
By: Abdullah Al-Asyitar
Santri Khatamun Nabiyyin
Heningnya malam memecah waktu, jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh, hari kamis 18 April 2019. Santri dan santriwati yang tergabung dalam tingkatan marhalah dua, tampak semangat menuju suatu tempat. Sering terlihat mereka tertawa lepas dan saling mendahului satu sama lain. Jejak langkahnya terdengar ramai.
Santri lebih awal tiba, memilih tempat duduk sesuai selera mereka. Ada yang duduk sambil berpangku tangan diatas meja belajar, ada yang duduk tegap, terlihat juga beberapa santri duduk beralaskan karpet hijau, bahkan ada yang datang, langsung mengambil gaya bengong. Namun apapun gaya itu, semua santri membuka buku kemudian perlahan merajut huruf demi huruf dalam bacaan. Time for reading.
Santriwati datang lebih belakangan, sedikit menyalahi aturan waktu yang telah disepakati. Sepertinya mereka lalai, kalau malam itu adalah Reading Time waktunya membaca di café ilmu pontren Khatamun Nabiyyin. Satu per satu muncul dan duduk di satu bangku berlingkar, dibatasi oleh hijab penutup yang terbuat dari tripleks kayu, sehingga tidak bisa saling memandang.
Awalnya nongkrong biasa, bercengkrama dengan santai, tentunya dengan suara bising, entah apa yang mereka jadikan topic pembahasan. Masing masing membawa buku dan meletakkan di depan, seolah berbicang face to face dengan penulisnya. Kebisingan itu tidak lama menggema, berubah menjadi sunyi. Semua Santri dan santriwati merunduk focus. Jika anak millennial zaman edan merunduk dengan android, mereka justru merunduk dengan buku.
Lembar demi lembar dibuka, tulisan yang terajut dalam kata, menjadi kalimat pun dilahap habis. Berupaya mengikat makna untuk sebuah pemahaman. Tidak seorang pun berucap satu kata, semua focus kepada isi tulisan buku, dengan gaya membaca khas ditampilkan dan tenggelam, sayangnya reading time hanya sampai pukul sepuluh tepat. Gendre buku juga menjadi favorite setiap minat baca santri. Ragam buku serentak terbuka, dalam satu waktu itu.
Buku pemikiran juga tergilas, seperti Farham rahmat dengan buku “Transpolitika-nya”, Abdullah dengan buku “Islam dan sosialisme”. Hamzah “Paradigma sains intogratif Al-Farabi”, “Teologi falsafah hijab” oleh Andi Nurwahidah dan Masri dengan buku “Fathimah adalah Fathimah”. Buku bergendre hukum politik dan komunikasi, seperti Riyanto dengan buku “Sistem politik islam”, Aswar “Logika hukum”, Faishal “Pengantar ilmu hukum” dan Khairuddin “Teori komunikasi”.
Juga ada buku motivasi dan novel, seperti Qodri, buku “Seni untuk bersikap bodoh amat”, Habib As-seggaf, buku “Sang musafir”. Silvina, buku “Change your lens, change your world”, Atikah, buku “Sihir gerhana”, Herlia, buku “Kenapa Allah nggak kelihatan?” “Ada rasa syurga di dalam dada”, buku Hasnawati, “The long good bye” buku Aida. Halimah “50 master dunia”, Uswatun Hasanah, “Imam Husain syahadah bangkit dan bersaksi”, Mursyid, “Gelandangan di kampung sendiri” dan Azhar, buku tentang “Rindu tere liye”. Terakhir, buku pendidikan, seperti “Quantum learning” oleh Ahmad, “Profesi keguruan” oleh Misnawati.
Jakarta, 18 April 2019

Mantul santri hebat…
SukaSuka