
(Ustadzah Chaeranah Ida Muthiah)
Ketika menyebut nama Fathimah binti Rasulullah shallu alaihi wa aalihi maka yang terbersit dalam benak kita adalah Keindahan dan Kemulyaan yg tak terlukiskan.. mengingat nama nama yg disandarkan pada nya adalah merupakan derajat pencapaian tertinggi dari manusia yg memiliki “hubungan kedekatan” antara dirinya degan nama yg dilekatkan padanya.
Nama-Nama Sayyidah Fatimah yang disandarkan padanya memiliki makna yg menunjukan kemuliaan dan keagungan beliau:
1. Fatimah
“Karena Allah menjauhkannya dan menjauhkan orang yang mencintainya dari Api Neraka.”
2 Az-Zahra
“Karena ketika Fathimah berdiri (sholat) di mihrabnya, cahayanya memancar bagi penghuni langit seperti memancarnya cahaya bintang pada penduduk bumi.”
3. As-Siddiqoh
“Karena ia tidak pernah berdusta sekalipun.”
4. Al-Mubarokah
“Karena pancaran berkah darinya.” — ( Khasanah Ahlulbait).
Alquran menyebutkan hakikat manusia adalah rohnya, maka dalam diri manusia ada nafs Tuhan Q.S. Al-A’raf: 189
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya agar dia merasa tenang kepadanya.”
Rasa tenang yang dimaksud pada kalimat tersebut adalah dorongan tarik-menarik antara laki-laki dan perempuan yang menampik unsur-unsur hewani dan nabati. Sakinah atau Ketenangan yang ada pada diri perempuan karena dia adalah manifestasi dari rahmat Allah. Dari mana adanya rahmat? Dari rahim-Nya. Perempuan memiliki rahim yang diambil dari kata rahmah. Rahmah ini memiliki ketenangan, sakinah. Fungsi perempuan memberi uns, sakinah dan menjadi teman. Uns perempuan diberi kedudukan untuk dilamar.
Hal ini tidak memiliki unsur materi. Adalah sesuatu yang diberi setelah fungsi telah ada, dan untuk memenuhi fungsi yang lain hingga kemanusiaanya berlangsung. Namun hal ini bukanlah tujuan. (Sebagaimana Freud menafsirkan dorongan manusia hanya imanijanasi psikologi.) Sementara Al-Quran menjelaskan penciptaan Adam dan Hawa untuk memberi dorongan spiritual untuk rasa tenang. Allah menciptakan alam semesta karena sunnah; semua berpasangan agar daya nya berfungsi. seperti menciptakan laki-laki dan perempuan.
Allah menciptakan kedua jenis ini hingga ada daya tarik-menarik. Manusia memiliki daya tarik-menarik bukan karena dirinya hewan. Melainkan daya tarik menarik secara fikiran yang sifatnya Ilahiyah, karena dorongan cinta kepada Allah. Adapun Orang yang memiliki daya tarik menarik karena dorongan syahwat semata maka dia mirip dengan hewan. Allah menciptakan fisik manusia dari tanah , dan ruhnya dari ruh Allah.
Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu. “Ayat ini menggunakan kata “kholaqa” berarti “menciptakan dengan bahan. Dalam hal ini bahan dinisbatkan dengan jasad yaitu alam, debu dan tanah. Proses penciptaan yg digambarkan oleh Alquran ini berlanjut dimadrasah wahyu dirumah Nabi saw. Pertumbuhan roh dan jasadiyah putri kesayangan Nabi ini adalah wahyu maka dapat dipastikan jalan pengetahuan adalah Wahyu yaitu Alquran. Sifat dan karakter yg ada pada diri sayyidah Fathimah terbentuk melalui diri Rasul, yaitu cara hidup dan kulturnya bercarachter wahyu, maka pembiasaan diri dan keakraban bersama Alquran tidak terpisahkan dalam kehidupan Fathimah binti Rasulullah saw.
Inilah kemulyaan dan keagungan yang tinggi, mengantar sayyidah Fathimah memiliki sifat yg hakiki dan maqam kedekatan dengan Allah swt. Sungguh sangatlah jauh untuk dilukiskan keadaan maqam “seorang hamba” yg benar benar memusatkan dirinya kepada Tuhannya dengan mengenali dan memahami kehadiran dirinya adalah pencinta setia yang hanya menghamba pada Penciptanya , maka hak hamba menerima kelayakan pujian dari Tuhan nya atas pencapaian diri yg sesuai dengan kriteria kedekatan yang maha dekat; yaitu kerelaannya menjauhi “kehendak jiwanya sendiri dengan mendahulukan kecintaaanya pada Allah semata.Senada dengan firmanNya: Qur’an al-ankabut:69
“Menempatkan dunia jauh dari punggungnya dan meletakan kebenaran sebagai langkah dihadapannya.”
“Dan orang orang yg berjihad untuk mencari keredhoan , Kami benar benar akan tunjukan kepada mereka jalan Kami . Dan sesungguhnya Allah benar benar beserta orang orang yang berbuat baik.”
Abu Qasiem Abd Karim Al Qusyairi (465H/1072M). Mengartikan cinta sebagai mementingkan Kekasih dari sahabat. Maksudnya mementingkan hal hal yang diredhoi Kekasih, (dalam hal ini Allah swt). daripada kepentingan ego, jika kepentingan tersebut bertentangan dengan ketentuan Allah. Karena Cinta kepada Allah adalah kualitas yang mengejawantah pada diri seseorang sehingga menghasilkan ketaatan,penghormatan,dan pengagungan kepadaNya. Sehingga ia mementingkanNya dari selainNya.
Anda menemukan dia tidak menoleh kepada dirinya lagi,selalu dalam hubungan harmonis dengan Tuhan melalui Zikir, senantiasa menunaikan hak-hakNya,memandang kepadaNya dengan mata hati terbakar hatinya oleh sinar hakekat ilahi, meneguk minum dari cinta kasihNya maka tabir pun terbuka baginya sehingga Sang yang maha hadir tirai tirai gaibNya, maka tatkala berucap, dengan Allah lah ia dan tatkala berbicara dan bergerak atas Perintah Allah ia, dan tatkala diam pun sungguh bersama Allah lah dia. ( Abd Qasim Al Junayd 297H/910M ).
Kemudian Alquran bercerita pula tentang hamba hamba kekasih Allah ini dengan bahasa yang istimewa; “Ketika Allah meminta mereka untuk hadir , maka mereka hadir, ketika diminta agar menjaga ilmu,merekapun menjaganya, ketika diminta agar bersaksi kepadaNya maka merekapun bersaksi dan mengandalkan dalilNya dengan redho menjadi dalilNya. Pada kesempatan ini, saya ingin mengutip sekelumit dari kepribadian beliau yang agung, untuk kita jadikan,”panduan khusus” bagi kehidupan perjalanan kita sebagai hamba yg juga punya kehendak “mendekat“ pada Allah swt.
(Apakah itu perempuan ataupun laki laki,) hal ini dikarenakan kelalaian manusia akan hakikat wujud kemanusiaanya, memposisikan dirinya untuk terjebak oleh tipuan duniawi Namun sekiranya , manusia memahami keterasingan jiwanya , ini pun mampu menghantarkan dirinya pada fitrah yg selalu ingin mendekat pada Kesempurnaan itu yaitu dengan mengenali Tuhan saat dia mulai memahami dirinya dan mengetahui tugas yang harus ia lakukan dan pertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak. Inilah Sayyidah Fatimah putri Nabi saw Dalam doanya, beliau sering berucap, “Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.”
Setiap bait dari munajat ini memberi kita gambaran akan kesempurnaan jiwa yang begitu indah , jiwa yang mengenali jati diri dan menyadari keberadaan akan kemulyaan “nya”. Ketika seseorang singin mengajak orang lain agar berachlak atau beretika yg baik dengan menghidupkan kembali nilai nilai kemanusiaan nya, maka dia harus mengarahkannya agar mengenal bathin dari eksistensinya atau jati dirinya, yaitu jiwanya yang berfikir .. yg merupakan hakekat eksistensinya. (Murthada mutahhari “Seputar Pendidikan”). Mengenal diri dan eksistensinya adalah memahami segala sesuatu diciptakan untuk tujuan atau fungsi tertentu. Dan jika tujuan atau fungsi itu lenyap maka sesuatu itu dianggap tidak ada.
Alqur’an selalu menyebut orang orang yg tidak memanfaatkan organ organ tubuhnya dengan firmanNya; “Bisu,tuli,buta sehingga mereka tidak dapat berfikir” demikian hal nya dengan hamba yg kehilangan eksistensi kemanusiaannya karena enggan beribadah dan mengasah kesempurnaan diri melalui kesempurnaan ibadah penghambaannya maka tak ubahnya dengan binatang ,bahkan lebih rendah dari itu. “Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat.. Redho dan ichlash karena kecintaan nya pada Allah adalah perbendaharaan Fathimah yang menerangi jiwa semesta dengan Baraka nama yg disandarkan kepadanya ; Al Mubarakah. Dalam hal ini Keikhlasan beramal adalah Titian shirath yg menuntun dan menguatkan hamba menuju keselamatan dan kemenangan abadi.
Manusia yang memiliki jiwa keikhlasan akan terbebas dari seluruh belenggu hawa nafsu dan akan sampai ke tahap penghambaan murni. Keikhlasan memberi seseorang achlak yg ber karakter Mulia dengan keindahan yg menenangkan, kebaikan yang membahagiakan dan kejujuran yang menyelamatkan. Pandangan ini mengingatkan kita sebuah cerita yg dikisahkan dalam kitab Quutul Quluub (Abu Thalib Al makki). Adalah seorang hamba telah beribadah kepada Allah swt selama 70 tahun . Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yg memberinya berita gembira bahwa dia akan dimasukn ke dalam Surga dengan Rahmat Allah.
Namun di dalam hati hamba ini terbesit kata “aku akan di masukan surga berkat amalku” Allah mengetahui apa yg terbersit dalam hati hambaNya, kemudian Allah memerintahkan keringat hamba itu bergerak ditubuhnya maka sekejap saja hamba itu mulai tidak stabil dgn keadaannya sehingga ibadahnya terganggu karena sibuk memperhatikan kesempurnaan amalannya. Kemudian Allah memerintahkan keringat itu tenang kembali sehingga hamba itu kembali beribadah dgn tenang. Lalu Allah menurunkan wahyu pada hamba tsb bahwa ; “sesungguhnya Ibadahmu hanya sebanding dengan satu tetes keringat yang tenang”. Kemudian hamba ini berdoa” Yaa Allah masukanlah aku kedalam surga dengan rahmatMu.
Rasulullah menggambarkan Sayyidah fathimah dengan sabdanya;”Allah memberi keutamaan dan kemuliaan kepada Fatimah karena keikhlasan dan ketulusan hatinya.” Kemudian Mari kita belajar mendalami baris doa Sayyidah Fatimah dalam munajatnya; “Ya Allah, aku bersumpah dengan ilmu ghaib yang Engkau miliki dan kemampuan penciptaan-Mu. Berilah aku keikhlasan. Aku ingin aku tetap tunduk dan menghamba kepada-Mu di kala senang dan susah. Saat kemiskinan mengusikku atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap berharap kepada-Mu. Hanya dari-Mu aku memohon kenikmatan tak berujung dan kelapangan pandangan yang tak berakhir dengan kegelapan.
Ya Allah, hiasilah aku dengan iman dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk.” Kecintaan Fatimah AS kepada Tuhan disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu Fatimah sedemikian dalam,sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya.” Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji. Asma’, salah seorang wanita yang dekat dengan Sayyidah Fatimah mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih santun dari Fatimah. Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang Mahabenar. Hanya orang yang terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa memiliki perilaku dan kesantunan yang suci .
Jakarta, 24 Maret 2019