(SEMINAR LINTAS AGAMA SYIAR CINTA KE-5)

Oleh: Farham Rahmat

Santri Khatamun Nabiyyin

Sabtu, 15 desember pondok pesantren Khatamun Nabiyyin mengelar kegiatan seminar nasional lintas agama syiar cinta ke-5 dengan tema “sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa” berhasil menghadirkan enam pembicara nasional, lima pembicara dari tokoh agama seperti islam, Kristen, budha, hindu, konghuchu, dan satu pembicara dari kalangan pemerintahan. Seminar lintas agama syiar cinta yang ke-5 ini adalah rangkaian panjang dari seminar syiar cinta pertama sampai syiar cinta kelima. Masing masing syiar cinta mempunyai ciri khas tema tersendiri, tentunya bermuatan titik temu lintas agama-agama.

Pembicara dari Kristen hadir Prof. Franz Magnis Suseno. SJ, dari hindu hadir I Ketut Budiasa. ST. MM, dari budha hadir Prof. DR. Philip Widjaya, konghuchu hadir JS. Sugiandi Surya Atmaja S. KOM, M.AG, dari islam ada DR. Abdul Aziz Abbasi serta dari kementrian agama Prof. DR. PHIL Komaruddin Amin. M.A. Sebelumnya direktur khatam institute Andi Arifah. SE. memberikan orasi ilmiah berkenaan dengan pilosofi dan ketangguhan pancasila sebagai perekat bangsa, kemudian seminar dibuka secara resmi oleh pengasuh pondok pesantren Khatamun Nabiyyin Kiyai Akbar Saleh. BA. Dilanjutkan keynote speaker dari kementrian agama DKI jakarta H. Saiful mujab. MA.

Dari semua tokoh agama ini duduk bersama membincang satu topic pembahasan, sebagai titik temu nilai universal lintas agama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, dan dipimpin oleh direktur khatam institute Andi Arifah. Pembicara yang pertama adalah Prof Magnis Suseno, beliau mengatakan bahwa nilai sila pertama adalah kebebasan beragama, bukan berarti bebas dalam memeluk agama melainkan mendapat pengakuan dari Negara serta tidak mencampuri dan menggganggu keyakinan warga Negara lainnya. Rasa aman itu harus dijaga oleh Negara bukan hanya pada lima agama yang diakui Negara, melainkan juga beberapa aliran keperyaan yang berkembang di Indonesia, beliau melanjutkan bahwa rasa aman itu harus dimiliki oleh semua untuk semua seperti Nabi Muhammad dari islam diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, membawa rasa aman kepada semua makhluk.

Pembicara kedua dari agama budha Prof. DR. Philip widjaya, beliau mengatakan bahwa nilai inti sila pertama ada pada kalimat “Duhai para biksu ada sesuatu yg tidak terjelma dan tidak tercipta. Duhai parab biksu, jika tidak demikian maka tidak akan ada penjelmaan dan penciptaan”. Agama budha percaya sebab akibat, adanya penciptaan artinya harus ada sesuatu yg tidak tercipta, dan itu adalah tuhan yg maha Esa. Jika tuhan tidak tercipta maka pasti mustahil manusia mampu mengatahuinya. Tuhan yang maha esa adalah zat yang tanpa alasan, manusia untuk mendekati zat tuhan itu, maka manusia harus bermeditasi, harus menjalani proses penyucian jiwa.

Pembicara ketiga dari hindu, I Ketut budiasa, beliau memaparkan bahwa nilai sila pertama ini melihat pencipta adalah zat yang tdak bisa dideteksi, sebab pemikiran kita tidak sampai kesana, namun kita harus percaya itu. Dalam istilah hindu disebut ketuhanan dalam Weda. “Sat cit ananda Brahman” artinya sesungguhnya tuhan adalah pengetahuan tak terbatas. Aku adalah jati diri yang bersemayam di dalam setiap makhluk. Aku adalah permulaan juga ditengah tengah, dan juga akhir dari setiap yang ada. Hindu meyakini trimurti dewa Brahman, dewa wisnu dan dewa siwa. Ketiga disebut sebagai Esa, satu dalam penciptaan, pemeliharaan dan peleburan. Hanya saja nama yang berbeda. Esa yang hakiki disebutkan bahwa itu adalah maha dewa, tuhan dari segala tuhan.

Pembicara keempat dari tokoh islam oleh DR. Abdul aziz abbasi, beliau mengatakan ketuhanan yang maha esa adalah tuhan itu sendiri yang memperkenalkan dirinya sendiri, manusia mustahil mengetahuinya. Makna ahad adalah esa artinya tunggal tdk bermakna satu. Sesuatu yg sederhana tidak tersusun dan berangkap. Tuhan yg maha esa adalah semua makhluk membutuhkan tuhan. Esa tidak lepas dari sesuatu dan tidak melepaskan dari seuatu itu juga. Surah al-ikhlas menjelaskan ketidakbergantungan kepada sesuatu. Teori piramida mengatakan, semakin kita naik semakin kita bersatu, semakin kita turun semakin beragam. Oleh sebab itu, semua agama yang beragam ketika mencoba untuk naik, maka akan beetemu pada satu titik yaitu tuhan. Seperti ilmu adalah satu titik yg diperbanyak oleh orang bodoh. Ilmu satu titik ibarat tuhan dan orang bodoh adalah manusia yang beragam itu.

Pembicara terakhir dari konghuchu JS. Sugiandi surya atmaja, menjelaskan pemahaman konghuchu mengenai sila pertama adalah RU JIAO, agama leluhur tionghoa sebelum menjadi konghuchu adalah RU JIAO. Pembahasan sila pertama terdapat pada kitab suci Yi Jing yang mengatakan QIAN bahwa tuhan itu maha esa, maha sempurna, pencipta alam semesta. QIAN berkumpul energy positif dan negative yang disebut sebagai ying dan yang. Nama asli tuhan konghuchu bisa dibagi dalam tiga pemaknaan. Pertama YI, artinya satu, DA artinya besar dan REN artinya manusia. Ketuhanan yang maha esa adalah TIEN yang mempunyai kebesaran tinggi, keindahan, maha merahmati, menjadikan orang memperoleh hasil perbuatannya.

Seminar lintas agama berakhir seiring masuknya waktu sholat dzuhur dan istirahat, setelah itu dilanjutkan oleh para santri dalam acara taman teologi. Taman teologi membagi pembicara dari masing masing agama, follow up pembahasan yang belum selesai pada seminar. Santri khatamun nabiyyin begitu terlihat antusias menggali pengetahuan dari tokoh agama ini, semangat santri menyadari betul bahwa ilmu begitu luas, sehingga harus lanjut belajar pada taman teologi. Begitupun dengan tulisan ini, tidak akan mampu menampung semua pemikiran tokoh nasional pada acara seminar lintas agama tersebut.

Jakarta, 16 Desember 2018

Tinggalkan komentar