TAWAF DI PUSAT PERBELANJAAN

By: Usman Saleh La ede, S.E.
Beberapa waktu lalu, ketika pergi jalan-jalan di sebuah tempat perbelanjaan, tentunya bukan untuk belanja barang-barang atau shoping, hanya untuk melihat barang dagangan yang dijajakan oleh para pedagang dan yang dibawa pulang oleh para shopper.
Sebuah adegan tawaf saya lakukan. Untuk pertama kalinya, terpaksa melakukan tawaf. Bukan tawaf di Makkah pastinya. Saya menyebutnya tawaf karena beberapa kali saya berputar untuk mencari pintu keluar. Istilah teologinya tersesat. Tapi tersesat di pusat perbelanjaan yang besar. Naik turun eskalator mencari jalan keluar dari ketersesatan membuat sakit kepala. Maklum ketidaktahuan mana pintu keluar dan arah jalan.
Tawaf dipusat perbelanjaan adalah sebuah tradisi baru dalam dunia masyarakat spiritual yang konsumtif. Orang-orang datang dan pergi untuk menikmati jajanan dan suguhan pasar. Berjalan mencari pintu keluar, sesekali bergumam dan tertawa dalam hati.
Resiko untuk pertama kalinya pergi dan masuk sendiri di pasar besar. Berkunjung bukan untuk membawa barang-barang pilihan yang berjejeran di etalase atau yang bergelantungan di hanger-hanger. Bukan pula untuk membawa alat-alat elektronik terbaru. Sesekali bertanya pada satpam. Pak dimana pintu keluar ke arah jalan besar pak? Pak satpam dengan santai menjawab, naik di lantai atas iya mas baru ke arah kiri.
Saya kan bukan mas, tapi tidak apa-apa deh, gumam dalam hati.. Bergegas, berjalan sesuai petunjuk pak satpam, saya mencari pintu keluar. Tapi yang saya temukan adalah para pedagang tekstil. Sesekali berkata dalam hati, tadi kan saya masuk dari tempat penjual makanan bukan penjual tekstil. Hahaha.. yang diingat jalannya dari arah para penjual makanan.
Hampir dua jam lamanya berputar, memutari para pedagang seperti tawaf dalam pasar, naik turun tangga. Para pedagang yang saya lewati sesekali menggoda dan menawarkan dagangannya. “Boleh mas”.. Sesekali melihat barang-barang di etalase dan bertanya harga. Menawar harga padahal tidak bawa uang banyak.
Uang di kantong hanya cukup untuk ongkos angkot dan sebagian tersimpan dalam kartu busway. Hmm. Harga sangat tinggi. Menawar hanya untuk memastikan kalau dia akan bilang “sudah harganya mas” dan sudah segitu tidak bisa ditawar lagi. Berbicara sendiri, semua pedagang akan bilang “sudah harganya atau modalnya” Yang dikejar apa sih kalau belanja? Bertanya-tanya dalam hati.
Memang niatnya tidak untuk berbelanja dan tidak untuk membawa pulang barang-barang dan memenuhi lemari dengan koleksi isi pasar.
Niat untuk melihat budaya berujung pada tawaf, berputar ditempat dan jalan yang sama. Ahahaha… Untuk pertama kalinya tawaf di pusat perbelanjaan. Pekerjaan yang paling membosankan. Untung tidak ada teman yang saya ajak melihat-lihat perkembangan budaya konsumsi masyarakat. Mungkin dia akan bertanya “sejak kapan kamu mulai menyukai bertawaf di pusat perbelanjaan?” (Use’).
