MEMBINCANG FATHIMAH DALAM AYAT AYAT AL-QUR’AN

(Ustadz Rusli Malik)

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Sebagai pengantar, bahwa ada dua sisi yang berkaitan dengan permpuan. Pertama, tidak diberikan peran dalam dunia sosial. Kedua, terkungkung dalam lingkaran rumah tangga saja. Jika point pertama terjadi, artinya kita telah meemenjarakan hampir setengah manusia. karena data perempuan mencapai 50% di dunia.

Bisa dibayangkan, satu orang perempuan saja mengahsilkan karya besar, satu orang perempuan bisa menemukan temuan, dan itu bisa bermanfaat banyak kepada manusia. Bagaimana jika perempuan dipenjara dirumah saja, maka bisa dipastikan ribuan karya akan hilang. Contoh sederhana, temuan tentang listrik, bermanfaat bagi semua rorang.

Jadi, jika satu manusia, katakanlah dia yang menemukan listrik itu di penjara. Maka kehidupan kita akan gelap. Sementara, jika kita menggunakan diagram data, potensi laki laki berada dibawah perempuan. Kenapa ? banyak yang dilakukan perempuan yang tidak bisa dilakukan oleh laki laki, salah satunya mengalami biologis kehamilan.

Jika perempuan tidak mendapat posisi strategis dan penting dalam masyarakat, maka akan berdampak buruk pada keluarga dan pendidikan anak, khususnya generasi millennial hari ini. Anak yang dibesarkan dalam asuhan perempuan sholehah, hasilnya juga akan baik. Contoh Asiyah binti mazahim mendidik langsung Nabi musa di istana Fir’aun, tapi mengapa bukan watak Fir’aun yang menggerogoti kepribadian Nabi musa ?. Jawabannya sederhana, karena dalam istana Fir’aun ada perempuan, yang lebih kuat pengaruhnya nan sholehah yaitu Asiyah.

Asiyah tidak mempunyai keterikatan dengan kerlap-kerlip istana, melainkan, ia terconnect dengan Ilahi, terbukti dalam do’anya alquran At-Tahrim:11, menyebutkan
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

11. “dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim”.

Meskipun berada dalam gemerlapnya itana megah nan glamor, asiyah tetap melihat ketidak adaan keberadaan kecuali Rahmat Tuhan. Wa najjini, selamatkanalah aku dari perbuatan fir’aun dan laku perbuatannya. Al-qur’an pertama menyebutkan dzat sebelum perilaku, karena eksistensi kedzholiman sudah menjadi potensi dalam diri Fir’aun. Setelah itu, perwujudan kezholiman.

Nampak pada pola laku keseharian fir’aun. Fenomena hari ini, justru berbanding terbalik, banyak istri yang membela mati-matian suaminya, meskipun perbuatan dan akidahnya salah. Jika, fir’aun adalah perwujudan dari teologi yang salah, maka seluruh perbuatannya juga salah. Sebab, amali itu turunan dari teologi.

Kemudian, bercermin dari Nabi Nuh, ceritra yang terbalik dari nabi musa. Tokoh perempuan malah menjadi antagonis, menjadi istri yang berkhianat, anaknya Kan’an juga tersesat. Ketika realitas berbicara, Nuh berkata kepada anaknya, diabadikan dalam Al-Qur’an Al-Hud:42
يَٰبُنَىَّ ٱرْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama Kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Sangat disayangkan, anaknya membantah perintah sang ayah, dia pun berkata, “tidak ayah, saya akan selamat”, kan’an dalam keadaan genting dan penting, masih bisa menolak, membantah perintah ayahnya Nabi Nuh. Kenapa demikian keras kepala ?, jawabannya sederhana, karena Kan’an dididik oleh perempuan (Ibunya).

Nabi musa berkarakter leadership sampai pada tampuk kenabian, berkat didikan seorang perempuan. Kan’an malah terjerumus dalam lembah asfala safilin, kehinaan, itu juga hadil didikan seorang perempuan. Perhatikan saksama, hanya terlihat pada fenomena naik bahtera Nuh atau tidak, itu sudah menentukan keimanan dan kekufuran seseorang.

Sudah jelas, jika perempuan dikurung dalam rumah, maka dia akan melahirkan kekosongan sosial. Namun jika dibiarkan begitu leluasa dalam berkarir, juga akan mengalami kegagapan edukasi pada keluarganya. Seluruh tindak tanduk perempuan juga tidak terlepas dari sistem hukum internasional. Hari ini, masih kita dapati praktik the law of jungle, hukum barbar. Dengan segala macam teknologi malah mengeluarkan praktik politik hutan rimba.

Amerika serikat keluar dari perjanjian multilateral seenaknya saja, dan tidak mengakui seorang presiden negara lain, masih membela kerajaan Saudi. Mereka sudah terang terangan menampakkan kendalinya diatas sistem barbar. Amerika memang dulunya menganut hukum barbar, sekarang juga begtu, meskipun dalam pola yang berbeda. Syiria, diissuekan bahwa musuh dari amerika, kemudian Hizbullah di klaim sebagai teroris. Setelah itu, irak juga diperalat melawan revolusi iran, malah sekarang bermusuhan dengan Iraq lagi. Memang hari ini kita disuguhkan, the law of jungle telah diperlihatkan secara terang-terangan.

Sampai saat ini, sistem hukum itu menjadikan perempuan sebagai alat transaski sosial politik dan bisnis. Masa jahiliyah era Nabi, perempuan juga dijadikan alat transaksi politik. Itu sebabnya mengapa surah Al-Ahzab:33 menjelaskan karakter perempuan terlebih dahulu sebelum berbicara kesucian keluarga Nabi.
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

33. “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Sebelum bicara keluarga Nabi, Allah mendahulukan perilaku perempuan. Menggunakan diksi “Buyutikunna” bukan “Buyutikum” artinya muhkhatab (yang diajak bicara) untuk perempuan secara khusus, tidak ada campuran laki laki. Lalu bagaimana menghadapi dua tantangan gaping peran dirumah dan tanggung jawab di luar rumah (sosial masyarakat) ?. Al-qur’an mengakui bahwa perempuan dan laki laki adaah setara dalam penciptaan, serta diciptakan dari unsur yang satu, kemudian dari unsur yang satu itu, Allah menetapkan tolak ukur kemuliaan manusia, yaitu ketaqwaan. Simak Surah An-Nisa:1
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya, Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

Begitupun dengan kehidupan sufi besar Ibnu Araby, seorang sufi karakter gnostic yang tinggi, anda tidak akan menyangka, bahwa ia adalah hasil asuhan intelektual dari seorang perempuan, asupan inteletual itu dari Fathimah Al-Qurtubi. Ibnu araby belajar disana sementara fathimah Berasal dari eropa saat itu. Konon, Ibnu Rusyd seorang pilsuf yang sangat masyhur bertandang ke kediaman Fathimah Al-Qurtuby, ketika ke rumah fathimah, sosok pilsuf terkenal dengan keluasan ilmunya pun terkagum-kagum melihat peninggalan dan aura intelektual kecerdasan kediaman fathimah.

Ceritra Nabi Musa adalah kisah paling panjang dalam Al-Qur’an, karena ada musa menerima kitab, juga termasuk Nabi ulul azmi, lebih kerennya bisa meruntuhkan kerajaan saat itu. Kekuasaan politik memuncak, semua lini kehidupan berujung sampai kesana. Trias berhala kokoh tak terbendung, berhala pemerintahan ala Fir’aun, berhala intelektualism ala Haman dan berhala corporate ala Qorun juga pada era Nabi musa.

Menurut riwayat, apakah itu hadis dari sunni (Kutubu As-sittah) atau syiah (Kutubu Al-Arba’ah). Nabi mengutip dirinya sebagai musa, dan Ali adalah harun disisi Musa. Mengapa demikian ?, karena harus berinteraksi dengan kerajaan saat itu, dibutuhkan partner gerakan untuk menciptakan arah progersif. Jadi harus, mengorganisize dengan baik, agar tidak terjadi konsolidasi kekuasaan, konspirasi busuk.

Bentuk kerajaan fir’aun hari ini Nampak pada PBB. Maka saat itulah sampai pada tingkat kerajaan. PBB Memegang kendali seluruh negara di belahan dunia. Celakanya, tidak ada satupun jiwa yang terlepas dari negara. Artinya tidak ada satupun jiwa yang tidak di bawah kendali PBB. Sementara, kerajaan kecil itu hanya Dikuasai segelintir negara, yaitu negara Amerika serikat, inggris, prancis, Russia dan china. Dan kelima negara inilah yang menentukan semua negara yang ada di dunia ini. Itulah mengapa israil tidak pernah tersentuh dalam kezholimannya, karena ada konsprasi busuk didalam.

Meskpun demikian, janji Allah pasti terwujud, memberangus kezholiman yang terorganisir dan memenangkan kaum yang dilemahkan. Jadi hubungan membincang fathimah, adalah beliau adalah pemimpin para kaum tertindas ini. Maka mari kita bicara tentang keluarga Nabi dalam menggerakkan kaum mustad’afin. Ini juga akan berhubungan dengan keluarga Nabi Musa. Dalam surah Al-Qhasash ayat: 5
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ
وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَنُرِىَ فِرْعَوْنَ وَهَٰمَٰنَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَحْذَرُونَ

5. dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).
6. dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang se- lalu mereka khawatirkan dari mereka itu”.

Ayat itu mengunakan diksi “Wa nuridu”, artinya menginginkan. Kalau Tuhan yang berkeinginan, maka itu pasti akan terjadi, berbeda dengan kita, kalau berkehendak biasanya gagal, dengan segala sebab penghalang. Diksi yang menggunakan Fi’il mudhari, juga ada pada Surah Al-Ahzab:33 dengan bahasa “innama yuridullahu liyuzhiba ankum rijza”.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Seteslah tidak ada fallacy, maka kemudian disucikan sesuci sucinya. Kata “Ustud’ifu” (dilemahkan), bukan (mustad’af) lemah. Jika dilemahkan, artinya ada kekuatan konspirasi busuk yang menyumbat kekuatan politik sehingga terlemahkan. Mustad’afin adalah lemah karena memang tidak berdaya dan potensi bangkit sangat sedikit. Kami menjadikan mereka Imam-imam. Perhatikan sejenak, dalam kalimat itu, tidak ada pembatasan berlaku pada bani israil saja. Jadi siapa saja yang dimaksud Al-Qur’an dilemahkan ?, Lalu menjadi imam dan pewaris bumi, sebelum musnah ?. Al-Anbiya:105.
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعْدِ ٱلذِّكْرِ أَنَّ ٱلْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِىَ ٱلصَّٰلِحُونَ

105. dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur, sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.

Menetapkan bahwa, sungguh Allah menuliskan, memancarkan dalam bentuk tinta, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hambanya orang shaleh. Dan tentunya, ini tidak bisa diganggu oleh iblis. Keluhan iblis bergumam “Illa ibadaka minhum mukhlasih” kecuali mereka yang menyembah dari orang yang mukhlas, Siapa mereka. ? “Wa nimakkinakum fil ardhi”, membuat posisinya kuat dimuka bumi.

Datangnya Nabi musa, hancur kekuatan tiga serangkai yanga ada. Mirip dengan konsep negara hari ini, Lalu apa yang membuat negara menjadi super power ?. Yaitu memiliki teknologi militer super cangih, itulah mengapa al-qur’an menyebutkan dengan kalimat “wa fir’auna, wa haman wa junudahuma. Kekuatan fir’aun sangat dibantu oleh kekuatan kecerdasan seorang haman.

Hari ini ilmuwan menjadi tumbal dari penemuannya sendiri, banyak negara yang menyalahgunakan. Albert Einstein dengan teori relativitasnya digunakan untuk membuat bom atom. Teori evolusi gen dari Charles Darwin digunakan untuk merekayasa genetic. Dari kecerdadan itu dimanfatkan militer untuk kepentingan penguasa, serat dibaiayai oleh corporate, saat itu adalah Qorun.

Mereka yang unggul dalam teknologi mliter adalah pemenang perang dunia kedua. Ada disebutkan tentara, dan teantara bergantung kepada teknologi. Sementara teknologi emikian berkembang, Allah ingin membuat kerajaan fira’un runtuh, menghancurkan kecerdasan haman, dan menenggalamkan kekayaan Qarun. Pertanyaannya, bagaimana Allah memulai gerakan ini ? jawabannya ada pada sosok perempuan.

Skenario Tuhan ini, memerankan sosok dari seorang perempuan, “wa auhaina min ummi musa”. Ibu musa pertama kali yang di ceritrakan dalam al-quran sebelum bicara Nabi musa itu sendiri. Begitu juga dengan Nabi Muhammad. Mengapa Allah membiarakn Ibunda Muhammad meninnggal sebelum Nabi Besar. Allah memberikan cahaya di Rahim Aminah. Tapi juga membiarkan meninggal ayahnya. Allah ingin meberikan isyarat bahwa peradaban dunia, dimulai dari perempuan tanpa ayah. Dan ibunya lah yang mendidik dan membesarkan bayi Muhammad.

Nabi musa, ibunya diwahyukan kepadanya, padahal Nabi musa belum lahir. Mengapa demikian ? allah berkata: Wahai ibu musa, kamu akan menyusui anakmu. Setiap wanita hamil saat itu adalah menysui anakmu. “Fa idza khifiti alaihi”, jika takut, maka hanyutkan ke sungai. Orang dewasa saja ketika dilepas di sungai, sangat potensi mati. Apalagi seorang bayi dan sendiri. Tapi Allah memerintahkan jangan bersedih. Karena kami akan mengemabalikannya kepadamu dan menjadikannya nabi.

Nabi Musa tedampar di istana fir’aun yang dari dulu selalu mau membunuh semua bayi saat itu. Sebelum bayi Musa sampai ke istana, asiyah selalu berdoa “rabbig firli baitan”. Jawabannya ada pada musa sebagai amanah. Jadi, jangan menuntut Allah mengabulkan, tapi penuhi syarat untuk memang kita layak untuk mengembang amanah tersebut. Didikan sempurna yang didapatkan Nabi Musa, itu juga adalah sosok perempuan.

Setelah ibundanya, Nabi Muhammad, diasuh oleh seroang wanita lagi, dan menkhidmatkan diri menyusi Muhammad, yaitu Halimah. Setelah dewasa, khadijah menawakan diri lagi untuk menikahinya. Lalu, pada keluarga khadijah membiarkan suaminya berkhalwat di gunung. Tapi khadijah tidak pernah complain, harusnya seroang suami dirumah untuk kerja dan sebbagainya. Tidak Khadijah pernah memberi beban keluarga diberikan ke Muhammad. Karena khadijah tahu, bahwa Muhammad adalah manifestasi Ilahi. Bahkan semua harta khadijah habis untuk biaya dakwah Muhammad. Sampai saat Khadijah meninggal dunia, dalam keadaan kurus dan tidak ada punya apa apa lagi. Dan menarik dia akan meninggalkan anaknya fathimah. Simak analisisnya.

Dipanggillah Fathimah kesampingnya disaat saat terabring sakit ibundanya. Mengapa tidak berpesan kepada suaminya Muhammad ?. Karena jika berpesan, sama halnya akan memberikan legitimasi posisi lebih tinggi dari suaminya. Sementara Muhammad adalah tajalliyat ilahiyah. Untuk apa saya berpesan ?. Toh sang Nabi juga sudah pasti tahu apa yang akan diperbuatnya. Khadijah menyahut, Wahai fathimah “Saya amanahkan ayahmu” ini malah terbalik, dalam kebiasaan masyarakat, ayah yang dipanggil dan berpesan“ini anak kita saya tinggalkan” karena pesan itulah, fathimah menjadi pelayan juga sebagai ibu dari ayahnya sendiri. Sehingga mendapat gelar “Fathimah umma abiha”.

Sampai saat untuk bersama ali, dalam kondisi sangat miskin. Bahkan pada berbuka puasa, minjam kepada tantangganya. Lalu ada pengemis datang, dikasih lagi makanannya. Fathimah tidak punya apa apa. Semua hidupnya diabdikan kepada kebenaran. Setelah ayahnya meninggal, dia tampil ke medan untuk berperan dalam sosial masyarakat. Mengapa Ali tidak melarang ? karna beliau tahu bahwa Fahimah juga repersentasi Muhammad, dan Muhammad repersentasi ilahiyyah. Fathimah adalah contoh perempuan terbaik, beliau melibatkan diri dalam situasi sosial politik.

Ituah mengapa perempuan harus berperan diluar keluarga juga, tanpa mengabaikan tugas rumah tangga. Fathimah, mampu menjadikan dua kekuatan antara keluarga dan sosial, itu seimbang. Rule model ideal adalah fathimah. Jika tidak, maka kita terjebak pada dua kegelapan yaitu, tidak memberikan peluang kepada perempuan berkarya diluar, dan menjadi neraka bagi rumah itu sendiri.

Jakarta, 19 Maret 2019

FATHIMAH DALAM TRADISI TASAWWUF NUSANTARA

(Kajian Ustadz Andi Alpi. AM)

By: Salman Al-Farisi

Santri Khatamun Nabiyyin

William chittick mengatakan bahwa zaman dulu tasawwuf adalah realitas tanpa nama, namun yang sekarang adalah nama tanpa realitas. Zaman kini yang ada hanya namanya saja tanpa ada realisasinya. Tasawwuf adalah tindakan bukan hanya sekedar teori pada hakikatnya, meskipun sekarang banyak para tasawwuf yang hanya berkutik pada wilayah teori tanpa ada praktik dan hanya dijadikan sebagai kajian-kajian akademisi toh. Lalu, apa hubungannya dengan fathimah ?

Fathimah adalah Haurau al-Insiyyah atau bidadari yang menyerupai manusia. Hal ini menandakan bahwasanya yang esensi dalam diri Fathimah adalah bidadari bukan dari sisi kemanusiaannya. Spiritualitasnya mendahului dari pada materinya. Para manusia suci yang lainnya adalah nama person dahulu, kemudia diikuti oleh laqabnya. Namun untuk Sayyidah Fathimah sendiri sangat berbeda dengan yang lainnya. Maka ini yang membedakan Sayyidah Fathimah dari selainnya bahwa yang nampak pertama kali adalah makam spiritualitasnya bukan materinya. Ketika kita melihat belilau maka yang pertama kali kita lihat bukanlah dirinya tapi Divine daripada dirinya atau sesuatu yang di balik dirinya dan bukan fisiknya.

Dalam buku Ibnu Araby mengatakan bahwa Fathimah dan kedua anaknya kesetiaan kesucian yang dilekatkan kepada mereka, namun kesucian itu sendiri adalah mereka. Berbeda dengan kita, jika mendapatkan kesucian maka kesucian adalah aradh dan bukan diri kita sendiri. Kita mendapatkan kesucian tersebut dari luar diri kita yang kemudian kita integrasikan dalam diri kita. Namun kesucian yang ada pada diri Sayyidah Fathimah bukanlah aradh namun itu adalah zat yang ada dalam diri beliau sendiri. Seperti halnya ketika Rasulullah mengatakan “Salman minna ahlulbayt” Kenapa Salman dikategorikan sebagai ahlulbayt? Karena dia sudah mencapai maqom kesucian, kemudian dimasukkan dalam kategori itu.

Kitab Fusus al-Hikam karya Ibnu Araby beliau hanya bercerita sampai Nabi Muhammad. Dalam tasawwuf disebutkan bahwa Allah adalah sumber dan selainnya adalah mazhar atau penampakan dari pada Allah itu sendiri. Bukan hubungan sebab dan akibat. Dalam kitab tersebut disebutkan aspek tajalli wanita. Dalam tasawwuf tidak ada laki-laki dan perempuan karena kedua hal itu lahir di dunia. Maka harus ada laki-laki dan perempuan. Namun berbeda dalam tataran batin bahwa di sana tidak ada laki-laki dan perempuan.

Syekh Hasan Zadeh al-Amili membuat kitab perpanjangan dari kitab Fusus al-Hikam. Dalam kitab ini akan banyak membicarakan Fatimah dalam aspek-aspek batiniah.
Manuskrip Kuno kesultanan cirebon di dalamnya ada syahadat Fathimah. Namun kitab ini sekarang berada di Leiden university, Belanda. Dalam halaman kedua kitab tersebut disebutkan mengenai syahadat Fatimah. Syahadat ini didapati tentang syahadat Fatimah yang ditulis dalam bahasa Jawa. syahadat tersebut berbunyi “ashaduanna Fatimah Zahra al-Kubra, wa ashaduanna Muhammadan Rasulullah”. Syahadat Fathimah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam di kesultanan Cirebon. Banyak yang mengatakan bahwa syahadat ini bersumber dari Syiah. Banyak masyarakat Cirebon menggunakan syahadat ini dalam laku spiritualitas.

Sementara dalam kitab Asikalaibinang, buku ini berisi tentang hubungan suami istri yang berasal dari bugis. Kitab ini adalah kitab klasik. Persetubuhan bukanlah hal yang negatif namun hal itu adalah hal yang berhubungan dengan spiritualitas. Pernikahan bukanlah laku seksualitas melainkan Pernikahan adalah laku spiritualitas, maka dari itu pernikahan adalah sebagian dari agama dan merupakan sunnah Nabi. Karena wanita itu bagian penyempurna laki-laki. Perempuan itulah yang menyempurnakan laki-laki adanya perempuan itu bisa menyebabkan orang laki-laki sempurna tapi wanita tidak butuh laki-laki untuk menyempurna.

Tasawwuf mengajarkan kita bagaimana menderita dengan nikmat dalam cinta, bagaimana tidak makan 3 hari 3 malam, itulah yang termanifestasi dalam keluarga Nabi. Ketika itu sedang Fatimah sedang berpuasa karena memberikan makan kepada orang lain, maka beliau dan keluarganya tidak makan selama tiga hari. Itulah sebenar-benarnya suluk yang hidup menderita. Tasawwuf tidak mengajarkan kita tertawa terbahak-bahak dan senang. Orang yang banyak menderita adalah orang yang paling banyak mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena sangat jarang sekali orang yang berbahagia dia bisa mengingat Allah. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk merebut perhatian kamu daripada selain dirinya.

Jakarta, 17 Maret 2019

FATHIMAH MENJAWAB ISU-ISU KONTROVERSIAL KEPEREMPUANAN

(Kajian Rumah Fathimah Ustadzah Andi Arifah SE)

By: Husein Haidarullah Muqimuddin

Santri Khatamun Nabiyyin

Tokoh-tokoh perempuan islam inspiratif sepanjang zaman, dalam al-quran banyak sekali menyebutkan tentang itu, kaitannya dengan pembahasan kita kali ini tentang isu-isu kontroversial keperempuanan menjadi corak spesifik. Materi-materi 14 jejak Fathimisme yang lain mengangkat tema-tema umum yang berkaitan tentang pemikirannya sayidah Fatimah Az-zahra akan tetapi kita mengangkat tema yang spesifik tentang tokoh-tokoh perempuan dan pandangan-pandangan mereka sebagai perempuan yang membahas tentang kasus-kasus keperempuanan. Ada beberapa perempuan yang dibahas di dalam Al-quran, diantaranya:

1. Hawa
Dia adalah ibu dari seluruh umat manusia, tidak ada kehidupan jika adam saja tanpa hawa, dan tidak ada manusia selanjutnya jika adam sendiri, oleh karena itu dia adalah salah satu perempuan yang disampaikan dalam kitab suci ilahi, ia memiliki pengaruh terhadap kesinambungan kehidupan manusia dan beliau memiliki peran, yaitu pada Qur’an surah An-Nisa ayat 1, kemudian pada surah Al-An’am ayat 98, pada surah Al-a’raf ayat 189 dan az-zumar ayat 6.

2. Siti Hajar
Dia adalah salah satu istri nabi Ibrahim dan beliau memiliki jejak perjuangan, sampai sekarang dirasakan oleh seluruh kaum muslimin, diantaranya: air zam-zam, ka’bah di mekah, juga peran besar dalam membesarkan Nabi Ismail, kemudian beliau membentuk sebuah system agama hanafiyah di negeri arab pada zamannya.

3. Zulaikha
Pengakuan cinta yang hakiki, semua mengetahui tentang kisah cinta zulaikha dengan Nabi Yusuf As, karena cerita tentang nabi yusuf adalah salah satu cerita yang paling panjang dan paling menarik dan paling lengkap di dalam Al-quran. Anehnya, jika kita mengangkat tentang zulaikha, maka yang terpatri di dalam pikiran kita, dia adalah penggoda, karena kita melihat peran zulaikha dalam proses kehidupan nabi yusuf sebagai salah satu penyebab nabi yusuf masuk kedalam penjara dan digoda oleh para perempuan-perempuan lainnya, walaupun pada akhirnya zulaikha bertobat dan menikah dengan nabi yusuf dan ini kebanyakan dijadikan orang sebagai sebuah alasan kalo perempuan itu penggoda.

Jadi, konotasinya jadi negative, dan sedikit sekali yang melihat kisah nabi Yusuf As bukan dari sisi penguatan karakter nabi yusuf, yang bagaimana dia tidak mudah tergoda, mengapa selalu melihat zulaikha sebagai penggoda. Juga, zaman sekarang yang menyalahkan perempuan, adan pemerkosaan karena perempuannya yang tidak memakai jilbab, dan berpakaian yang tidak tertutup, jadi wajar saja kita tergoda.

4. Asiyah binti mazahim
Sang penyelamat laki-laki, dan pada saat ini yang terdengar yang melindungi itu laki-laki terhadap perempuan, akan tetapi jika kita melihat dalam kisah asiyah, dialah yang menyelamatkan bayi Nabi musa terhadap genosida pembunuhan massal bayi laki-laki oleh firaun, bahkan menjaga sampai membesarkannya di istana fir’aun sendiri.

5. Balqis
Salah satu ratu pemimpin yang diceritakan dalam al-quran pada surah An-naml ayat 29-44, dan kita bisa melihat bagaimana proses politik anggun yang dilakukan oleh ratu balqis sebagai pemimpin, bagaimana al-quran mengisyaratkan bahwasanya dia yang bisa untuk memimpin dan menciptakan masyarakat yang makmur, walaupun pada saat itu kepercayaan masyarakatnya belum mengenal ketauhidan, akan tetapi keputusan-keputusan politik yang ia hadapi dan negoisasi yang ia lakukan pada Nabi Sulaiman itu adalah hal yang luar biasa, dan akhirnya itu dijadikan perjalanan spiritual dan intelektual dia di dalam menemukan kebenaran.

6. Maryam
Dia adalah ibu perawan sang bunda dari Nabi Isa, walaupun ada yang eatakan bahwa beliau menerima waahyu, tapi tetap bukan Nabi. Karena secara masyhur kita ulama muslim tidak menerima konsep nabi perempuan, walaupun kita meyakini seseorang yang bisa berbicara dengan malaikat jibril itu adalah anugrah yang sangat luar bisa dan ini menunjukan berarti ia memiliki intelektual dan spiritualitas yang tinggi.

7. Fathimah Az-Zahra Binti Muhammad
Di dalam hadist Rasulullah Saw dikatakan bahwa Fathimah Az-Zahra adalah penghulu semua perempuan, dan saking hebat dan istimewanya beliau seluruh perempuan-perempuan yang hebat di dalam al-quran sebagaimana yang telah disebutkan, semua karakter terangkum di dalam diri putri Nabi Muhammad Sayidah Fathimah Az-Zahra.

Dan terdapat hadist Rasul, bahwasanya sebaik-baiknya perempuan ahli surga ialah: Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim.Untuk melihat bagaimana ajaran islam secara umum melihat sayidah Fatimah az-zahra secara khusus tentang isu-isu kontroversial perempuan, maka kita harus melihat realitas kondisi perempuan pada masa hidupnya.

zaman pra islam kita ketahui para wanita tidak mendapatkan hak-hak mereka, diantaranya: seperti harta warisan, nafkah, mahar dan lain-lain. Karena pada zaman jahiliyah mereka merasa malu jika memiliki anak perempuan sehingga mereka membunuh dan menguburkannya hidup-hidup dikarenakan mereka takut miskin, malu dan takut diejek dan hal itu disinggung pada surah takwir dengan redaksi “biayyi dzanbin qutilat” yang bermakna karena dosa apakah bayi perempuan mereka dibunuh dan dikubur hidup-hidup.

Isu keperempuanan, ada isu feminiside, dan itu adalah tindakan dan gerakan pembunuhan perempuan secara massal, jadi karena perempuan berkarakter lemah dan dianggap tidak berguna serta memalukan dan akhirnya dibunuh, dan pembahasan ini sebenarnya sudah muncul pada pembahasan gender saat ini, dan realitas sudah terjadi pada zaman Rasulullah Saw bahkan masa sebelumnya. Islam sangat menekankan untuk memaksa manusia berpikir kenapa bayi perempuan harus dibunuh kalo hanya dia perempuan.

Hikmah keberadaan sayidah fathimah az-zahra, pada masa ketika harga perempuan sederajat dengan harta benda dan budak yang dimiliki, menarik karena pada kondisi seperti itu, malah lahir seorang putri dari dua insan yang derajatnya lebih tinggi daripada seluruh alam semesta. Kondisi orang-orang arab yang dihadapi oleh Rasulullah Saw memandang perempuan serendah-rendahnya. Karena mereka tidak mendapatkan hak waris, nafkah, bahkan mereka tidak diberikan akan hak kemandirian dalam bekerja. Namun, pada kondisi tersebut Rasulullah Saw bangga memiliki anak perempuan bersama istrinya yang merupakan tokoh kontroversial pada era jahiliah itu, khadijah salah satu tokoh perempuan yang mendobrak issue perempuan itu lemah.

Pada masa ramainya pembunuhan bayi perempuan, ia hidup dan memberi kehidupan kepada orang-orang yang mati suri oleh budaya kejahiliaan, jadi kalo kita melihat spirit perjuangan nabi yaitu memperjuangkan perempuan, diutusnya para nabi kepada suatu kaum ketika kondisi perempuannya itu benar-benar direndahkan, pada saat rasulullah diangkat menjadi nabi di gua hiro, orang yang pertama kali meyakini atas kenabiaannya adalah perempuan yaitu khadijah, oleh karena itu memberikan kelayakan kepada harga diri kaumnya yang mati pada perempuan jahiliyah seperti itu benar-benar harga dirinya berada dititik paling rendah untuk mengenali dirinya.

Bersama dengan tumbuhnya wahyu yang mekar dan menebarkan wangi di dunia dan dia adalah sosok abadi bagaikan telaga kautsar yang karunianya terus mengalir. Karena pada dahulu kala terdapat salah satu tuduhan kepada Rasulullah Saw yang berkaitan dengan surah al-kautsar, dikatakan Rasulullah ini ia abthar yaitu orang yang tidak memiliki keturunan. Namun, pada saat ini kita mengenal istilah sayid, habib, syarifah dan itu adalah keturunan rasulullah melalui garis putrinya perempuan, dan walaupun gelar-gelar tidak menafikan kedudukan yang luar biasa yang dimiliki oleh sepupu Rasulullah Swt sekaligus menantu yaitu Ali bin Abi Thalib.

Kelahiran Sayidah Fatimah Az-Zahra dan perlakuan istimewa Rasulullah padanya merupakan warisan dan salah satu ajaran beliau untuk memuliakan dan mempercayai ketangguhan perempuan. Jadi, hikmah dari keberadaan sayidah Fatimah az-zahra dalam proses dakwah Rasulullah adalah menekankan Rasulullah mewariskan kepada kita akan bagaimana islam memuliakan perempuan semulia-mulianya.

Kalo kita melihat Sayidah Fatimah az-zahra sebagai seorang perempuan, beliau telah memberikan teladan banyak kepada kita, dan terdapat isu-isu kontroversial keperempuanan tentang kedudukan penciptaan perempuan. Persoalan dari segi agama yang sampai sekarang masalahnya selalu dibahas dan diperdebatkan dan belum ditemukan kata sepakat adalah asal kejadian perempuan? Dan karena itu banyak orang-orang yang berstatemen perempuan itu manusia atau bukan?

Dan salah satu stateman filosof yang besar dan masyhur seperti aristoteles pun menyatakan definisi perempuan itu adalah setengah dari laki-laki. Ini kalo kita memahami kata ini secara tekstual, mungkin kita akan mengatakan pada aristoteles kenapa ia begitu tega seperti itu? Menyatakan perempuan setengah manusia atau manusia yang gak jadi. Kemudian banyak pendapat-pendapat lain tentang spekulasi-spekulasi yang muncul tentang perempuan adalah makhluk jelmaan iblis dan sebagainya. Itu memang adalah hal yang harus diluruskan dan melalui rasulullah dan melalui bagaimana ia memperlakukan sayidah Fatimah az-zahra dan melalui kehidupan sayidah Fatimah az-zahra itu menunjukan statemen-statemen seperti itu tidaklah benar.

Kebanyakan dari kita kaum muslimin, belum begitu mengenal tentang sosok biografi sayidah fathimah az-zahra, nama beliau adalah Fatimah az-zahra merupakan putri keempat dari pasangan Rasulullah Saw dan Khadijah Al-Kubra dan beliau memiliki begitu banyak julukan dan dari julukannya kita bisa lebih mengenal beliau, karena tidak mungkin dia dijuluki sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya. Az-zahra itu merupakan salah satu julukan beliau yang bisa kita maknai dengan bunga dan yang lebih tepatnya bisa kita maknai cahaya, karena rasulullah memuji Fatimah itu laksana cahaya dan cahaya pada sayidah Fatimah disini bukan bermakna tekstual seperti lampu yang bercahaya, akan tetapi sayidah Fatimah az-zahra itu adalah salah satu sinar yang dikeluarkan oleh cahaya islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw.

Gelar lainnya yang dimiliki sayidah Fatimah Az-Zahra adalah as-siddiqoh, at-thohiroh. Beliau dilahirkan di Mekah, 20 jumadil a- tsani pada tahun 5 setelah bi’sah pengangkatan rasulullah, beliau wafat pada 13 jumadil awwal atau terdapat pendapat lain yaitu 3 jumadil ats- tsani pada usia 18 tahun dan beliau wafat pada usia yang sangat muda, beliau menguraikan berbagai keagungan pada umur tersebut. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib pada 1 Dzulhijah tahun 2H, kalo misalnya orang-orang muda diluar merayakan hari valentine sebagai hari kasih sayang, maka seharusnya kita sekarang mendaulat bahwaa hari ini sebagai hari kasih sayang, karena seharusnya hari kasih sayang itu ditunjukan bersatunya dua manusia yang agung dengan niat suci dan tentu saja dengan ikatan suci.

Peran Fatimah az-zahra pada pergerakan rasulullah Saw disini semenjak masa kandungannya, ayah dan ibu beliau mengalami tekanan politik yang sangat dahsyat, beberapa tahun setelah bisah kita ketahui bahwasanya masa dakwah fase rasulullah Saw itu terbagi menjadi 2 fase. Fase yang pertama adalah fase yang tertutup da kedua adalah fase terbuka. Pada fase tertutup rasulullah mendakwah kepada para keluarga dan sahabat terdekatnya, bisa langsung menerima islam dan ini dijalani selama 3 tahun. tahun keempatnya rasulullah Saw mulai dakwah terbuka, dan tanggapan orang-orang kafir quraisy pada saat itu sangat keras, menolak ajaran rasulullah sampe memboikot, sampe menghina beliau dan bahkan ingin membunuh rasulullah Saw.

Jika kita melihat tahun kelahiran sayidah Fatimah az-zahra, maka kita akan dapatkan bahwa beliau dikandung pada masa Rasulullah sudah berdakwah secara terang-terangan. Secara otomatis kandungan sayidah Fatimah yang berada di Rahim sayidah khadijah sedang mengalami berbagai tekanan dan goncangan dari orang-orang kafir quraisy. Apabila kita mengetahui kisah akan kelahiran sayidah Fatimah az-zahra, maka kita akan bersedih dikarenakan semua orang-orang dan para tetangga yang berada disekitar, menjauhi diri dari sayidah khadijah diakibatkan ia merupakan istri dari nabi Muhammad Saw yang melakukan revolusi, yang melakukan perlawanan adat dan budaya jahiliyah pada saat itu. Konon ketika sayidah khadijah hendak ingin melahirkan tidak terdapat wanita seorang pun yang ingin membantunya, dan beliau dibantu proses persalinannya oleh perempuan-perempuan suci sebelumnya, seperti siti sarah, Maryam, asiyah, dan hawa.

Pada saat dalam kandungan terdapat sebuah teori yang masyhur dalam parenting yang kita ketahui, bahwasanya bayi dalam kandungan seorang ibu sudah bisa merasakan akan emosional kedua orang tuanya entah dari sisi kesusahannya, kesulitannya yang dialami maupun kesedihan. Apabila seorang anak sudah bisa diajarkan pada saat proses kandungan, itulah masa didikan awal yang dialami sayidah Fatimah az-zahra dalam kandungan sayidah khadijah. Ditekan oleh berbagai kaum kafir quraisy ketika mendakwahkan islam dan beliau merasakan pula tekanannya semasa dalam kandungan ibunya dan bisa kita bayangkan bayi sayidah Fatimah az-zahra akan lahir dalam bentuk yang sempurna karena beliau sudah teruji dan terdidik berbagai ujian semenjak dalam kandungan.

Di masa kanak-kanaknya beliau menyaksikan ayah dan para sahabat-sahabatnya disiksa dalam pemboikotan. Karena beliau lahir pada tahun ketiga setelah bi’tsah, beliau hadir ketika rasulullah sudah melakukan dakwah secara terbuka, dan sebelum rasulullah berhijrah. telah terdapat musibah yang sangat menyedihkan yaitu meninggalnya kedua orang yang sangat berperan besar dan mendorong rasul dalam berdakwah yaitu pamannya : Abu thalib dan sayidah khadijah, umur sayidah Fatimah pada saat itu 5 tahun dan beliau mendapatkan gelar “Ummu Abiha” yang bermakna ibu dari ayahnya, lalu kenapa bisa diberi gelar ummu abiha atau ibu dari ayahnya? Dikarenakan rasulullah telah kehilangan khadijah yang telah mendukung dari awal perjuangan rasulullah dan yang telah memberikan pengakuan kenabian padanya dari semua orang sebelumnya.

Sayidah Fatimah Az-Zahra telah menyaksikan wafat ibunya, maka dialah yang menjadi harapan ayahnya untuk membantu berbagai hal dalam perjuangan dakwah ayahnya. Bayangkan anak yang masih kecil yang berusia 5 tahun, justru itulah yang mengobati hati luka dari ayahnya, ketika rasul dilempari batu dan ketika hampir dibunuh maka sayidah Fatimahlah yang menyembukan luka ayahnya Muhammad dan yang menyediakan berbagai domestic pengobatan rasul, sehingga dengan semua hal itulah beliau dijuluki “Ummu Abiiha”.

Ada salah satu ayat, asbabun nuzulnya berkaitan dengan sayidah Fatimah Az-Zahra yaitu “peristiwa mubahalah” pada surah Ali Imran ayat 61, ketika Rasul mendakwahkan islam kepada kaum nasrani najran dan para pengikutnya dengan menyeru ajaran islam dengan konsep ketauhidan dan menyeru bahwasanya Rasulullah adalah nabi untuk zaman ini, akan tetapi mereka malah menolak apa yang didakwahkan oleh Rasulullah saw dan mereka malah mengajak rasul untuk bermubahalah, mubahalah disini bermakna bersumpah dan berdiri pada pihak yang paling benar.

Tokoh-tokoh yang dibawa oleh rasulullah Saw yaitu Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu sahabat rasul yang setia dan sayidah Fatimah Az-Zahra yang sebagai putrinya rasul, beserta kedua anak dari keduanya yaitu Hasan dan Husein. Penekanan point bahwasanya proses mubahalah adalah proses pengangkatan wibawa islam di mata umat dunia, islam ditantang oleh kaum nasrani najran untuk menentukan mana agama yang paling benar ketika bermubahalah. Terdapat sosok seorang perempuan yang diajak oleh Rasulullah Saw pada peristiwa mubahalah tersebut. Inilah yang menentukan wibawa islam untuk melibatkan selalu perempuan, bahkan anak-anak pun harus diajak bukan hanya laki-laki saja yang menentukan. Selama ini yang selalu diremehkan dalam pandangan masyarakat adalah perempuan dan anak-anak.

Pentingnya hijab merupakan permasalahan sosial untuk perempuan, agar mereka tidak memandang dan tidak dipandang oleh laki-laki dan ini akan terdapat uraiannya pada pembahasan tentang hijab. Karena kalo kita hanya melihat secara tekstual, kesannya terdapat kontradiksi dengan apa yang Fatimah Az-Zahra lakukan dengan beberapa-beberapa riwayat, dan akan dijelaskan selanjutnya.

Terdapat beberapa peran lainnya yang sayidah Fatimah Az-Zahra lakukan di masa Rasulullah Saw yaitu:
1. Mengadakan pendidikan khusus bagi perempuan.
2. Meladeni pertanyaan-pertanyaan sahabat.
3. Menyampaikan ilmu pengatahuan
4. Membaktikan diri secata total untuk fakir miskin.
5. Kemampuan memanagemen pemerdayaan perekonomian umat.
6. Memperhatikan kehidupan janda-janda perang.

Hak-hak kontroversial dalam islam yang masih terus diperbincangkan yaitu tentang harta warisan yang dimana perempuan-perempuan pada protes pada islam katanya adil, lalu kenapa kami hanya mendapat warisannya satu banding dua. Seharusnya para perempuan lebih bersyukur akan adanya islam karena dahulu kala para perempuan itu dijadikan objek warisan pada zaman jahiliyah. Dan ini berarti perempuan itu tidak lebih seperti alat pertukaran ekonomi untuk transaksi jual beli, membayar hutang dan sebagainya.

Masalah selanjutnya adalah poligami dikarenakan ia merupakan masalah kontroversial yang banyak para perempuan-perempuan menolaknya dan menentangnya. Sebagian besar para menjadikan sosok sayidah Fatimah Az-Zahra sebagai suri tauladan yang tidak ingin dipoligami oleh Ali bin Abi Thalib. Dan lucunya juga, mereka yang pro poligami mereka menjadikan sosok Ali bin Abi Thalib sebagai contoh juga untuk berpoligami setelah meninggalnya sayidah Fatimah Az-Zahra.

Kapasitas perempuan dalam keilmuan yang sering diremehkan oleh orang-orang, karena ujung-ujungnya perempuan hanya dirumah sehingga mereka tidaklah usah menuntut ilmu tinggi-tinggi. Kapasitas perempuan dalam spiritualitas yang sering para perempuan ini dijudge sebagai penghuni neraka. Perempuan juga tidak ada yang bisa menjadi nabi, sedangkan para laki-laki bisa jadi nabi, ini dikarenakan jika perempuan dibandingkan dengan laki-laki maka kapasitas spiritualitas dan intelektualitas keilmuan perempuan itu diciptakan dibawah standar dari laki-laki.

Hijab atau pembatasan, bahwasanya islam ini datang memberikan hijab pada perempuan untuk membatasi aktivitas perempuan, karena apa? Karena ujung-ujungnya perempuan itu dikatakan sebagai penggoda, akan membuat masalah, dan menggunakan berbagai dalil agama bahwa wanita itu harus tertutup, mereka tidak harus berhubungan dengan non mahram. Masalah lainnya adalah pelakor perebut lelaki orang dan perceraian yang selalu terbesit menjadi pelakunya adalah para perempuan yang tidak becus dalam mengurus rumah dan keluarga, serta tidak bisa melayani suami.

Pelakor yang suka mengambil lelaki orang sedangkan lelakinya itu apakah ia tidak sadar? Kalo dia sudah beristri tapi masih mau tergoda oleh perempuan, dan ini semua adalah bentuk ketidakadilan antara dua relasi kehidupan antara laki-laki dan perempuan. Tapi para perempuan lah yang divonis salah, dan contoh lainnya adalah masalah pemerkosaan yang selalu disalahkan adalah perempuan, perempuannya juga bearktivitas dan sering keluar malam hari, perlu dipertanyakan mana keadilan laki-laki yang tidak mau divonis salah dalam kesalahan yang dilakukannya.

Jadi sikap umum dari beberapa persoalan keperempuanan yang sayidah Fatimah az-zahra melihatnya dan beliau menjadikan patokannya adalah Al-qur’an untuk menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Disini sayidah Fatimah Az-Zahra berkata : ia adalah kitab Allah, mengikutinya akan memandu kepada jalan keridoan dan mendengarkannya akan mengarahkannya kepada arah keselamatan, dan dengannya akan dapat meraih hujah-hujah Allah Swt yang terang benderang, perintah-perintahnya yang jelas dan larangan-larangannya harus dijaga, dan keringanan-keringanan yang diberikan dan sunah yang dianjurkan dan syariat-syariat yang diwajibkan. Dan dengan itu sebagai dalil awal untuk mengetahui tolak ukur sayidah Fatimah Az-Zahra dalam memandang berbagai permasalahan yang berkaitan tentang keperempuanan merujuk Al-quran dan sunnah rasul.

Masalah selanjutnya yang berkaitan tentang kedudukan penciptaan perempuan, apakah ia manusia atau bukan? Ya sudah jelas mereka adalah manusia, dikarenakan begitu banyaknya ayat-ayat yang menceritakan tentang penciptaan manusia terlebih khususnya penciptaan perempuan, diantara salah satu ayatnya adalah surah an-nisa ayat 1 dan juga sayidah Fatimah az-zahra beserta para perempuan-perempuan yang hidup sezaman dengan sayidah Fatimah diperlakukan secara adil dan sama dan ini sebagai bukti bahwasanya perempuan itu adalah manusia.

Jakarta, 17 Maret 2019

KESABARAN INDAH DIBALIK UJIAN FATHIMAH AZ-ZAHRA

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun nabiyyin

Fathimah adalah manifestasi Rasulullah, satu satunya wujud menggambarkan sosok rasulullah secara paripurna. Artinya, mengenal Rasulullah adalah mengenal Fathimah. Tidak mengenal fathimah maka juga tidak menganal sosok Rasulullah. Kita bisa saja menelusuri gambaran dan rekam jejak beliau dalam sejarah, namun yang paling penting, bagaimana mengikuti beliau dari segala aspek dalam bingkai perbuatan sehari hari.

Barangsiapa yang ingin mencari jalan kesucian menuju Nur Muhammad, tidak ada jalan lain kecuali dari mengenal putrinya Fathimah.
Dalam ziarah fathimah, kita diajarkan dengan do’a “

السَّلامُ عَلَيْكِ يَا مُمْتَحَنَةُ امْتَحَنَكِ الَّذِي خَلَقَكِ فَوَجَدَكِ لِمَا امْتَحَنَكِ صَابِرَةً أَنَا لَكِ مُصَدِّقٌ صَابِرٌ عَلَى مَا أَتَى بِهِ أَبُوكِ وَ وَصِيُّهُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمَا وَ أَنَا أَسْأَلُكِ إِنْ كُنْتُ صَدَّقْتُكِ إِلا أَلْحَقْتِنِي بِتَصْدِيقِي لَهُمَا لِتُسَرَّ نَفْسِي فَاشْهَدِي أَنِّي ظَاهِرٌ [طَاهِرٌ] بِوِلايَتِكِ وَ وِلايَةِ آلِ بَيْتِكِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ

Salam atasmu wahai wanita teruji, yang Zat Penciptamu mengujimu lalu telah menemukanmu sabar terhadap semua yang ditimpakan atasmu, Aku membenarkan kesabaranmu dalam memikul apa yang telah dibawa oleh ayahmu dan washinya as. Aku memohon kepadamu, ketika aku membenarkanmu, agar mengumpulkanku bersama mereka berdua supaya jiwaku menjadi bahagia. Maka, saksikanlah bahwa aku menang karena mencintaimu dan keluargamu (semoga shalawat Allah tercurahkan atas mereka semua

Mari kita Renungi, ada makna kesabaran yang sungguh agung, kesabaran itulah mengantarkan kepada sebab kesempurnaan. Makna ujian itu sebelum diciptakan adalah apakah ada eksistensi sebelum fathimah ? dalam filsafat islam, wujud paling rendah adalah wujud materi fisik itu sendiri.

Contoh sederhana, Al-Qur’an yang kita baca adalah perwujudan mempunyai arti tadrij. Artinya berangsur angsur diturunkan, dalam keadaan seperti itu, lalu wujud hakiki Al-Qur’an dimana ?, jawabannya ada di Lauh Mahfuzh. Setelah itu masih ada wujud yang paling tinggi lagi, yaitu Ummul Kitab. Mengapa mempunyai tingkatan wujud, Agar kita tahu Al-Qur’an sebagai hakikat yang sesungguhnya.

Manusia juga seperti itu, manusia seperti kitab. Ini terbukti pada saatrasul dinamakan Qur’an yang berjalan. Jadi, wujud sayyidah fathimah adalah insan kamil juga perwujudan Al-Qur’an itu sendiri dalam bentuk kitab yang berjalan. Seperti sebelum adam diciptakan di dunia ini, Rasulullah sudah mempunyai wujud yang lain. Keberadaan manusia adalah karena wujud historis, sementara keberadaan ruh kita tidak terbatas, dan tidak terikat ruang dan waktu.

Alqur’an menjelaskan Al-a’raf:172

“dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anakAdam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

QOLU BALA SYAHIDNA. Allah tahu kita sebelum kita dicipatakan di dunia ini. Wujud kita disebut sebagai wujud ilmi, dalam bentuk Ilmu tuhan. Allah tahu semua apa yang manusia lakukan di dunia ini. Dan ketika Allah menguji kita, maka itu disebut sebagai ujian takwini yaitu pada saat ditanya sebelum diciptakan. Ada juga ujian tasyri’I seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Mulk

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”

Sayyidah fathimah Az-Zahra pertama kali diuji secara takwini setelahnya adalah ujian tasyri’I. Maka Allah mengetahui semua yang dilakukan. Semua diperlihatkan apa yang akan terjadi nanti di dunia ini. Dalam diri fathimah, Hanya ada potensi baik, tanpa ada potensi buruk. Allah menguji fahtimah bagaima kenapa ? karena untuk mencapai kesempurnaan hakiki. Cinta ada secara mutlak ada juga yang terbatas. Mencintai lahiriah keindahan adalah wajar, namun Semua ini terbatas, dibaliknya ada keindahan sempurna. Yang menciptakan semua keindahan ini lebih indah dari keindahan. Fitrah manusia diciptakan untuk mencintai keindahan yang paling indah.

Lantas, kita mencintai seseorang kita akan berkorban untuknya, bagaimana ketika mencintai Allah, kita akan melakukan semua perintah Allah. Dan itu adalah bukti. Jadi, Cinta itu tdak bisa dialami secara hakiki oleh manusia yang tidak arif dan paripurna. Karena dia harus mengenal tuhan secara sempurna pula. Karena tidak mengenal pasti tidak mencintai juga. Apalagi sampai menyaksikan Allah secara langsung. Seperti Sayyidina Ali berkata: saya tidak akan menyembah sesuatu yang aku tidak lihat.

Fathimah hadir dan menerima ujian sebagai keindahan tersendiri. Manusia biasa tidak akan mampu menerima ujian seperti itu, itulah mengapa dia menerima gelar insan kamil. Allah memeberi gelar itu karna sudah mengalami ujian berat. Itulah mengapa para wali Allah selalu diberi ujian, karena proses penyempurnaan itu, seperti diberi ujian ketika ingin penaikan kelas, dan hadiah yang paling berharga setelah melewati ujian berat dari Allah adalah menjadikannya Al-Kautsar untuk Rasulullah ayahandanya.

Dalam kehidupan ini kita diberikan kenikmatan duniawi, tapi memanfataakan duniawi adalah aksidental bukan essensial. Karena itu, sifatnya hanya kebutuhan sementara. Dengan tubuh aksidental disitu adanya potensi, sehingga kita mempunyai potensi menyempurna terus menerus. Itulah mengapa kita harus memanfaatkan secara aksidental untuk peneyempurnaan.

Contoh kecilnya, siswa Tidak bisa belajar dengan baik ketika tubuhnya bermasalah, mungkin sakit atau cacat. Dan ini adalah alasan kenapa kita harus memanfaatkan duniawi untuk penyempurnaan ukhrawi.
Sayyidah fathimah mengajarkan untuk memnafaatkan dunia secaraminimalis dan sederhana.

Gunakan kebutuhan secukupnya, setelah itu bukan kebutuhan lagi, melainkan yang ada hanyalah tidak penting dan sekunder. Hal hal yang bersifat Sekunder, satu pun sayyidah Fathimah tidak pernah mencicipi kenikmatan itu , selalu yang penting dan sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan.

Banyak orang menghabiskan waktunya untuk mengejar duniawi memperkaya diri memiliki barang barang mewah, sementara Fathimah hanya sekedar menjaga kesehatan dan melangsungkan hidup, itu saja, padahal beliau mampu lebih dari itu.
Ada beberapa Ujian Fathimah yang direkam oleh sejarah. Pertama, dalam usia muda, beliau disakiti oleh kaum quraish, waktu ayahandanya di embargo di sekitar mekkah. Kedua, ibunya sudah meninggal padahal umurnya masih belia. Ketiga, waktu ingin menikah, beliau diolok olok orang quraish, bahwa Sayyidina Ali tidak pernah kaya, tidak mempunyai jabatan.

Keempat, . Diuji dengan rumah tangga. Sangat sunyi, sempit dan fakir. Kelima, ketika ayahandanya wafat. Keenam, dikabarkan oleh ayahandanya tentang anaknya Hasan dan Husain yang akan dibunuh nantinya. Keenam, jauh dari ayahandanya sehingga banyak juga terror dari kaum munafiqin seperti saat Ali juga dibunuh oleh kaum khawarij Abdurrahman Ibnu muljam.
Satu hari salman AL-Farisi masuk ke rumah fathimah, salman mendapati fiddah (pembantu), tidur sementara Fathimah sendiri yang bekerja, bertanyalah salman, mengapa demikian ? lalu fathimah menjawab “kita ini membagi waktu untuk bekerja”.

Selain itu, beliau juga mendidik perempuan saat itu, direkam dalam khutbah-khutbah beliau.
Shobri min al-iman ka ro’si min jasad. Iman tanpa kesabaran tidak beratti apa apa. Iman beraal dari amanah, aman, selamat dan tidak ada ancaman sama sekali. Seorang mukmin dengan allah. Dekat dengan Allah perlu kesabaran yang intens. Semakin tinggi makam sesorang maka semakin tinggi ujianya. Mengaa karena allah ingin hambanya yang dicintai dekat dengannya.

Kalau mau dekat dengan keluarga nabi, maka harus diuji dan berdarah darah. Adakah nabi yang tidak diuji, ?. dirumah azzahra tidak ada makanan sama sekali, lalu fathimah disuruh mencari makanan di rumah rasul. Rasul berkata, ada lima kambing disini, pilih ini atau kata kata yang diajarkan oleh jibril. Lalu beliau memilih kata kata itu. Dan kembali. Dia pergi dengan mencari dunia, dan datang membawa akhirat. Dan allah yang memebrikan kepada kami akhirta dan duniawi itu.

sabarlah atas paitnya dunia untuk keindahan akhirat mu nanti. Beliau menjawab, Alhamdulillah atas kenikmatan ini. Gak pernah mengeluh. Dan syukur kepada allah atas nikmatnya. (Wa la saufa yu’tika wa tardha). Nama sayyidah Az-zahra karena bercahaya, kenapa cahaya itu bersal dari mihrabnya. Mihrab dipenuhi oleh cahaya.

Jakarta, 16 maret 2019

HOMO DEUS “ALGORITMA KESADARAN” YUVAL NOAH HARARI

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Diskusi ilmiah digelar di cafe ilmu dengan pembicara Dosen IAIN Palopo Amir Faqihuddin Assaffari dan dipandu oleh moderator Andi rizal syahrir. Pembahasan menarik ketika memulai dengan kalimat THE Death of ekspertice (matinya kepakaran) adalah era dimana orang tidak butuh dengan orang benar, meskipun itu ranahnya agama.

Buktinya Cara menyikapi komentar di sosial media yang tidak baik, terkesan grasak-grusuk, semua boleh berkomentar tentang agama, semua bisa mengeluarkan fatwa masing masing tanpa merujuk kepada yang tahu. Kebutuhan kepada orang yang pakar dalam bidangnya tidak perlu dan cenderung memanipulasi kebenaran versi pendapat mereka.

Mengapa terjadi demikian ? sebab, pakar dalam satu bidang keilmuan sudah jarang kita temui, bahkan Mereka fokus pada ekonomi dan fitrah untuk bertahan hidup saja, kapan pakarnya ?. dari ini, selalu saja ada kalimat yang terpelintir, misalnya, banyak orang bertanya, apakah kitab suci atau ada dalam kebenaran fiksi atau non fiksi ?.

Kitab suci dikatakan oleh yuval noah harari adalah fiksional, artinya kitab suci yang bertentangan dengan kenyataan akan dinyatakan salah. Dalam hal ini, kebenaran ada pada kriteria epistemologi reality. Kebenaran itu adalah faktual, dan signifikansi dengan sejarah.

Yuval noah harari juga mengatakan Homo Deus bdan kita memiliki algortitma kesadaran dan sistem matematis. Ketika seekor monyet melihat pisang, kemudian dibawah pohon pisang ada puluhan singa, dalam kesadarannya menganalisis pilah pilih “makan tapi ada singa”, maka monyet pikir makan atau tidak. Kalau Makan diterkam singa dan mati, tidak makan juga pasti mati.

Dari sini, terbentuk sistem kimiawi, Emosi punya logaritma hitung hitungan matematis. Memberikan dorongan untuk bertahan hidup dengan cara yang terbaik, agar tidak tersingkir dari pertarungan hidup sesuai dengan teori evolusi darwinian.

Begitupun dengan manusia, tentunya algoritma kesadara manusia jauh lebih ruwet dan detail ketimbang makhluk sadar lainnya. Contohnya, ketika Manusia dalam hal ini laki-laki secara normally pasti mempunyai insting perasaan suka kepada lawan jenisnya (perempuan).

Dari sini algoritma kesadaran manusia nampak dan bekerja, dia akan menghitung secara matematis sederhana dengan berkata “jika maju, dalam arti kata (tertarik sama perempuan dan melamarnya lalu menikah), maka dia akan bertahan hidup dan menjadi pemenang dari teori evolusi darwinian. Namun jika mundur, dalam arti kata (tidak tertarik, tidak melamar dan pastinya tidak menikah alias jomblo) maka dia akan musnah dalam sejarah kemanusiaan. Alasannya sederhana, karena pasti tidak memiliki keturunan, dan itu kegagalan mencipta sejarah untuk dirinya sendiri.

Dalam sisi algoritma kesadaran ini,manusia punya jiwa, yuval noah harari menjelaskan jiwa adalah hal terpenting dari manusia, sehingga dia terbedakan dengan makhluk lainnya. Buktinya, Realitas non materi punya real dalam fakta.

Manusia punya tubuh, bankan tidak punya tubuh juga bisa, suhrawardi dalam filsafat islam mengatakan bahwa kita adalah mandiri, tidak butuh yang lain, mandiri itu disebut jiwa. Matematika itu logis, tapi Metamatika itu tidak logis, disinilah kita kenal sebagai paradigma.

Contoh, dalam catur gerak setiap pion itu mempunyai jalur yang berbeda ? kuda bentuk L, benteng lurus, peluncur miring, perdana mentri lurus dan miring, sementara raja hanya bisa bergerak satu langkah saja.

Secara aturan main ini logis matematis, tapi pertanyaannya ? mengapa kita harus sepakat kalau seperti itu atruannya, mengapa gerak jalurnya berbeda-beda ? mirip dengan sholat, mengapa harus 4 rakaat isya, dzhuhur dan ashar ?. banyak dalam aktivitas kita juga dikendalikan oleh logika metamatis, bukan matematis. Yuval noah harari menyebutnya dua kekuatan jiwa dalam manusia.

Jakarta, 15 Maret 2019

MELAWAN GANASNYA KEHIDUPAN, SEPUCUK DO’A UNTUKMU

Catatan Sore✏✏

By: Yusran Husain

Santri Khatamun Nabiyyin

Photo-photo ini saya sorot dari potret jarak jauh ketika sedang duduk santai di pinggir jalan, tepatnya di pelataran Pondok pesantren Khatamun nabiyyin condet jakarta timur. Harapan seorang santri, Semoga saja ibu dan bapak ini ikhlas photonya saya abadikan tanpa izin keduanya.

Photo itu bercerita tentang sosok pejuang dua orang, pria dan wanita dewasa, berjalan menempuh jarak, menempa debu teriak di udara, melawan ganasnya kehidupan. Sambil memikul kerupuk berwarna putih bulat yang tersusun rapi diatas pundaknya, ya… mereka sedang berjualan di sepanjang jalan.

Namun saya tidak tahu pasti apa hubungan keduanya. Mungkin adik kakak atau suami istri. Yang jelas mereka romantis bergandengan saling mengarahkan satu sama lain layaknya sepasang kekasih.

Pertama kali terlintas dalam benak saya, ketika menyaksikan dua orang orang buta yang sedang berjualan itu adalah “Bagaimana Mereka kembali ke rumahnya ?” “Apakah jualan mereka laku ?” dan satu hal yang membuatku tergugah adalah melihat kegigihan mereka berkerja, mencari uang demi mempertahankan hidupnya di tengah zaman edan ini.

Kata demi kata kurangkai, tak terasa air mata pun menetes, upaya menghadirkan sosok pejuang itu dalam bentuk narasi singkat ini. bercerita Di foto ini juga nampak seorang ibu memakai jaket berwarna hitam.

Dan bagian Ini yang paling menarik perhatian saya. Ketika dua orang tunanetra tersebut sudah berjalan beberapa langkah melewati seorang ibu, tiba-tiba ibu tersebut memanggil dan menanyakan berapa harga kerupuk yang mereka jual. Niatnya untuk membeli pastinya.

Tak lama berselang, ibu itu pun terlihat mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah senilai dua puluh ribu rupiah. Kalau dilihat dari nominalnya, mungkin dua puluh ribu itu tak seberapa. Namun, coba kita perhatikan, melihat kondisi mereka yang sedang berjualan, berkelahi dengan terik mencekam, dua puluh ribu itu sangat berarti bagi mereka.
.
Bercermin kepada dua sosok itu, sesungguhnya kita masih punya kesempatan hidup yang lebih layak, diberikan kesempatan mencicipi pengetahuan dan mencelupkan diri dalam ontologis ilahiyyah. Seharusnya lebih banyak bersyukur dan berjuang lagi.

Kendatipun demikian, kita masih tetap terlena dengan kenikmatan duniawi, mereka lebih layak disebut pejuang ketimbang kita yang sudah bergelut dunia keilmiahan. Saya berdo’a Semoga ibu itu ditambah rezekinya dan dua orang tuna netra tersebut diberi kekuatan, kesabaran serta dimurahkan rezekinya. Aamiinn.

Jakarta, 08 maret 2019

INDAHNYA MENJADI KAFIR

Oleh: Mursyid Al Haq

Bukan Santri Kafir

(Santri Khatamun Nabiyyin)

Aku ingin sekali jadi orang kafir, karena ayah ibuku kafir, kakek nenek juga kafir, begitu celetuk seorang anak kecil dengan semangat dan penuh keyakinan. Kata kafir memang cukup sensitif untuk dilemparkan begitu saja.

KBBI mengartikan kata kafir dengan makna negatif (kafir : ka·fir n orang yg tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya). Namun jika kita mau lebih dalam memahami apa yang dikatakan anak kecil tadi, tanpa terburu-buru menghakimi dan memukulinya, kita akan tertawa geli karena lucu mendengarnya.

Kata kafir sendiri berasal dari bahasa Arab. Dalam kamus bahasa Arab Al-munawir misalnya, kata kafara-yakfuru diartikan dengan menutupi atau menyelubungi. Al-Qur’an juga tak sedikit menggunakan kata kafir dengan bentuk turunan kata lainnya. Kata kafir dalam surat (Al-Hadid:20)

“kamaṡali gaiṡin a’jabal-kuffāra nabātuhụ”

Kata kuffara dalam ayat tersebut sedang membicarakan petani saat cocok tanam dan menutup benih di dalam tanah. Ada juga ayat lain berbicara dengan kata kafir untuk hal yang baik dan positif (Al-Baqarah:256).

“Fa may yakfur biṭ-ṭāgụti wa yu`mim billāhi fa qadistamsaka bil-‘urwatil-wuṡqā”

Orang kafir dalam ayat ini merupakan orang yang mulia. Kafir terhadap thagut sekaligus iman kepada Allah. Walaupun nanti akan muncul penafsiran yang beragam mengenai thagut itu sendiri, dari yang paling sembrono sampai yang sangat hati-hati.

Kembali ke pembahasan anak kecil tadi beserta keluarganya yang kafir. Sejatinya ada hal mendasar yang harus kita benahi, hal ini mengenai paradigma masyarakat kita, cara berpikir yang menghasilkan cara bertindak. Perlu kita sadari banyak orang yang enggan berpikir terlalu dalam bahkan cenderung ingin menyederhanakan segala sesuatu. karena tak mungkin juga jika masyarakat harus dipaksa berpikir dan meneliti hal-hal njelimet seperti persoalan kafir ini.

Untuk mengkaji kata kafir saja orang boleh jadi harus belajar bahasa arab berbulan-bulan bahkan tahunan, atau setidaknya harus menyelesaikan kitab tashrif dan kaelani untuk mengetahui asal akar kata. Masyarakat ora mudeng begituan le…

Disini kita semua dapat melihat sejauh mana peran ulama dalam membina dan mendampingi masyarakat. Namun persoalan yang menambah kebingungan semakin berkepanjangan adalah istilah kafir yang sudah terlalu sempit dimaknai, dan dipolitisir oleh sebagian kecil kelompok muslim.

Misalnya hanya karena berbeda pilihan presiden tersemburlah kata-kata kafir dengan nyaring dan lantang. Belum lagi ketidak harmonisan antar umat beragama dipelihara dengan saling mengutuk satu sama lain menggunakan kata kafir. Hal ini didukung dengan banyak bermunculannya “ulama piccolo” berjubah dan bersorban tapi emosian. Kata kafir yang seharusnya tidak melulu berkonotasi buruk dijadikan sebagai alat mencela, menghina, merendahkan, untuk kemudian jadi legitimasi melangsungkan genosida dengan bom bunuh diri. Kang ngeri…

Belum lama ini Munas Nahdatul Ulama menuai banyak kontroversi. Salah satu poin penting yang banyak diperdebatkan adalah tidak menyebut kafir pada penganut agama lain atau non muslim. Bagi saya hal ini patut diapresiasi. Sudah semestinya ulama bertindak bijak dan berpikir jangka panjang untuk maslahat keummatan, mengentaskan masalah umat dari mulai hal yang paling mendasar. Masyarakat perlu sedikit demi sedikit dibuat cerdas. Dengan tidak menggunakan istilah kafir bermakna sempit, berarti telah beralih dari satu kedunguan intelektual menuju ketercerahan akal sehat.

Alhamdulillah saya semakin yakin untuk menjadi manusia paling kafir dan akan berusaha dengan segala daya dan upaya agar keluarga saya juga ikut kafir…begitu ucap anak kecil menutup celotehan nakalnya. Orang tua kamu kerja apa? Tanyaku penasaran, cuman bertani jawabnya dengan bangga.

Jakarta, 12 Maret 2019

KEAGUNGAN DAN KEINDAHAN FATHIMAH AZ-ZAHRA DALAM PANDANGAN ALI SYARIATI

(Kajian Ustadz Shafwan)

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Mari kita melihat Fathimah dari perspektif sosiologi islam, cabang pengetahuan yang memilki unsur fenomenologis, sementara fenomena secara faktual bisa dibuat oleh orang yang berkuasa saat itu untuk mencatat nama mereka dalam sejarah, entah itu benar ataupun salah. Oleh itu seharusnya alur pemikiran sejarah adalah alat untuk mengkirtisi.

Ali syariati mempunyai kekuatan sastra mampu membahasakan sejarah secara akal sehat kritis melihat sejarah. Kita kenal dalam indonesia sastrawan pramodya ananta tour. Filsafat sejarah akan menceritakan bagaimana kehadiran sosok fathimah untuk membaca kecenderungan arah sejarah. Sejarah itu berisfat sosiologis namun pemahaman teologis, atau disebut sebagai sosiologi kosmis.

Pertama, Ali Syariati melihat sejarah tidak terjebak pada historisitas, dan sama sekali tidak membawa pada situasi konflik, dalam arti kata, tidak ada tokoh yang dimarjinalkan untuk mengangkat tokoh pemeran utama yang diceritakan, namun Ali syariati mengarah pada perasaan ilahi, perasaan mempengaruhi manusia dan bercerita sejarah sesuai dengan jalurnya.

Kedua, menjelaskan sejarah dari sisi idealisme. Bahwa dalam sejarah dikatakan, tidak masuk pada ranah konflik. Kemudian dia menjelaskan tentang filsafat manusia, menariknya sosok fathimah dalam hal ini dilihat juga dari teori eksistensialisme, karena Ali syariati juga terpengaruh ilmuwan jean paul sartre dan mampu memahami pola laku barat saat belajar di sorbone university prancis.

Ali syariati dengan pendekatan eksistensialismenya ingin mengungkap sebuah perasaan bagaimana fathimah berperilaku ke anak, suami, ayah dan ke masyarakat luas. Ali syariati menjelaskan dengan hati hati, sebab tidak satu pun buku induk tentang perempuan, berbeda dengan buku filsafat, piolitik, ekonomi, pendidikamn dan yang lainnya memilki buku induk. Ada buku buku yang menjelaskan tentan perempuan namun persepsi yang terbatas.

Sehingga ada lima hal, yang menjadi penting diutarakan yaitu, pertama, Bagaimana melihat sosok fathimah sebagaai suatu identitas. Dalam kosmologi identitas tertinggi perempuan adalah sifat keibuan.
Kedua, pendekatan kosmologi itu sendiri. Unsur cinta dan kasih sayang terhadap kepada anak-anaknya. Mendidik dan membentuk dua anak, kemudian kita tinjau dari semiotika, interaksi bahasa, matrilineal dan patrilineal, namun anehnya, fathimah terbentuk dari kedua-duanya. Bahasa cinta untuk memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap antara ayah dan anak, juga kepada suami dan ayah.

Ketiga, sejarah umumnya hanya dilihat dari laki laki. Sejarah lebih banyak terfokus pada sosok maskulinitas yaitu Muhammad. Sementara titik dan peran perempuan dilupakan, sejarah tidak berdiri atas laki laki saja dan maskulin saja. Ali syariati mengatakan bahwa tidak bisa dibayangkan perjuangan Nabi tanpa sosok perempuan.

Fatimah mengambil peran menonjol, bukan malah sayyidina Ali, malah Sayyidina Ali hanya berada di sudut sudut rumahnya. Sementara fathimah yang berjuang. Fungsi transisi kekuasaan diambil alih oleh fatimah. Menuju pada kepemimpinan yang terjadi di saqifah bani sa’idah fatimah terjung langsung disana. Apakah ini idealisme keagamaan ? bukan hanya karena ada kasih sayang dan cinta kepada abahnya. Namun, yang menjadi sisi realisme kehidupan juga adalah masyarakat umum.

Cinta Nabi, Fathimah, Ali, Husain dan Hasan membentuk keluarga yang harmonis dan progressif. Sejarah mencatat, cucunya berlari di pasar bersama kakek Muhammad dan kadang kadang naik di punggung Nabi saat sholat. Berlama lama sholatnya karena tidak ingin menganggu kesenangan cucunya. Jadi, ada unsur Idealisme dan realisme, Perkawinan dan keluarga adalah realisme, bukan semata-mata idealisme, sebab bukan yang seharusnya terjadi, tetapi kenyataan sebenar-benarnya terjadi.

Sejarah punya realisme bukan hanya idelisme saja. Sekarang mari kita lihat sisi realisme kenyataan yang pernah ada dalam peran sosok wanita fathimah az-zahra.
Pertama, Diamnya fathimah, diam perempuan adalah makna terpendam seribu makna dan kemarahan yang sangat. Ini ada dalam kajian kosmologis. Kedua, aspek kesedihan perempuan. Perempuan ketika tambah menangis justru malah bertambah kuatlah dia. Karena ketika menangis, tangisan itu adalah kekuatan.

Ketiga, Kamarahannya perempuan, rasa yang disimpan adalah kekuatan perempuan dalam kajian kosmologi. Sembilan pikiran laki laki setara dengan satu perasaan perempuan. Keempat, Keterasingan. Fathimah Mengikuti ayahnya yang diembargo secara ekonomi dan fatimah tiga tahun merasakan mengalami itu. Terakhir tentang Kebangkitan perempuan, sejarah mencatat bahwa beliau berpidato politik dihadapan para penguasa saat itu. Dan tidak satupun mereka berani membungkam.

Bahkan ada statement agak keras yang berbunyi, Sayyidina Ali hanya punya tuhan, manusia dan jihad saja. Fathimah Zahra mengambil peran lebih dari itu. Mulai dari rumah tangga sampai pada sosial. Lalu Ali mengatakan carilah pembantu, setalah itu mengadu kepada Nabi. Ayahnya malah tidak mengabulkan permintaan itu, dan membiarkan bekerja tanpa seorang pembantu, Tetapi kenapa Nabi membiarkan putrinya bekerja keras seperti itu. Padahal nabi mampu untuk menyewa pembantu ?

Pertama, Identitas perempuan. Sosok perempuan yang canggih, sejak kecil sudah memilki empati yang tinggi, Mengalami kelaparan dam penderitaan bersama nabi. Menerima curhat dari ibunya dan ayahya serta menjadi ibu dari ayahnya sendiri. Kedua, Seorang istri yang menyaksikan kehidupan yang pas-pas tapi juga mampu menghidupi masyarakat umum. Bahkan lebih memprioritaskan tetangga ketimbang keluarganya sendiri, dengan petuah yang sangat dalam “Al-Jar Tsumma Ad-dar” tetangga dulu baru keluarga.Seorang ibu, yang berhasil mendidik sayyidina Hasan dan Husain menjadi pemuda penghulu syurga.

Perempuan dalam kerangka konsep fathimah, menjalani seorang anak menyaksikan ayahnya menderita saat berdakwah secara sembunyi sampai terang-terangan dan akhirnya berjaya. Seroang ibu juga menyaksikan anaknya tertindas. Seorang istri mengambil peran pada batas tertentu. Sepeninggal ayahnya beliau bangkit mengambil tanggungjawab sosialnya serta dakwahnya.

Kemudian beliau adalah inspirator perempuan sepanjang zaman, beliau Lebih punya daya tahan ketimbang dari laki laki dalam rumah tangga. Pasca kenabian, tidak melihat peran politik az-zahra. Malah terfkous pada saqifah dan sebagainya. Beliau memeperlihatkan kepada kita apa arti peran dalam kehidupan. Kesedihan dan kesengsaraan terpendam dalam jiwanya. Jika dia bangkit maka tidak ada kekuatan yang mampu menghalaunya.

Ada kepanikan sejarah setelah meningggalnya ayahnya, dan Fathimah Az-zahra mensistematiskan gerakan itu untuk menetralisir dan mepercantik gerakan. Lebih ajaibnyam sama sekali Tidak ada kewajiban secara tekstual kalau istri mengerjakan semua pekerjaan rumah, namun perempuan dengan kekuatannya melalukan semua itu dengan cinta. Seperti contoh, mengapa Biasanya perempuan yang suka mencium tangan suaminya, kenapa bukan laki laki yang mencium tangan perempuan ?

Jakarta, 8 maret 2019

BERKUNJUNG KE HALAMAN GEDUNG PUTIH DAN GEDUNG CAPITOL

Hari kedua dalam kegiatan International Visitor Leadership Program (IVLP) “Promoting Tolerant Messaging Within Islam” ini adalah menerima materi dan diskusi tentang Federalisme Amerika Serikat, Sekularisme Pemisahan Agama dari Negara, Demokrasi dan Kebebasan oleh Akram R. Elias Presiden Capital Communications Group, Inc. (CCG). Beliau narasumber ahli yang terbiasa mempresentasekan tentang Pemerintah Amerika, politik, budaya dan sosial kepada para pejabat tinggi dari berbagai negara seluruh dunia yang berkunjung ke Amerika.

Kegiatan IVLP ini merupakan Program Pemerintah Amerika Serikat yang disponsori melalui Kementerian Luar Negeri USA. Tujuannya adalah untuk:

1. Mempelajari dan memahami bagaimana komunitas Muslim Amerika, para imam dan pemimpin masyarakat sipil Islam mengelola Lembaga-lembaga Islam, Masjid, dan sekolah-sekolah Islam,

2. Berbagi pemahaman dan pengalaman dalam mencegah Radikalisme dan terorisme serta mempromosikan toleransi dan Dialog antar umat beragama.

3. Mempelajari dan memahami nilai-nilai sipil termasuk demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, dan keragaman.

Kegiatan IVLP ini dipusatkan di Washington DC, Detroit, Michigan, Los Angeles. California, diselenggarakan dari tanggal 9-22 Maret 2019.
Rombongan kegiatan dari Indonesia ini dipimpin oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta), pesertanya terdiri dari Aceh, Medan, Semarang, Jakarta, Makassar, dan penulis sendiri dari Pontianak Kalimantan Barat. Sebetulnya ada juga dari Papua Barat dan Jawa Barat tapi batal berangkat disebabkan karena ada suatu dan lain hal.

Setelah menerima materi dan diskusi sesuai tema yang telah ditentukan, peserta diagendakan untuk City Tour dalam Kota Washington, termasuk dikunjungi adalah Taman di depan Gedung Putih (The White House) rumah dinas Presiden Amerika Serikat sekaligus pusat pemerintahan negara.
Gedung Putih ini didirikan pada tahun 1800 M oleh Presiden Amerika Serikat yang pertama George Washington, namun ia tidak sempat tinggal di Gedung Putih ini sebab ia meninggal setahun sebelum selesai pembangunannya, yakni tahun 1799 M.

Di sekitar Gedung Putih terdapat kawasan luas terbuka di tengah kota juga terdapat Monumen Washington sebagai peringatan mengenang perjuangan Presiden pertama Amerika Serikat, yaitu George Washington.

Tidak jauh dari Gedung Putih dan Monumen Washington melanjutkan kunjungan ke halaman Gedung Capitol sebagai kantor Kongres bagi anggota Parlemen Amerika Serikat yang dibangun sekitar tahun 1800-an, khas bangunannya adalah Kubah besar bergaris bagian tengah di puncaknya ada patung seorang perempuan menghadap ke arah tempat terbitnya matahari yang melambangkan menghadap ke masa depan.

Gedung Capitol ini sebagai tempat Presiden Amerika Serikat dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Presiden. Gedung Capitol ini sudah 38 kali menjadi saksi sejarah pelantikan Presiden Amerika Serikat sejak presiden yang ke 7 Andrew Jackson tahun 1829 hingga presiden ke 45 Donald Trump.

Gedung Putih, Monumen Washington, dan Gedung Capitol berdiri pada titik segitiga di Jantung Kota Washington. Pada jarak lurus dari ketiga bangunan bersejarah ini terdapat jalur besar yang biasa disebut National Mall, dari jalur terbuka inilah para pengunjung leluasa menyaksikan indahnya kota Washington.

Sekitar wilayah Gedung Putih dan Gedung Capitol ini banyak patung dan monumen dari para pejuang, pemimpin, dan presiden Amerika yang diabadikan sejarahnya, seperti George Washington, termasuk monumen para Jenderal, Prajurit Pejuang Perang Vietnam berdekatan gedung monumen Abraham Lincoln. Nama-nama para prajurit dan pejuang yang gugur dalam perang Vietnam terukir namanya sepanjang dinding dengan rapi di taman kawasan terbuka bagian samping monumen Abraham Lincoln pejuang dan pemersatu bangsa Amerika yang menghapus sistem perbudakan di Amerika.

Pengabadian sejarah seperti ini bagian dari cara menghargai jasa-jasa para pahlawan pendahulu yang hasil perjuangannya itulah dirasakan dan dinikmati oleh generasi saat ini, termasuk pembelajaran bagi generasi saat ini sebagai persiapan menyikapi masa depan yang akan berhadapan dengan tantangan dan harapan yang berbeda dengan para pendahulu.

Bersama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. di depan Gedung Putih

Washington, 10 Maret 2019

KONSEP KEBANGKITAN SOSIAL FATHIMAH DALAM TAFSIR HIJAB

(Ustadz Ajid Salim. S. Pd.)

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin
Pada mula pembahasan, penting kiranya melihat kebangkitan secara definitive. Konsep kebangkitan itu awalnya dari maju dan bangun dari keterpurukan, proses ini merupakan retorika seni dalam kehidupan.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka social adalah suatu yang difahami sebagai perbedaan tapi satu dalam kesatuan. Social adalah sifat dasar dari individu, mengapa ? alasannya sederhana, tidak bisa dipungkiri kalau kita membuthkan orang lain, sehingga konsep kearifan local sering menyebutnya lebih dari itu, yaitu saling menghargai sama rata sama rasa. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Meskipun demikian adanya, dalam masyarakat sama rata dan sama rasa tadi, selalu ada startifikasi social, atau bahasa lainnya tingkatan social tetap ada sebagai keniscayaan. Ada beberapa bentuk startifikasi social yang tidak bisa terhindarkan, ada stratifikasi berdasarkan usia, ada anak muda dan orang tua, anak anak, balita dan sebagainya. Kemudian ada juga yang berdasarkan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Dan disinilah peran putri Nabi Fathimah az-Zahra.

Perempuan hanya dikenal sebagai Feminitas suara yang indah, paras yang indah, rambut yang panjang dan anggung, selalu identik dengan itu, sejak dahulu kala sampai saat ini. Lucunya, apapun dan bagaimanapun essensi kekuatan dan ketinggian pendidikan perempuan, ujungnya akan selalu kembali ke rumah tangga, alias dapur sumur dan kasur. Belum terlalu banyak eksistensi perempuan tampil sebagai pejuang diluar dari rumah tangga, bahkan itu hanya segelintir orang, seperti benazhir butto, margareth teatcher dan lainnya. Fathimah az-zahra memberikan revolusi indah kepada kaum perempuan untuk tampil dalam segala lini kehidupan.

Kita tahu ada tiga suku besar dalam keluarga quraish. Suku saat itu paling besar diantara beberapa suku yang ada, yaitu Bani hasyim, Bani ma’zhum dan Bani abdi syam. Bani hasyim adalah keluarga yang menurnunkan hereditas gen kenabian, saling bersaing dalam segala lini kehidupan, yang menarik adalah disaat setiap suku sangat mendamba-dambakan pelanjut laki laki sebagai penerus dan pemimpin, malah bani hasyim dari Nabi Muhammad mempunyai keturunan perempuan.

Kelahiran sosok putri Nabi ini pasti memiliki makna yang mendalam menjawab segala tradisi quraish saat itu. Putri nabi yang dikenal luar biasa perjuanganya, bukan hanya pahlawan rumah tangga, melainkan juga berjuang di masyraakat luas.

Islam memandang social, islam memandang sisi kehidpuan ituseimbang. social merupakan penyempurna ibadah kepada tuhannya. Terdapat pada Qur’an Surah Al-Imran:12. Social adalah puncak dari ibadah itu sendiri, kita lihat surah Al-maidah:2. dan Al-hujurat: 13. Saling menolong untuk saling mengenal, tidak dibatasi dengan Negara, kelamin, suku dan ras serta wilayah.

Surah al-alaq juga memberikan penafsiran pada ayat ke2 tentang makna (alaq) secara leterlek adalah sesuatu yang tergantung. Dalam proses penciptaan manusia sperma dan sel telur juga tidak bisa mencipta jika tidak bekerjasama. Itu hanya akan memberikan makna kepunahan dalam sejarah kemanusiaan. Artinya penciptaan manusia saja, itu sudah memerlukan kerjasama dan bergantung, dan lebih celakanya arti (alaq) juga sering diartikan jomblo, sederhananya tidak mungkin menghasilkan sesuatu karena sendirian.

Lalu bagiaman dengan Social dan sayyidah Fathimah ?. Putri satu satunya yang hidup diantara beberapa saudaranya. Kondisi masyarakat saat itu kondisi laki laki memonopoli dan perempuan hanya sebagai gembel saja. Sehingga kelahiran fathimah adalah gebrakan untuk monopoli patriarka itu. Ada istilah, “Muswaddah wa huwa kazhim”, mendandakan kemarahan yang sangat (merah kehitam-hitaman) bagi mereka yang punya anak perempuan. Sandingan yang pantas untuk perempuan hanyalah kuburan.

Lahirnya perempuan keluarga langsung merah dan marah kemudian menguburnya. Tapi malah yang lahir saat itu adalah putri Nabi, sebuah situasi yang melawan kontradiksi zaman saat itu. Kelahirannya saja itu sudah memberikan gebrakan paradigma yang progresif apatahlagi ketika sudah beranjak dewasa.

Ada tiga model gerakan, yaitu Konservatis (mempertahankanbudaya yang lama) revolusioner (merombak tradisi yang lalu dan menghadirkan sesuatu yang baru), reformis (perubahan yang bersifat berangsur dan mengahadirkan sesuatu yang sesuai dengan tradisi dalam bentuk kekinian). Fathimah adalah ketiga tiganya. Sehingga Sabda Nabi: Fathimah adalah bagian dariku, siapa yang meragukannya berarti meragukanku, siapa yang membonginya artinya membohongiku. Juga ada hadits tentang Wanita penghuni syurga, yaitu khadijah, Maryam, fathimah, dan asiyah.

Seungguhnya putriku kuberi nama Fathimah, karena telah menghindarkan dari api neraka. Laqab dan gelar ini diberikan bukan karena memang keluarga atau kasih saying bapak kepada anaknya, tapi memang dia layak untuk itu dalam keangungan dan keindahannya. Terakhir peran sayyidah Fathimah, juga diutus dalam mubahalah dengan nashrani najran ada pada QS. Alimran:59-61. Sekali lagi, Bukan karena kerabat dan keluarga, tetapi memang indah dan layak dalam segala segi.

Beliau juga menanamkan pendidikan social, seperti dalam keseharian beliau yang direkam oleh sejarah, saat beribadah, dan berusaha, beliau selalu menfokuskan diri pada tujuan, yang ditujukan kepada kerabat dan tetangga, bahkan tidak pernah ditujukan kepada keluarganya bahkan kepada dirinya sendiri. Al-jar tsumma ad-dar, tetangga dulu baru rumah. Dan itu bentuk pendidikan social dan altruism yang hebat, intinya Mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri.

Menanamkan berbagi kepada orang lain adalah puncak dari ibadah.
Tafsir hijab Fathimah. Dialah sosok Wanita yang tidak pernah melihat laki laki dalam pandangan biologis, dialah sayyidah Fathimah, yang laki laki tidak pernah melihatnya satu tetes pun bersumber dari hawa nafsu.

Dengan landasan keiffahan dan cahaya kesucian yang tinggi fathimah mampu meredam laki laki apapun dan bagaimanapun biadabnya. Sebagaimana kita memandang ibu kita, tidak pernah ada hawa nafsu kepadanya, melainkan cinta dan kasih sayang yang menyelimuti.

Jakarta, 10 Maret 2019