Catatan Sore✏✏

By: Yusran Husain

Santri Khatamun Nabiyyin

Photo-photo ini saya sorot dari potret jarak jauh ketika sedang duduk santai di pinggir jalan, tepatnya di pelataran Pondok pesantren Khatamun nabiyyin condet jakarta timur. Harapan seorang santri, Semoga saja ibu dan bapak ini ikhlas photonya saya abadikan tanpa izin keduanya.

Photo itu bercerita tentang sosok pejuang dua orang, pria dan wanita dewasa, berjalan menempuh jarak, menempa debu teriak di udara, melawan ganasnya kehidupan. Sambil memikul kerupuk berwarna putih bulat yang tersusun rapi diatas pundaknya, ya… mereka sedang berjualan di sepanjang jalan.

Namun saya tidak tahu pasti apa hubungan keduanya. Mungkin adik kakak atau suami istri. Yang jelas mereka romantis bergandengan saling mengarahkan satu sama lain layaknya sepasang kekasih.

Pertama kali terlintas dalam benak saya, ketika menyaksikan dua orang orang buta yang sedang berjualan itu adalah “Bagaimana Mereka kembali ke rumahnya ?” “Apakah jualan mereka laku ?” dan satu hal yang membuatku tergugah adalah melihat kegigihan mereka berkerja, mencari uang demi mempertahankan hidupnya di tengah zaman edan ini.

Kata demi kata kurangkai, tak terasa air mata pun menetes, upaya menghadirkan sosok pejuang itu dalam bentuk narasi singkat ini. bercerita Di foto ini juga nampak seorang ibu memakai jaket berwarna hitam.

Dan bagian Ini yang paling menarik perhatian saya. Ketika dua orang tunanetra tersebut sudah berjalan beberapa langkah melewati seorang ibu, tiba-tiba ibu tersebut memanggil dan menanyakan berapa harga kerupuk yang mereka jual. Niatnya untuk membeli pastinya.

Tak lama berselang, ibu itu pun terlihat mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah senilai dua puluh ribu rupiah. Kalau dilihat dari nominalnya, mungkin dua puluh ribu itu tak seberapa. Namun, coba kita perhatikan, melihat kondisi mereka yang sedang berjualan, berkelahi dengan terik mencekam, dua puluh ribu itu sangat berarti bagi mereka.
.
Bercermin kepada dua sosok itu, sesungguhnya kita masih punya kesempatan hidup yang lebih layak, diberikan kesempatan mencicipi pengetahuan dan mencelupkan diri dalam ontologis ilahiyyah. Seharusnya lebih banyak bersyukur dan berjuang lagi.

Kendatipun demikian, kita masih tetap terlena dengan kenikmatan duniawi, mereka lebih layak disebut pejuang ketimbang kita yang sudah bergelut dunia keilmiahan. Saya berdo’a Semoga ibu itu ditambah rezekinya dan dua orang tuna netra tersebut diberi kekuatan, kesabaran serta dimurahkan rezekinya. Aamiinn.

Jakarta, 08 maret 2019

Tinggalkan komentar