
(Ustadz Ajid Salim. S. Pd.)
By: Farham Rahmat
Santri Khatamun Nabiyyin
Pada mula pembahasan, penting kiranya melihat kebangkitan secara definitive. Konsep kebangkitan itu awalnya dari maju dan bangun dari keterpurukan, proses ini merupakan retorika seni dalam kehidupan.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka social adalah suatu yang difahami sebagai perbedaan tapi satu dalam kesatuan. Social adalah sifat dasar dari individu, mengapa ? alasannya sederhana, tidak bisa dipungkiri kalau kita membuthkan orang lain, sehingga konsep kearifan local sering menyebutnya lebih dari itu, yaitu saling menghargai sama rata sama rasa. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
Meskipun demikian adanya, dalam masyarakat sama rata dan sama rasa tadi, selalu ada startifikasi social, atau bahasa lainnya tingkatan social tetap ada sebagai keniscayaan. Ada beberapa bentuk startifikasi social yang tidak bisa terhindarkan, ada stratifikasi berdasarkan usia, ada anak muda dan orang tua, anak anak, balita dan sebagainya. Kemudian ada juga yang berdasarkan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Dan disinilah peran putri Nabi Fathimah az-Zahra.
Perempuan hanya dikenal sebagai Feminitas suara yang indah, paras yang indah, rambut yang panjang dan anggung, selalu identik dengan itu, sejak dahulu kala sampai saat ini. Lucunya, apapun dan bagaimanapun essensi kekuatan dan ketinggian pendidikan perempuan, ujungnya akan selalu kembali ke rumah tangga, alias dapur sumur dan kasur. Belum terlalu banyak eksistensi perempuan tampil sebagai pejuang diluar dari rumah tangga, bahkan itu hanya segelintir orang, seperti benazhir butto, margareth teatcher dan lainnya. Fathimah az-zahra memberikan revolusi indah kepada kaum perempuan untuk tampil dalam segala lini kehidupan.
Kita tahu ada tiga suku besar dalam keluarga quraish. Suku saat itu paling besar diantara beberapa suku yang ada, yaitu Bani hasyim, Bani ma’zhum dan Bani abdi syam. Bani hasyim adalah keluarga yang menurnunkan hereditas gen kenabian, saling bersaing dalam segala lini kehidupan, yang menarik adalah disaat setiap suku sangat mendamba-dambakan pelanjut laki laki sebagai penerus dan pemimpin, malah bani hasyim dari Nabi Muhammad mempunyai keturunan perempuan.
Kelahiran sosok putri Nabi ini pasti memiliki makna yang mendalam menjawab segala tradisi quraish saat itu. Putri nabi yang dikenal luar biasa perjuanganya, bukan hanya pahlawan rumah tangga, melainkan juga berjuang di masyraakat luas.
Islam memandang social, islam memandang sisi kehidpuan ituseimbang. social merupakan penyempurna ibadah kepada tuhannya. Terdapat pada Qur’an Surah Al-Imran:12. Social adalah puncak dari ibadah itu sendiri, kita lihat surah Al-maidah:2. dan Al-hujurat: 13. Saling menolong untuk saling mengenal, tidak dibatasi dengan Negara, kelamin, suku dan ras serta wilayah.
Surah al-alaq juga memberikan penafsiran pada ayat ke2 tentang makna (alaq) secara leterlek adalah sesuatu yang tergantung. Dalam proses penciptaan manusia sperma dan sel telur juga tidak bisa mencipta jika tidak bekerjasama. Itu hanya akan memberikan makna kepunahan dalam sejarah kemanusiaan. Artinya penciptaan manusia saja, itu sudah memerlukan kerjasama dan bergantung, dan lebih celakanya arti (alaq) juga sering diartikan jomblo, sederhananya tidak mungkin menghasilkan sesuatu karena sendirian.
Lalu bagiaman dengan Social dan sayyidah Fathimah ?. Putri satu satunya yang hidup diantara beberapa saudaranya. Kondisi masyarakat saat itu kondisi laki laki memonopoli dan perempuan hanya sebagai gembel saja. Sehingga kelahiran fathimah adalah gebrakan untuk monopoli patriarka itu. Ada istilah, “Muswaddah wa huwa kazhim”, mendandakan kemarahan yang sangat (merah kehitam-hitaman) bagi mereka yang punya anak perempuan. Sandingan yang pantas untuk perempuan hanyalah kuburan.
Lahirnya perempuan keluarga langsung merah dan marah kemudian menguburnya. Tapi malah yang lahir saat itu adalah putri Nabi, sebuah situasi yang melawan kontradiksi zaman saat itu. Kelahirannya saja itu sudah memberikan gebrakan paradigma yang progresif apatahlagi ketika sudah beranjak dewasa.
Ada tiga model gerakan, yaitu Konservatis (mempertahankanbudaya yang lama) revolusioner (merombak tradisi yang lalu dan menghadirkan sesuatu yang baru), reformis (perubahan yang bersifat berangsur dan mengahadirkan sesuatu yang sesuai dengan tradisi dalam bentuk kekinian). Fathimah adalah ketiga tiganya. Sehingga Sabda Nabi: Fathimah adalah bagian dariku, siapa yang meragukannya berarti meragukanku, siapa yang membonginya artinya membohongiku. Juga ada hadits tentang Wanita penghuni syurga, yaitu khadijah, Maryam, fathimah, dan asiyah.
Seungguhnya putriku kuberi nama Fathimah, karena telah menghindarkan dari api neraka. Laqab dan gelar ini diberikan bukan karena memang keluarga atau kasih saying bapak kepada anaknya, tapi memang dia layak untuk itu dalam keangungan dan keindahannya. Terakhir peran sayyidah Fathimah, juga diutus dalam mubahalah dengan nashrani najran ada pada QS. Alimran:59-61. Sekali lagi, Bukan karena kerabat dan keluarga, tetapi memang indah dan layak dalam segala segi.
Beliau juga menanamkan pendidikan social, seperti dalam keseharian beliau yang direkam oleh sejarah, saat beribadah, dan berusaha, beliau selalu menfokuskan diri pada tujuan, yang ditujukan kepada kerabat dan tetangga, bahkan tidak pernah ditujukan kepada keluarganya bahkan kepada dirinya sendiri. Al-jar tsumma ad-dar, tetangga dulu baru rumah. Dan itu bentuk pendidikan social dan altruism yang hebat, intinya Mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Menanamkan berbagi kepada orang lain adalah puncak dari ibadah.
Tafsir hijab Fathimah. Dialah sosok Wanita yang tidak pernah melihat laki laki dalam pandangan biologis, dialah sayyidah Fathimah, yang laki laki tidak pernah melihatnya satu tetes pun bersumber dari hawa nafsu.
Dengan landasan keiffahan dan cahaya kesucian yang tinggi fathimah mampu meredam laki laki apapun dan bagaimanapun biadabnya. Sebagaimana kita memandang ibu kita, tidak pernah ada hawa nafsu kepadanya, melainkan cinta dan kasih sayang yang menyelimuti.
Jakarta, 10 Maret 2019
