
Oleh : Hamzah Ali Ahmadi
Santri Khatamun Nabiyyin
Dengan adanya teknologi dapat mempermudah segalanya, akan tetapi ketika kita sudah terjerumus lebih dalam yang terjadi adalah kita menjadi seorang tahanan dari ciptaan kita sendiri.
Contohnya seperti membaca buku, yang tadi nya berbentuk kertas tapi saat ini sudah sedikit sekali minat terhadap buku tersebut. Seolah-olah buku bukan lagi sesuatu yang menyenangkan, kini teknologi memang sangat unggul dibandingkan dengan tumpukan kertas yang penuh dengan makna.
Bukan hanya buku yang saat ini terorganisir, bahkan manusiapun akan tergantikan oleh teknologi yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Jepang, yaa mereka sudah memulai membuat sebuah robot untuk mempermudah pekerjaan manusia. Padahal sejak kecil kita diajarkan melalui buku-buku, akan tetapi ketika kita mulai besar akan ada yang nama nya rasa malas untuk membaca buku dan kita lebih memilih teknologi tersebut.
Namun, ada sebagian dari kita terus mengembangkan membaca buku untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Mereka selalu berusaha untuk mengangkat dan membebaskan buku dari tahanan teknologi ini.
Memang kita butuh teknologi, akan tetapi ketika kita sudah terjerumus terlalu dalam, maka yang tadi nya semangat untuk membeli buku dan membacanya.
Albert enstein pun tidak akan bisa jadi seorang penemu tanpa membaca buku, Ibnu sina tidak akan bisa jadi seorang yang pandai tanpa membaca buku, Aristoteles, Plato, Al- Farabi, Ulama-ulama terdahulu pun mereka awalnya dari membaca buku-buku. Karena buku adalah jembatan ilmu untuk kita semua.