(Kajian Rumah Fathimah Ustadzah Andi Arifah SE)

By: Husein Haidarullah Muqimuddin

Santri Khatamun Nabiyyin

Tokoh-tokoh perempuan islam inspiratif sepanjang zaman, dalam al-quran banyak sekali menyebutkan tentang itu, kaitannya dengan pembahasan kita kali ini tentang isu-isu kontroversial keperempuanan menjadi corak spesifik. Materi-materi 14 jejak Fathimisme yang lain mengangkat tema-tema umum yang berkaitan tentang pemikirannya sayidah Fatimah Az-zahra akan tetapi kita mengangkat tema yang spesifik tentang tokoh-tokoh perempuan dan pandangan-pandangan mereka sebagai perempuan yang membahas tentang kasus-kasus keperempuanan. Ada beberapa perempuan yang dibahas di dalam Al-quran, diantaranya:

1. Hawa
Dia adalah ibu dari seluruh umat manusia, tidak ada kehidupan jika adam saja tanpa hawa, dan tidak ada manusia selanjutnya jika adam sendiri, oleh karena itu dia adalah salah satu perempuan yang disampaikan dalam kitab suci ilahi, ia memiliki pengaruh terhadap kesinambungan kehidupan manusia dan beliau memiliki peran, yaitu pada Qur’an surah An-Nisa ayat 1, kemudian pada surah Al-An’am ayat 98, pada surah Al-a’raf ayat 189 dan az-zumar ayat 6.

2. Siti Hajar
Dia adalah salah satu istri nabi Ibrahim dan beliau memiliki jejak perjuangan, sampai sekarang dirasakan oleh seluruh kaum muslimin, diantaranya: air zam-zam, ka’bah di mekah, juga peran besar dalam membesarkan Nabi Ismail, kemudian beliau membentuk sebuah system agama hanafiyah di negeri arab pada zamannya.

3. Zulaikha
Pengakuan cinta yang hakiki, semua mengetahui tentang kisah cinta zulaikha dengan Nabi Yusuf As, karena cerita tentang nabi yusuf adalah salah satu cerita yang paling panjang dan paling menarik dan paling lengkap di dalam Al-quran. Anehnya, jika kita mengangkat tentang zulaikha, maka yang terpatri di dalam pikiran kita, dia adalah penggoda, karena kita melihat peran zulaikha dalam proses kehidupan nabi yusuf sebagai salah satu penyebab nabi yusuf masuk kedalam penjara dan digoda oleh para perempuan-perempuan lainnya, walaupun pada akhirnya zulaikha bertobat dan menikah dengan nabi yusuf dan ini kebanyakan dijadikan orang sebagai sebuah alasan kalo perempuan itu penggoda.

Jadi, konotasinya jadi negative, dan sedikit sekali yang melihat kisah nabi Yusuf As bukan dari sisi penguatan karakter nabi yusuf, yang bagaimana dia tidak mudah tergoda, mengapa selalu melihat zulaikha sebagai penggoda. Juga, zaman sekarang yang menyalahkan perempuan, adan pemerkosaan karena perempuannya yang tidak memakai jilbab, dan berpakaian yang tidak tertutup, jadi wajar saja kita tergoda.

4. Asiyah binti mazahim
Sang penyelamat laki-laki, dan pada saat ini yang terdengar yang melindungi itu laki-laki terhadap perempuan, akan tetapi jika kita melihat dalam kisah asiyah, dialah yang menyelamatkan bayi Nabi musa terhadap genosida pembunuhan massal bayi laki-laki oleh firaun, bahkan menjaga sampai membesarkannya di istana fir’aun sendiri.

5. Balqis
Salah satu ratu pemimpin yang diceritakan dalam al-quran pada surah An-naml ayat 29-44, dan kita bisa melihat bagaimana proses politik anggun yang dilakukan oleh ratu balqis sebagai pemimpin, bagaimana al-quran mengisyaratkan bahwasanya dia yang bisa untuk memimpin dan menciptakan masyarakat yang makmur, walaupun pada saat itu kepercayaan masyarakatnya belum mengenal ketauhidan, akan tetapi keputusan-keputusan politik yang ia hadapi dan negoisasi yang ia lakukan pada Nabi Sulaiman itu adalah hal yang luar biasa, dan akhirnya itu dijadikan perjalanan spiritual dan intelektual dia di dalam menemukan kebenaran.

6. Maryam
Dia adalah ibu perawan sang bunda dari Nabi Isa, walaupun ada yang eatakan bahwa beliau menerima waahyu, tapi tetap bukan Nabi. Karena secara masyhur kita ulama muslim tidak menerima konsep nabi perempuan, walaupun kita meyakini seseorang yang bisa berbicara dengan malaikat jibril itu adalah anugrah yang sangat luar bisa dan ini menunjukan berarti ia memiliki intelektual dan spiritualitas yang tinggi.

7. Fathimah Az-Zahra Binti Muhammad
Di dalam hadist Rasulullah Saw dikatakan bahwa Fathimah Az-Zahra adalah penghulu semua perempuan, dan saking hebat dan istimewanya beliau seluruh perempuan-perempuan yang hebat di dalam al-quran sebagaimana yang telah disebutkan, semua karakter terangkum di dalam diri putri Nabi Muhammad Sayidah Fathimah Az-Zahra.

Dan terdapat hadist Rasul, bahwasanya sebaik-baiknya perempuan ahli surga ialah: Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim.Untuk melihat bagaimana ajaran islam secara umum melihat sayidah Fatimah az-zahra secara khusus tentang isu-isu kontroversial perempuan, maka kita harus melihat realitas kondisi perempuan pada masa hidupnya.

zaman pra islam kita ketahui para wanita tidak mendapatkan hak-hak mereka, diantaranya: seperti harta warisan, nafkah, mahar dan lain-lain. Karena pada zaman jahiliyah mereka merasa malu jika memiliki anak perempuan sehingga mereka membunuh dan menguburkannya hidup-hidup dikarenakan mereka takut miskin, malu dan takut diejek dan hal itu disinggung pada surah takwir dengan redaksi “biayyi dzanbin qutilat” yang bermakna karena dosa apakah bayi perempuan mereka dibunuh dan dikubur hidup-hidup.

Isu keperempuanan, ada isu feminiside, dan itu adalah tindakan dan gerakan pembunuhan perempuan secara massal, jadi karena perempuan berkarakter lemah dan dianggap tidak berguna serta memalukan dan akhirnya dibunuh, dan pembahasan ini sebenarnya sudah muncul pada pembahasan gender saat ini, dan realitas sudah terjadi pada zaman Rasulullah Saw bahkan masa sebelumnya. Islam sangat menekankan untuk memaksa manusia berpikir kenapa bayi perempuan harus dibunuh kalo hanya dia perempuan.

Hikmah keberadaan sayidah fathimah az-zahra, pada masa ketika harga perempuan sederajat dengan harta benda dan budak yang dimiliki, menarik karena pada kondisi seperti itu, malah lahir seorang putri dari dua insan yang derajatnya lebih tinggi daripada seluruh alam semesta. Kondisi orang-orang arab yang dihadapi oleh Rasulullah Saw memandang perempuan serendah-rendahnya. Karena mereka tidak mendapatkan hak waris, nafkah, bahkan mereka tidak diberikan akan hak kemandirian dalam bekerja. Namun, pada kondisi tersebut Rasulullah Saw bangga memiliki anak perempuan bersama istrinya yang merupakan tokoh kontroversial pada era jahiliah itu, khadijah salah satu tokoh perempuan yang mendobrak issue perempuan itu lemah.

Pada masa ramainya pembunuhan bayi perempuan, ia hidup dan memberi kehidupan kepada orang-orang yang mati suri oleh budaya kejahiliaan, jadi kalo kita melihat spirit perjuangan nabi yaitu memperjuangkan perempuan, diutusnya para nabi kepada suatu kaum ketika kondisi perempuannya itu benar-benar direndahkan, pada saat rasulullah diangkat menjadi nabi di gua hiro, orang yang pertama kali meyakini atas kenabiaannya adalah perempuan yaitu khadijah, oleh karena itu memberikan kelayakan kepada harga diri kaumnya yang mati pada perempuan jahiliyah seperti itu benar-benar harga dirinya berada dititik paling rendah untuk mengenali dirinya.

Bersama dengan tumbuhnya wahyu yang mekar dan menebarkan wangi di dunia dan dia adalah sosok abadi bagaikan telaga kautsar yang karunianya terus mengalir. Karena pada dahulu kala terdapat salah satu tuduhan kepada Rasulullah Saw yang berkaitan dengan surah al-kautsar, dikatakan Rasulullah ini ia abthar yaitu orang yang tidak memiliki keturunan. Namun, pada saat ini kita mengenal istilah sayid, habib, syarifah dan itu adalah keturunan rasulullah melalui garis putrinya perempuan, dan walaupun gelar-gelar tidak menafikan kedudukan yang luar biasa yang dimiliki oleh sepupu Rasulullah Swt sekaligus menantu yaitu Ali bin Abi Thalib.

Kelahiran Sayidah Fatimah Az-Zahra dan perlakuan istimewa Rasulullah padanya merupakan warisan dan salah satu ajaran beliau untuk memuliakan dan mempercayai ketangguhan perempuan. Jadi, hikmah dari keberadaan sayidah Fatimah az-zahra dalam proses dakwah Rasulullah adalah menekankan Rasulullah mewariskan kepada kita akan bagaimana islam memuliakan perempuan semulia-mulianya.

Kalo kita melihat Sayidah Fatimah az-zahra sebagai seorang perempuan, beliau telah memberikan teladan banyak kepada kita, dan terdapat isu-isu kontroversial keperempuanan tentang kedudukan penciptaan perempuan. Persoalan dari segi agama yang sampai sekarang masalahnya selalu dibahas dan diperdebatkan dan belum ditemukan kata sepakat adalah asal kejadian perempuan? Dan karena itu banyak orang-orang yang berstatemen perempuan itu manusia atau bukan?

Dan salah satu stateman filosof yang besar dan masyhur seperti aristoteles pun menyatakan definisi perempuan itu adalah setengah dari laki-laki. Ini kalo kita memahami kata ini secara tekstual, mungkin kita akan mengatakan pada aristoteles kenapa ia begitu tega seperti itu? Menyatakan perempuan setengah manusia atau manusia yang gak jadi. Kemudian banyak pendapat-pendapat lain tentang spekulasi-spekulasi yang muncul tentang perempuan adalah makhluk jelmaan iblis dan sebagainya. Itu memang adalah hal yang harus diluruskan dan melalui rasulullah dan melalui bagaimana ia memperlakukan sayidah Fatimah az-zahra dan melalui kehidupan sayidah Fatimah az-zahra itu menunjukan statemen-statemen seperti itu tidaklah benar.

Kebanyakan dari kita kaum muslimin, belum begitu mengenal tentang sosok biografi sayidah fathimah az-zahra, nama beliau adalah Fatimah az-zahra merupakan putri keempat dari pasangan Rasulullah Saw dan Khadijah Al-Kubra dan beliau memiliki begitu banyak julukan dan dari julukannya kita bisa lebih mengenal beliau, karena tidak mungkin dia dijuluki sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya. Az-zahra itu merupakan salah satu julukan beliau yang bisa kita maknai dengan bunga dan yang lebih tepatnya bisa kita maknai cahaya, karena rasulullah memuji Fatimah itu laksana cahaya dan cahaya pada sayidah Fatimah disini bukan bermakna tekstual seperti lampu yang bercahaya, akan tetapi sayidah Fatimah az-zahra itu adalah salah satu sinar yang dikeluarkan oleh cahaya islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw.

Gelar lainnya yang dimiliki sayidah Fatimah Az-Zahra adalah as-siddiqoh, at-thohiroh. Beliau dilahirkan di Mekah, 20 jumadil a- tsani pada tahun 5 setelah bi’sah pengangkatan rasulullah, beliau wafat pada 13 jumadil awwal atau terdapat pendapat lain yaitu 3 jumadil ats- tsani pada usia 18 tahun dan beliau wafat pada usia yang sangat muda, beliau menguraikan berbagai keagungan pada umur tersebut. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib pada 1 Dzulhijah tahun 2H, kalo misalnya orang-orang muda diluar merayakan hari valentine sebagai hari kasih sayang, maka seharusnya kita sekarang mendaulat bahwaa hari ini sebagai hari kasih sayang, karena seharusnya hari kasih sayang itu ditunjukan bersatunya dua manusia yang agung dengan niat suci dan tentu saja dengan ikatan suci.

Peran Fatimah az-zahra pada pergerakan rasulullah Saw disini semenjak masa kandungannya, ayah dan ibu beliau mengalami tekanan politik yang sangat dahsyat, beberapa tahun setelah bisah kita ketahui bahwasanya masa dakwah fase rasulullah Saw itu terbagi menjadi 2 fase. Fase yang pertama adalah fase yang tertutup da kedua adalah fase terbuka. Pada fase tertutup rasulullah mendakwah kepada para keluarga dan sahabat terdekatnya, bisa langsung menerima islam dan ini dijalani selama 3 tahun. tahun keempatnya rasulullah Saw mulai dakwah terbuka, dan tanggapan orang-orang kafir quraisy pada saat itu sangat keras, menolak ajaran rasulullah sampe memboikot, sampe menghina beliau dan bahkan ingin membunuh rasulullah Saw.

Jika kita melihat tahun kelahiran sayidah Fatimah az-zahra, maka kita akan dapatkan bahwa beliau dikandung pada masa Rasulullah sudah berdakwah secara terang-terangan. Secara otomatis kandungan sayidah Fatimah yang berada di Rahim sayidah khadijah sedang mengalami berbagai tekanan dan goncangan dari orang-orang kafir quraisy. Apabila kita mengetahui kisah akan kelahiran sayidah Fatimah az-zahra, maka kita akan bersedih dikarenakan semua orang-orang dan para tetangga yang berada disekitar, menjauhi diri dari sayidah khadijah diakibatkan ia merupakan istri dari nabi Muhammad Saw yang melakukan revolusi, yang melakukan perlawanan adat dan budaya jahiliyah pada saat itu. Konon ketika sayidah khadijah hendak ingin melahirkan tidak terdapat wanita seorang pun yang ingin membantunya, dan beliau dibantu proses persalinannya oleh perempuan-perempuan suci sebelumnya, seperti siti sarah, Maryam, asiyah, dan hawa.

Pada saat dalam kandungan terdapat sebuah teori yang masyhur dalam parenting yang kita ketahui, bahwasanya bayi dalam kandungan seorang ibu sudah bisa merasakan akan emosional kedua orang tuanya entah dari sisi kesusahannya, kesulitannya yang dialami maupun kesedihan. Apabila seorang anak sudah bisa diajarkan pada saat proses kandungan, itulah masa didikan awal yang dialami sayidah Fatimah az-zahra dalam kandungan sayidah khadijah. Ditekan oleh berbagai kaum kafir quraisy ketika mendakwahkan islam dan beliau merasakan pula tekanannya semasa dalam kandungan ibunya dan bisa kita bayangkan bayi sayidah Fatimah az-zahra akan lahir dalam bentuk yang sempurna karena beliau sudah teruji dan terdidik berbagai ujian semenjak dalam kandungan.

Di masa kanak-kanaknya beliau menyaksikan ayah dan para sahabat-sahabatnya disiksa dalam pemboikotan. Karena beliau lahir pada tahun ketiga setelah bi’tsah, beliau hadir ketika rasulullah sudah melakukan dakwah secara terbuka, dan sebelum rasulullah berhijrah. telah terdapat musibah yang sangat menyedihkan yaitu meninggalnya kedua orang yang sangat berperan besar dan mendorong rasul dalam berdakwah yaitu pamannya : Abu thalib dan sayidah khadijah, umur sayidah Fatimah pada saat itu 5 tahun dan beliau mendapatkan gelar “Ummu Abiha” yang bermakna ibu dari ayahnya, lalu kenapa bisa diberi gelar ummu abiha atau ibu dari ayahnya? Dikarenakan rasulullah telah kehilangan khadijah yang telah mendukung dari awal perjuangan rasulullah dan yang telah memberikan pengakuan kenabian padanya dari semua orang sebelumnya.

Sayidah Fatimah Az-Zahra telah menyaksikan wafat ibunya, maka dialah yang menjadi harapan ayahnya untuk membantu berbagai hal dalam perjuangan dakwah ayahnya. Bayangkan anak yang masih kecil yang berusia 5 tahun, justru itulah yang mengobati hati luka dari ayahnya, ketika rasul dilempari batu dan ketika hampir dibunuh maka sayidah Fatimahlah yang menyembukan luka ayahnya Muhammad dan yang menyediakan berbagai domestic pengobatan rasul, sehingga dengan semua hal itulah beliau dijuluki “Ummu Abiiha”.

Ada salah satu ayat, asbabun nuzulnya berkaitan dengan sayidah Fatimah Az-Zahra yaitu “peristiwa mubahalah” pada surah Ali Imran ayat 61, ketika Rasul mendakwahkan islam kepada kaum nasrani najran dan para pengikutnya dengan menyeru ajaran islam dengan konsep ketauhidan dan menyeru bahwasanya Rasulullah adalah nabi untuk zaman ini, akan tetapi mereka malah menolak apa yang didakwahkan oleh Rasulullah saw dan mereka malah mengajak rasul untuk bermubahalah, mubahalah disini bermakna bersumpah dan berdiri pada pihak yang paling benar.

Tokoh-tokoh yang dibawa oleh rasulullah Saw yaitu Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu sahabat rasul yang setia dan sayidah Fatimah Az-Zahra yang sebagai putrinya rasul, beserta kedua anak dari keduanya yaitu Hasan dan Husein. Penekanan point bahwasanya proses mubahalah adalah proses pengangkatan wibawa islam di mata umat dunia, islam ditantang oleh kaum nasrani najran untuk menentukan mana agama yang paling benar ketika bermubahalah. Terdapat sosok seorang perempuan yang diajak oleh Rasulullah Saw pada peristiwa mubahalah tersebut. Inilah yang menentukan wibawa islam untuk melibatkan selalu perempuan, bahkan anak-anak pun harus diajak bukan hanya laki-laki saja yang menentukan. Selama ini yang selalu diremehkan dalam pandangan masyarakat adalah perempuan dan anak-anak.

Pentingnya hijab merupakan permasalahan sosial untuk perempuan, agar mereka tidak memandang dan tidak dipandang oleh laki-laki dan ini akan terdapat uraiannya pada pembahasan tentang hijab. Karena kalo kita hanya melihat secara tekstual, kesannya terdapat kontradiksi dengan apa yang Fatimah Az-Zahra lakukan dengan beberapa-beberapa riwayat, dan akan dijelaskan selanjutnya.

Terdapat beberapa peran lainnya yang sayidah Fatimah Az-Zahra lakukan di masa Rasulullah Saw yaitu:
1. Mengadakan pendidikan khusus bagi perempuan.
2. Meladeni pertanyaan-pertanyaan sahabat.
3. Menyampaikan ilmu pengatahuan
4. Membaktikan diri secata total untuk fakir miskin.
5. Kemampuan memanagemen pemerdayaan perekonomian umat.
6. Memperhatikan kehidupan janda-janda perang.

Hak-hak kontroversial dalam islam yang masih terus diperbincangkan yaitu tentang harta warisan yang dimana perempuan-perempuan pada protes pada islam katanya adil, lalu kenapa kami hanya mendapat warisannya satu banding dua. Seharusnya para perempuan lebih bersyukur akan adanya islam karena dahulu kala para perempuan itu dijadikan objek warisan pada zaman jahiliyah. Dan ini berarti perempuan itu tidak lebih seperti alat pertukaran ekonomi untuk transaksi jual beli, membayar hutang dan sebagainya.

Masalah selanjutnya adalah poligami dikarenakan ia merupakan masalah kontroversial yang banyak para perempuan-perempuan menolaknya dan menentangnya. Sebagian besar para menjadikan sosok sayidah Fatimah Az-Zahra sebagai suri tauladan yang tidak ingin dipoligami oleh Ali bin Abi Thalib. Dan lucunya juga, mereka yang pro poligami mereka menjadikan sosok Ali bin Abi Thalib sebagai contoh juga untuk berpoligami setelah meninggalnya sayidah Fatimah Az-Zahra.

Kapasitas perempuan dalam keilmuan yang sering diremehkan oleh orang-orang, karena ujung-ujungnya perempuan hanya dirumah sehingga mereka tidaklah usah menuntut ilmu tinggi-tinggi. Kapasitas perempuan dalam spiritualitas yang sering para perempuan ini dijudge sebagai penghuni neraka. Perempuan juga tidak ada yang bisa menjadi nabi, sedangkan para laki-laki bisa jadi nabi, ini dikarenakan jika perempuan dibandingkan dengan laki-laki maka kapasitas spiritualitas dan intelektualitas keilmuan perempuan itu diciptakan dibawah standar dari laki-laki.

Hijab atau pembatasan, bahwasanya islam ini datang memberikan hijab pada perempuan untuk membatasi aktivitas perempuan, karena apa? Karena ujung-ujungnya perempuan itu dikatakan sebagai penggoda, akan membuat masalah, dan menggunakan berbagai dalil agama bahwa wanita itu harus tertutup, mereka tidak harus berhubungan dengan non mahram. Masalah lainnya adalah pelakor perebut lelaki orang dan perceraian yang selalu terbesit menjadi pelakunya adalah para perempuan yang tidak becus dalam mengurus rumah dan keluarga, serta tidak bisa melayani suami.

Pelakor yang suka mengambil lelaki orang sedangkan lelakinya itu apakah ia tidak sadar? Kalo dia sudah beristri tapi masih mau tergoda oleh perempuan, dan ini semua adalah bentuk ketidakadilan antara dua relasi kehidupan antara laki-laki dan perempuan. Tapi para perempuan lah yang divonis salah, dan contoh lainnya adalah masalah pemerkosaan yang selalu disalahkan adalah perempuan, perempuannya juga bearktivitas dan sering keluar malam hari, perlu dipertanyakan mana keadilan laki-laki yang tidak mau divonis salah dalam kesalahan yang dilakukannya.

Jadi sikap umum dari beberapa persoalan keperempuanan yang sayidah Fatimah az-zahra melihatnya dan beliau menjadikan patokannya adalah Al-qur’an untuk menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Disini sayidah Fatimah Az-Zahra berkata : ia adalah kitab Allah, mengikutinya akan memandu kepada jalan keridoan dan mendengarkannya akan mengarahkannya kepada arah keselamatan, dan dengannya akan dapat meraih hujah-hujah Allah Swt yang terang benderang, perintah-perintahnya yang jelas dan larangan-larangannya harus dijaga, dan keringanan-keringanan yang diberikan dan sunah yang dianjurkan dan syariat-syariat yang diwajibkan. Dan dengan itu sebagai dalil awal untuk mengetahui tolak ukur sayidah Fatimah Az-Zahra dalam memandang berbagai permasalahan yang berkaitan tentang keperempuanan merujuk Al-quran dan sunnah rasul.

Masalah selanjutnya yang berkaitan tentang kedudukan penciptaan perempuan, apakah ia manusia atau bukan? Ya sudah jelas mereka adalah manusia, dikarenakan begitu banyaknya ayat-ayat yang menceritakan tentang penciptaan manusia terlebih khususnya penciptaan perempuan, diantara salah satu ayatnya adalah surah an-nisa ayat 1 dan juga sayidah Fatimah az-zahra beserta para perempuan-perempuan yang hidup sezaman dengan sayidah Fatimah diperlakukan secara adil dan sama dan ini sebagai bukti bahwasanya perempuan itu adalah manusia.

Jakarta, 17 Maret 2019

Tinggalkan komentar