By: Habib Sagaf Assagaf

Tepat pukul 14:16 menjelang sore, aku duduk sambil berkhayal, ingin menjadi seorang yang kaya, tepatnya di bawah Pohon Kurma. Di bawah naungan terik matahari, seketika itu aku berkata dengan lantang “Kapan aku menjadi orang kaya”. Sebuah pertanyaan dalam diri, yang tiba-tiba saja aku lontarkan melalui bibir ini. Tanpa aku sadari, ada seseorang di sampingku yang sedang bermain HP, eitz…! ternyata itu kak Yusron.

Kak Yusron adalah seorang kakak sekaligus ustadz di tempatku belajar, Pontren Khatamun Nabiyyin. Aku lebih enak memanggilnya dengan panggilan kak Yusron. Dia mendengar apa yang aku katakan, sehingga ia mengulangi perkataan itu sambil bertanya lagi, serta sekaligus memberikan jawabannya. “Apakah kau ingin menjadi orang kaya? Jikalau kau tidak lagi berpikir menjadi kaya. Maka disitulah kau menjadi orang kaya”.

Jawaban itu, malah membuat kening di dahiku berkerut, aku mulai bingung dan ingin berpikir sejenak, apa sih maksud jawabannya itu?. Dengan melihat wajahku yang berkerut di dahi, pada saat itu ia mengetahui. Sehingga ia menambahkan beberapa jawaban lagi untuk menjelaskan kebingunganku itu. Ia berkata, “Orang yang mencari ilmu, sebenarnya ia butuh dengan ilmu itu. Maka ia mencari ilmu. Begitu pula dengan orang kaya, ia mencari uang, sebenarnya ia butuh akan uang itu. Dan dia akan mencari sesuatu yang ia butuh”.

Dan lagi-lagi, jawabannya membuat kening di dahiku berkerut kembali, aku mencoba perlahan-lahan memahami maksud jawaban kak Yusron. Ooooo ternyata seperti itu, ucapku padanya. “ketika kita merasa berkeinginan pada sesuatu. Maka pada saat itu juga kita butuh pada hal yang kita inginkan”. Kataku sambil tersenyum dengan mengeleng-geleng kepala, tandanya aku paham.

Pada akhirnya, aku tidak akan lagi berpikir untuk menjadi orang kaya. Kata itulah menjadi sebuah inspirasi bagiku, dan kutuangkan dalam coretan pendek ini. Terima kasih.

Jakarta, Minggu 14 April 2019

Tinggalkan komentar