Oleh: Usman Suil

Santri Khatamun Nabiyyin

Ada banyak hal yang perlu kita lakukan dalam hidup ini. Semuanya mengacu pada sifat dan keahlian berdasarkan status masing-masing. Namun semuanya ditentukan berdasarkan cara pandang kita memaknai hidup itu sendiri. Apakah melakukan sesuatu itu karena memang kita menikmatinya ataukah kita melakukan karena ada unsur lain?

Segala sesuatu memiliki masalah sendiri-sendiri namun masalah itu akan terselesaikan dengan proses pemecahannya secara kreatif. Si jenius akan memikirkan solusi yang tidak biasa kemudian akan memodifikasinya sesuai dengan tuntunan praktis dari situasi tersebut. Itulah hebatnya manusia, karena dalam dirinya terdapat jiwa kreatif yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Menjadi pribadi yang kreatif, semua orang memilikinya namun terkadang terdapat atribut lain yang ikut berpartisipasi menjadi mentor tiap-tiap langkah si jenius ini bahkan sudah mendominasi dirinya secara utuh yang mungkin sewaktu-waktu tombol kontrolnya tidak berfungsi lagi baginya.

Dalam hal ini, secara perspektif psikologi sosial, kita akan berhadapan dengan pertanyaan bagaimana lingkungan sosial memengaruhi sikap kreatif manusia? Maka jawabannya terdapat pada tingkatan kesadaran manusia dalam melakukan tugas tertentu.

Dalam kekreatifan manusia, selalu ada dua tombol keyboard yang menjadi kontrol motivator terhadap seseorang apabila ingin menejewantahkan sifat kreativitasnya, yaitu motivator intrinsik dan motivator ekstrinsik. Keduanya akan selalu ada dalam diri manusia.

Meskipun kreativitas sebagai jalan pemecahan masalah, tapi pada saat yang sama pun juga akan menjadi alat picu timbulnya masalah kehidupan seseorang, sudah keniscayaan yang tidak bisa terhindarkan. Alasannya karena kreativitas adalah sebuah konsep multidimensional.

Pada dasarnya, motivasi intrinsik akan selalu mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa atau bahkan tidak bisa dilakukan oleh orang lain karena motivasi ini bercirikan selalu mendukung kekreatifan, sebaliknya motivasi ekstrinsik memiliki efek ganggu terhadap kreativitas karena menurunkan motivasi dalam menjalankan tugas.

Sistem pendidikan formal hari ini pun tak kalah pentingnya tentang sifat kreatif ini, apa yang terjadi? Ternyata kreatif guru dan murid telah menjadi satu kesatuan dalam menjalankan proses belajar mengajar. Yang terjadi adalah malah matinya kreativitas karena selalu bergantung pada imbalan. Ini termasuk kesadaran yang sifatnya magis artinya kesadaran yang menganggap bahwa segala sesuatu bergantung pada imbalan atau dengan kata lain logika untung.

Pada hal ini, George Bernard Shaw mengatakan bahwa “Sekolah itu lebih buruk daripada penjara” saya memaknai bahwa terkadang pendidikan itu sendiri membuat para murid ataupun para pendidik tidak bisa mengejawantahkan potensinya karena kebergantungannya pada sistem sehingga masih jauh dari apa yang diharapkan dengan kata lain seperti dalam penjara yang hanya bisa melihat dari luar tapi tidak mampu berbuat dan menemukan hal baru untuk kita persembahkan ke bangsa dan negara ini. Buktinya dapat dilihat disekeliling kita bagaimana moral, kecerdasan serta pengaplikasian pengetahuan bagi mereka yang sudah lama mengenyam pendidikan belum sesuai dengan visi misi pendidikan itu sendiri, faktanya hanya segelintir saja yang terlihat. Ini tentu suatu hal yang tidak wajar.

#Bagian1

Tinggalkan komentar