(Husein Ja’far Al-Haddar)

By: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Hadits Nabi Tentang Fathimah:

أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ، حِبُّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟» ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»

“Sesungguhnya orang-orang Quraisy mengkhawatirkan keadaan (nasib) wanita dari bani Makhzumiyyah yang (kedapatan) mencuri. Mereka berkata, ‘Siapa yang bisa melobi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid yang dicintai oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Maka Usamah pun berkata (melobi) rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk meringankan atau membebaskan si wanita tersebut dari hukuman potong tangan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, ‘Apakah Engkau memberi syafa’at (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdiri dan berkhutbah,

‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’

(HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688

Tidak ada sosok perempuan yang lebih penting ketimbang Fathimah. Fathimah dalam hadis populer itu, mendapat ancaman langsung dari ayahandanya sendiri. Bahwa jika tidak menaati hukum, jangankan orang lain, yang akan menghukummu , saya ayahmu sendiri yang akan menghukummu. Sepintas lalu hadis ini menjelaskan integritas dan kepastian sebuah hukum. Fathimah, tidak menyombngkan diri meskipun dididik oleh ayahnya dalam sekolah Kenabian. Fathimah tidak membanggakan diri karena lahir dari Rahim kenabian, lantas menabrak semua sistem hukum dan melanggar asas manfaat dalam masyarakat.

hari ini, fenoemena perpolitikan semakin grasak grusuk, berjubah kewibawaan dengan dalih dia adalah anak dari ulama besar, atau lahir dari Rahim pejabat, lantas leluasa melanggar konstitusi. Belum lagi, lembaga negara, departement, kementrian, sekolah dan kantor dinas lainnya, hampir menerapkan sistem yang sering kita sebut “Orang dalam”. Dari orang dalam ini bermula, transaksi jabatan, jual beli kursi, bahkan sampai pemenangan partai pun, lembaga yang harusnya independen juga ikut berlumpur. Integritas hukum sudah dipermainkan.

Dengan bercermin kepada keluarga Nabi, nilai menjadi toak ukur dari keadilan, Nabi Muhammad sendiri menghukum anaknya. Padahal kita tahu, posisi yang paling tinggi adalah Kenabian, tidak bisa dibandingkan dengan posisi pejabat kementrian, pejebat istana negara atau pemimpin partai politik. Nabi yang dijamin masuk syurga langsung dari Allah, serta pemegang kendali hukum syariat, boleh saja konkalikong dengan Allah, atau bahasa sederhananya berdo’a kepada Allah untuk mengampunkan dosa anaknya Fathimah. Dan pasti terkabulkan, belum pernah ada riwayat menjelaskan, bahwa do’a Nabi Muhammad ditolak.

Menyadari posisinya sebagai Nabi, yang sudah terjamin dosanya diampuni, namun beliau tetap berpesan kepada anaknya sendiri untuk berbuat baik dan tidak melanggar hukum Allah dan hukum masyarakat. Fathimah juga anak yang taat, serta tidak membanggakan diri karena anak Nabi, justru posisi beliau sebagai keluarga nabi, membuat situasi sangat sederhana dan tidak menyantap makanan diatas rata rata makanan penduduk miskin saat itu. Dalam pekerjaan, dan ibadah pun, Fathimah selalu prioritas berdo’a untuk keselamatan tetangga dan umat abahnya, diatas keluarganya sendiri. Sehingga anaknya al-hasan bertanya “ibunda, mengapa engkau selalu mendoakan orang lain ? sementara kami keluargamu tidak pernah ?” Fathimah menjawab “hak tetangga dulu baru keluarga”.

Fathimah dalam budaya literasi, akan mampu memperbaiki sistem tatanan bermasyarakat kita. Sebab, Permasalahan yang ada, karena sosok beliau belum terungkap secara terang dan jelas. Melalui literasi kita gaungkan sosok fathimah, dan memperkenalkan sebagai satu satunya sosok perempuan yang layak diidolakan generasi zaman now. Sementara, Literasi yang kita geluti di indonesia hanya mencapai 0,01 %. Padahal tradisi literasi bukan hanya pada tulisan dan buku, melainkan juga bisa pada konten media sosial. Semua itu adalah lterasi secara umum, sembari mengikuti zamannya. Sesuai zaman yang berkembang, Literasi harus selalu menembus batas bukan hanya terpaku pada membaca buku dan menulis tulisan.

Literasi selalu digaungkan dalam arti media sosial dan alat eletronik gadget. Bisa kita bayangkan, ada link google disebut portal garuda, isinya adalah banyak karya ilmiah dan journal. Jika, kita masukkan “Fathimah” seabgai kata kunci, ternyata sudah ada 30 an, namun sayang, bukan berbicara pada sosok Fathimah, tetapi malah berbicara rumah sakit siti Fathimah, dan Fathimah vesi umat kristiani. Hanya ada sekitar dua skripsi dari aspek pendidikan dan novel yang membahas sayyidah Fathimah. Begitupun dengan universitas dan sekolah tinggi Islam lainnya, sangat jarang kita jumpai penelitian tentang Fathimah binti Muhammad.

Hanya ada beberapa buku yang menulis tentang kehidupan fathimah, seperti Ali syariati (Fathimah Is Fathimah), Muhammad Baqir shadr (Revolusi tanah fathimah az-zahra), Ibrahim amini (Fathimah Az-Zahra, wanita teladan sepanjang masa), Perempuan asal turki, Sibel Eraslan (Fathimah Az-Zahra, kerinduan dari karbala), Muhammad amin (Fathimah Az-Zahra, the mother family of heaven), ibnu sahid an-Sundy (Fathimah Az-Zahra sebuah rahasia cinta). Hanya beberapa yang menulis tentang sosok Fathimah.

Untuk membangun literasi, cara pertama adalah mengenal sosok Fathimah dengan baik. Kemudian diperkenalkan dengan literasi yang enak dan asyik. Ibnu arabi menyatakan bahwa penghubung kepada Allah, adalah kita harus mengenal siapa yang kita ziarahi. Dalam tradisi ziarah, selalu ada manaqib pembacaan historis biografi pada saat ziarah. Dan itu juga termasuk dunia literasi. Makam para waliyullah, sahabat dan keluarga Nabi juga harus dilengkapi dengan buku-buku, supaya kita mengenal baik siapa yang terbaring dibawah gundukan tanah itu.

Mengenal dari literasi diatas makam. Tapi masalahnya adalah sosok fathimah tidak diketahui makamnya. Sehingga harus menempuh budaya literasi lain untuk mengenalnya. Putri teragung Nabi Muhammad, sangat sedikit yang menulis biografinya, karena, semua kita tidak sadar diri, bahwa anak putri Muhammad yang layak menjadi teladan. Kita hanya melihat kenabian saja, seteleh itu selesai. Tanpa terlitas sedikitpun, setelah nabi ada keluarganya pun ada Fathimah contoh terbaik generasi masa kini. Namun, kita malah tidak banyak berbicara tentang Fathimah. Ini ada apa ? sehingga kita mengenal tidak detail, disebabkan literasi tentang fahimah sangat jarang.

Peran fathimah sebagai perempuan, membangkitkan perempuan pada ranah yang hanya terikat pada unsur rumah tangga saja. Ulama perempuan kita tidak mengenalnya sampai sekarang, mengapa ? karena sosok Fathimah tidak dikenal sehingga bias dan bingung mencari sosok perempuan. Masalahnya sekarang adalah, banyak yang mengidolakan tokoh perempuan dunia, seperti Sonia Gandhi, Ruth bader Ginsburg, oprah winfrey, Hillary Clinton, Indra nooyi, Christiane amanpour, Christina Fernandez de kirchner, michelle bachelet, Cleopatra, Malala yousafzai dan beberapa lainnya. Lebih mengerikan lagi idola kepada artis korea, seperti Song Hye Kyo, Kim So-Hyun, Bae suzy, Park shin-ye, kim tae-he, dan sebagainya. Tapi ironis, justru kita tidak mengenal sosok perempuan seperti Fathimah.

Jika dikenal, Fathimah lebih banyak dikenal dengan perjalanan cinta dengan Ali, beliau tidak dikenal dengan literasi keilmuan yang tinggi. Memperkenalkan fathimah dalam bentuk Fathimah is ideology. Melalui ideology dan ideology akan menyelematkan kita melalui jalur literasi. Sebagai contoh terakhir ideology Fathimah. Beliau sering mengaku puasa, pada saat Ali datang tidak membawa makanan. Dan memberikan santapan buka puasanya kepada pengemis yang datang.

Keilmiahan ideologi, harus menjadi dasar untuk memperkenalkan Fathimah. Agar menyampaikan harus enak dan terpercaya, sember dan sanadnya yang Tsiqoh. Tradisi literasi dalam islam diberikan syarat yang sangat ketat, salah satu contoh adalah yang kencing sembarang tidak boleh menjadi perawi. Ada kemungkinan berbohong karena memiliki akhlak yang tidak baik. Dan sebagainya. Semoga budaya literasi kita makin menguat demi memperkenalkan sosok perempuan agung sepanjang masa putri Nabi Muhammad Fathimah Az-Zahra.

Jakarta, 20 maret 2019

Tinggalkan komentar