Imam Husain adalah sosok yang suci, dari rahim yang suci, ibu dan ayahnya manusia suci, kakeknya adalah sayyidul wujud Rasulullah Muhammad Saw. Tidak ada mazhab dalam islam yang tidak mencintai imam Husain dan tidak ada mazhab dalam islam yang menolak tragedi karbala.

Coba kita perhatikan redaksi jelas dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 33.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Seluruh mufassir sepakat dan mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat pensucian, dan itu hanya ada pada keluarga Nabi bukan selainnya. Mishdaqnya adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Rasulullah bersabda dalam beberapa kitab ahlussunnah “husain minni wa ana min husain”.

Jika husain adalah dariku (Rasulullah) wajar, karena imam husein adalah cucu Rasulullah, keturunan dari Nabi suci. Namun ketika redaksi, “ana min husain”, bagaimana mungkin Rasulullah berasal dari husain? Ini adalah ungkapan yang begitu dalam dan bermakna. Rasulullah bersabda:

Inni silmu liman salamakum, harbun liman harabakum”

Aku menyatakan salam bagi yang menyatakan salam kepadamu, dan menyatakan perang kepada yang memerangimu.

Belum lagi, Ayat al-qur’an mengatakan dalam surah asy-syuura ayat 23 “Qul laa as’alukum alaihi ajran illa Mawaddata fi Al-qurba”

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”.

Apa arti Mawaddah? dan apa perbedaan dengan Mahabbah?. Mahabbah hanya sekedar mencintai tanpa memperdulikan dan mengikuti ittiba’ apa saja yang dilakukan oleh al-mahbub. Sementara mawaddah adalah cinta sekaligus mengikuti segala tindak tanduk yang dicintainya. Maka pantaslah kita menyimak pesan karbala dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bentuk kasih sayang al-mawaddah kepada Rasulullah dan keluarganya, khusus pada pembahasan ini adalah imam Husein.

Ada 10 pelajaran karbala termanifestasi dalam pesan konteks imam husein.

Pertama, Ikhlas. Sikap ikhlas bukan untuk manusia atau makhluk apapun melainkan untuk allah. Seperti dalam al-qur’an surah al-an’am ayat 162

“Qul, inna as-shalati wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati lillahi rabbil a’lamin”

Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

Mengapa demikian? Karena semua ini hanya hak pakai dari Allah, bukan hak milik. Ketika Allah memanggil kapan waktunya, maka tidak ada kata tawar menawar. Ketika Rasul memanggil, al-Qur’an memanggil, Sunnah memanggil, ahlulbait memanggil maka mutlak harus dijawab. Seperti sayyidah zainab melihat fenomena karbala sebagai sebuah keindahan adanya. “Ma raitu illa jamilah”. Semuanya indah jika berjalan di garis Allah. Namun jika bukan digaris Allah, semuanya tidak indah.

Tujuan apapun yang kita tempuh, semua menjadi kecil dan ringan jika Allah menjadi niat. Jika Imam ingin harta, beliau lebih kaya dari segalanya, ingin tahta, ingin kenikmatan seluruh dunia, imam Husain bisa memperolehnya dengan mudah, tetapi jawabannya tidak. Sebab tujuan Imam ke karbala bukan untuk duniawi apalagi politis, melainkan untuk perjuangan lillahi ta’ala.

Sebuah hadits qudsyi mengatakan “Didalam dirimu ada wadah, yang ketika aku (Allah) mengisinya, maka kuringankan bebanmu, namun jika dunia mengisinya maka akan kulelahkan segala urusanmu” kita sering lelah dan mengeluh dengan segala nikmat yang kita miliki, rumah, jabatan, tahta, harta, keluarga, padahal nikmat Allah lebih besar dari semua nikmat duniawi itu.

Imam husain menangis di padang karabala, sejatinya tidak menangisi derita pada dirinya, imam menangisi manusia yang mengaku umat Rasulullah namun jauh melenceng dari qur’an dan ajaran kakeknya Muhammad.

Yang kedua, imam tidak ingin berperang, karena islam adalah agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Nabi, Tiga belas tahun tahun diperangi dan ditambah 8 tahun setelahnya, namun pada saat fathul makkah Nabi mengatakan alyaum al-marhamah, jangan khawatir kalian hari ini adalah hari kasih sayang. Begitu juga dengan imam husain.
Agama kakeknya adalah agama yang penuh rahmah, imam keluar ke karbala untuk mengajak umat untuk kembali kepada ajaran rasulullah.

Tiga kali imam husain melakukan diplomasi untuk menghindarkan perang, namun jawaban musuh tetap ingin membunuh imam husain, maka tegas imam menyatakan perang demi kebenaran. Al-qur’an mengatakan surah an-nahl:125

serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk

Setelah menyatakan perang, imam husain mengumandangkan kata “haihat min az-zhillat” artinya apa? Kita tidak ingin dalam kehinaan, pantang memberi dakwah dalam kehinaan, jika sudah menasehati dengan nama Allah, nasehati lagi, lagi dan lagi, jika sudah tidak bisa maka “haihat min az-zhillat” kita selalu menyeru pada kebenaran dan mempertegas identitas kepada siapa kita berpihak.

Yang ketiga, dalam kondisi apapun, jangan pernah meninggalkan syariat. Di malam lailah al-ma’rokah malam ke 10 di tanah karbala, dalam keadaan kering tenggorokan imam mengumpulkan semua sahabatnya untuk tetap menegakkan syariat, imam mengajak tahajjud, membaca al-qur’an, bahkan sholat dzhuhur berbagi waktu, sebagian sholat, sebagian berjaga.

Ribuan anak panah menghujam, ancaman pedang dan tombak mengintai namun syariat tetap harus ditegakkan, apapun situasi dan kondisinya tidak ada dispensasi untuk tidak menegakkan syariat. Dasarnya adalah apakah kita lalai atau ingat kepada Allah.

Jakarta, 12 September 2019

Tinggalkan komentar