(Orasi Ustadz Akbar Saleh. BA.)

By: Husein Haidarullah Muqimuddin

Santri Khatamun Nabiyyin

Gagalnya suatu pendidikan sungguh tidak tepat jika mengkambinghitamkan system, namun, coba kita perhatikan bagaimana cara mengaktualkan system tersebut ke arah yang lebih efektif. Satu contoh kecil, memprogram system kehidupan kita sehari-hari saja, itu masih banyak yang belum tentu teraktualisasi seluruhnya, diakibatkan banyaknya halangan dan rintangan yang menghadang. Jadi sebagai catatan penting sekarang adalah bagaimana cara untuk mencari uswah atau figur kehidupan dalam kehidupan kita. Sebab, proses pendidikan itu tidak harus dilakukan di dalam kelas saja, dimana pun bisa untuk melakukan pendidikan selama memberikan pengajaran di dalamnya.

Definisi pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, dan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan.

Hakikat pendidikan, Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh para pelajar, ketika mereka ingin mengetahui akan hakikat pendidikan dalam kehidupan, pertama, Upaya dalam proses pembentukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani menuju tingkat kesempurnaan. Kedua, Proses pematangan intelektual, emosional dan kemanusiaan yang dilakukan secara terus menerus seperti gerak jauhariyah. Ketiga, Usaha sadar yang dilakukan melalui proses bimbingan, serta pengajaran dan latihan. Keempat, Upaya pengaruh dan usaha dan bantuan merekea cakap dalam melaksanakan tugas hidupnya. Kelima, Proses perkembangan kualitas diri menuju tingkat kesempurnaan. Keenam, Proses perubahan tingkah laku, pikiran, serta perasaan peserta didik.

Sebelum mengkaji bagaimana system pendidikan yang diajarkan oleh sayidah Fathimah kepada umat datuknya, mari kita melihat akan kehidupan tatanan social masyarakat pra islam dan awal islam. Salah satu metodologi yang digunakan masyarakat arab sebelum pra islam ialah adanya system monarki yang dilakukan oleh masyarakat. System itu adalah konsep kabilah-kabilah, dan kepercayaan yang mereka anut kepercayaan pluralis dengan beragama-agama, dan salah bentuk budaya dan peradaban yang masyhur dimiliki oleh mereka adalah peradaban jahiliiyah.

Namun, dalam peradaban jahiliyah disini bukanlah peradaban masyarakat yang jauh dari ilmu pengetahuan dan primitive, melainkan sebuah peradaban yang terkontaminasi dengan penyimpangan nilai, kerusakan moral, pembangkangan, penindasan, pendustaan serta pendurhakaan mereka terhadap kebaikan, sehingga diutuslah Baginda Muhammad Saw untuk mensucikan (Yuzakkihim) dan mengajarkan (Yuallimuhum) mereka dari itu semua.

Fatimah Az-Zahra lahir tumbuh dewasa di rumah seorang Nabi, serta guru seluruh alam ini dengan penuh kasih, dan Nabi mendidik dan membimbingnya sedemikian rupa sehingga beliau menjadi sosok manusia yang sempurna, murid terbaik dan madzhar manifestasi keberhasilan didikan Nabi teragung yang paling mulia, sehingga ada satu surat dari beberapa surat yang terkhusus untuk sayidah Fatimah Zahra, yakni Al-Kautsar

Lalu apa relevansinya hari ini ? konten, cara, dan teknis sinkronisasi dengan konteksnya masing-masing. Para figure dan teladan memilki landasan “prinsip universal” pada setiap perbuatannya yang teknisnya disesuaikan dengan konteks yang berjalan seiring dengan kehidupan yang dinamis. Setiap Nabi dan para figure lainnya memiliki prinsip yaitu berpikir global, tetapi dalam bertindak mereka bersifat local. Salah satu ajaran Rasulullah adalah membentuk masyarakat adalah masyarakat yang aktif, inovatif, dan kreatif.

Kita analogikan akan makna aktif disitu, bukanlah seperti figure pahlawan di film-film avenger, spiderman, aquaman justice league dan sebagainya, mereka hanya datang untuk menyelamatkan manusia yang membutuhkan pertolongannya, sehingga mereka membutuhkan bantuan pada figure pahlawannya tersebut, dan ini adalah makna yang pasif bukan aktif. Lalu, inovatif itu tergantung akan budaya yang berada di suatu daerah tersebut, memanfaatkan peluang yang ada menjadi efektif dan manfaat.

Prinsip pendidikan Fatimah Az-Zahra pertama adalah Prinsip pendidikan tauhid, Yaitu pondasi, muara, poros, dan orientasi pendidikan beliau adalah tauhid. Nampak jelas pada perkataan dan perbuatan beliau yang hanya berharap ridha tuhan-Nya bukan yang lain, ini termaktub pada Q.S. Al-Insan: 8-9, dan khutbah yang beliau sampaikan selalu diawali denagan Makrifatullah, dan ada salah satu pemberian dari baginda Nabi pada Sayidah Fatimah yaitu “Tasbih Zahra”, muatan didalamnya sama sekali tidak ada dikotomi ilmu dalam pendidikan semuanya untuk Allah Swt.

Bagaimana cara melakukan sesuatu karena Allah Swt? Bukankah itu terlalu sulit dan abstrak sehingga banyak dari kita yang menjadikan itu hanya menjadi sebuah slogan semata. Jawabannya semua perintah yang diperintahkan tuhan untuk hambanya, jika diniatkan dan dilakukan untuk Allah Swt, maka semua itu yang kita lakukan untuk Allah Swt semata, tidak yang lainnya, iya perintah apapun itu. Tidak ada pada zaman Nabi Muhammad Saw dan Sayidah Fatimah akan pengelompokan ilmu-ilmu antara ilmu agama dengan ilmu umum, seperti saat ini, karena seluruh ilmu itu berasal dari Allah Swt, karena ilmu itu ”Nur” cahaya yang bersumber dari Allah Swt, disampaikan oleh Nabi, dan diteruskan oleh Sayidah Fatimah.

Prinsip pendidikan Fatimah Zahra yang beliau ajarkan pada masyarakat seluruhnya dengan prinsip cinta dan kasih sayang, sehingga kontekstualisasikan pada zaman kita sekarang ini banyak pondok pesantren yang tersedia untuk anak-anak SD sejak kecil, sedini mungkin, mereka pada awalnya masih sangat membutuhkan akan kasih sayang kedua orangtuanya.cinta keluarga, tidak mereka dapatkan, mereka dititipkan di lembaga pendidikan yang hanya berfokus pada keilmuan, bukan cinta.

Ada sebuah kisah tentang kelembutan dan kasih sayang Fatimah Zahra yang pada suatu hari ada seseorang yang bertanya kepadanya hingga hampir sepuluh kali pertanyaan yang berbeda-beda, akan tetapi sang penanya memberhentikan pertanyaan diakibatkan malu dan tidak enak pada Fatimah, tapi Sayidah Fatimah berkata padanya, apa lagi pertanyaan yang ingin kamu tanyakan padaku, silahkanlah bertanya lagi dan jangan malu, dan andaikan kamu tahu akan pahala yang tak terhingga yang Allah Swt akan berikan kepada kita ketika melakukan kegiatan pembelajaran Tanya jawab di dalamnya, maka apakah pekerjaan tersebut akan terasa berat bagi kita? Lalu ia menjawab: tidak, wahai putri Nabi, dan akhirnya ia melanjutkan pertanyaannya lagi yang masih tertahan dan yang belum terutarakan kepada Sayidah Fatimah hingga selesai.

Perlu diperhatiakan bahwa baginda Nabi Muhammad Saw sebelum pengutusan menjadi Nabi, ia telah dipercaya oleh masyarakatnya untuk menjaga istri-istri masyarakat yang hendak berniaga ke luar kota dan menitipkan hewan pengembalaannya pada nabi, sehingga beliau dijuluki “Al-Amin” tapi ini begitu sederhana kalo kita berikan pada Nabi karena Nabi itu tugasnya bukan hanya untuk itu, melainkan tugasnya Nabi mengajarkan masyarakat dan membangun peradaban masyarakat.

Sayyidah Fatimah Az-Zahra juga melakukan tugas apa yang telah dilakukan oleh ayahandanya yaitu mengajarkan dan membangun intelektual masyarakat dan meneruskan pembangunan peradaban, sehingga bagi seorang pendidik ia harus memiliki prinsip keteladanan dan kesederhanaan dalam kehidupannya dan ini untuk dijadikan sebagai uswah bagi masyarakat yang meneladaninya. Kehidupan sayidah Fatimah Zahra itu sangatlah sederhana sekali, selama tidak harus beli maka tidak usah beli dan gunakan yang masih ada untuk digunakan dan tugas keseharian sayidah Fatimah Zahra bukan hanya sebagai ibu rumah tangga saja untuk keluarganya, melainkan tugas beliau lakukan seluruhnya untuk umat ayahnya.

Hari ini, kebanyakan manusia pada zaman sekarang sangat bertolak belakang dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi dan para figure islam tentang makna kesederhanaan dalam kehidupan, banyak sekali masyarakat yang suka mubadzirkan sesuatu, seperti banyaknya gedung-gedung mewah yang tinggi dan banyaknya kran-kran yang terpasang di masjid-masjid melebihi kapasitas orang yang shalat di dalam masjid tersebut, bukankah seluruhnya ini bersifat mubadzir? Dan bukankah di dalam al-quran telah dikatakan ”Innal Mubadzirina Kanu Ikhwanas Syayatin”.

Makna iffah yang sayidah Fatimah Zahra ajarkan kepada kita yaitu: “La Yaraha Rajulun Wa La Tarahu Rajulan” perempuan terbaik adalah dia yang tidak dilihatt laki laki dan tidak melihat laki laki, bukan berarti Sayidah Fatimah itu tidak pernah sedetikpun berinteraksi dengan laki-laki dan tidak ada seorang pun lelaki yang berani melihat dirinya dengan interaksi, dan yang perlu kita ketahui bahwasanya sayidah Fatimah Zahra itu bukan orang rumahan saja yang tidak pernah melihat seorang lelaki manapun, akan tetapi sayidah Fatimah Zahra pernah pergi ke masjid untuk berkhutbah akan tanahnya yang dirampas oleh pemerintah pemerintah. Beliau juga turun gunung dalam mengambil peran politik.

Jakarta, 1 maret 2019

Tinggalkan komentar