JAMI’U AS-SA’ADAH
(Kumpulan-Kumpulan Kebahagiaan)
Ustadz Akbar Saleh
Mulla Muhammad Mahdi An-Naraqy menulis kitab “Jamiah As-Sa’adah” merupakan karya fenomenal, buku pembahasan detail tentang akhlak. Disaat, Ilmu akhlak masih belum dikategorikan masuk ke dalam pelajaran kelas dan kurikulum. Namun kitab ini mampu mencapai kategori Nazhori dan Amaliyah, sehingga layak dijadikan buku panduan utama dalam ilmu akhlak.
Kekayaan literature sangat disiplin dalam paparan buku ini, Muhamad Mahdi merujuk juga kepada Abu Ali Miskaway, seorang Ulama tersohor. Juga merujuk ke ilmuwan yunani seperti Pyhtagoras, Plato dan Aristoteles serta Khajah Nasiruddin Thusi dikenal memiliki kitab keren dan cukup hebat yaitu “Akhlak Nashiri”. Kitab Jami’u As-Sa’adah mampu menggabung antara akhlak Amaliyah dan Nazhoriyah. Seperti kitab “Ihya Ulumuddin” berisi amalan dan tuntunan-tuntunan dalam kehidupan sehari hari.
Kitab Ihya, tidak menggunakan argumentasi yang pelik yang sifatnya Nazhari. Melainkan langsung memberikan amalan dalam keseharian. Sementara Faidh Kasyani dalam kitabnya “Mahjah Al-Baidho” volume sembilan jilid adalah kitab utama yang pernah ada, menjadi kitab komentator terbaik dari kitab “Ihya Ulumuddin”. Menjelaskan lebih detail, memberikan pemahaman yang mudah dicerna, serta memberikan dalil yang kuat, sebagai kekuatan keilmiahan yang kurang dalam kitab Al-Ghazali tersebut.
Muhammad Mahdi An-Naraqy dalam kitabnya menyuguhkan pendekatan Falsafiyah dan Diniyah, Amali dan Nazhori. Sudah barang tentu, kita mendapatkan keberkahan dan karomah kitabnya, karena antara penulis dan tulisannya sangat harmoni, langsung dan murni dari pengalaman dan pencapaian bathin ulama besar. Jelas, bukan plagiat dan hanya sekedar teori saja.
Mula-mula kitab “Jami’u As-Sa’adah” membahas Secara garis besar, tentang manusia yang mempunyai dua potensi, yaitu kebaikan dan keburukan, bahasa sederhananya Syaithaniyah dan Ilahiyah. Sehingga dengan itu, Allah memberikan pelajaran khusus untuk mengasah kekuatan alam potensi Ilahiyah dan Malakutiyah. Seperti juga yang pernah dicontohkan langsung dari pengalaman beliau tentang kezuhudan dan jauh dari popularitas.
Sepanjang hidupnya, beliau dalam beberapa tahun tidak dikenal, puluhan tahun tidak ada yang mengenalnya. Beliau hanya focus pada Tazkiyah An-nafsi dan menulis kitab. Untuk menyebarkan ilmu Allah, penyucian jiwa dan tulisan tangan juga harmoni dalam aktivitasnya. Jika bercermin kepada manusia hari ini. Problema eksis dan viral dimana-mana menjadi suguhan setiap hari di akun media sosial. Dunia digital memberikan pengaruh buruk untuk mebentuk manusia narsis, tentunya menghilangkan makna hakikat. Lebih celaka lagi, kebanyakan malah melupakan latihan diri serta pengualitasan jiwa, akhirnya terjerembab dalam jurang kehinaan.
Muhammad Mahdi An-Naraqy malah sebaliknya, di zaman edan yang glamor ini, beliau sendiri tidak dikenal viral di dunia saat masih hidup. Setelah meninggal, beliau sudah dikenal banyak manusia dan berada di puncak berpengaruh dengan keulamaannya. Memberikan hasil penyingkapan hakikat diri serta meninggalkan warisan karya yang begitu fenomenal. Kemudian dilanjutkan anaknya, meringkas serta melengkapi dengan baik buku ayahandanya. Namanya Muhammad Ahmad An-Naraqy dalam buku “Mi’raj As-Sa’adah”, mempermudah bahasanya, dan memperbanyak argumentasi Naqli Qur’an Sunnah.
Jamiu As-Saa’dah membahas tiga hal penting dalam gabungan dimensi, yaitu syariat, akidah dan akhlak. Pada saat orang-orang arab lebih banyak berbicara hukum fiqih, Persia cenderung ke arah filsafat dan pemikiran serta akidah. Begitu juga dengan Indonesia spesialis akhlaki, orang-orangnya penuh dengan tata krama dan sopan santun. Maka, kitab ini menawarkan ketiga aspek tersebut. Kitab akhlak yang tidak menafikan sisi hukum fiqih, tentunya dengan argumentasi logis dan pilosofis juga.
Akhlak dari segala sumber akhlak. Akhlak mempunyai induk, sehingga jika akhlak ini bisa dikuasai dan dikendalikan, maka niscaya menguasai akhlak-akhlak yang lain. Terdiri dari tiga jilid. Jilid pertama membahas sekelumit tentang perbedaan antara jiwa dan badan, serta memperkenalkan beberpa macam akhlak. Jilid kedua membahas tentang dua pembagian besar Akhlak, yaitu akhlak karimah dan akhlak rozilah. Dari dua pondasi akhlak yang dibagi ini, ada empat sifat utama dalam akhlak, dikatakan menjadi poros dari segala akhlak dan kebaikan, yaitu Syuja’ah (keberanian), A’dalah (Keadilan), Iffah (kesucian) dan Hikmah.
Diantara empat poros utama dari akhlak ini, juga terdapat lagi poros dari segala poros akhlaki, yaitu Keadilan. Keadilan merupakan Had Al-awsath poros tengah, penyeimbang dan keseimbangan, selebihnya tiga akhlak karimah itu adalah ekstrem kanan dan eksterm kiri. Jika poros dari segala poros terganggu, maka dipastikan akhlaknya akan tidak stabil. Jika keberanian over tidak terkontrol, maka mementuk Satu contoh kecil, tubuh manusia, semua harus seimbang, tidak kurang dan tidak lebih agar tetap stabil dan sehat.
Jilid ketiga menjelaskan secara rinci, akhlak yang baik dan buruk, serta pengobatannya. Selesai membaca kitab itu, kita bisa mengetahui penyakit dan mengobati induk penyakitnya. Akhlak tidak bisa diwakili oleh tata krama dan sopan santun, karena akhlak itu adalah penyucian jiwa. Tata karma hanya nilai kebaikan yang direduksi dari kearifan local. Sangat potensi hilang dan ditinggalkan banyak orang. Bahkan era digital hari ini sudah menggerus itu dan hampir menghilangkan tata krama kearifan local.
Generasi millennial sudah menyerap nilai-nilai luar. Dan sedikit demi sedikit meninggalkan nilai sopan santun adat. Bahkan tidak jarang juga kita temui beberapa generasi yang paham nilai itu, tapi seringkali lupa dalam praktik kesehariannya. Tahu bahwa bohong itu tidak baik, namun tetap saja bohong dalam kesehariannya. Mengapa demikian ? sekali lagi tata krama dan sopan santun tidak mampu mewakili makna akhlaki. Jadi, untuk sampai pada level akhlak, jalan satu-satunya adalah berlatih agar kekuatan jiwa kokoh mempertahankan kebaikan dan kejujuran dalam praktik keseharian. Akhlak bukan ilmu teori, yang hanya sekedar tahu, akhlak harus dalam aksi sehari-hari, dan itu hanya bisa dilakukan oleh manusia yang kuat jiwanya. Sekedar pengetahuan tidak bisa dan mustahil sampai pada akhlak.
Pembahasan kitab, dimulai dengan muqaddimah. Menjelaskan kebahagiaan, Tholibu sa’adah Al-Haqiqiyah, dengan nada semoga Allah memberikan anugerah kepadaku untuk melihat aib-aibku, manusia sejatinya mencari kebahagiaan. Akhlak adalah media untuk menyampaikan kepada kebahagiaan. Yaitu berusaha untuk mencari aib diri sendiri untuk perbaikan dan kebahagiaan sejati. Untungnya kebanyakan manusia tidak mampu melihat hakikat dirinya, sebab jika demikian, tercipta kegalauan massal yang luar biasa. Lalu apa yang dibanggakan dari manusia, yang dulunya hanya tetesan air yang hina, kemudian akan menjadi bangkai. Sementara diantara dua dzat hina itu, manusia terus-menerus mengeluarkan kotoran. Anehnya, kita boleh heran dan terkejut akan fenomena hari ini, manusia merasa suci dan benar sendiri, menganggap manusia lain adalah kotor dan salah.
Semoga Allah menjadikan hari esoknya lebih baik ketimbang hari kemarin. Seperti anak kecil hanya bisa mengangkat beban 5 kilo, seiring berjalannya waktu selalu bertambah kekuatannya dn sudah mampu mengangkat beban 10, 20, 50 kilo. Begitupun dengan pahala, harusnya semakin hari semakin bertambah. Persis seperti orang berdagang, hari ini hanya bermodalkan 10 ribu besokya harus 20 atau bahkan 50 ribu. Jika tidak naik, maka itu disebut dengan rugi. Amal ibadah harusnya kualitas amal hari ini lebih bagus ketimbang kemarin, dan kualitas ibadah esok lebih baik dari hari ini. Jika, usaha dagang memberikan keuntungan dalam kuantitas jumlah uang, maka dalam ibadah menawarkan keuntungan dalam bentuk kualitas iman.
Tidak diragukan lagi, bahwa adanya tujuan dari aturan dan syariat, perintah larangan, dan agama, serta diutus orang pilihan langit dari kalangan bumi diantara manusia yang agung, yaitu untuk mengarahkan manusia (Suuq An-nas) dari sifat Hayawaniyah (Baha’im) dan sifat Setan (Syayathin). Manusia harus bangkit dan melepaskan diri dari dua sifat ini. Hewan selalu memikirkan perut dan dibawah perut. Hanya memusatkan fikiran kea rah makanan dan seks sja. Begitu juga dengan sifat setan, sangat suka dengan perilaku membuat fitnah, hoax, adu domba dan masih banyak lagi.
Tujuan utama diturunkan Nabi adalah mengeluarkan manusia dari maqam Baha’im dan Syayathin. Kemudian menghantarkan manusia ke taman-taman yang tinggi dan agung. Yaitu maqam Muqarrabin. Nabi dan para Waliyullah berupaya bagaimana manusia diselamatkan dari jajahan dunia yang fana, hina dina ini. Ketika masih terjajah artinya kita masih dipenjara oleh duniawi. Kasarnya, manusia yang masih terjajah oleh duniawi itu adalah, saya ingin menggunakan diksi “Kita belum beragama”. Mengapa ? alasannya sederhana, karena Nabi turun untuk membebaskan diri dari tawanan dunia. Jadi, tidak mengikuti Nabi artinya tidak mengakui kenabian, artinya tidak bergama.
Supaya manusia bisa bersama-sama dengan alam Malakut, berteman pada tingkat alam Jabarut. Semua ini tidak akan mungkin terjadi, kalau belum mengosongkan diri dari segala bentuk kekotoran. Itulah yang disebut Takhalli, dalam istilah fiqih juga sama secara etimologis, yaitu takhliyah mengosongkan atau membuang. Perbedaanya, fiqih menyebutkan aktivitas membuang kotoran tinja di dalam perut, sementara dalam diksi akhlaki adalah mengeluarkan dan mengosongkan seluruh sifat-sifat buruk dalam jiwa. Setelah itu, tahliyah yaitu mengisi. Beberapa pesuluk untuk menempuh kesucian, adalah cukup dengan takhliyah, mengosongkan dirinya dari perbuatan buruk. Sementara Tahalli menghiasi dengan akhlak yang baik akan mengikut.
Mengerahkan perhatian, untuk mensucikan dirinya dan jiwanya dari kotoran, sebelum menjadi orang yang kekeh dalam kotor jiwa dan sesat. Makin lama makin menumpuk kotoran itu maka akan semakin kuat menempel dan susah untuk dibersihkan. Tidak diragukan lagi, bahwa pensucian diri itu adalah sifat yang membinasakan. Tidak mungkin bisa mentazkiah kalau kita tidak menganal sifat-sifat yang tidak baik itu. Begitupun juga harus tahu penyebabnya, kenapa penyakit itu muncul. Untuk mengenal sumber penyakit akhlak yang tidak baik, jadi harus mengenal penyebabnya juga. Kebanyakan tahu penyakitnya, tapi tidak semua orang tahu penyebabnya.
Jiwa manusia itu ibaratnya adalah rohani juga mempunyai nutrisi dan penyakit, jika jasmani juga punya penyakit, maka penyembuhannya juga berbeda. Ulama terdahulu mencari obat dari penyakit jiwa ini. Sebelum datangnya islam, beberapa pilsuf sudah mencari obatnya. Ada beberapa kitab tentang kebahagiaan menurut plato dan aristoteles dengan etika nikomakeanya, namun tidak sempurna. Rasulullah datang memberikan obat yang mujarab dan sempurna mengobati akhlak yang buruk. Serta diberikan tuntunan-tuntunan amal dalam keseharian.
Kitab Jami’u As-Sa’adah menjelaskan pada Bab pertama: Pembagian hakikat manusia, jiwa yang tidak fana, jiwa yang lepas dari dunia, materi dan noda kotoran. Juga dibahas kenikmatan jiwa dan penyakit penyakitnya. Juga akan dibahas akhlak karimah dan akhlak rozilah. Pembagian hakikat manusia. Dikatakan bahwa, Nabi bukan superhero seperti yang ada di film film marvel. Atau seperti, membersihkan diri hanya dengan memberikan tenaga dalam kepada manusia lainnya, seperti di film-film Nusantara.
Superhero datang menolong manusia, namun manusianya sendiri vakum dan tidak berkembang. Tidak ada usaha untuk melakukan yang terbaik dan menjadi terbaik. Justru yang hebat adalah superheronya, bukan manusianya. Dengan kata lain, konsep eperti ini jelas tidak mencerdaskan kehidupan bangsa, malah menggiring manusia ke arah kemiskinan pribadi. Begitu juga dengan film nusantara, tampil dengan ke-klasikan-nya, merubah manusia lain cukup dengan mengalirkan energy tenaga dalam. Spontan menjadi hebat. Islam tidak mengenal Konsep seperti ini, sangat sederhana, tanpa ada perjuangan yang sungguh-sungguh untuk mencapai maqam ilahiyah. Malah terkesan untuk bermalas-malasan dan suka dengan jalan pintas, namun dianggap pantas.
Manusia itu terbagi dalam dua aspek, rahasia dan nampak. Yaitu ruh dan badan. Masing masing dari keduanya, mempunyai kekurangan. Memiliki keharmonisan dengan dirinya. Masing masing punya derita sakit dan kenikmatan. Punya penghancur dan penyelemat. Seperti badan, butuh gizi dan vitamin sebagai penyelamat. Bakteri dan virus mencipta berbagai macam penyakit jasmani yang menafikan serta merusak badan. Sementara kecocokan untuk badan adalah As-Sihhah kesehatan dari gizi dan nutrisi yang cukup serta istirahat yang cukup membuat badan segar bugar. Kemudian, yang bertanggungjawab menjelaskan itu semua adalah ilmu medis.
Adapaun penyakit ruh adalah akhlak yang buruk, yang bisa membinasakannya, dan membuat ruh akan menderita. Semakin bohong, maka semakin ruh menderita dan rusak jiwa. Sihhatuhu kesehatannya adalah merujuk ke nutrisi akhlak yang karimah yang pasti mem-bahagaiakan-nya, dan akan mengantarkannya kepada orang Muqarrabin. Dan yang bertangungjawab menjelaskan ini adalah ilmu akhlak.
Kemudian badan itu fana’ tidak abadi, dan ruh adalah wujud yang non materi dan kekal. Apabila memiliki sifat yang mulia, maka dia akan memilik kebahagiaan selama-lamanya. Ada kebahagiaan yang fatamorgana, namun jika jiwa kuat dan sehat, maka tidak akan ada batas kebahagiaan, semua adalah kebahagiaan. Namun, jika memiliki sifat rozilah, dia akan tercelup di dalam penderitaan yang abadi. Setelah badan hancur dan ruh memisahkan dirinya dari badan, maka kita akan melihat secara langsung bagaimana bentuk ruhnya itu. Jika berpenyakit, maka bentuknya akan buruk. Jika sehat, maka bentuknya akan indah dan baik.
Jakarta, 23 April 2019

Kerennnn.. subhanallah
SukaDisukai oleh 1 orang