di suatu daerah tersebut, memanfaatkan peluang yang ada menjadi efektif dan manfaat.

Prinsip pendidikan Fatimah Az-Zahra pertama adalah Prinsip pendidikan tauhid, Yaitu pondasi, muara, poros, dan orientasi pendidikan beliau adalah tauhid. Nampak jelas pada perkataan dan perbuatan beliau yang hanya berharap ridha tuhan-Nya bukan yang lain, ini termaktub pada Q.S. Al-Insan: 8-9, dan khutbah yang beliau sampaikan selalu diawali denagan Makrifatullah, dan ada salah satu pemberian dari baginda Nabi pada Sayidah Fatimah yaitu “Tasbih Zahra”, muatan didalamnya sama sekali tidak ada dikotomi ilmu dalam pendidikan semuanya untuk Allah Swt.

Bagaimana cara melakukan sesuatu karena Allah Swt? Bukankah itu terlalu sulit dan abstrak sehingga banyak dari kita yang menjadikan itu hanya menjadi sebuah slogan semata. Jawabannya semua perintah yang diperintahkan tuhan untuk hambanya, jika diniatkan dan dilakukan untuk Allah Swt, maka semua itu yang kita lakukan untuk Allah Swt semata, tidak yang lainnya, iya perintah apapun itu. Tidak ada pada zaman Nabi Muhammad Saw dan Sayidah Fatimah akan pengelompokan ilmu-ilmu antara ilmu agama dengan ilmu umum, seperti saat ini, karena seluruh ilmu itu berasal dari Allah Swt, karena ilmu itu ”Nur” cahaya yang bersumber dari Allah Swt, disampaikan oleh Nabi, dan diteruskan oleh Sayidah Fatimah.

Prinsip pendidikan Fatimah Zahra yang beliau ajarkan pada masyarakat seluruhnya dengan prinsip cinta dan kasih sayang, sehingga kontekstualisasikan pada zaman kita sekarang ini banyak pondok pesantren yang tersedia untuk anak-anak SD sejak kecil, sedini mungkin, mereka pada awalnya masih sangat membutuhkan akan kasih sayang kedua orangtuanya.cinta keluarga, tidak mereka dapatkan, mereka dititipkan di lembaga pendidikan yang hanya berfokus pada keilmuan, bukan cinta.

Ada sebuah kisah tentang kelembutan dan kasih sayang Fatimah Zahra yang pada suatu hari ada seseorang yang bertanya kepadanya hingga hampir sepuluh kali pertanyaan yang berbeda-beda, akan tetapi sang penanya memberhentikan pertanyaan diakibatkan malu dan tidak enak pada Fatimah, tapi Sayidah Fatimah berkata padanya, apa lagi pertanyaan yang ingin kamu tanyakan padaku, silahkanlah bertanya lagi dan jangan malu, dan andaikan kamu tahu akan pahala yang tak terhingga yang Allah Swt akan berikan kepada kita ketika melakukan kegiatan pembelajaran Tanya jawab di dalamnya, maka apakah pekerjaan tersebut akan terasa berat bagi kita? Lalu ia menjawab: tidak, wahai putri Nabi, dan akhirnya ia melanjutkan pertanyaannya lagi yang masih tertahan dan yang belum terutarakan kepada Sayidah Fatimah hingga selesai.

Perlu diperhatiakan bahwa baginda Nabi Muhammad Saw sebelum pengutusan menjadi Nabi, ia telah dipercaya oleh masyarakatnya untuk menjaga istri-istri masyarakat yang hendak berniaga ke luar kota dan menitipkan hewan pengembalaannya pada nabi, sehingga beliau dijuluki “Al-Amin” tapi ini begitu sederhana kalo kita berikan pada Nabi karena Nabi itu tugasnya bukan hanya untuk itu, melainkan tugasnya Nabi mengajarkan masyarakat dan membangun peradaban masyarakat.

Sayyidah Fatimah Az-Zahra juga melakukan tugas apa yang telah dilakukan oleh ayahandanya yaitu mengajarkan dan membangun intelektual masyarakat dan meneruskan pembangunan peradaban, sehingga bagi seorang pendidik ia harus memiliki prinsip keteladanan dan kesederhanaan dalam kehidupannya dan ini untuk dijadikan sebagai uswah bagi masyarakat yang meneladaninya. Kehidupan sayidah Fatimah Zahra itu sangatlah sederhana sekali, selama tidak harus beli maka tidak usah beli dan gunakan yang masih ada untuk digunakan dan tugas keseharian sayidah Fatimah Zahra bukan hanya sebagai ibu rumah tangga saja untuk keluarganya, melainkan tugas beliau lakukan seluruhnya untuk umat ayahnya.

Hari ini, kebanyakan manusia pada zaman sekarang sangat bertolak belakang dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi dan para figure islam tentang makna kesederhanaan dalam kehidupan, banyak sekali masyarakat yang suka mubadzirkan sesuatu, seperti banyaknya gedung-gedung mewah yang tinggi dan banyaknya kran-kran yang terpasang di masjid-masjid melebihi kapasitas orang yang shalat di dalam masjid tersebut, bukankah seluruhnya ini bersifat mubadzir? Dan bukankah di dalam al-quran telah dikatakan ”Innal Mubadzirina Kanu Ikhwanas Syayatin”.

Makna iffah yang sayidah Fatimah Zahra ajarkan kepada kita yaitu: “La Yaraha Rajulun Wa La Tarahu Rajulan” perempuan terbaik adalah dia yang tidak dilihatt laki laki dan tidak melihat laki laki, bukan berarti Sayidah Fatimah itu tidak pernah sedetikpun berinteraksi dengan laki-laki dan tidak ada seorang pun lelaki yang berani melihat dirinya dengan interaksi, dan yang perlu kita ketahui bahwasanya sayidah Fatimah Zahra itu bukan orang rumahan saja yang tidak pernah melihat seorang lelaki manapun, akan tetapi sayidah Fatimah Zahra pernah pergi ke masjid untuk berkhutbah akan tanahnya yang dirampas oleh pemerintah pemerintah. Beliau juga turun gunung dalam mengambil peran politik.

Jakarta, 1 maret 2019

POLA POLITIK SAYYIDAH FATHIMAH AZ-ZAHRA

(Orasi Ibu Dina Sulaiman)

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Terdapat hadits yang menjamin empat perempuan masuk syurga, yaitu Fathimah, Maryam. Khadijah, Asiyah, (riwayat ahmad, thabrani). Tentunya tindak-tanduk dalam masyarakat juga menjadi panutan bagi kaum perempuan seperti halnya dalam peranan politik. Biasanya dalam Politik, perempuan hanya menjadi tumbal dan korban politik. Banyak perempuan yang tertidas, lebih parahnya semua asumsi ini mengarah kepada islam, seakan-akan islam lah yang membuat perempuan menjadi rendah dan tertindas.

Padahal ada beberapa data, Australia kanada dan Israel 40=70% jumlah perempuan tewas dibunuh oleh pasangan sendiri, di amerika serikat 1/3 dari jumlah perempuan tewas terbunuh juga ulah pasangan mereka. di india 22 perempuan dibunuh setiap harinya terkait masalah mahar, di kanada 54% perempuan mengalami kekerasan seksual yang dilakukan pria asing. Di uni eropa perempuan mengalami kekerasan seksualdi tempat kerja mereka.

Lantas, sebelum membahas peran perempuan dalam politik, Apa artinya politik ? politik terlalu sempit jika diartikan hanya pada batas turut serta dalam demokrasi atau pesta pemilu. Definisi politik secara universal adalah resolusi konflik, negosiasi kompromi untuk menyelsaikan masalah, pembagian distribusi sarana dan prasarana terbatas dalam masyarakat, untuk mendapatkan keadilan dan pemerataan distribusi, maka diperlukan politik untuk mengatur.

Begitupun dnegan beberapa pederdebatan public yang tidak ada ujungnya, khususnya di media social, saling gunjing menggunjing, menyalahkan satu sama lain, bahkan berani mengancam Tuhan jika tidak dimenangkan, politik bukan hanya sekedar itu, coa kita lihat semua orang tua menginginkan anaknya terbaik dan masuk sekolah terbaik jika semua anak berhak untuk menjadi terbaik, pasti aka nada persaingan yang tidak baik untuk menyingkirkan dan politik mengatur itu semua, agar teratur serta aman terkendali.

Pada dasarnya Politik ada tiga macam, pertama politik alamiah, jenis politik ini seperti biasa terjadi di masyarakat dan alami fenomenanya juga alami penyelesaiannya. Kedua, konflik politik rasional, seperti pemilu, politik jenis ini memiliki rasio sendiri, artinya jika anda ingin berkuasa maka harus masuk politik dan dengan mengabdi di partai politik tujuannya untuk memperbaiki masyarakat. Ketiga, politik adiluhung, yaitu politik yang mengedepankan agama dan syariat. meskipun banyak yang alergi dengan kata syariah dalam dunia bernegara.

Dari tiga jenis politik tersebut, bukan cirri khas dari politik fathimiyyah, sebab adalah parameter adalah rasulullah, karena rasulullah juga menjadikan fathimah parameter politik. Dalam kitab al-hikmah al-muta’aliyyah (mulla shadra) tentang empat perjalanan manusia, Fathimah sudah sampai pada perjalanan politik keempat, itu ditandai dnegan tangan Fathimah yang mengeras karena bekerja untuk orang miskin, dengan itulah Imam Ali mengadu untuk memcarikan pembantu kepada rasulullah, dan beliau pun berkata pembantu yang terbaik adalah tasbih.

Ada apa dengan tasbih ? karena ketika wanita bekerja sendiri atas pekerjaannya itu lebih baik daripada menggunakan pembantu, akan tetapi disisi lain Sayidah Fatimah memiliki seorang pembantu yang membantu pekerjaannya yang bernama “Fizzah” tasbih itu diartikan meskipun mempunyai pembantu, fathimah juga bekerja bergantian dengan pembatunya saling membagi waktu sebagaimana tasbih bergulir dari satu tasbih ke tasbih yang lain.

Kisah Seuntai kalung yang dimana datang seorang pengemis ke rumah sayidah Zahra untuk meminta sesuatu yang bisa diberikan padanya, dan sayidah tidak memiliki apapun kecuali hanya kalung, namun beliau berikan padanya, dan beberapa hari kemudian ada lagi seorang pengemis datang, diberikan lagi makanannya sampai tiga hari berturut turut beliau tidak makan, namun hanya minum seteguk air untuk buka puasa. Ekonomi Politik mandiri ala sayyidah fathimah, manusia hari ini harus bisa menciptakan berbagai kondisi, untuk masyarakat tidak merasa kelaparan kembali, sehingga kita tidak membutuhkan bantuan dari pemerintah terus menerus.

Kisah Al-Hasan, yang dimana Al-Hasan diperintahkan oleh ibundanya untuk pergi ke masjid untuk mendengarkan taklim dari datuknya muhammad, kemudian diceritakanlah pada ibundanya apa yang telah Al-Hasan dapatkan pada majelis ilmu. Dikatakan ada perempuan tidak boleh ketinggalan dalam keilmuan, dan perempuan juga harus mendapatkan ilmu. Bukan hanya lelaki saja yang harus mendapatkan ilmu, perempuan juga harus. Seperti “Sayidah Fatimah” yang lebih banyak di rumah daripada diluar, akan tetapi beliau tetap belajar dan berpikir.

Indikator yang digunakan dan didasarkan pada paradigma barat yang mengukur kemajuan perempuan antara lain dari partisipasi mereka di lapangan pekerjaan. Inspirasi dari Fathimah: indikator keberhasilan perempuan tatkala ia berhasil dalam membangun keluarga yang sehat. Dan adapun di dalam politik adalah Negara yang bertanggung jawab untuk menyediakan fasilitas agar perempuan terakomodasi untuk mencapai keberhasilan, seperti disediakannya fasilitas tempat penjagaan anak di kantor-kantor”.

Perempuan yang berpolitik Ala Fathimah, yang dimana ia mampu untuk menjaga harga diri dan melepaskan diri dari egoisme. Dalam perkataan pemimpin spiritual tertinggi Iran “dalam masyarakat islam, laki-laki dan perempuan menikmati kebebasan yang cukup. Teks-teks (syariat) islam yang ada terkait hal ini dan tugas-tugas social yang selama ini telah diberikan islam kepada laki-laki dan perempuan secara setara, dan ini merupakan bukti dari penyataan ini.

Nabi Muhammad Saw bersabda “orang yang menghabiskan malam tanpa peduli urusan umat islam, maka ia bukanlah seorang muslim” apa yang nabi Muhammad Saw katakan ini tidak terbatas pada laki-laki saja, wanita juga harus merasa bertanggung jawab terhadap urusan umat islam, masyarakat islam, dunia islam, dan segala sesuatu yang terjadi di dunia. Ini adalah kewajiban islam.

Jakarta, 28 Februari 2019

BERGURU LANGSUNG KEPADA NABI MUHAMMAD

(Hikmah Maulid Prof. DR. Nasaruddin Umar. M.A) Part II

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Pengaruh Nabi Muhammad yang masih aktif adalah bukti bahwa dua alam berbeda mampu memberikan effect satu sama lain. Orang mati sangat memberikan pengaruh kepada yang masih hidup. Orang hidup memberi pengaruh kepada orang mati itu biasa biasa saja, seperti hadits Nabi

عن أبي هريرة أن رسول الله. قال: إذا مات إبن آدم إنقطاع عمله إلا من ثلاثة: صدقة جارية أعلم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rosulullah Saw. bersabda: ”Apabila ‘anak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang d manfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakan dia.” (HR Muslim).

Do’a seorang anak itu akan menjadi hadiah berbentuk parcel yang menghibur orang tuanya di alam kubur dan akhirat. Namun bagaimana jika orang kalau orang mati memberikan efek luar biasa kepada orang hidup ? perkara itu sungguh sangat kontrversi luar biasa, apakah bisa orang meninggal mampu memberikan efek kepada orang yang masih hidup ?. Coba kita perhatikan dua kisah pada tulisan sebelumnya, Rasulullah sudah wafat tapi masih bisa memberikan pengampunan dosa yang bertawassul bersholawat kepadanya.

Makanya dalam Al-Qur’an Rasulullah selalu dilukiskan dalam frasa bahasa bentuk Fi’il Mudhori’ (simple present atau simple future) kata kerja sekarang dan akan datang. Nabi Muhammad tidak pernah dilukiskan dalam bentuk Fi’il madhi (past tense) kata kerja masa lalu. Ini artinya bahwa nabi muhamad masih aktif dan selalu aktif, semua kerja masih proses dan terasa sampai saat ini.

Bahkan Al-Qurtubi dalam tafsirnya memberikan penjelasan yang sangat menarik bahwa Nabi itu sejatinya tidak wafat, dalam tafsir tersebut dijelaskan rasulullah bersabda “barangsiapa yang menyebut namaku pasti aku tahu dan akan kuberikan syafaat kepadanya dan akan memberikan pembelaan dimana hari tidak ada pembeleaan selain aku di akhirat kelak”. Orang yang rajin sholawat suatu saat nanti akan didatangi Rasulullah. Dalam hadits bukhari menjelaskan bahwa Nabi pernah bersabda “siapa yang pernah menjumpai diriku maka saya akan bersama sama nanti di syurga”.

Sekarang mari perhatikan penggunaan kata kerja sekarang dan akan datang. Allah menggunakan Fi’il mudhori’ yg akan datang seperti ayat “Yathlu, Yuzakkikum wa yuallimukum al-kitaba wa al-hikmah. Yathlu artinya untuk memberikan tuntunan, Yuzakkikum artinya menyucikan kalian seperti pemuda tadi, Wa Yuallimukum bahkan Nabi Muhammad sampai sekarang masih bisa mengajar. Pola pengajarannya juga sangat unik dan mendalam, seperti kalimat
“و يعلمكم ما لم تكون تعلمون”

Allah tidak mengatakan
“و يعلمكم ما لا تكون تعلمون”.
Ada perbedaan antara kedua kalimat ini. Terjemah bahasa indonesia sama tapi rasa bahasa arabnya sangat berbeda makna.

Kalau MA LA TAKUNU TA’LAMUN sifatnya unknow yang tidak diketahui, artinya sesuatu yang tidak bisa diketahui tapi setelah kita baca, tadabbur, tafakkur maka langsung kita tahu. Namun kalau kalimat MA LAM TAKUNU TA’LAMUN adalah unknowable, artinya walaupun berdarah darah belajar, jungkir balik belajar hasilnya pasti juga tidak tahu tidak akan pernah bisa tahu apapun usaha dan upaya seseorang dalam menuntut ilmu, kecuali Allah memberikan hidayah untuk tahu, itulah disebut sebagai ilmu laduni. Pola mengajar Nabi dengan kalimat ini melalui perantara Nabi kita mampu mengetahui berkah dari pengajaran sesuatu apa yang disebut “ma lam takunu talamun” unknowable, bukan hanya ma la takunu ta’lamun unknow.

Jadi alangkah miskinnya pelajar baik itu santri ataupun mahasiswa kalau hanya belajar kepada orang hidup saja. Sebab guru itu ada dua macam, ada guru personal teacher, ada guru interpersonal teacher. Guru dalam bentuk orang, ada guru dalam bentuk non orang. Nabi musa yang dikenal senagai nabi revolusioner yang mampu menumbangkan trias berhala, tiga konspirasi besar pada masanya, kapitalisme ala Qorun, intelektualis yang menjilat oleh Haman dan Pemerintah abuse of power Fir’aun. Ketiga kekuatan ini dihantam habis oleh Nabi Musa, dari kehebatannya ternyata Nabi Musa belajar dari pohon. Dijelaskan Al-Qur’an dalam Surah Al-Qhosos ayat 30 bahwa Nabi Musa pernah diajari oleh ranting pohon. Gurunya Nabi Musa itu adalah pohon.

“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”.

Sykeh Thaba’thaba’I menjelaskan dalam tafsir mizan bahwa suara yang keluar dari pohon itu adalah kalam allah yang mengajari tentang kearifan. Kalam allah memang mempunyai cirri diperdengarkan kepada hamba-Nya khusus dibalik hijab (min wara’ hijab). Dijelaskan dalam al-qur’an tidak ada seorang manusia pun yang mampu berkomunikasi langsung dengan allah, mesti melalui wahyu dan hijab.

Hal serupa juga terjadi kepada Nabi Sulaiman yang belajar kepada burung hud-hud dalam Al-Qur’an surah An-Naml ayat 22-23

22. Maka tidak lama Kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku Telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.

23. Sesungguhnya Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

Bukan hanya Nabi yang mempunyai guru Non orang. Para Wali-wali Allah pun juga demikian, berguru kepada alam. Ada beberapa Wali yang disebutkan oleh Prof. DR. Nasaruddin Umar dan insya Allah akan saya tuliskan pada bagian ketiga tulisan ini.

Wallahu A’lam …🙏🙏🙏

Jakarta, 16 Januari 2019

BERTAWASSUL KEPADA NABI MUHAMMAD

(Hikmah Maulid Prof. DR. Nasaruddin Umar. M.A.) PART I

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Imam besar masjid Istiqlal Jakarta menghadiri maulid Nabi Muhammad. Dalam hikmah maulid beliau menjelaskan bahwa memperingati maulid adalah sebuah kewajiban bagi yang mengaku Nabi Muhammad itu sebagai Rasulullah dan Nabiyullah. Kalau kita mengakui Nabi Muhammad artinya harus memperinganti hari kelahirannya. Apa yang dimaksud memperingati ? yaitu mengaku bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Mengaku artinya muhammad bukan hanya juru bicaranya Allah, namun Muhammad juga pribadi yang sangat kompleks, tajalliyat dari seluruh sifat Allah. Rasulullah masih tetap aktif sampai sekarang. Jangan pernah mengira kalau Rasulullah meninggal lalu passive, karena ruh berpisah tubunya. Tidak, Rasulullah masih aktif dan akan terus aktif.

Prof. Nasaruddin umar memberi contoh sederhana. Kalau mau berangkat haji dengan tubuh, maka harus antri, harus mengurus passport dan administrasi lainnya, namun jika ingin naik haji dengan ruh maka itu bisa kapan saja. Kenapa ? karena badan/tubuh ini terikat dengan dimensi harus naik pesawat dan sebagainya. Ruh tidak perlu mengendarai pesawat, ruh bisa haji kapan saja dan mencium hajar aswad kapan saja. Al-Qur’an menjelaskan dalam surah An-Nisa ayat 64:

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Dalam kitab-kitab tafsir mu’tabaroh menjelaskan makna ظلموآ أنفسهم artinya aniaya diri sendiri yaitu melakukan dosa besar. Makna جآءوك adalah lalu datang kepadamu Muhammad, (tidak ada keterangan apakah dia datang dalam keadaan Nabi Muhammad masih hidup atau tidak). Datang kepadamu juga bisa diartikan Mendatangi ruh atau mengingat dirimu secara sangat mendalam, Lalu kalimat selanjutnya mengatakan فآستغفروالله artinya memohon ampun kepada Allah. Dilanjutkan dengan kalimat وآستغفر الرسول لهم artinya kemudian meminta engkau Muhammad untuk mengampunkan dosanya, artinya bertawassul memohon ampun kepada Allah melalui Nabi Muhammad. Dengan bertawassul maka pasti Dan pasti لوجدوالله توبا رحيما artinya engkau akan menjumpai aku sebagai Tuhan yang Maha penerima taubat.

Ada banyak kisah yang menggambarkan jelas ayat ini, dalam beberapa riwayat disebutkan dalam kita-kitab tafsir mu’tabaroh. Diceritakan ada seorang pemuda dari pegunugan arab bagian utara, Entah apa yang pernah terjadi dengan pemuda itu, dosa besar apa yang telah diperbuatnya, dia meninggalkan rumahnya di kampung berjalan kaki non stop untuk menjumpai Nabi Muhammad, dalam panas terik matahari diatas gurung pasir menuju ke rumah Rasulullah. Kenapa dia berjalan jauh untuk menemui Rasulullah ? karena ayat yang telah disebutkan tadi. Pemuda ini telah melakukan dosa besar, saking besarnya dia tidak yakin Allah menerima taubatnya, juga tidak yakin Allah akan menerima do’anya.

Melalui perantara Nabi Muhammad, maka Nabi akan memohonkan ampun kepada Allah agar dosanya akan diampuni. Sesampainya di rumah Rasulullah, pemuda ini mendapati semua sahabat dan warga bersedih, lalu pemuda tersebut heran dan bertanya, kenapa kalian bersedih ? salah satu sahabat menjawab, ya fulan…! apakah kamu tidak tahu bahwa Rasulullah itu telah meninggal hari senin yang lalu dan baru dimakamkan tadi.

Nabi wafat hari senin, dan baru dimakamkan hari rabu, tiga hari jenazah Rasulullah terbaring di ranjangnya Sayyidah Aisyah Radiyallahu Anha. Kenapa tidak dimakamkan ? disamping kepala Rasulullah ada Sayyidina Umar Bin Khattab dengan pedang terhunus dan berkata: “Siapa yang mengatakan Rasulullah telah meninggal aku akan tebas lehernya. Nabi tidak wafat, tapi hanya pingsang, seperti pingsangnya Nabi Musa ketika meminta untuk melihat wajah Allah”. Allah berkali kali mengatakan, kamu tidak mungkin melihat aku wahai Musa, bukan aku tidak mampu, tapi kamu yang tidak bisa.

Persis Seperti yang digambarkan oleh Jalaluddin Rumi: “Apa arti sebuah cangkir untuk mewadahi diriku” seolah olah tuhan itu seperti Samudra dan manusia hanya cangkir kecil, apa mungkin cangkir ini menampung samudra ?. Computer juga akan rusak ketika menampung unlimited data. Begitulah Nabi Musa, ketika menampung cahaya Allah, sesaat diperlihatkan cahaya Allah spontan Nabi Musa pingsang, tiga bulan lamanya pingsang, siuman sadar pada saat Nabi Musa meminta ampun kepada Allah.

Nabi Muhammad juga seperti itu, dia hanya pingsang seperti Nabi Musa, kata Sayyidina Umar bin Khattab. Setelah itu sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq turun dari bani saqifah yang saat itu telah terjadi konsolidasi demokrasi yang sungguh luar biasa, suku Khazhraj dan suku Auz berebut kekuasaan, siapa diantara mereka yang akan menggantikan Rasulullah dan mewarisi kepemimpinan Rasulullah. Akhirnya chaos sebab kedua suku ini bersikukuh. Kelompok muhajirin datang sebagai penengah dan peredam, dipimpin oleh sayyidina Abu Bakkar As-Shiddiq.

Terjadi segitiga kekuatan politik yaitu kaum khazhraj, auz dan muhajirin. Dan yang terpilih sebagai pemimpin adalah sayyidna Abu Bakkar, ini menunjukkan kehebatan diplomasi Sayyidina abu bakkar. Kenapa suku Khazhraj dan suku Auz memilih bukan dari kelompok mereka ? malah memilih Sayyindina Abu Bakar dari kelompok muhajirin ? itu karena tiga hari sebelum wafatnya Nabi, beliau sakit tiga hari. Sehingga diutuslah Sayyidina abu bakar untuk menjadi Imam menggantikan Rasulullah.
Abu bakar langsung turun dari konsolidasi saqifah setelah terpilih menjadi khalifah mengganti Raaulullah. Sesampainya di kediaman Sayyidah Aisyah, beliau langsung kaget sebab jenazah Nabi masih terbaring kenapa belum dimakamkan jenazahnya ? Tanya Sayyidina Abu Bakar As-shiddiq padahal sudah tiga hari jenazah Nabi terbaring. Sayyidina Umar yang sangat keras langsung luluh karena Sayyidina abu bakar membacakan surah Al-Imran Ayat 144:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

Dalam riwayat mengatakan saat malalikat maut mencabut nyawa Nabi, malaikat maut langsung gemetar dan bolak balik dari langit ke bumi, bumi ke langit. Malaikat maut bersenandung: “Mana mungkin aku bisa menjemput nyawa kekasihku dan kekasihmu wahai pemilik nyawa, bagaimana mungkin aku melakukan itu”. Inilah yang membuat malaikat maut bersedih dan sangat menderita. Akhirnya curhat kepada malaikat jibril sesama malaikat saling menasehati. Jibril berkata: “Sudah laksanakan perintah Allah”. Malaikat maut mencabut nyawa dengan sangat sangat sangat lembut, meskipun begitu, Nabi tetap berdoa setelah merasakan berpisahnya antara tubuh dan Ruh “Ya Allah, jika seperti ini proses kematian maka aku mohon, cabutlah nyawa umatku dengan lembut”.

Lanjut kisah, setelah pemuda tersebut mendengar bahwa Nabi wafat, dia pun langsung menangis terseduh seduh, meratap meraung raung. Sahabat menegur, ya fulan, boleh menangis tapi kamu jangan meratapi kepergian Rasulullah. Bukankah Rasulullah pernah berkata “Al-Mayyitu Yauzzibu bi bukai al-hayyi alaihi” artinya mayat itu disiksa karena ratapan orang hidup (HR. Bukhari 1292). Boleh menangisi mayat, seperti Nabi Menangis waktu putra tunggalnya meninggal tapi tidak meraung raung. Pemuda itu menjawab: “izinkan aku melakukan apa yang harus saya lakukan, saya ingin meminta pertolongan kepada Nabi atas dosa besar yang pernah saya lakukan, sementara Nabi sudah meninggal”. Lalu menangis lagi, lebih kencang dari sebelumnya.

Pemuda tersebut tidak bisa ditegur saking sedihnya, sehingga penjaga makam Rasulullah didatangi oleh Rasulullah, (riwayat tidak menjelaskan apakah dalam keadaan mimpi, atau jelmaan, dalam bentuk ruh atau kasyaf). Rasulullah berkata: wahai sahabatku suruhlah pemuda itu berhenti menangis, dan suruhlah bergembira karena Allah telah mengampuni semua dosa dosanya. Ternyata hajat pemuda itu didengar oleh Rasulullah, atau mungkin terusik dengan suara tangisnya, lalu memohonkan ampun kepada allah. Seketika pemuda itu berhenti menangis, kenapa ? karena pemuda itu pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang bermimpi menjumpai diriku, akulah yang betul betul yang dijumpainya, satu satunya wajah yang tidak bisa dipalsukan oleh iblis adalah wajahku”.

Dalam kitab Ibnu Arabi juga diseritakan keberkahan Nabi secara tasawuf. Pernah ada orang yang menziarahi makam Nabi, dari kejauhan dia berangkat, menangis dan menangis di makam Rasulullah, sehingga penjaga makam Nabi memperhatikan lalu menghampiri orang tersebut dan bertanya, kenapa egkau menangis ? dia menjawab saya pernah berdosa, aku mengadu kepada Allah dengan datang dari kejauhan untuk berziarah ke makam Rasulullah seperti ayat dalam Al-Qur’an yang telah disebutkan tadi, penjaga makam tersebut antara tidur dan tidak tiba tiba dia berada dalam keadaan berjumpa dengan Rasulullah. Rasulullah berpesan: Ya fulan, suruhlah orang itu berhenti menangis dan suruhlah tersenyum karena allah telah mengampuni seluruh dosanya.

Rasulullah pergi dan penjaga makamnya pun spontan sadar lagi, dan memberitahukan pesan Rasulullah. Mimpi yang dialami oleh penjaga makam Nabi adalah mimpi mukasyafah atau mimpi, manamat yaitu mimpi yang sejati kebenarannya dari Allah seperti mimpi Nabi Ibrahim menyembelih anaknya dalam surah As-Shaffat ayat: 102

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Atau mimpi Nabi Yusuf yang melihat sebelas bintang yang bersujud kepadanya dalam surah yusuf ayat: 4

“(ingatlah), ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Semua kategori mimpi ini adalah benar adanya. Ada lima mimpi dalam Al-Qur’an yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, saya akan tuliskan pada lembaran selanjutnya secara khusus.

Jakarta, 14 Januari 2019

TAPAK TILAS RANGGAWARSITA

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Ranggawarsita adalah pujangga yang masyhur nusantara, bisa disejajarkan dengan kahlil jibran, goethe, hazrat inayat khan, victor hugo atau william sheakspeare. Dikenal sebagai khatamul pujangga (penutup para pujangga). Nama lengkapnya Raden Ngabei Ranggawarsito, ayahnya seorang pejuang bersama dengan pangeran diponegoro. Ranggawarsita pernah menjalani system pendidikan berbasis pondok pesantren di ponorogo namun dia kabur ke madiun, karena tidak sepakat dengan system pendidikan pondok. Dia selalu bersemedi diatas bambu dan berpuasa 40 hari hanya makan pisang kecil satu jenis.

Dia berguru pada kakeknya Yasadipura tentang Sastra, belajar kepada Pakubuwono ilmu kanuragan dan kesaktian, belajar kepada Tanuwijaya tentang nalar dan budaya orang orang kecil, belajar kepada Imam Besari tentang islam syariat dan akhlak, terakhir belajar pada Pangeran Harya Buminata ilmu harga diri dan kepercayaan diri. Dari beberapa guru ini, Ranggawarsita mencipta 60 karya yang mempunyai ciri cirri _Purwakanti_ (bersajak), _Sandiasma_ (syair sandi nama), _Candra Sangkala_ (sandi membuat tanggal), _Gancaran Jarwo_ (keindahan lagu).

Namun dari 60 karya tersebut, saya hanya menuliskan dan berbicara tentang beberapa teori dan SERAT WIRID HIDAYAT JATI, didalamnya terdapat SERAT PAMORING KAWULO GUSTI yang memiliki tahap tahap dalam pertapaan. _Tapa jasmani_ (seperti berpuasa), _Tapa Budi_ (mengendalikan akhlak), _Tapa Hawa Nafsu_ (mengendalikan hawa nafsu), _Tapa Rasa Sejati_ (membawa Allah kemana mana), _Tapa Sukma_ (pembersihan jiwa namun harmoni dengan kehidupan nyata), _Tapa Cahya_ (membaca cahaya dibalik semua fenomena) dan terakhir _Tapa Urip_ (tapa yang paling tinggi, hakikat dan tenggelam dalam Allah).

Keadaan seseorang dalam pertapaan ini diceritakan dalam empat tahap tasawuf dalam islam, syariat, tarikat, hakikat dan makrifat. Ranggawarsito sangat menentang orang yang meninggalkan syariat setelah sampai pada tahap tarikat, hakikat dan makrifat. Dijelaskan dalam teori dikenal dengan nama SULUK SUKMA LELANA yang mengatakan (translate dari bahasa jawa) “ _Apa Kalau Sudah Hakikat, Syariat Ditinggalkan, Menurutku Tidak Ada Yang Ditinggalkan, Disebut Dalam Hadis Hak Tanpa Syariat Batal Dan Syariat Tanpa Hak Tidak Jadi_ ” Ranggawarsita melanjutkan dengan diumpamakan seperti syariat adalah lautan, thoriqat adalah kapal, hakikat adalah tujuannya dan makrifat adalah pelabuhan yang dituju.

Setelah itu, Ranggawarsita juga berbicara masalah Negara dalam teorinya bernama SERAT KALATIDHA mengatakan (translate dari bahasa jawa) “ _Rajanya raja utama, patihnya juga berkualitas semua anak buahnya baik, namun segalanya itu tidak menjadi penawar kalabendu (penderitaan) kerepotan makin menjadi lain orang lain perilaku angkaranya. Mengalami zaman edan serba repot, ikut edan tidak sanggup, tidak ikut tidak mendapat apapun, bahkan bias kelaparan namun menjadi kehendak Allah. Betapapun untungnya dan bagaimanapun beuntung orang yang lupa, lebih beruntung orng yang senantiasa ingat dan waspada. Jalani saja sekedarnya, sekedar menghibur hati, tidak menimbulkan prsoalan, sebab riwayat mengatakan: ikhtiar itu wajib namun juga harus memilih jalan yang baik, berupaya awas dan waspada agar dapat berkat dari Allah”_

Ranggawarsita ingin menyampaikan pesan kepada kita bahwa hakikatnya pemimpin, wakil dan para apartaur Negara adalah orang pintar, namun kepintaran itu jugalah yang akan menimbulkan masalah. Ilmu yang tidak terkendali melahirkan zaman edan. zaman hari ini penuh dengan tipuan edan. Hati terkadang berat memilih kebaikan dan keburukan padahal jelas didepan mata. Keburukan sudah membentuk system yang kuat sehingga orang yang masuk dalam system tersebut, bagaimanapun basic keimanannya pasti juga akan berwarna hitam. Contoh sederhana dalam kehidupan kita nyata pada ranah politik. System hukum sangat dipengaruhi oleh politik sehingga pembuatan undang undang bukan murni memihak pada rakyat melainkan juga memprioritaskan kelompok dan pribadi.

Menentang system ini maka tidak akan mendapat jatah bagi bagi, jika demikian bersiaplah untuk menderita, Ranggawarsita menyebutnya “tidak ikut tidak mendapat apapun, bahkan bias kelaparan” jika semua korupsi dan membagi bagi jatah, maka yang tidak ikut korupsi akan disingkirkan, diasingkan bahkan bisa dipenjarakan. Jadi bagaimana ? Ranggawarsita berpesan jalani saja system itu, namun hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup tidak lebih. Karena usaha untuk hidup adalah wajib, tapi dalam usaha itu tetap ada hati yang murni untuk memilih jalan yang baik, semata mata untuk mengharap berkat dari Allah. Berkat dari allah ini akan menjadi bukti kebaikan dan kebersihan kita meskipun dalam rangkulan system yang kotor.

Sebagai jalan keluar dari permasalahan ini Ranggawarsita kembali bergumam dalam SERAT SABDJATI (translate dari bahasa jawa) bahwa “ _Bijaksana sangat gelisah dalam bathin, jika tidka meniru hidupnya akan menderita, kalau meniru hidupnya akan hina. Selesainya besok muncul WIKU (sufi orang suci) memuji ngesti samiji bersabuk debu seperti orang gila, hilir mudik menunjuk sana sini dan menghitung banyak orang_ ” sabda ini hendak berpesan bahwa dalam kehidupan yang penuh kegelisahan materialis ini akan muncul manusia yang tidak terikat dengan materi duniawi. Selalu memuji keagungan Allah dan sudah terlepas dari ikatan duniawi yang kotor. Dia bersabuk debu seperti orang gila, karena penampakannya biasa biasa saja bahkan terkadang keluar dari kenormalan manusia biasa bahkan terlihat seperti orang gila.
Menunjuk sana sini artinya orang ini sudah layak untuk memimpin, memberikan instruksi dan perintah serta larangan dalam pemerintahannya, sebab semua jabatan dan pemerintahan adalah tidak bernilai baginya semua itu hanya titipan dari Allah. Tidak akan ada ketimpangan social yang terjadi, tidak terbujuk dengan tawaran dunia yang menggiurkkan, korupsi, menindas, menipu, membohongi, mengintimidasi, membunuh, sikut menyikut sudah tidak berpengaruh dalam kehidupan seorang Wiku. Sementara menghitung banyak orang itu adalah dengan kekuasaan yang bersih tercipta manusia manusia yang sejahtera, aman dan tentram. Aktivitas apapun yang ingin digelutinya hasilnya pasti baik dan maksimal tentunya berniali disisi Allah.

Mengapa demikian ? jawabannya ada dalam SERAT SABDATAMA (translate dari bahasa jawa) yang mengatakan “ _Lengkungan warna warni pelangi, berwarna kuning, merah, biru hanyalah pantulan air. Ajaran rasul bukanlah Allah yang sebenarnya_ ” tawaran dunia yang menggiurkan layaknya seperti pelangi yang berwarna warni, namun percayalah itu tidak asli sebab hanya pancaran dari kemurnian seperti air. Sejatinya adalah Allah bukan yang lain. Jika sudah sampai pada pemahaman seperti ini maka lahirlah tokoh yang disebut JAKA LODHANG. Manusia yang sudah clear dengan hidupnya. Manusia yang tidak mempunyai masalah lagi, semua adalah kesejatian dalam hidup. Jaka Lodhang akan dijelaskan pada tulisan selanjutnya.

Wallahu a’lam bishawab….