Penempuh Jalan Sunyi -Wasiat Ibnu ‘Arabi dalam pembacaan Advaita Vedanta-

Oleh:

Andi Alpi

Sayyid Husein Nasr mengungkapkan bahwasanya tradisi keilmuan islam pada masa awalnya bagaikan sebuah larva pijar yang cair dan mendidih di dalam perut bumi. Namun, setelah larva pijar itu dimuntahkan oleh gunung berapi dan larva itu mengalir dari puncak gunung menuju lereng gunung lalu membeku pada posisi berbeda-beda jua bentuk berbeda-beda.

Tradisi keilmuan Islam pada masa Rasulullah Muhammad Saw pada permulaannya, mengalami satu kesatuan antara teologi, hukum, dan mistis. Akan tetapi, waktu berjalan dengan seiring perkembangan islam dan umat islam jua interaksi umat islam dengan berbegai kebudayaan, menyebabkan tradisi keilmuan islam mulai berkotak-kotak dan mempunyai corak tersendiri.

Salah satu tradisi keilmuan tersebut adalah corak tradisi keilmuan esoterik islam atau mistisme islam. Mereka adalah orang-orang yang menempuh sebuah tradisi tertentu, dan perlu dipahami bahwasanya mistisme islam bukanlah sebuah aliran, akan tetapi lebih kepada sebuah tradisi laku tertentu. Ungkapan lainnya adalah orang-orang yang mencari inti kehidupan dan berlepas dari prihal yang tidak mengarahkan kepada pencarian hakikat kehidupan.

Di sini, seorang mistisme atau seorang sufi menurut Ibnu ‘Arabi mesti melateni beberapa laku, yang jika dikerjakan dengan ikhlas akan membuahkan sebuah hasil berupa ilmu laduni (Kitab Futuhat Al-Makkiyah). Adapun, laku tersebut sebagai berikut :

1. Khalwat (خلوة)
2. Dzikr (الذكر)
3. Mengendalikan Pikiran (فرغ المحل من الفكر)
4. Duduk dalam kondisi fakir (قعد فقيرا)

Khalwat (خلوة) atau diterjemahkan dengan menyendiri di sini, pada umumnya adalah suatu keadaan seorang mistisme melakukan penarikan diri dari keramaian dan kebisinan. Di sini, Advaita Vedanta memberikan sebuah perspektif bahwa, sesungguhnya menyendiri tidaklah mesti di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Akan tetapi, lebih kepada berkonsentrasi total pada supreme (brahman). Maka, di mana pun dan kapan pun orang tetap bisa melakukan sebuah khalwat. Laku khalwat ini, adalah sebuah laku yang sudah sejak awal manusia ada. Misalnya, laku khalwat ini dikenal dalam agama kristen dengan tradisi Hesychasm. Beserta khalwat di Gua Hira yang dilakukan Rasulullah Muhammad Saw, peristiwa hal tersebut menunjukkan bahwasnya tetap kehidupan yang bisa terjamah.

Dzikr (الذكر) adalah sebuah laku dengan menyebutkan nama-nama suci atau mantra-mantra suci yang ada dalam kitab suci. Tentunya saja, bahwa mantra tersebut ketika diucapkan memiliki tingkatan-tingkatan tertentu. Dzikr, dalam penjabaran dimensi mistisme islam biasanya dibagi menjadi 3, yaitu dzikr sifat, kemudian dzikr asma’ dan terakhir adalah dzikr dzat. Advaita Vedanta memberikan sebuah penjabaran bahwasanya, dilakukannya sebuah dzikir bertujuan untuk memberikan manusia satu titik fokus. Utamanya mengarahkan manusia untuk fokus kepada satu hal dan hal tersebut merupakan sebuah hal yang suci, sebut saja Tuhan. Dzikr atau chanting, menurut Advaita Vedanta merupakan sarana yang paling tepat untuk zaman ini untuk diamalkan, ibarat sebuah benteng yang menjaga agar pikiran menjadi murni dan fokus.

Mengendalikan pikiran (فرغ المحل من الفكر), di sini manusia akan diuji dengan berbagai pikiran yang akan mengalihkan manusia dari Tuhan (Supreme). Advaita Vedanta memberikan penjabaran bahwa sesungguhnya, manusia pada akhirnya harus meninggalkan pikirannya untuk sampai pada tahap kesadaran murni (realize brahman) atau tahap samadi. Pikiran ini muncul dalam penjabaran Advaita Vedanta, bersumber daripada panca-indera manusia yang lima. Ke lima panca-indera tersebut menimbulkan hasrat dan keinginan pada manusia.

Duduk dalam kondisi fakir (قعد فقيرا) yaitu sebuah kondisi seorang seekers atau pesalik, betul-betul melakukan sebuah keinginan total untuk melakukan sebuah kesadara murni. Advaita Vedanta memberikan sebuah penjabaran bahwasanya, tak kala seorang yang ingin melakukan sebuah perjalanan maka seutuhnya dia serahkan kepada yang Maha Tertinggi dan melakukan permohonan yang totalitas.

Itulah empat (4) yang diwasiatkan Ibnu ‘Arabi bagi para pesalik agar bisa dapatkan ilm-ilmu bersifat hibah (pemberian) Allah Swt. Empat hal tersebut merupakan syarat yang mesti dilakukan agar dapat mencari hakikat sejati.

Engkau adalah *Titik* dan aku adalah *Ba’*

(Pencarian Jati Diri)

By: Andi Alpi

Sepanjang sejarah manusia selalu ada pertanyaan yang bersifat parenialistik, yaitu tentang hakikat manusia. Sejak awal manusia lahir, manusia akan mempertanyakan siapa dirinya. Oleh karena itu, orang tuanya memberikan nama, gelar dan penisbatan-penisbatan lainnya. Hal tersebut nampak (Nama-nama dan sematan) tersebut, seakan-akan hal tersebut nyata, bukan semu belaka.

Lama waktu berselang, sematan-sematan yang dilekatkan pada seorang anak menjadi mendarah daging. Seolah-olah hal tersebut tidak lain adalah dirinya. Akan tetapi, ketika seorang anak mencapai umur balig dan berakal, pencarian diri itu kembali muncul dan menjadilah hal tersebut pencarian yang benar-benar melelahkan bagi seorang anak yang sedang beranjak dewasa.

Segala jenis sematan atau identitas palsu pun dilekatkan pada diri seorang remaja oleh dirinya sendiri. Hal tersebut, menunjukkan bahwa dirinya tak menyetujui identitas-identitas yang telah disematkan kepadanya dan terus berusaha mencari sesuatu hal yang membuat pertanyaan ” siapakah saya ” menjadi terjawab secara meyakinkan.

*Abdul Karim Al-Jilli* adalah seorang sufi yang sangat terkenal dalam dunia mystisme islam, karena kontribusi beliau tentang persoalan banyaknya agama di dalam kitabnya *Insan Kamil*. Ia juga dikenal sebagai seorang pengikut aliran wahdatul wujud (non dualistik), atau dalam tradisi hindu disebut dengan advaita vedanta. Di mana aliran tersebut (wahdatul wujud dan advaita vedanta), tidak mengakui adanya dua wujud. Akan tetapi, di dalam alam keberagaman ini hanya ada kesatuan wujud (al-wahdatul fil kasrah).

Al-Jilli memberikan sebuah analogi menarik untuk menjawab hakikat wujud manusia (hakikatul insan), yaitu analogi titik dan huruf ba’. Ia lukiskan hakikat manusia tersebut dalam kitabnya tafsir basmalah, yang kemudian di-syarah (elaborasi) dengan baik oleh seseorang yang tidak dikenal dengan judul kitab *Syarh Kahfi Ala Bismillah*

Analogi yang dibuat oleh Al-Jilli dalam menjawab pertanyaan parenialistik tersebut adalah diskusi antara titik dan ba’. Diskusi tersebut mengibaratkan keberadaan titik sebagai hakikat segala sesuatu atau dengan bahasa lainnya adalah Allah Swt, dan mengibaratkan ba’ sebagai siwaallah (selain Allah Swt). Pada diskusi antara titik dan ba’, sebuah huruf ba’ pun mengalami kebingungan ontoligis pada dirinya sendiri, dan mempertanyakan hakikat dirinya. Lalu, dijawab oleh titik, bahwasanya keberadaan huruf ba’ merupakan keberadaan titik juga. Adapun keberadaan ba’ adalah madzhar (bentuk konkret) dari keberadaan titik. Keberadaan ba’ merupakan sarana agar titik dapat dikenali, sebagaimana termaktub dalam hadis :

كنت كنا محفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لأعرف
(Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, aku menyukai untuk dikenali maka aku ciptakan mahluk agar aku dikenali) (Hadis)

Sebagaimana jua dalam tafsir ayat adh-dhaariyat : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Sebagian penafsiran mengatakan bahwasanya makna Liya’buduni adalah untuk mengenaliku.

Dari analogi Al-Jilli dapat dipahami bahwasanya hakikat keberadaan manusia, tidak lain merupakan hakikat keberadaan sang mutlak. InsyaAllah pada tulisan selanjutnya penulis akan bahas persoalan relasi syariat dan hakikat.

CILIWUNG KEMBALI MENGAMUK, DAPUR FATHIMAH TERJUN

By: Farham Rahmat

Hari demi hari, tidak terasa sampai minggu kedelapan, artinya sudah genap dua bulan santri Khatamun Nabiyyin istiqomah berbagi kasih sayang. Dibawah naungan Dapur Fathimah, jum’at 26 april 2019, mereka kembali membagi-bagikan makanan kepada mereka yang kurang mampu.

Suatu hal yang berbeda pada moment ini, jumat berkah saat itu, sungai Ciliwung kembali mengamuk, mengakibatkan beberapa dataran rendah di daerah Condet tergenang air bercampur lumpur. Sebelumnya Kominfo BPBD menghimbau kepada masyarakat, bahwa tinggi muka air di bendung Katulampa mencapai 220 cm. Siaga 1 warga sekitar aliran kali ciliwung waspada kemungkinan banjir kiriman.

Tepat 26 april itu, air mulai naik dan membanjiri beberapa rumah. Sementara beberapa santri yang tergabung dalam tim Dapur Fathimah, juga memiliki program bagi-membagi makanan sebelumnya untuk saudara yang kurang diuntungkan oleh ibu kota. Kisaran wilayah, berada di Condet Cililitan Jakarta timur adalah target utama, hanya saja kali ini prioritas untuk korban banjir.

Farham rahmat dan Masri menuju tempat di gang seruni, jalan raya Condet Cililitan, disana juga banyak rumah terendam, bahkan ada rumah yang tidak nampak atapnya. Kemudian dialnjutkan ke jalan Cililitan kecil, bersama warga dan pak RW disana saling membantu, sesekali bermain air dengan anak-anak yang sedang berenang riang di jalan yang penuh dengan air.

Sementara santri Habib Asseggaf dan Nurkholis menuju tempat gang Sawo dataran rendah dekat dengan aliran sungai ciliwung. Berbagi dengan korban banjir, dan membangun semangat komunikasi serta silaturahmi dengan warga setempat. Ustadz Ajid Salim, ke jalan pucung arah pasar minggu sebelah kiri. Disana ada korban banjir juga, dataran yang sangat rendah, air menggenang dan susah untuk surut karena drainase cukup kecil untuk aliran air sebesar banjir.

Beberapa santri yang lain, tidak disebutkan namanya satu per satu, kembali melaksanakan tugas seperti biasanya, menemui para pemulung, pejalan kaki, kakek-nenek dijalanan, juga ada paruh baya yang sakit namun memaksakan diri untuk bekerja kuli bangunan.

Semangat para santri membuana, inspirasi dari bunda Fathimah, putri Muhammad terus mengalir dan membanjiri hati. Semoga melalui keberkahan beliau, kita semua mendapatkan Rahmat kasih sayang dari abahnya Muhammad SAW.

Jakarta, 29 April 2019

MANJADI MANUSIA PALING BAHAGIA

JAMI’U AS-SA’ADAH
(Kumpulan-Kumpulan Kebahagiaan)

Ustadz Akbar Saleh

Mulla Muhammad Mahdi An-Naraqy menulis kitab “Jamiah As-Sa’adah” merupakan karya fenomenal, buku pembahasan detail tentang akhlak. Disaat, Ilmu akhlak masih belum dikategorikan masuk ke dalam pelajaran kelas dan kurikulum. Namun kitab ini mampu mencapai kategori Nazhori dan Amaliyah, sehingga layak dijadikan buku panduan utama dalam ilmu akhlak.

Kekayaan literature sangat disiplin dalam paparan buku ini, Muhamad Mahdi merujuk juga kepada Abu Ali Miskaway, seorang Ulama tersohor. Juga merujuk ke ilmuwan yunani seperti Pyhtagoras, Plato dan Aristoteles serta Khajah Nasiruddin Thusi dikenal memiliki kitab keren dan cukup hebat yaitu “Akhlak Nashiri”. Kitab Jami’u As-Sa’adah mampu menggabung antara akhlak Amaliyah dan Nazhoriyah. Seperti kitab “Ihya Ulumuddin” berisi amalan dan tuntunan-tuntunan dalam kehidupan sehari hari.

Kitab Ihya, tidak menggunakan argumentasi yang pelik yang sifatnya Nazhari. Melainkan langsung memberikan amalan dalam keseharian. Sementara Faidh Kasyani dalam kitabnya “Mahjah Al-Baidho” volume sembilan jilid adalah kitab utama yang pernah ada, menjadi kitab komentator terbaik dari kitab “Ihya Ulumuddin”. Menjelaskan lebih detail, memberikan pemahaman yang mudah dicerna, serta memberikan dalil yang kuat, sebagai kekuatan keilmiahan yang kurang dalam kitab Al-Ghazali tersebut.

Muhammad Mahdi An-Naraqy dalam kitabnya menyuguhkan pendekatan Falsafiyah dan Diniyah, Amali dan Nazhori. Sudah barang tentu, kita mendapatkan keberkahan dan karomah kitabnya, karena antara penulis dan tulisannya sangat harmoni, langsung dan murni dari pengalaman dan pencapaian bathin ulama besar. Jelas, bukan plagiat dan hanya sekedar teori saja.

Mula-mula kitab “Jami’u As-Sa’adah” membahas Secara garis besar, tentang manusia yang mempunyai dua potensi, yaitu kebaikan dan keburukan, bahasa sederhananya Syaithaniyah dan Ilahiyah. Sehingga dengan itu, Allah memberikan pelajaran khusus untuk mengasah kekuatan alam potensi Ilahiyah dan Malakutiyah. Seperti juga yang pernah dicontohkan langsung dari pengalaman beliau tentang kezuhudan dan jauh dari popularitas.

Sepanjang hidupnya, beliau dalam beberapa tahun tidak dikenal, puluhan tahun tidak ada yang mengenalnya. Beliau hanya focus pada Tazkiyah An-nafsi dan menulis kitab. Untuk menyebarkan ilmu Allah, penyucian jiwa dan tulisan tangan juga harmoni dalam aktivitasnya. Jika bercermin kepada manusia hari ini. Problema eksis dan viral dimana-mana menjadi suguhan setiap hari di akun media sosial. Dunia digital memberikan pengaruh buruk untuk mebentuk manusia narsis, tentunya menghilangkan makna hakikat. Lebih celaka lagi, kebanyakan malah melupakan latihan diri serta pengualitasan jiwa, akhirnya terjerembab dalam jurang kehinaan.

Muhammad Mahdi An-Naraqy malah sebaliknya, di zaman edan yang glamor ini, beliau sendiri tidak dikenal viral di dunia saat masih hidup. Setelah meninggal, beliau sudah dikenal banyak manusia dan berada di puncak berpengaruh dengan keulamaannya. Memberikan hasil penyingkapan hakikat diri serta meninggalkan warisan karya yang begitu fenomenal. Kemudian dilanjutkan anaknya, meringkas serta melengkapi dengan baik buku ayahandanya. Namanya Muhammad Ahmad An-Naraqy dalam buku “Mi’raj As-Sa’adah”, mempermudah bahasanya, dan memperbanyak argumentasi Naqli Qur’an Sunnah.

Jamiu As-Saa’dah membahas tiga hal penting dalam gabungan dimensi, yaitu syariat, akidah dan akhlak. Pada saat orang-orang arab lebih banyak berbicara hukum fiqih, Persia cenderung ke arah filsafat dan pemikiran serta akidah. Begitu juga dengan Indonesia spesialis akhlaki, orang-orangnya penuh dengan tata krama dan sopan santun. Maka, kitab ini menawarkan ketiga aspek tersebut. Kitab akhlak yang tidak menafikan sisi hukum fiqih, tentunya dengan argumentasi logis dan pilosofis juga.

Akhlak dari segala sumber akhlak. Akhlak mempunyai induk, sehingga jika akhlak ini bisa dikuasai dan dikendalikan, maka niscaya menguasai akhlak-akhlak yang lain. Terdiri dari tiga jilid. Jilid pertama membahas sekelumit tentang perbedaan antara jiwa dan badan, serta memperkenalkan beberpa macam akhlak. Jilid kedua membahas tentang dua pembagian besar Akhlak, yaitu akhlak karimah dan akhlak rozilah. Dari dua pondasi akhlak yang dibagi ini, ada empat sifat utama dalam akhlak, dikatakan menjadi poros dari segala akhlak dan kebaikan, yaitu Syuja’ah (keberanian), A’dalah (Keadilan), Iffah (kesucian) dan Hikmah.

Diantara empat poros utama dari akhlak ini, juga terdapat lagi poros dari segala poros akhlaki, yaitu Keadilan. Keadilan merupakan Had Al-awsath poros tengah, penyeimbang dan keseimbangan, selebihnya tiga akhlak karimah itu adalah ekstrem kanan dan eksterm kiri. Jika poros dari segala poros terganggu, maka dipastikan akhlaknya akan tidak stabil. Jika keberanian over tidak terkontrol, maka mementuk Satu contoh kecil, tubuh manusia, semua harus seimbang, tidak kurang dan tidak lebih agar tetap stabil dan sehat.

Jilid ketiga menjelaskan secara rinci, akhlak yang baik dan buruk, serta pengobatannya. Selesai membaca kitab itu, kita bisa mengetahui penyakit dan mengobati induk penyakitnya. Akhlak tidak bisa diwakili oleh tata krama dan sopan santun, karena akhlak itu adalah penyucian jiwa. Tata karma hanya nilai kebaikan yang direduksi dari kearifan local. Sangat potensi hilang dan ditinggalkan banyak orang. Bahkan era digital hari ini sudah menggerus itu dan hampir menghilangkan tata krama kearifan local.

Generasi millennial sudah menyerap nilai-nilai luar. Dan sedikit demi sedikit meninggalkan nilai sopan santun adat. Bahkan tidak jarang juga kita temui beberapa generasi yang paham nilai itu, tapi seringkali lupa dalam praktik kesehariannya. Tahu bahwa bohong itu tidak baik, namun tetap saja bohong dalam kesehariannya. Mengapa demikian ? sekali lagi tata krama dan sopan santun tidak mampu mewakili makna akhlaki. Jadi, untuk sampai pada level akhlak, jalan satu-satunya adalah berlatih agar kekuatan jiwa kokoh mempertahankan kebaikan dan kejujuran dalam praktik keseharian. Akhlak bukan ilmu teori, yang hanya sekedar tahu, akhlak harus dalam aksi sehari-hari, dan itu hanya bisa dilakukan oleh manusia yang kuat jiwanya. Sekedar pengetahuan tidak bisa dan mustahil sampai pada akhlak.

Pembahasan kitab, dimulai dengan muqaddimah. Menjelaskan kebahagiaan, Tholibu sa’adah Al-Haqiqiyah, dengan nada semoga Allah memberikan anugerah kepadaku untuk melihat aib-aibku, manusia sejatinya mencari kebahagiaan. Akhlak adalah media untuk menyampaikan kepada kebahagiaan. Yaitu berusaha untuk mencari aib diri sendiri untuk perbaikan dan kebahagiaan sejati. Untungnya kebanyakan manusia tidak mampu melihat hakikat dirinya, sebab jika demikian, tercipta kegalauan massal yang luar biasa. Lalu apa yang dibanggakan dari manusia, yang dulunya hanya tetesan air yang hina, kemudian akan menjadi bangkai. Sementara diantara dua dzat hina itu, manusia terus-menerus mengeluarkan kotoran. Anehnya, kita boleh heran dan terkejut akan fenomena hari ini, manusia merasa suci dan benar sendiri, menganggap manusia lain adalah kotor dan salah.

Semoga Allah menjadikan hari esoknya lebih baik ketimbang hari kemarin. Seperti anak kecil hanya bisa mengangkat beban 5 kilo, seiring berjalannya waktu selalu bertambah kekuatannya dn sudah mampu mengangkat beban 10, 20, 50 kilo. Begitupun dengan pahala, harusnya semakin hari semakin bertambah. Persis seperti orang berdagang, hari ini hanya bermodalkan 10 ribu besokya harus 20 atau bahkan 50 ribu. Jika tidak naik, maka itu disebut dengan rugi. Amal ibadah harusnya kualitas amal hari ini lebih bagus ketimbang kemarin, dan kualitas ibadah esok lebih baik dari hari ini. Jika, usaha dagang memberikan keuntungan dalam kuantitas jumlah uang, maka dalam ibadah menawarkan keuntungan dalam bentuk kualitas iman.

Tidak diragukan lagi, bahwa adanya tujuan dari aturan dan syariat, perintah larangan, dan agama, serta diutus orang pilihan langit dari kalangan bumi diantara manusia yang agung, yaitu untuk mengarahkan manusia (Suuq An-nas) dari sifat Hayawaniyah (Baha’im) dan sifat Setan (Syayathin). Manusia harus bangkit dan melepaskan diri dari dua sifat ini. Hewan selalu memikirkan perut dan dibawah perut. Hanya memusatkan fikiran kea rah makanan dan seks sja. Begitu juga dengan sifat setan, sangat suka dengan perilaku membuat fitnah, hoax, adu domba dan masih banyak lagi.

Tujuan utama diturunkan Nabi adalah mengeluarkan manusia dari maqam Baha’im dan Syayathin. Kemudian menghantarkan manusia ke taman-taman yang tinggi dan agung. Yaitu maqam Muqarrabin. Nabi dan para Waliyullah berupaya bagaimana manusia diselamatkan dari jajahan dunia yang fana, hina dina ini. Ketika masih terjajah artinya kita masih dipenjara oleh duniawi. Kasarnya, manusia yang masih terjajah oleh duniawi itu adalah, saya ingin menggunakan diksi “Kita belum beragama”. Mengapa ? alasannya sederhana, karena Nabi turun untuk membebaskan diri dari tawanan dunia. Jadi, tidak mengikuti Nabi artinya tidak mengakui kenabian, artinya tidak bergama.

Supaya manusia bisa bersama-sama dengan alam Malakut, berteman pada tingkat alam Jabarut. Semua ini tidak akan mungkin terjadi, kalau belum mengosongkan diri dari segala bentuk kekotoran. Itulah yang disebut Takhalli, dalam istilah fiqih juga sama secara etimologis, yaitu takhliyah mengosongkan atau membuang. Perbedaanya, fiqih menyebutkan aktivitas membuang kotoran tinja di dalam perut, sementara dalam diksi akhlaki adalah mengeluarkan dan mengosongkan seluruh sifat-sifat buruk dalam jiwa. Setelah itu, tahliyah yaitu mengisi. Beberapa pesuluk untuk menempuh kesucian, adalah cukup dengan takhliyah, mengosongkan dirinya dari perbuatan buruk. Sementara Tahalli menghiasi dengan akhlak yang baik akan mengikut.

Mengerahkan perhatian, untuk mensucikan dirinya dan jiwanya dari kotoran, sebelum menjadi orang yang kekeh dalam kotor jiwa dan sesat. Makin lama makin menumpuk kotoran itu maka akan semakin kuat menempel dan susah untuk dibersihkan. Tidak diragukan lagi, bahwa pensucian diri itu adalah sifat yang membinasakan. Tidak mungkin bisa mentazkiah kalau kita tidak menganal sifat-sifat yang tidak baik itu. Begitupun juga harus tahu penyebabnya, kenapa penyakit itu muncul. Untuk mengenal sumber penyakit akhlak yang tidak baik, jadi harus mengenal penyebabnya juga. Kebanyakan tahu penyakitnya, tapi tidak semua orang tahu penyebabnya.

Jiwa manusia itu ibaratnya adalah rohani juga mempunyai nutrisi dan penyakit, jika jasmani juga punya penyakit, maka penyembuhannya juga berbeda. Ulama terdahulu mencari obat dari penyakit jiwa ini. Sebelum datangnya islam, beberapa pilsuf sudah mencari obatnya. Ada beberapa kitab tentang kebahagiaan menurut plato dan aristoteles dengan etika nikomakeanya, namun tidak sempurna. Rasulullah datang memberikan obat yang mujarab dan sempurna mengobati akhlak yang buruk. Serta diberikan tuntunan-tuntunan amal dalam keseharian.

Kitab Jami’u As-Sa’adah menjelaskan pada Bab pertama: Pembagian hakikat manusia, jiwa yang tidak fana, jiwa yang lepas dari dunia, materi dan noda kotoran. Juga dibahas kenikmatan jiwa dan penyakit penyakitnya. Juga akan dibahas akhlak karimah dan akhlak rozilah. Pembagian hakikat manusia. Dikatakan bahwa, Nabi bukan superhero seperti yang ada di film film marvel. Atau seperti, membersihkan diri hanya dengan memberikan tenaga dalam kepada manusia lainnya, seperti di film-film Nusantara.

Superhero datang menolong manusia, namun manusianya sendiri vakum dan tidak berkembang. Tidak ada usaha untuk melakukan yang terbaik dan menjadi terbaik. Justru yang hebat adalah superheronya, bukan manusianya. Dengan kata lain, konsep eperti ini jelas tidak mencerdaskan kehidupan bangsa, malah menggiring manusia ke arah kemiskinan pribadi. Begitu juga dengan film nusantara, tampil dengan ke-klasikan-nya, merubah manusia lain cukup dengan mengalirkan energy tenaga dalam. Spontan menjadi hebat. Islam tidak mengenal Konsep seperti ini, sangat sederhana, tanpa ada perjuangan yang sungguh-sungguh untuk mencapai maqam ilahiyah. Malah terkesan untuk bermalas-malasan dan suka dengan jalan pintas, namun dianggap pantas.

Manusia itu terbagi dalam dua aspek, rahasia dan nampak. Yaitu ruh dan badan. Masing masing dari keduanya, mempunyai kekurangan. Memiliki keharmonisan dengan dirinya. Masing masing punya derita sakit dan kenikmatan. Punya penghancur dan penyelemat. Seperti badan, butuh gizi dan vitamin sebagai penyelamat. Bakteri dan virus mencipta berbagai macam penyakit jasmani yang menafikan serta merusak badan. Sementara kecocokan untuk badan adalah As-Sihhah kesehatan dari gizi dan nutrisi yang cukup serta istirahat yang cukup membuat badan segar bugar. Kemudian, yang bertanggungjawab menjelaskan itu semua adalah ilmu medis.

Adapaun penyakit ruh adalah akhlak yang buruk, yang bisa membinasakannya, dan membuat ruh akan menderita. Semakin bohong, maka semakin ruh menderita dan rusak jiwa. Sihhatuhu kesehatannya adalah merujuk ke nutrisi akhlak yang karimah yang pasti mem-bahagaiakan-nya, dan akan mengantarkannya kepada orang Muqarrabin. Dan yang bertangungjawab menjelaskan ini adalah ilmu akhlak.

Kemudian badan itu fana’ tidak abadi, dan ruh adalah wujud yang non materi dan kekal. Apabila memiliki sifat yang mulia, maka dia akan memilik kebahagiaan selama-lamanya. Ada kebahagiaan yang fatamorgana, namun jika jiwa kuat dan sehat, maka tidak akan ada batas kebahagiaan, semua adalah kebahagiaan. Namun, jika memiliki sifat rozilah, dia akan tercelup di dalam penderitaan yang abadi. Setelah badan hancur dan ruh memisahkan dirinya dari badan, maka kita akan melihat secara langsung bagaimana bentuk ruhnya itu. Jika berpenyakit, maka bentuknya akan buruk. Jika sehat, maka bentuknya akan indah dan baik.

Jakarta, 23 April 2019

TAKWIL DALAM MATSNAWI (Jangan Tanya Tentang Cinta)

(Kuliah Umum Ustadz Nur Jabir)

By: FR

Kalam berbicara tentang akal berlandaskan yang naqli. Sementara sufi, mencoba menemukan hakikat dalam batin mereka. Bahasa, mencoba menawarkan dalam diri kita. Takwil ada dua, yaitu dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. Alam bahasa ke bathin, atau bathin ke alam bahasa.

Contoh bait sastra para sufi menemukan makna. Takwil dari makna ke bahasa, lalu disampaikan dalam bentuk bahasa untuk transfer pengalaman bathinnya. Untuk berbagi pengalaman bathin kepada yang lain. Walaupun berbeda pengalaman itu berbeda, karena kita hanya mereka reka dalam makna.

Vokalis Oprah Winfrey yang diceraikan istrinya, seketika mengalami keguncangan jiwa, kemudian menemukan keindahan dalam sastra rumi dan mulai bangkit kembali dari keterpurukan. Dan menjadikan lagu-lagunya dari sastra bahasa Rumi. Sebuah syair Rumi yang sangat memukau, adalah;

Aku lunglai pada tahi lalat yang ada dibibirmu”.

Bobo thohir, adalah ungkapan sufi yang terkenal. Perbedaannya ada pada penakwilannya, karena syair sufi menggunakan bahasa keseharian. Persamaan secara lahiriah dalam pemilihan diksi akan menyulitkan pembaca membedakan mana syair sufi dan yang bukan syair sufi.

Takwil “Tahi lalat” adalah dzat Tuhan, maqam kegaiban, kenapa lunglai ?, karena tidak satupun manusia yang bisa sampai pada dzat Tuhan. Sementara “bibir” adalah dua maqam perjalanan manusia, innalillaji wa inna lillahi rojiun. Semua bahasa itu adalah symbol dari takwil makna.

Contoh “Rambut“, berarti jamaliah dan jalaliah. Ketika kita melihat rambutnya perempuan panjang dan dikedepankan menutupi wajah, kita menganggap itu adalah jalal karena sedikit menakutkan, namun ketika tersingkap, kita akan melihat jamaliah keindahan.

Tidak ada kunci dalam memahami niat seseorang penyair, maka kita tidak akan bias memahami apalagi menkawil sebuah syair. Kata rumi;

Cinta emiliki 500 sayap dan setiap kepakan, dari puncak arsy hingga singgasana yang paling bawah. Zahid karena takut hingga kakinya bergerk, namun para pencinta kepakaknnya melebihi percikan udara

Sufi lebih memilih bahasa awam dalam bersyair, karena tujuannya berusaha untuk mentransfer kondisi dan perasaan sufistik yang dialami oleh seorang sufi kepada pembaca agar pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan oleh seorang sufi meskipun melalui pengalaman yang berbeda.

Pengetahuan dengan rasa atau pengetahuan tanpa rasa pasti berbeda. Ma’rifat pengalaman atau hanya mendapat kabar saja ?, seperti cinta, salah seorang bertanya cinta itu apa ? kukatakan

Perkara-perkara semacam ini jangan kau Tanya maknanya, saat kau menjadi diriku, kau akan menyaksiakannya, sebab itu dirimu membacanya kau akan mengetahuinya“.

Rasa dan kondisi adalah titik pertemuan antara sufistik (irfan) dan sastra. Tiga tahapan. Tahap pemikiran/pengetahuan. Tahap imajinasi dan Tahap bahasa.
Seperti kata rumi;

Jika engkau ingin menysusun sajak dan berpuisi, pergi!! Enyahkaan kata kata mu.
Jangan berjalan diatas bait dan tulisan. Cintamu telah menjelmakan bait bait dan ghazal menjadikakanku sebuah tong madu.
Lihatlah darah dalam bait baitku, bukan puisi karena mata dan hatiku sedang menuangkan darah cintanya”.

Juga syair rumi;

Ketika darah bercampur, kuserahkan warna puisi sehingga pakaianku tak berwarna darah dan bukanlah darah berwarna. Daya tarik tuhan mewujukan tuhan mewujudkan kata-kataku, karena dia lebih dekat daripada diriku sendiri. Dia telah membawaku dari non wujud dan menjadikanku mampu bicara setiap waktu. Dalam kemurahannya, kata-kataku menjelma mutiara“.

Takwil La Ilaha Illallah oleh Rumi;

Keterpesonaan cinta akan melihat zamrud bagai bawang perai. Inilah makna “LA”. Duhai pencari perlindungan. Makna ‘tiada tuhan kecuali dia’ adalah bahwa bulan dalam pandanganmu akan terlihat bagai pot hitam“.
(Matsnawi Maknawi; BAG 3 867-868)

Takwil zaluman jahula (Al-Ahzab:72)
Zaluman jahula, kenapa jahil dan zalim,karena hanya manusia yang berani mengorbankan dirinya untuk kekasihnya. Mengapa jahil karena dia manusia yang tidak tahu bahwa yang dia akan dapatkan adalah kesedihan.

Seperti syair rumi;

Keagungan cinta karena menjadikan keinginan manusia bertambah cinta yang bertambah, membuat manusia zalim dan jahil, manusia jahil, khususnya dalam pemburuan cinta. Bagai seekor kelinci yang berharap memeluk singa. Jika kelinci tahu dan melihat singa, kapankah ia akan berharap memeluknya?

(Matsnawi; BAG 3 4672-4674)

Menurut Rumi keinginan manusia yang begitu besar terhadap cinta akan mengakibatkan zalim dan jahil terhadapa dirinya. Kezaliman dan kejahilannya oleh karena manusia tidak mengetahui bahwa akibat dari cinta adalah kesedihan dan penderitaan.

Rumi bicara Tentang cinta tanah leluhur bagian dari iman;

Jangan sebut-sebut tentang cinta wathan, biarkanlah !. karena ketahuilah, wathan sejati disana, bukan disini. Jika kau ingin sampai ke wathan sana, pahamilah dengan baik perkataan yang benar ini“.
(Matsnawi; BAG 4, Bait 2211-2212)

Takwil takbiratul ihram;

Saat anda takbir, bagai qurban telah sirna dari alam ini. Wahai imam solati makna takbir, “tuhanku, kami adalah qurban dihadapan singgasanamu” disaat menyembah hewan qurban, anda mengatakan Allahu Akbar. Dalam mengorbankan jiwa pun, hendaknya anda ucapkan “Allahu Akbar”.

Persoalan takbiratul ihram bagi rumi setelah ditakwil tidak hanya dimaknai sebagai awal sholat namun dimaknai juga sebagai suatu bentuk kefanaan dihadapan ilahi dan juga dominasi ruh terhadap nafsu hewaniyah.

Terakhir, Takwil tasbih seluruh alam semesta;

Karena dirimu beranjak menuju benda materi. Bagaimana mungkin engkau mengetahui jiwa benda-benda ? beranjak dari alam materi menuju alam jiwa, agar engkau mendengar kebisingan alam semesta“.

Tasbih benda-benda akan engkau dengar begitu jelas di telingamu, dan tak lagi mesti kau ragukan penakwilanmu, karena jiwamu tak punya pelita cahaya. Itulah sebabnya dirimu mencari-cari takwil dalam memahaminya, sehingga kau mengatakan, manamungkin benda-benda itu benar-benar bertasbih ? setiap orang mengaku telah memahami tasbihnya, tak sadar hanya hanya imajinasi semata“.
(Matsnawi; BAG 3, Bait 1020-1024)

Jakarta, 22 April 2019

ADA KEBAHAGIAAN DI NISFU SYA’BAN

Rutinitas pondok pesantren Khatamun Nabiyyin setiap pertengahan bulan Sya’ban adalah mengekspresikan kebahagiaan. Dikatakan bahwa nisfu sya’ban adalah detik-detik kelahiran Imam Mahdi cucunda Nabi Muhammad. Masyarakat islam di Nusantara biasanya menyambut Nisfu Sya’ban dengan berbagai amalan, termasuk menempuh ibadah puasa sunnah.

Nisfu sya’ban tahun ini, jatuh pada tanggal 19-21 April. Selain meraup berkah dari keutamaan Nisfu sya’ban, kelahiran Imam Mahdi juga menjadi moment penting menambah karomah dan barokah. Olehnya itu, para santri selain menyambut Nisfu Sya’ban juga memperingati wiladah imam Mahdi.

Beberapa kegiatan perlombaan digelar, diantaranya lomba pidato berbahasa arab, debat berbahasa arab, kaligrafi arab dan lomba nasyid. Setiap perlombaan mempunyai tolak ukur penilaian yang berbeda, serta para guru-guru turut serta mendampingi, mengawasi dan menilai setiap penampilan peserta santri.

Lomba pertama adalah debat berbahasa arab, diselenggarakan di Auditorium Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin, kamis 18 April jam 20:30 sampai selesai. Dewan juri tiga orang dari guru, ustadzah lagia taniara, ustadzah muliana bugis dan ustadz andi alpi. Lomba terlihat sangat seru dan sengit persaingan diantara para santri.

Tenggelam dalam debat, beberapa santri sempat tidak sadar mendengungkan suara yang sangat tinggi, namun tetap berbahasa arab dan memperhatikan kaidahnya. Sementara di lain tempat, juga digelar lomba kaligrafi arab pada jam yang sama, bertempat di di kelas lantai III. Ustadz haidar baqir dan ustadzah Nurkhofifah kali ini menjadi dewan juri dalam lomba ini.

Keesokan harinya, jum’at 19 April tepat pada pukul 20:00 malam, giliran para santri berlomba pidato bahasa arab. Dibagi dalam tiga kelompok dan tentunya pada tempat yang berbeda, sesuai dengan tingkatan marhalah para santri. Dewan juri ustadz Ali hadi, ustadz Ajid salim, ustadz Yusran, ustadzah Rahmadina, ustadzah Wardah dan ustadzah Lagia taniara.

Nasyid adalah Lomba terakhir, hari sabtu 20 April, dimulai tepat pukul 20:00 malam sampai selesai. Dewan juri oleh ustadz Rizal nurdin, Ustadz Haidar baqir, ustadz Azhar, ustadzah Rahmadina, ustadzah Hasna nurhaifa dan ustadzah Wardah. Lomba terakhir ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Malam minggu santri dihiasi dengan nyanyian sholawatan dan senandung nasyid. Kemeriahan di aula akbar membuana. Suara gendang, botol, panci, tangga besi bahkan ember tertata harmoni seakan ikut bersholawat.

Rangkaian empat lomba dilalui dan berakhir pada penutupan kegiatan bulan sya’ban, dirangkaikan dengan peringatan wiladah imam Mahdi. Minggu 21 April bertempat di auditorium pondok pesantren khatamun nabiyyin, penerimaan hadiah untuk santri/santriwati yang juara, didahului hikmah bulan sya’ban dengan beberapa pesan sacral dan amalan di bulan ini. Semoga kualitas jiwa kita semakin kuat menjelang bulan Ramadhan.

Jakarta, 21 April 2019

SEKOLAH FATHIMAH MAKASSAR

By: AA

Setelah SEKOLAH FATHIMAH terlaksana di Jakarta tepatnya di Ponpes KHATAMUN NABIYYIN pada bulan Februari-Maret 2019, antusiasme peserta online dari berbagai daerah mendorong RUMAH FATHIMAH mengadakan sekolah ini di daerah, khususnya MAKASSAR (SUL-SEL).

Pada Jum’at, 19 April 2019, kegiatan ini diadakan setelah melaksanakan program bakti sosial rutin tiap jumat yakni DAPOER FATHIMAH di pagi hari hingga menjelang siang. Pada pukul 14.00 WITA, Pembukaan SEKOLAH FATHIMAH dipimpin oleh Master of Ceremony NurFahmi. Kemudian, dibuka dengan sambutan dari Kepala SEKOLAH FATHIMAH yakni Andi Arifah.

Dalam sambutannya Arifah menegaskan bahwa pengadaan SEKOLAH FATHIMAH dalam kondisi terbatasnya literasi dan kurangnya penyiaran pengetahuan tentang sosok Putri Rasulullah saw ini merupakan ajang untuk mendorong baik para narasumber maupun peserta lebih dalam mengeksplorasi nilai gagasan dan pergerakan Sayyidah Fathimah yang selama ini hanya dikonsumsi sebagai kisah sejarah.

Dengan demikian, pemikiran dan pergerakan putri Nabi saw dapat menginspirasi berbagai konsep gerakan yang sesuai spirit Islam, serta berkontribusi memberikan solusi persoalan-persoalan kontemporer sepanjang zaman di berbagai aspek.

Kegiatan yang berlangsung di daerah Sudiang ini dikuti oleh 25 orang peserta dari berbagai latar belakang organisasi dan profesi di Makassar, mulai dari mahasiswa, ibu rumah tangga, pengusaha dan lain-lain. Dengan tema “Fathimisme; Menelusuri Jejak Pemikiran dan Pergerakan Fathimah binti Muhammad”, terdapat dua materi yang dihadirkan pada hari tersebut.

Materi pertama disampaikan oleh Ust.Zainal Saleh (Dosen IAIN Bone dan UIN Alauddin Makassar) dengan judul materi “Cinta Ilahiah Sayyidah Fathimah Az-Zahra’ dalam Tinjauan Irfan”. Setelah coffee break dan shalat Ashar, dilanjutkan materi kedua yakni “Fathimah Menjawab Isu-Isu Kontreversial Kepermpuanan” oleh Andi Arifah (Direktur Khazanah Intelektual Muslim Institute, sekaligus merupakan Kepala SEKOLAH FATHIMAH) .

Demikian, sekolah ini terlaksana diakhiri dengan mengeratkan silaturahim antar peserta serta eksplorasi kesan-saran mereka terkait sekolah ini. Di antaranya, peserta berharap Sekolah ini dapat menjangkau lebih banyak lagi daerah, memyentuh kaum milenial, dan terus berlanjut menghiasi khazanah kajian pemikiran dan pergerakan Islam di Indonesia.

Makassar, 21 April 2019

READING TIME MENUNDUK ALA SANTRI

By: Abdullah Al-Asyitar

Santri Khatamun Nabiyyin

Heningnya malam memecah waktu, jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh, hari kamis 18 April 2019. Santri dan santriwati yang tergabung dalam tingkatan marhalah dua, tampak semangat menuju suatu tempat. Sering terlihat mereka tertawa lepas dan saling mendahului satu sama lain. Jejak langkahnya terdengar ramai.

Santri lebih awal tiba, memilih tempat duduk sesuai selera mereka. Ada yang duduk sambil berpangku tangan diatas meja belajar, ada yang duduk tegap, terlihat juga beberapa santri duduk beralaskan karpet hijau, bahkan ada yang datang, langsung mengambil gaya bengong. Namun apapun gaya itu, semua santri membuka buku kemudian perlahan merajut huruf demi huruf dalam bacaan. Time for reading.

Santriwati datang lebih belakangan, sedikit menyalahi aturan waktu yang telah disepakati. Sepertinya mereka lalai, kalau malam itu adalah Reading Time waktunya membaca di café ilmu pontren Khatamun Nabiyyin. Satu per satu muncul dan duduk di satu bangku berlingkar, dibatasi oleh hijab penutup yang terbuat dari tripleks kayu, sehingga tidak bisa saling memandang.

Awalnya nongkrong biasa, bercengkrama dengan santai, tentunya dengan suara bising, entah apa yang mereka jadikan topic pembahasan. Masing masing membawa buku dan meletakkan di depan, seolah berbicang face to face dengan penulisnya. Kebisingan itu tidak lama menggema, berubah menjadi sunyi. Semua Santri dan santriwati merunduk focus. Jika anak millennial zaman edan merunduk dengan android, mereka justru merunduk dengan buku.

Lembar demi lembar dibuka, tulisan yang terajut dalam kata, menjadi kalimat pun dilahap habis. Berupaya mengikat makna untuk sebuah pemahaman. Tidak seorang pun berucap satu kata, semua focus kepada isi tulisan buku, dengan gaya membaca khas ditampilkan dan tenggelam, sayangnya reading time hanya sampai pukul sepuluh tepat. Gendre buku juga menjadi favorite setiap minat baca santri. Ragam buku serentak terbuka, dalam satu waktu itu.

Buku pemikiran juga tergilas, seperti Farham rahmat dengan buku “Transpolitika-nya”, Abdullah dengan buku “Islam dan sosialisme”. Hamzah “Paradigma sains intogratif Al-Farabi”, “Teologi falsafah hijab” oleh Andi Nurwahidah dan Masri dengan buku “Fathimah adalah Fathimah”. Buku bergendre hukum politik dan komunikasi, seperti Riyanto dengan buku “Sistem politik islam”, Aswar “Logika hukum”, Faishal “Pengantar ilmu hukum” dan Khairuddin “Teori komunikasi”.

Juga ada buku motivasi dan novel, seperti Qodri, buku “Seni untuk bersikap bodoh amat”, Habib As-seggaf, buku “Sang musafir”. Silvina, buku “Change your lens, change your world”, Atikah, buku “Sihir gerhana”, Herlia, buku “Kenapa Allah nggak kelihatan?” “Ada rasa syurga di dalam dada”, buku Hasnawati, “The long good bye” buku Aida. Halimah “50 master dunia”, Uswatun Hasanah, “Imam Husain syahadah bangkit dan bersaksi”, Mursyid, “Gelandangan di kampung sendiri” dan Azhar, buku tentang “Rindu tere liye”. Terakhir, buku pendidikan, seperti “Quantum learning” oleh Ahmad, “Profesi keguruan” oleh Misnawati.

Jakarta, 18 April 2019

“INSPIRASI DI BAWAH POHON KURMA”

By: Habib Sagaf Assagaf

Tepat pukul 14:16 menjelang sore, aku duduk sambil berkhayal, ingin menjadi seorang yang kaya, tepatnya di bawah Pohon Kurma. Di bawah naungan terik matahari, seketika itu aku berkata dengan lantang “Kapan aku menjadi orang kaya”. Sebuah pertanyaan dalam diri, yang tiba-tiba saja aku lontarkan melalui bibir ini. Tanpa aku sadari, ada seseorang di sampingku yang sedang bermain HP, eitz…! ternyata itu kak Yusron.

Kak Yusron adalah seorang kakak sekaligus ustadz di tempatku belajar, Pontren Khatamun Nabiyyin. Aku lebih enak memanggilnya dengan panggilan kak Yusron. Dia mendengar apa yang aku katakan, sehingga ia mengulangi perkataan itu sambil bertanya lagi, serta sekaligus memberikan jawabannya. “Apakah kau ingin menjadi orang kaya? Jikalau kau tidak lagi berpikir menjadi kaya. Maka disitulah kau menjadi orang kaya”.

Jawaban itu, malah membuat kening di dahiku berkerut, aku mulai bingung dan ingin berpikir sejenak, apa sih maksud jawabannya itu?. Dengan melihat wajahku yang berkerut di dahi, pada saat itu ia mengetahui. Sehingga ia menambahkan beberapa jawaban lagi untuk menjelaskan kebingunganku itu. Ia berkata, “Orang yang mencari ilmu, sebenarnya ia butuh dengan ilmu itu. Maka ia mencari ilmu. Begitu pula dengan orang kaya, ia mencari uang, sebenarnya ia butuh akan uang itu. Dan dia akan mencari sesuatu yang ia butuh”.

Dan lagi-lagi, jawabannya membuat kening di dahiku berkerut kembali, aku mencoba perlahan-lahan memahami maksud jawaban kak Yusron. Ooooo ternyata seperti itu, ucapku padanya. “ketika kita merasa berkeinginan pada sesuatu. Maka pada saat itu juga kita butuh pada hal yang kita inginkan”. Kataku sambil tersenyum dengan mengeleng-geleng kepala, tandanya aku paham.

Pada akhirnya, aku tidak akan lagi berpikir untuk menjadi orang kaya. Kata itulah menjadi sebuah inspirasi bagiku, dan kutuangkan dalam coretan pendek ini. Terima kasih.

Jakarta, Minggu 14 April 2019

“LEADERSHIP ALA SANTRI”

MEMBANGUN KEPEMIMPINAN YANG PROGRESIF

Oleh: Salman Al-Farisi

Memiliki jiwa kepemimpinan adalah hal yang sudah seharusnya dimuat oleh semua orang. Karena mereka akan sangat membutuhkan instrumen ini, baik sebagai individu untuk mengatur dirinya ataupun sebagai mahluk sosial untuk mengatur keluarga ataupun organisasi yang dipimpinnya. Maka dari itu dasar kepemimpinan adalah hal yang sangat urgen yang harus dimiliki oleh semua orang tanpa terkecuali.

“Seorang pemimpin harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum akhirnya melangkah kepada ranah kepemimpinan sosial, maka dari itu seorang pemimpin harus meleburkan ego individunya menjadi ego sosial sehingga dia bisa belajar mendengar dan menyimak anggotanya“, pungkas Bagian Akademik Pontren Khatamun Nabiyyin, Ust Hasan Shaleh La Ede, S.E. membuka kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan, Sabtu, 13 April 2019 di Auditorium Pontren Khatamun Nabiyyin pada acara Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi PENSI- ISYQI.

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) merupakan sebuah wadah pencetak sosok pemimpin serta mengaktualisasikan potensi yang ada dalam jiwa seseorang. Maka dari itu, wadah ini memiliki peran yang sangat besar dalam mencetak sosok pemimpin yang didambakan, oleh tatanan sosial sebelum terjun dan menyelami ranah sosial”.

Kegiatan LDK ini diawali dengan acara pembukaan. Pada acara pembukaan ini diawali dengan pembacaan basmalah dan al-Fathihah. Kemudian setelah itu disusul pembacaan al-Qur’an oleh saudara Magtub Tukwain. Kemudian untuk menambah rasa Nasionalisme para santri dan mahasantri disusul kegiatan selanjutnya yakni menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Saudara Adiaksa Goma.

Kemudian, acara selanjutnya yakni sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama diawali oleh ketua panitia Noer Ilham Fatahillah, beliau menyampaikan bahwa “Kemajuan suatu organisasi tidak hanya dilihat dari ketuanya namun dilihat juga dari anggotanya. Jika masing-masing anggotanya memiliki jiwa kepemimpinan maka roda organisasi tersebut akan berjalan dengan baik. Maka dari itu di sinilah pentingnya sebuah LDK”

Sambutan kedua oleh direktur Khatam Institute yang diwakili oleh Ust. Firman, S.Pd. Dalam penyampaiannya “Pemuda adalah penentu generasi bangsa, maka dari itu selayaknya penerus generasi bangsa maka harus memiliki jiwa kepemimpinan”. Dilanjutkan sambutan dari bagian Tarbawi oleh Ust. Ajid Salim, S.Pd. beliau menegaskan “Pentingnya leadership dalam mengatur sebuah organisasi, karena penentu pergerakan suatu organisasi adalah leader dari organisasi tersebut”.

Jakarta, 14 April 2019