(Kuliah Umum Ustadz Rusli Malik)

Oleh:

Husain Haidarullah Muqimuddin

Senin 15 Juli 2019, di aula pondok pesantren Khatamun Nabiyyin Jakarta.

Alhamdulillah marilah pertama kita ucapkan syukur atas wiladahnya Imam Ali bin Musa Ar Ridho, dan pada hari ini ada pembahasan yang menarik tentang kata Rasul, bahwasanya kata Rasul itu berasal dari kata rasala-yarsilu atau arsala-yursilu yang bermakna mengutus, adapun kata Rasul disini bukan hanya terfokus untuk para rasul yang diutus Allah SWT saja.

Karena di dalam surah Yusuf ayat 50 menggunakan kata Rasul juga yang makna ayat tersebut “Utusan dari sang Raja Mesir ke Nabi Yusuf”, atau para sahabat hawariyun nabi Isa As yang di mana mereka semua di gelari dengan kata Ar-Rasul juga, kesimpulannya siapapun itu yang diutus maka dia dinamakan dengan rasul atau Mursal, sedangkan orang yang mengutus disebut dengan mursil.

Surah Yasin ayat 13-14 juga menjelaskan tentang kaum hawariyun yang Nabi Isa utus ke suatu tempat, utusannya nabi Isa juga merupakan utusan Allah SWT karena pada ayat 14 surah Yasin menggunakan kata Arsalana yang ada keterlibatan makhluk sama pencipta-Nya untuk mengutus orang.

Ayat Al-qur’an menggunakan kata domir ana dan nahnu bukan hanya sekedar ingin memperindah sastra yang terdapat pada Al-Qur’an, melainkan bermakna kata penggunaan nahnu berarti ada keterlibatan makhluk selain pencipta dalam melaksanakan tugas-Nya, seperti Allah SWT yang menurunkan Al-Qur’an melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad Saw, dan ini ada keterlibatan makhluk Tuhan. Adapun penggunaan kata ana memang hanya Allah SWT saja yang melakukan seperti pada ayat “Wa Nafakhtu min ruhi” yang tidak ada keterlibatan makhluk.

Sekarang adalah bulan Dzulhijjah, bulan ini merupakan bulan musim haji dan ghadir kum yang keduanya ini tidak bisa dipisahkan. Imam juga dikategorikan sebagai Mursalun karena beliau semua dipilih melalui nabi untuk kita, utusan dan pilihan Nabi juga merupakan pilihan Allah SWT.

Setiap Nabi terlekat pada dirinya berupa risalah-Nya, begitupun dengan para imam. Karena Risalah yang akan disampaikan oleh Imam Mahdi kelak diberikan oleh ayahnya yaitu Al-Hasan, dan beliau mendapatkan juga dari ayahnya hingga berujung kepada Nabi Muhammad Saw, dan itu merupakan mata rantai yang tidak akan terputus.

Adapun kewajiban yang pertama kali yang harus nabi lakukan tatkala mereka diutus oleh-Nya, menyatakan bahwa tugas dan diri mereka sebagai Mursal yang diutus, dan Para Imam pun sama. Karena Imam juga Mursalnya nabi yang dimana tujuan mereka dipilih sebagai cahaya pada umat, dan adapun para umatnya mau mempercayai mereka atau tidak itu bukan urusan kita.

Karena itu murni dari pribadi mereka lah yang hanya bisa menentukan dan mempercayainya. Adapun orang-orang yang sudah percaya kepada mereka para Imam, hendaklah mereka melakukan tugas mereka dengan cara menyiarkan cahaya ini ke tengah-tengah umat dengan menghidupkan perayaan hari-hari WILADAH & SYAHADAH para Imam. Karena kita tidak perlu mengajak mereka untuk masuk ke AB, tapi hanya menghidupkan hari hari tersebut.

Pada dasarnya manusia itu hakikatnya suka mencari sehingga mereka dinamakan dengan Tolib, walaupun yang mereka cari dan dapatkan sesuatu yang tidak begitu penting, seperti manusia yang sedang berpergian dari Kalimantan ke Jakarta melalui pulau kemudian mereka terperdaya oleh banyaknya godaan jajanan berupa ikan dan buah-buahan sehingga mereka banyak mengisi tas mereka dengan itu semua, padahal di Jakarta lebih banyak terdapat buah buahan dan ikan dengan harga lebih murah, dan begitu lah kerugian dari manusia. Andaikan saja mereka mengisi tas mereka dengan sesuatu yang berharga seperti emas yang harga 1 gram nya kini sudah 500.000 ribu, pasti mereka akan untung, akan tetapi ini merupakan contoh dari sifat mencarinya manusia.

Sehingga para nabi dan imam memperingati mereka untuk mencari dan mengumpulkan lah sesuatu yang penting saja dalam kehidupan ini. Adapun orang yang banyak mengumpulkan sesuatu hal yang tidak penting dalam hidupnya, maka orang tersebut sudah tergoda oleh kehidupan dunia.

Al-Qur’an sudah memberi peringatan kepada mereka dengan kata Wal Asri demi waktu dan orang-orang yang merugi pada makna surah asr tersebut, atau dengan ayat innamal Hayatud Dunya laibun wa lahwun, atau dengan ayat Qod aflaha man tazakka yang mensucikan diri dari sesuatu yang tidak penting dalam kehidupan ini.

Al-Qur’an pada zaman ini telah memberikan Tasdik pada kehidupan dunia dengan ini, dan menyatakan bahwa segala sesuatu akan fana kecuali Wajah Allah Swt. Manusia janganlah mudah tergoda pada kehidupan dunia dengan apa yang telah Al Qur’an katakan “karena betapa banyaknya manusia yang mengikuti kehidupan dunianya” watu sirunal Hayatad Dunya.

Jadikanlah kehidupan ini sebagai sebuah sarana untuk menuju ke akhirat. Para Nabi dan Imam berusaha untuk membawa umat menuju kepada Akhirat.

Yang telah terjadi saat ini, betapa banyaknya orang-orang yang merupakan lulusan pesantren, akan tetapi mereka belum bisa untuk menerapkan tasdiq Alquran pada kehidupannya, sehingga betapa banyak dari mereka keluar dari pesantren bukannya menjadi figur dan panutan akan tetapi mereka lebih buas dan ganas dalam masalah material, dan banyaknya orang yang berilmu agama tapi yang membunuh sesama saudaranya di masjid. Contohnya saja seperti Abdurrahman Bin Ibnul Muljam yang merupakan seorang hafidz Qur’an membunuh imam Ali Di Masjid tatkala Shalat fajar yang lebih baik dari seluruh kehidupan dunia.

Kehidupan dunia ini hanya sementara, karena faktanya tidak ada orang yang hidup abadi di dunia ini. Dan bertujuanlah kepada Akhirat karenanya kehidupan disana abadi dan kelak, karena faktanya tidak terdapat seorang mayatpun yang sudah mati bisa hidup kembali di dunia ini.

Manusia digambarkan dalam Al-Qur’an tatkala mereka bangkit menuju alam barzakh seperti hewan laron yang berterbangan dan tak tau asalnya darimana.

Di dalam surah Al qomar terdapat empat ayat tentang Alquran mudah untuk dihapal, dibaca, dikaji, sehingga Al-Qur’an ini tidak perlu dipertanyakan kesahihannya, atau sanadnya atau tidak perlu dibawa masuk kedalam ilmu dirayah dan semacamnya, karena Alquran tidak dibuat sulit, kalo memang dibuat sulit, misalnya kita bisa menjadikan ini sebagai argumentasi di hadapan Tuhan.

Orang yang bodoh dan merugi yang di mana mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan dirinya. Seperti orang yang ditawarkan uang sebesar 1.000 rupiah dan seratus ribu tapi orang tersebut malah memilih uang yang 1000 rupiah.

Kata fahal min muddakir merupakan kalimat tanya, yang di mana sedikitnya manusia yang mengambil pelajaran dari Alquran. Akan tetapi lebih sibuk dengan grup Wanya atau lebih sibuk menghabiskan waktunya dengan banyaknya menonton film Korea, dan itu semua tidak akan dipertanggungjawabkan di hari hisab kelak, karena tidak terdapat pertanyaan dari malaikat berapa rating sinetron Korea yang terbagus, dan lainnya.

Adapun ayat ini terdapat pada surah Qamar yang bermakna bulan dan bulan hanya memantulkan cahaya tugasnya, adapun Al-Qur’an laksana bulan yang memancarkan cahaya Allah pada yang membaca dan mengambil pelajaran darinya. Sehingga manusia bisa mendapatkan cahaya Allah SWT melalui Alquran. Yang menjadikan Al-Qur’an itu mudah ada 2 hal yaitu:

1. Al-Qur’an ini memiliki bentuk dan tulisannya.

2. Al-Qur’an ini memiliki pasangan yaitu para Mursalun (Nabi Dan Imam).

Karena kehidupan para imam itu merupakan cerminan dan jelmaan dari Alquran. Jangan sampe salah figur dalam kehidupan ini. Adapun santri tatkala mereka keluar dari ranah pesantren harus bisa menjadi figur yang baik, dan jangan hanya fokus untuk bergelut dengan bahasa Arab saja karena abu lahab pun lebih jago bahasa arabnya, dan jangan terfokus masalah jilbab saja yang diurus karena biarawati di film Maryam pun berjilbab yang syar’i, dan jangan terpokus dengan hafalan Qur’an saja karena Wahabi pun banyak penghafal qurannya. Santri ini harus bisa bermanfaat pada umat dengan cara memerdekakan pikiran yaitu menolak segala hegemoni yang sedang menjajah kita, yang awalnya mereka menjajah melalui pikiran, hingga kita menyerahkan kepada mereka segala SDM yang ada.

Menolak segala hegemoni pada dasarnya dengan kata la ilaha illah.

Semoga bermanfaat, amiin.

Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad Wa Ali Muhammad.

Jakarta, 15 Juli 2019

Tinggalkan komentar