(Kajian Ustadz Shafwan)

By: Farham Rahmat
Santri Khatamun Nabiyyin
Mari kita melihat Fathimah dari perspektif sosiologi islam, cabang pengetahuan yang memilki unsur fenomenologis, sementara fenomena secara faktual bisa dibuat oleh orang yang berkuasa saat itu untuk mencatat nama mereka dalam sejarah, entah itu benar ataupun salah. Oleh itu seharusnya alur pemikiran sejarah adalah alat untuk mengkirtisi.
Ali syariati mempunyai kekuatan sastra mampu membahasakan sejarah secara akal sehat kritis melihat sejarah. Kita kenal dalam indonesia sastrawan pramodya ananta tour. Filsafat sejarah akan menceritakan bagaimana kehadiran sosok fathimah untuk membaca kecenderungan arah sejarah. Sejarah itu berisfat sosiologis namun pemahaman teologis, atau disebut sebagai sosiologi kosmis.
Pertama, Ali Syariati melihat sejarah tidak terjebak pada historisitas, dan sama sekali tidak membawa pada situasi konflik, dalam arti kata, tidak ada tokoh yang dimarjinalkan untuk mengangkat tokoh pemeran utama yang diceritakan, namun Ali syariati mengarah pada perasaan ilahi, perasaan mempengaruhi manusia dan bercerita sejarah sesuai dengan jalurnya.
Kedua, menjelaskan sejarah dari sisi idealisme. Bahwa dalam sejarah dikatakan, tidak masuk pada ranah konflik. Kemudian dia menjelaskan tentang filsafat manusia, menariknya sosok fathimah dalam hal ini dilihat juga dari teori eksistensialisme, karena Ali syariati juga terpengaruh ilmuwan jean paul sartre dan mampu memahami pola laku barat saat belajar di sorbone university prancis.
Ali syariati dengan pendekatan eksistensialismenya ingin mengungkap sebuah perasaan bagaimana fathimah berperilaku ke anak, suami, ayah dan ke masyarakat luas. Ali syariati menjelaskan dengan hati hati, sebab tidak satu pun buku induk tentang perempuan, berbeda dengan buku filsafat, piolitik, ekonomi, pendidikamn dan yang lainnya memilki buku induk. Ada buku buku yang menjelaskan tentan perempuan namun persepsi yang terbatas.
Sehingga ada lima hal, yang menjadi penting diutarakan yaitu, pertama, Bagaimana melihat sosok fathimah sebagaai suatu identitas. Dalam kosmologi identitas tertinggi perempuan adalah sifat keibuan.
Kedua, pendekatan kosmologi itu sendiri. Unsur cinta dan kasih sayang terhadap kepada anak-anaknya. Mendidik dan membentuk dua anak, kemudian kita tinjau dari semiotika, interaksi bahasa, matrilineal dan patrilineal, namun anehnya, fathimah terbentuk dari kedua-duanya. Bahasa cinta untuk memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap antara ayah dan anak, juga kepada suami dan ayah.
Ketiga, sejarah umumnya hanya dilihat dari laki laki. Sejarah lebih banyak terfokus pada sosok maskulinitas yaitu Muhammad. Sementara titik dan peran perempuan dilupakan, sejarah tidak berdiri atas laki laki saja dan maskulin saja. Ali syariati mengatakan bahwa tidak bisa dibayangkan perjuangan Nabi tanpa sosok perempuan.
Fatimah mengambil peran menonjol, bukan malah sayyidina Ali, malah Sayyidina Ali hanya berada di sudut sudut rumahnya. Sementara fathimah yang berjuang. Fungsi transisi kekuasaan diambil alih oleh fatimah. Menuju pada kepemimpinan yang terjadi di saqifah bani sa’idah fatimah terjung langsung disana. Apakah ini idealisme keagamaan ? bukan hanya karena ada kasih sayang dan cinta kepada abahnya. Namun, yang menjadi sisi realisme kehidupan juga adalah masyarakat umum.
Cinta Nabi, Fathimah, Ali, Husain dan Hasan membentuk keluarga yang harmonis dan progressif. Sejarah mencatat, cucunya berlari di pasar bersama kakek Muhammad dan kadang kadang naik di punggung Nabi saat sholat. Berlama lama sholatnya karena tidak ingin menganggu kesenangan cucunya. Jadi, ada unsur Idealisme dan realisme, Perkawinan dan keluarga adalah realisme, bukan semata-mata idealisme, sebab bukan yang seharusnya terjadi, tetapi kenyataan sebenar-benarnya terjadi.
Sejarah punya realisme bukan hanya idelisme saja. Sekarang mari kita lihat sisi realisme kenyataan yang pernah ada dalam peran sosok wanita fathimah az-zahra.
Pertama, Diamnya fathimah, diam perempuan adalah makna terpendam seribu makna dan kemarahan yang sangat. Ini ada dalam kajian kosmologis. Kedua, aspek kesedihan perempuan. Perempuan ketika tambah menangis justru malah bertambah kuatlah dia. Karena ketika menangis, tangisan itu adalah kekuatan.
Ketiga, Kamarahannya perempuan, rasa yang disimpan adalah kekuatan perempuan dalam kajian kosmologi. Sembilan pikiran laki laki setara dengan satu perasaan perempuan. Keempat, Keterasingan. Fathimah Mengikuti ayahnya yang diembargo secara ekonomi dan fatimah tiga tahun merasakan mengalami itu. Terakhir tentang Kebangkitan perempuan, sejarah mencatat bahwa beliau berpidato politik dihadapan para penguasa saat itu. Dan tidak satupun mereka berani membungkam.
Bahkan ada statement agak keras yang berbunyi, Sayyidina Ali hanya punya tuhan, manusia dan jihad saja. Fathimah Zahra mengambil peran lebih dari itu. Mulai dari rumah tangga sampai pada sosial. Lalu Ali mengatakan carilah pembantu, setalah itu mengadu kepada Nabi. Ayahnya malah tidak mengabulkan permintaan itu, dan membiarkan bekerja tanpa seorang pembantu, Tetapi kenapa Nabi membiarkan putrinya bekerja keras seperti itu. Padahal nabi mampu untuk menyewa pembantu ?
Pertama, Identitas perempuan. Sosok perempuan yang canggih, sejak kecil sudah memilki empati yang tinggi, Mengalami kelaparan dam penderitaan bersama nabi. Menerima curhat dari ibunya dan ayahya serta menjadi ibu dari ayahnya sendiri. Kedua, Seorang istri yang menyaksikan kehidupan yang pas-pas tapi juga mampu menghidupi masyarakat umum. Bahkan lebih memprioritaskan tetangga ketimbang keluarganya sendiri, dengan petuah yang sangat dalam “Al-Jar Tsumma Ad-dar” tetangga dulu baru keluarga.Seorang ibu, yang berhasil mendidik sayyidina Hasan dan Husain menjadi pemuda penghulu syurga.
Perempuan dalam kerangka konsep fathimah, menjalani seorang anak menyaksikan ayahnya menderita saat berdakwah secara sembunyi sampai terang-terangan dan akhirnya berjaya. Seroang ibu juga menyaksikan anaknya tertindas. Seorang istri mengambil peran pada batas tertentu. Sepeninggal ayahnya beliau bangkit mengambil tanggungjawab sosialnya serta dakwahnya.
Kemudian beliau adalah inspirator perempuan sepanjang zaman, beliau Lebih punya daya tahan ketimbang dari laki laki dalam rumah tangga. Pasca kenabian, tidak melihat peran politik az-zahra. Malah terfkous pada saqifah dan sebagainya. Beliau memeperlihatkan kepada kita apa arti peran dalam kehidupan. Kesedihan dan kesengsaraan terpendam dalam jiwanya. Jika dia bangkit maka tidak ada kekuatan yang mampu menghalaunya.
Ada kepanikan sejarah setelah meningggalnya ayahnya, dan Fathimah Az-zahra mensistematiskan gerakan itu untuk menetralisir dan mepercantik gerakan. Lebih ajaibnyam sama sekali Tidak ada kewajiban secara tekstual kalau istri mengerjakan semua pekerjaan rumah, namun perempuan dengan kekuatannya melalukan semua itu dengan cinta. Seperti contoh, mengapa Biasanya perempuan yang suka mencium tangan suaminya, kenapa bukan laki laki yang mencium tangan perempuan ?
Jakarta, 8 maret 2019