(Orasi Ibu Dina Sulaiman)

By: Farham Rahmat
Santri Khatamun Nabiyyin
Terdapat hadits yang menjamin empat perempuan masuk syurga, yaitu Fathimah, Maryam. Khadijah, Asiyah, (riwayat ahmad, thabrani). Tentunya tindak-tanduk dalam masyarakat juga menjadi panutan bagi kaum perempuan seperti halnya dalam peranan politik. Biasanya dalam Politik, perempuan hanya menjadi tumbal dan korban politik. Banyak perempuan yang tertidas, lebih parahnya semua asumsi ini mengarah kepada islam, seakan-akan islam lah yang membuat perempuan menjadi rendah dan tertindas.
Padahal ada beberapa data, Australia kanada dan Israel 40=70% jumlah perempuan tewas dibunuh oleh pasangan sendiri, di amerika serikat 1/3 dari jumlah perempuan tewas terbunuh juga ulah pasangan mereka. di india 22 perempuan dibunuh setiap harinya terkait masalah mahar, di kanada 54% perempuan mengalami kekerasan seksual yang dilakukan pria asing. Di uni eropa perempuan mengalami kekerasan seksualdi tempat kerja mereka.
Lantas, sebelum membahas peran perempuan dalam politik, Apa artinya politik ? politik terlalu sempit jika diartikan hanya pada batas turut serta dalam demokrasi atau pesta pemilu. Definisi politik secara universal adalah resolusi konflik, negosiasi kompromi untuk menyelsaikan masalah, pembagian distribusi sarana dan prasarana terbatas dalam masyarakat, untuk mendapatkan keadilan dan pemerataan distribusi, maka diperlukan politik untuk mengatur.
Begitupun dnegan beberapa pederdebatan public yang tidak ada ujungnya, khususnya di media social, saling gunjing menggunjing, menyalahkan satu sama lain, bahkan berani mengancam Tuhan jika tidak dimenangkan, politik bukan hanya sekedar itu, coa kita lihat semua orang tua menginginkan anaknya terbaik dan masuk sekolah terbaik jika semua anak berhak untuk menjadi terbaik, pasti aka nada persaingan yang tidak baik untuk menyingkirkan dan politik mengatur itu semua, agar teratur serta aman terkendali.
Pada dasarnya Politik ada tiga macam, pertama politik alamiah, jenis politik ini seperti biasa terjadi di masyarakat dan alami fenomenanya juga alami penyelesaiannya. Kedua, konflik politik rasional, seperti pemilu, politik jenis ini memiliki rasio sendiri, artinya jika anda ingin berkuasa maka harus masuk politik dan dengan mengabdi di partai politik tujuannya untuk memperbaiki masyarakat. Ketiga, politik adiluhung, yaitu politik yang mengedepankan agama dan syariat. meskipun banyak yang alergi dengan kata syariah dalam dunia bernegara.
Dari tiga jenis politik tersebut, bukan cirri khas dari politik fathimiyyah, sebab adalah parameter adalah rasulullah, karena rasulullah juga menjadikan fathimah parameter politik. Dalam kitab al-hikmah al-muta’aliyyah (mulla shadra) tentang empat perjalanan manusia, Fathimah sudah sampai pada perjalanan politik keempat, itu ditandai dnegan tangan Fathimah yang mengeras karena bekerja untuk orang miskin, dengan itulah Imam Ali mengadu untuk memcarikan pembantu kepada rasulullah, dan beliau pun berkata pembantu yang terbaik adalah tasbih.
Ada apa dengan tasbih ? karena ketika wanita bekerja sendiri atas pekerjaannya itu lebih baik daripada menggunakan pembantu, akan tetapi disisi lain Sayidah Fatimah memiliki seorang pembantu yang membantu pekerjaannya yang bernama “Fizzah” tasbih itu diartikan meskipun mempunyai pembantu, fathimah juga bekerja bergantian dengan pembatunya saling membagi waktu sebagaimana tasbih bergulir dari satu tasbih ke tasbih yang lain.
Kisah Seuntai kalung yang dimana datang seorang pengemis ke rumah sayidah Zahra untuk meminta sesuatu yang bisa diberikan padanya, dan sayidah tidak memiliki apapun kecuali hanya kalung, namun beliau berikan padanya, dan beberapa hari kemudian ada lagi seorang pengemis datang, diberikan lagi makanannya sampai tiga hari berturut turut beliau tidak makan, namun hanya minum seteguk air untuk buka puasa. Ekonomi Politik mandiri ala sayyidah fathimah, manusia hari ini harus bisa menciptakan berbagai kondisi, untuk masyarakat tidak merasa kelaparan kembali, sehingga kita tidak membutuhkan bantuan dari pemerintah terus menerus.
Kisah Al-Hasan, yang dimana Al-Hasan diperintahkan oleh ibundanya untuk pergi ke masjid untuk mendengarkan taklim dari datuknya muhammad, kemudian diceritakanlah pada ibundanya apa yang telah Al-Hasan dapatkan pada majelis ilmu. Dikatakan ada perempuan tidak boleh ketinggalan dalam keilmuan, dan perempuan juga harus mendapatkan ilmu. Bukan hanya lelaki saja yang harus mendapatkan ilmu, perempuan juga harus. Seperti “Sayidah Fatimah” yang lebih banyak di rumah daripada diluar, akan tetapi beliau tetap belajar dan berpikir.
Indikator yang digunakan dan didasarkan pada paradigma barat yang mengukur kemajuan perempuan antara lain dari partisipasi mereka di lapangan pekerjaan. Inspirasi dari Fathimah: indikator keberhasilan perempuan tatkala ia berhasil dalam membangun keluarga yang sehat. Dan adapun di dalam politik adalah Negara yang bertanggung jawab untuk menyediakan fasilitas agar perempuan terakomodasi untuk mencapai keberhasilan, seperti disediakannya fasilitas tempat penjagaan anak di kantor-kantor”.
Perempuan yang berpolitik Ala Fathimah, yang dimana ia mampu untuk menjaga harga diri dan melepaskan diri dari egoisme. Dalam perkataan pemimpin spiritual tertinggi Iran “dalam masyarakat islam, laki-laki dan perempuan menikmati kebebasan yang cukup. Teks-teks (syariat) islam yang ada terkait hal ini dan tugas-tugas social yang selama ini telah diberikan islam kepada laki-laki dan perempuan secara setara, dan ini merupakan bukti dari penyataan ini.
Nabi Muhammad Saw bersabda “orang yang menghabiskan malam tanpa peduli urusan umat islam, maka ia bukanlah seorang muslim” apa yang nabi Muhammad Saw katakan ini tidak terbatas pada laki-laki saja, wanita juga harus merasa bertanggung jawab terhadap urusan umat islam, masyarakat islam, dunia islam, dan segala sesuatu yang terjadi di dunia. Ini adalah kewajiban islam.
Jakarta, 28 Februari 2019