Oleh: Farham Rahmat
Santri Khatamun Nabiyyin
Salah satu wasiat politik Sayyidina Ali yang disampaikan kepada gubernur mesir Malik Al-asytar dalam kitab Nahj Al-Balaghah surat ke-53 “Wa Asy’ar Qalbaka Ar-Rahmata Lil Ra’iyyati, Wa Al-Mahabbata Lahum Wa Al-Luthfata Bihim, Wa La Takunanna Alaihim Sabu’an Dhoriyan Tagtanimu Aklahum, Fa Innahum Shinfani: Imma Akhun Laka Fi Ad-Din Wa Imma Nazhirun Laka Fi Al-Qhalki”.
Artinya “Buatlah hatimu merasakam kasih sayang kepada rakyat, dan cinta kepada mereka, dan bersikap lembutlah kepada mereka. Jangan sekali kali engkau menjadi binatang buas yang memakan semua yang ada pada rakyat. Sesungguhnya manusia dibagi dalam dua: yaitu saudaramu dalam satu agama, dan saudaramu sesama manusia dalam ciptaan.
Ada tiga kualitas yang digambarkan oleh sayyidina Ali yaitu pertama adalah Rahmah, yang kedua adalah Mahabbah dan ketiga adalah Luthf. Menjadi seorang pemimpin mempunyai Rahmah kasih sayang kepada Rakyatnya, dengan demikian akan memperhatikan aspek sosial dan keadilan.
Tingkatan selanjutnya yaitu mahabbah mencintai Rakyat, Cinta sudah sampai pada konsep peleburan antara aku dan kamu, Yang ada adalah Kita. Artinya Pemimpin merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Sehingga konsep cinta berujar “Pemimpin harus makan makanan yang paling rendah dari rakyatnya. Contoh sederhananya Pemimpin tidak boleh makan Pitza kalau masih ada rakyat yang makan hanya ikan asin”.
Kemudian tingkat yang paling tinggi adalah Luthfa atau lemah lembut. Bukan hanya sekedar menyayangi dan mencintai Rakyat melainkan dalam pergaulan sehari hari, pemimpin harus berlemah lembut tidak kasar, keras namun memberi kesejukan dihati Rakyat. Kelembutan ini datangnya dari hati, dan hanya bisa dicapai oleh orang yang sudah melewati batas rahmah dan mahabbah. Ketiga aspek inilah harus dimiliki oleh pemimpin untuk mencipta tatanan kemanusiaan yang harmoni.
Menjelaskan tiga aspek Sayyidina Ali menekankan pada gubernurnya bahwa jangan pernah berfikir bahwa saya adalah orang yang mendapatkan mandat dari pemerintah karena itu, saya memerintahkan dan kalian rakyat harus mengikuti saya, jangan sekali kali engkau menjadi serigala yang menerkam rakyatmu jangan mentang mentang kamu mendapatkan jabatan maka kamu terus merasa berhak ditaati oleh masyarakat.
Sayyidina Ali menggunakan kata kata yang sangat keras seperti Sabu’an Dhoriyan binatang buas, Alasannya sederhana, Karena sayyidina Ali ingin mencontohkan bahwa yang menindas rakyat pantas disebut srigala yang buas yang memakan hak rakyat .
Sekarang itu sungguh terjadi di negara kita, beberapa pejabat negara terlibat kasus korupsi. Kenapa gampang terjadi penyelewengan kekuasaan ? sebab kekuasaan cenderung untuk berkuasa dan menindas atau Sering kita sebut sebagai abuse of power, anda the power of corrupt.
Kemudian Sayyidina Ali membagi manusia dua bagian, Imma Akhun Laka Fi Ad-Din Wa Imma Nazhirun Laka Fi Al-Qhalki yaitu saudara sesama muslim dan saudara sesama manusia. Meskipun berbeda latarbelakang keimanan dan ideologi, ada juga suadara saudara kita yang sama dalam ciptaan. Sehingga hak kaum muslim dan hak kaum non muslim adalah setara.
Tidak ada perbedaan diantara keduanya dalam hal hak. Muslim dan non muslim secara wujud ciptaan tidak tinggi rendah karena dua duanya adalah Nadzirun Laka Fil Qholki, yaitu orang yang setara dengan kamu dalam ciptaan.
Sayyidina Ali melanjutkan “Yafrathu Minhum Az-Zalal, Wa Ta’ridu Lahumu Al-Ilal, Wa Yu’tha Ala Aidihim Fil Amdi Wal Khotho”. Apapun yang mereka lakukan karena boleh jadi mereka tergelincir melakukan kesalahan-kesalahan atau terjangkit penyakit penyakit, atau mungkin saja melakukan kesalahan karena sengaja atau karena tidak sengaja.
Pesan ini menegaskan bahwa terkadang mereka berbuat salah kepada sesama manusia lainnya baik itu dia orang muslim ataupun non muslim. Dari itu, Sayyidina Ali memberikan nasehat bahwa juga tidak kalah penting yang harus dimiliki oleh pemimpin adalah mempunyai sifat pemaaf.
Sebagai manusia biasa niscaya akan tetap ditempeli kesalahan dan kekhilafan. Dan suka memaafkan adalah kebiksanaan yang tepat dari seorang pemimpin.
Imam atau pemimpin dalam sebuah Negara kewajibannya harus mengeluarkan kebijakan yang terkait dengan kemaslahatan rakyat. Inilah yang disebut dengan sayyidina Ali dalam surat politiknya tentang rahmah, mahabbah dan luthfi.
Dan jadikanlah dirimu bukan serigala yang suka menggertak dan memerintah. Raja raja slelalu berkarakter seperti itu. Seperti yang terjadi pada pemimpin bani ummayah pada kepemimpinan mu’awiyah dengan landasan faham jabariyyah untuk melanggengkan kekuasaannya. Dengan logika statementnya adalah kekuasaan yang saya dapatkan adalah takdir dari Allah. Jadi kalian memberontak maka sama saja memberontak kepada Allah.
Dari sini muncul lah hasan al-bashri menentang faham itu, mengatakan bahwa takdir itu tidak ada, yang ada adalah ikhtiar murni dari manusia, sayangnya waktu itu faham demikian dinggap bid’ah. Lalu Hasan Al-Bashri dengan pantainya menjawab: Sengaja saya membuat bid’ah untuk melawan bid’ah nya Bani umayah.Bid’ah harus dilawan dengan Bid’ah.