(Orasi Prof. Magniz suseno dalam Acara Seminar Lintas agama Syiar Cinta 5)

Oleh: Salman Al – Farisi

Santri Khatamun Nabiyyin

Prof magniz memulai dengan latarbelakang bahwa Lahirnya Pancasila bukanlah hal yang kebetulan dan terjadi secara tiba-tiba. Namun lahirnya Pancasila melalui proses dan penyaringan yang panjang dan pelik. Dalam perjalanannya pembentukan dasar negara melewati banyak proses sehingga bisa terbentuk yang namanya Pancasila.

Tokoh pendiri bangsa meskipun mereka bergama islam namun mereka memikirkan bagaimana nasib bangsa mereka bisa berdiri langgeng dan kokoh. Mereka jauh berfikir kedepannya dalam merumuskan segala hal terutama Pancasila. Tentunya pacasila bukan hanya pandangan secara filosofis makna namun harus diejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jikalau Pancasila hanya berhenti pada ejeaan kata maka tidak akan memberikan pengaruh sama sekali dalam kehidupan. Karena pedoman dasar inilah bangsa Indonesia bisa bertahan hingga saat ini, karena ikatan yang erat dari pancasila itu. Dan Hal yang terpenting dalam Pancasila adalah sila pertama, dan masih banyak masyarakat yang masih primitif dalam menghadapi perbedaan yang ada dan menjadikannya sebagai perselisihan.

Agama menjadi hal yang sangat sensitif di kalangan masyarakat. banyak konflik yang muncul akibat permasalahan agama, masyarakat lebih mudah tersulut emosi mereka dengan hal-hal yang berbau keagamaan. Terutama di Negara Indonesia tercinta ini.

Melihat kondisi yang seperti ini tentunya menjadi sasaran yang sangat empuk bagi para pengadu domba. Namun sayangnya masyarakat indonesia kurang sadar akan hal ini. Sehingga mereka sudah tidak menghiraukan lagi makna persatuan yang menjadi ciri khas bangsa indonesia. Akar dari kekurang sadaran ini tentunya muncul akibat mereka selalu melihat perbedaan yang ada sebagai perselisihan. Sementara perbedaan adalah suatu kelaziman yang ada dari sejak manusia pertama kali bersosial. Jika kita selalu melihat pada perbedaan maka permasalahan yang ada bukan malah selesai namun menjadi lebih keruh.

Mereka melupakan bahwasanya persaudaraan bukan hanya dalam agama dan mazhab tertentu. Tentunya ini adalah pemaknaan yang sangat sempit dalam persaudaraan. Persaudaraan yang sebenarnya adalah sesama manusia. Mereka melupakan bahwa kita memiliki kesamaan yakni ketuhanan yang maha esa. Kesadaran akan perbedaan ini lah yang akan memersatukan kembali.

Maka dari itulah seminar syiar cinta ini digalakkan dengan tema “Studi Komparatif Tafsir Sila Pertama Pancasila”. Bertujuan memberikan pandangan kepada masyarakat yang berbeda agama agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam berpandangan terhadap agama lain.

Sosialisasi seperti ini bisa memberikan pengaruh yang nyata dalam penerapan berbangsa dan bernegara. Karena kebanyakan akar permasalahan adalah kesalahpahaman tentang agama yang berbeda dengan kita. pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan pandangan agama kristen berkenaan dengan pancasila sila pertama yakni ketuhanan yang maha esa.

Mungkin sebagian dari kita salah faham bahwa agama kristen meyakini tiga tuhan. Namun setelah kita menelusuri kebenarannya, ternayata mereka hanya menyembah satu tuhan. Yang menjadikannya tiga adalah kesalahpahaman manusia yang terbatas. Maka dari itu perlu bagi kita untuk berfikir dan menilai secara objektif.

Dalam ajaran Kristen Musa adalah nabi bukan Rasul. kita tidak bisa menyamakan perspektif Islam dengan Kristen. Karena perbedaan definisi maka beda pula pemaknaannya antara Islam dan Kristen. Kita harus objektif dalam memandang sesuatu permasalahan, misalkan dalam segi kerasulan dan kenabian ini.
Trinitas berasal dari kata Trias dan unitas dan Itu adalah 3 sifat Ilahi bapak. Banyak pemaknaan tentang bapak. Bapak yang dimaksud di sini bukanlah seseorang laki-laki sebagimana yang kita Gambarkan. Sebutan bapak dalam umat Kristen bukanlah Bapak laki-laki sebagaimana orang Islam yang menyebut Allah adalah sebagai anta dan huwa.

Tentunya kita memahami bahwa tidak ada satupun agama di dunia ini yang menafsirkan bahwa Tuhan adalah laki-laki termasuk Islam, Kristen, Yahudi bahkan Hindu dan Budha sekalipun. Dalam konsep agama Hindu dan Budha Ada sosok laki-laki dan perempuan namun itu bukanlah Tuhan itu sendiri melainkan jelmaan dari sifat-sifat Tuhan.

Dalam ketuhanan ada yang disebut dengan Firman Ilahi dan sumber Ilahi. Yang dimaksud disini jika bukan dalam pengertian bahwa Tuhan memiliki anak sehingga dia disebut Tuhan bapak. Umat Kristen menyatakan percaya pada satu Allah. Dalam bahasa Ibrani disebut juga sebagai iluhim nu’min biilahin wahid itu dalam pengertian umat Islam.

Dalam Kristen ada konsep one god atau konsep uluhiyah. Dalam konsep uluhian ini ini tidak ada seorangpun yang bisa melihat Allah. Dalam Yohanes ayat 18 menyatakan “bahwa Tidak seorangpun pernah melihat Allah”. Tuhan dalam konteks Yesus itu adalah Lord bukan ilah. Yesus disebut Allah itu karena dalam konteks firman Allah adalah Allah, janganlah kita terjebak pada pola-pola yang salah.

Orang kristen tidak pernah menuhankan Yesus sebagaimana manusia. Namun sebutan Tuhan di sini adalah junjungan. Yang disebut Allah adalah sang bapak, Yesus adalah FirmanNya Sang Bapak. Ada Firman yang kekal dan ada Firman yang temporal dalam bentuk manusia. Jikalau dalam pemahaman Husein Nasr al – Qur’an Lauhul Mahfudz ada yang berbentuk kertas dan ada yang berbentuk Abadi. Begitu juga dengan pemahaman kita terhadap Yesus sebagai Firman Allah Dan Allah sebagai bapak. Ilham disini diumpamakan sebagai Putra bukan sebagai anak yang lahir sebagaimana yang kita tahu, itu hanyalah kiasan untuk mendekatkan pemahaman kita tentang hal tersebut.

Sebagaimana seseorang melahirkan sebuah gagasan, gagasan bukan dimaknai sebagai kelahiran sebagaimana oleh orang yang hamil kemudian melahirkan seorang anak. ide yang saya lahir kan dari pikiran saya itu bukan berarti pikiran memiliki ibu sehingga dia bisa melahirkan seorang anak. Maka dari itu Nabi Isa lahir dari bapak yang tanpa ibu.

Konsep ajaran Kristen juga meyakini Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan sebagaimana yang islam yakini. Tuhan adalah gelar yang diberikan ketika Mesias turun ke dunia. Bukan dimaknai Tuhan sebagaimana Allah Sang Bapak. Tuhan artinya adalah tuan atau Lord dan bukan Allah. Pada hakikatnya semuanya adalah satu wujud. sebagaimana saya, roh saya dan perkataan saya.

Jika pikiran saya menjadi buku maka apakah buku itu termasuk saya? Iya itu adalah termasuk bagian dari saya secara terpisah, tapi dan saya telah menjelmakan diri saya menjadi buku. Bukan saya berubah sepenuhnya menjadi buku, ini adalah pendapat Katolik, Protestan, Ortodok, dan semua kristen sebelum terjadinya perpecahan. Namun yang kita lihat sekarang Bahwa gereja di barat mengalami banyak penafsiran yang bebas yang mana penafsiran tersebut disebabkan kesalah pahaman dan ketidak setiaan mereka terhadap sumber – sumber yang autentik. Yang autentuk inilah yang dinamakan dengan apostolic fathers atau tulisan tulisan yang berkaitan dengan Rasul langsung yakni dari murid Yesus.

Karena itulah mengapa kebanyakan orang yang tidak memahami dengan dalam agama kristen maka ia akan beranggapan bahwasanya kristen memiliki tiga tuhan.
Melihat penjelasan yang sedemikian jelasnya maka tentunya sudah tidak ada lagi yang beranggapan bahwasanya tuhan mereka adalah tiga. Namun tuhan mereka adalah esa sebagaimana islam yang meyakini bahwasanya tuhan adalah maha esa. Maka konsep ketuhanan yang dianut oleh agama kristen tentunya sesuai dengan Pancasila sila pertama. Demikian ulasan pendapat agama kristen semoga bermanfaat dan makin bisa membuka cakrawala kita sebagai umat yang toleran.

Khatamun nabiyyin, 15 Desember 2018.

Tinggalkan komentar