(Kajian Ustadz Andi Alpi. AM)

By: Salman Al-Farisi
Santri Khatamun Nabiyyin
William chittick mengatakan bahwa zaman dulu tasawwuf adalah realitas tanpa nama, namun yang sekarang adalah nama tanpa realitas. Zaman kini yang ada hanya namanya saja tanpa ada realisasinya. Tasawwuf adalah tindakan bukan hanya sekedar teori pada hakikatnya, meskipun sekarang banyak para tasawwuf yang hanya berkutik pada wilayah teori tanpa ada praktik dan hanya dijadikan sebagai kajian-kajian akademisi toh. Lalu, apa hubungannya dengan fathimah ?
Fathimah adalah Haurau al-Insiyyah atau bidadari yang menyerupai manusia. Hal ini menandakan bahwasanya yang esensi dalam diri Fathimah adalah bidadari bukan dari sisi kemanusiaannya. Spiritualitasnya mendahului dari pada materinya. Para manusia suci yang lainnya adalah nama person dahulu, kemudia diikuti oleh laqabnya. Namun untuk Sayyidah Fathimah sendiri sangat berbeda dengan yang lainnya. Maka ini yang membedakan Sayyidah Fathimah dari selainnya bahwa yang nampak pertama kali adalah makam spiritualitasnya bukan materinya. Ketika kita melihat belilau maka yang pertama kali kita lihat bukanlah dirinya tapi Divine daripada dirinya atau sesuatu yang di balik dirinya dan bukan fisiknya.
Dalam buku Ibnu Araby mengatakan bahwa Fathimah dan kedua anaknya kesetiaan kesucian yang dilekatkan kepada mereka, namun kesucian itu sendiri adalah mereka. Berbeda dengan kita, jika mendapatkan kesucian maka kesucian adalah aradh dan bukan diri kita sendiri. Kita mendapatkan kesucian tersebut dari luar diri kita yang kemudian kita integrasikan dalam diri kita. Namun kesucian yang ada pada diri Sayyidah Fathimah bukanlah aradh namun itu adalah zat yang ada dalam diri beliau sendiri. Seperti halnya ketika Rasulullah mengatakan “Salman minna ahlulbayt” Kenapa Salman dikategorikan sebagai ahlulbayt? Karena dia sudah mencapai maqom kesucian, kemudian dimasukkan dalam kategori itu.
Kitab Fusus al-Hikam karya Ibnu Araby beliau hanya bercerita sampai Nabi Muhammad. Dalam tasawwuf disebutkan bahwa Allah adalah sumber dan selainnya adalah mazhar atau penampakan dari pada Allah itu sendiri. Bukan hubungan sebab dan akibat. Dalam kitab tersebut disebutkan aspek tajalli wanita. Dalam tasawwuf tidak ada laki-laki dan perempuan karena kedua hal itu lahir di dunia. Maka harus ada laki-laki dan perempuan. Namun berbeda dalam tataran batin bahwa di sana tidak ada laki-laki dan perempuan.
Syekh Hasan Zadeh al-Amili membuat kitab perpanjangan dari kitab Fusus al-Hikam. Dalam kitab ini akan banyak membicarakan Fatimah dalam aspek-aspek batiniah.
Manuskrip Kuno kesultanan cirebon di dalamnya ada syahadat Fathimah. Namun kitab ini sekarang berada di Leiden university, Belanda. Dalam halaman kedua kitab tersebut disebutkan mengenai syahadat Fatimah. Syahadat ini didapati tentang syahadat Fatimah yang ditulis dalam bahasa Jawa. syahadat tersebut berbunyi “ashaduanna Fatimah Zahra al-Kubra, wa ashaduanna Muhammadan Rasulullah”. Syahadat Fathimah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam di kesultanan Cirebon. Banyak yang mengatakan bahwa syahadat ini bersumber dari Syiah. Banyak masyarakat Cirebon menggunakan syahadat ini dalam laku spiritualitas.
Sementara dalam kitab Asikalaibinang, buku ini berisi tentang hubungan suami istri yang berasal dari bugis. Kitab ini adalah kitab klasik. Persetubuhan bukanlah hal yang negatif namun hal itu adalah hal yang berhubungan dengan spiritualitas. Pernikahan bukanlah laku seksualitas melainkan Pernikahan adalah laku spiritualitas, maka dari itu pernikahan adalah sebagian dari agama dan merupakan sunnah Nabi. Karena wanita itu bagian penyempurna laki-laki. Perempuan itulah yang menyempurnakan laki-laki adanya perempuan itu bisa menyebabkan orang laki-laki sempurna tapi wanita tidak butuh laki-laki untuk menyempurna.
Tasawwuf mengajarkan kita bagaimana menderita dengan nikmat dalam cinta, bagaimana tidak makan 3 hari 3 malam, itulah yang termanifestasi dalam keluarga Nabi. Ketika itu sedang Fatimah sedang berpuasa karena memberikan makan kepada orang lain, maka beliau dan keluarganya tidak makan selama tiga hari. Itulah sebenar-benarnya suluk yang hidup menderita. Tasawwuf tidak mengajarkan kita tertawa terbahak-bahak dan senang. Orang yang banyak menderita adalah orang yang paling banyak mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena sangat jarang sekali orang yang berbahagia dia bisa mengingat Allah. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk merebut perhatian kamu daripada selain dirinya.
Jakarta, 17 Maret 2019