
(Kuliah Umum Ustadz Nur Jabir)
By: FR
Kalam berbicara tentang akal berlandaskan yang naqli. Sementara sufi, mencoba menemukan hakikat dalam batin mereka. Bahasa, mencoba menawarkan dalam diri kita. Takwil ada dua, yaitu dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. Alam bahasa ke bathin, atau bathin ke alam bahasa.
Contoh bait sastra para sufi menemukan makna. Takwil dari makna ke bahasa, lalu disampaikan dalam bentuk bahasa untuk transfer pengalaman bathinnya. Untuk berbagi pengalaman bathin kepada yang lain. Walaupun berbeda pengalaman itu berbeda, karena kita hanya mereka reka dalam makna.
Vokalis Oprah Winfrey yang diceraikan istrinya, seketika mengalami keguncangan jiwa, kemudian menemukan keindahan dalam sastra rumi dan mulai bangkit kembali dari keterpurukan. Dan menjadikan lagu-lagunya dari sastra bahasa Rumi. Sebuah syair Rumi yang sangat memukau, adalah;
“Aku lunglai pada tahi lalat yang ada dibibirmu”.
Bobo thohir, adalah ungkapan sufi yang terkenal. Perbedaannya ada pada penakwilannya, karena syair sufi menggunakan bahasa keseharian. Persamaan secara lahiriah dalam pemilihan diksi akan menyulitkan pembaca membedakan mana syair sufi dan yang bukan syair sufi.
Takwil “Tahi lalat” adalah dzat Tuhan, maqam kegaiban, kenapa lunglai ?, karena tidak satupun manusia yang bisa sampai pada dzat Tuhan. Sementara “bibir” adalah dua maqam perjalanan manusia, innalillaji wa inna lillahi rojiun. Semua bahasa itu adalah symbol dari takwil makna.
Contoh “Rambut“, berarti jamaliah dan jalaliah. Ketika kita melihat rambutnya perempuan panjang dan dikedepankan menutupi wajah, kita menganggap itu adalah jalal karena sedikit menakutkan, namun ketika tersingkap, kita akan melihat jamaliah keindahan.
Tidak ada kunci dalam memahami niat seseorang penyair, maka kita tidak akan bias memahami apalagi menkawil sebuah syair. Kata rumi;
“Cinta emiliki 500 sayap dan setiap kepakan, dari puncak arsy hingga singgasana yang paling bawah. Zahid karena takut hingga kakinya bergerk, namun para pencinta kepakaknnya melebihi percikan udara”
Sufi lebih memilih bahasa awam dalam bersyair, karena tujuannya berusaha untuk mentransfer kondisi dan perasaan sufistik yang dialami oleh seorang sufi kepada pembaca agar pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan oleh seorang sufi meskipun melalui pengalaman yang berbeda.
Pengetahuan dengan rasa atau pengetahuan tanpa rasa pasti berbeda. Ma’rifat pengalaman atau hanya mendapat kabar saja ?, seperti cinta, salah seorang bertanya cinta itu apa ? kukatakan
“Perkara-perkara semacam ini jangan kau Tanya maknanya, saat kau menjadi diriku, kau akan menyaksiakannya, sebab itu dirimu membacanya kau akan mengetahuinya“.
Rasa dan kondisi adalah titik pertemuan antara sufistik (irfan) dan sastra. Tiga tahapan. Tahap pemikiran/pengetahuan. Tahap imajinasi dan Tahap bahasa.
Seperti kata rumi;
“Jika engkau ingin menysusun sajak dan berpuisi, pergi!! Enyahkaan kata kata mu.
Jangan berjalan diatas bait dan tulisan. Cintamu telah menjelmakan bait bait dan ghazal menjadikakanku sebuah tong madu.
Lihatlah darah dalam bait baitku, bukan puisi karena mata dan hatiku sedang menuangkan darah cintanya”.
Juga syair rumi;
“Ketika darah bercampur, kuserahkan warna puisi sehingga pakaianku tak berwarna darah dan bukanlah darah berwarna. Daya tarik tuhan mewujukan tuhan mewujudkan kata-kataku, karena dia lebih dekat daripada diriku sendiri. Dia telah membawaku dari non wujud dan menjadikanku mampu bicara setiap waktu. Dalam kemurahannya, kata-kataku menjelma mutiara“.
Takwil La Ilaha Illallah oleh Rumi;
“Keterpesonaan cinta akan melihat zamrud bagai bawang perai. Inilah makna “LA”. Duhai pencari perlindungan. Makna ‘tiada tuhan kecuali dia’ adalah bahwa bulan dalam pandanganmu akan terlihat bagai pot hitam“.
(Matsnawi Maknawi; BAG 3 867-868)
Takwil zaluman jahula (Al-Ahzab:72)
Zaluman jahula, kenapa jahil dan zalim,karena hanya manusia yang berani mengorbankan dirinya untuk kekasihnya. Mengapa jahil karena dia manusia yang tidak tahu bahwa yang dia akan dapatkan adalah kesedihan.
Seperti syair rumi;
“Keagungan cinta karena menjadikan keinginan manusia bertambah cinta yang bertambah, membuat manusia zalim dan jahil, manusia jahil, khususnya dalam pemburuan cinta. Bagai seekor kelinci yang berharap memeluk singa. Jika kelinci tahu dan melihat singa, kapankah ia akan berharap memeluknya?”
(Matsnawi; BAG 3 4672-4674)
Menurut Rumi keinginan manusia yang begitu besar terhadap cinta akan mengakibatkan zalim dan jahil terhadapa dirinya. Kezaliman dan kejahilannya oleh karena manusia tidak mengetahui bahwa akibat dari cinta adalah kesedihan dan penderitaan.
Rumi bicara Tentang cinta tanah leluhur bagian dari iman;
“Jangan sebut-sebut tentang cinta wathan, biarkanlah !. karena ketahuilah, wathan sejati disana, bukan disini. Jika kau ingin sampai ke wathan sana, pahamilah dengan baik perkataan yang benar ini“.
(Matsnawi; BAG 4, Bait 2211-2212)
Takwil takbiratul ihram;
“Saat anda takbir, bagai qurban telah sirna dari alam ini. Wahai imam solati makna takbir, “tuhanku, kami adalah qurban dihadapan singgasanamu” disaat menyembah hewan qurban, anda mengatakan Allahu Akbar. Dalam mengorbankan jiwa pun, hendaknya anda ucapkan “Allahu Akbar”.
Persoalan takbiratul ihram bagi rumi setelah ditakwil tidak hanya dimaknai sebagai awal sholat namun dimaknai juga sebagai suatu bentuk kefanaan dihadapan ilahi dan juga dominasi ruh terhadap nafsu hewaniyah.
Terakhir, Takwil tasbih seluruh alam semesta;
“Karena dirimu beranjak menuju benda materi. Bagaimana mungkin engkau mengetahui jiwa benda-benda ? beranjak dari alam materi menuju alam jiwa, agar engkau mendengar kebisingan alam semesta“.
Tasbih benda-benda akan engkau dengar begitu jelas di telingamu, dan tak lagi mesti kau ragukan penakwilanmu, karena jiwamu tak punya pelita cahaya. Itulah sebabnya dirimu mencari-cari takwil dalam memahaminya, sehingga kau mengatakan, manamungkin benda-benda itu benar-benar bertasbih ? setiap orang mengaku telah memahami tasbihnya, tak sadar hanya hanya imajinasi semata“.
(Matsnawi; BAG 3, Bait 1020-1024)
Jakarta, 22 April 2019
