(Pencarian Jati Diri)

By: Andi Alpi

Sepanjang sejarah manusia selalu ada pertanyaan yang bersifat parenialistik, yaitu tentang hakikat manusia. Sejak awal manusia lahir, manusia akan mempertanyakan siapa dirinya. Oleh karena itu, orang tuanya memberikan nama, gelar dan penisbatan-penisbatan lainnya. Hal tersebut nampak (Nama-nama dan sematan) tersebut, seakan-akan hal tersebut nyata, bukan semu belaka.

Lama waktu berselang, sematan-sematan yang dilekatkan pada seorang anak menjadi mendarah daging. Seolah-olah hal tersebut tidak lain adalah dirinya. Akan tetapi, ketika seorang anak mencapai umur balig dan berakal, pencarian diri itu kembali muncul dan menjadilah hal tersebut pencarian yang benar-benar melelahkan bagi seorang anak yang sedang beranjak dewasa.

Segala jenis sematan atau identitas palsu pun dilekatkan pada diri seorang remaja oleh dirinya sendiri. Hal tersebut, menunjukkan bahwa dirinya tak menyetujui identitas-identitas yang telah disematkan kepadanya dan terus berusaha mencari sesuatu hal yang membuat pertanyaan ” siapakah saya ” menjadi terjawab secara meyakinkan.

*Abdul Karim Al-Jilli* adalah seorang sufi yang sangat terkenal dalam dunia mystisme islam, karena kontribusi beliau tentang persoalan banyaknya agama di dalam kitabnya *Insan Kamil*. Ia juga dikenal sebagai seorang pengikut aliran wahdatul wujud (non dualistik), atau dalam tradisi hindu disebut dengan advaita vedanta. Di mana aliran tersebut (wahdatul wujud dan advaita vedanta), tidak mengakui adanya dua wujud. Akan tetapi, di dalam alam keberagaman ini hanya ada kesatuan wujud (al-wahdatul fil kasrah).

Al-Jilli memberikan sebuah analogi menarik untuk menjawab hakikat wujud manusia (hakikatul insan), yaitu analogi titik dan huruf ba’. Ia lukiskan hakikat manusia tersebut dalam kitabnya tafsir basmalah, yang kemudian di-syarah (elaborasi) dengan baik oleh seseorang yang tidak dikenal dengan judul kitab *Syarh Kahfi Ala Bismillah*

Analogi yang dibuat oleh Al-Jilli dalam menjawab pertanyaan parenialistik tersebut adalah diskusi antara titik dan ba’. Diskusi tersebut mengibaratkan keberadaan titik sebagai hakikat segala sesuatu atau dengan bahasa lainnya adalah Allah Swt, dan mengibaratkan ba’ sebagai siwaallah (selain Allah Swt). Pada diskusi antara titik dan ba’, sebuah huruf ba’ pun mengalami kebingungan ontoligis pada dirinya sendiri, dan mempertanyakan hakikat dirinya. Lalu, dijawab oleh titik, bahwasanya keberadaan huruf ba’ merupakan keberadaan titik juga. Adapun keberadaan ba’ adalah madzhar (bentuk konkret) dari keberadaan titik. Keberadaan ba’ merupakan sarana agar titik dapat dikenali, sebagaimana termaktub dalam hadis :

كنت كنا محفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لأعرف
(Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, aku menyukai untuk dikenali maka aku ciptakan mahluk agar aku dikenali) (Hadis)

Sebagaimana jua dalam tafsir ayat adh-dhaariyat : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Sebagian penafsiran mengatakan bahwasanya makna Liya’buduni adalah untuk mengenaliku.

Dari analogi Al-Jilli dapat dipahami bahwasanya hakikat keberadaan manusia, tidak lain merupakan hakikat keberadaan sang mutlak. InsyaAllah pada tulisan selanjutnya penulis akan bahas persoalan relasi syariat dan hakikat.

Tinggalkan komentar