
By: Farham Rahmat
Santri Khatamun Nabiyyin
Seorang penyair arab mengatakan “jika seorang ayah menginginkan masa depan anak perempuannya, maka dia harus berpikir tiga hal, pertama rumah yang akan memingitnya, kedua, suami yang akan menindasnya dan ketiga, kuburan, dan itulah yang terbaik baginya. Wanita dan naga lebih baik ditimbun dengan tanah sebagai alat penebus kehormatan, “menimbun perempuan adalah cara menjaga kehormatan” Dari syair tersebut, Allah dengan tegas memperingatkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl:59.
“Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”.
Fathimah adalah putri keempat dan termuda Nabi Muhammad, anak bungsu dari keuarga yang tak satupun anak laki laki Nabi Muhammad masih hidup. Padahal masa itu pertarungan suku sangat sengit dan bergantung kepada keturunan seorang putra sebagai penerus. Bisa kita analisis dari perilaku zaman jahiliah yang tidak menginginkan anak perempuan. Tradisi patriarka membudaya sehingga kehadiran putri Nabi menabrak system dan tradisi itu sembari mengangkat derajat perempuan dengan pesan-pesan revolusioner.
Keturunan laki-laki saat itu memainkan peran istimewa berdasarkan “kegunaan dan kebutuhan” prinsip social dan militer, sebab saat itu kepentingan suku sangat menguat dan saling bersaing. Teori sosiologi mengatakan bahwa keuntungan digantikan dengan nilai, punya anak laki laki adalah hakikat nilai tertinggi. Sebaliknya, punya anak perempuan justru merendahkan, karena identik dengan kelemahan dan perbudakan. Jadi logika sederhananya adalah “jika ingin memperbaiki tatanan social, satu satunya cara adalah membunuh bayi perempuan yang lahir. Karena bayi perempuan adalah noda masyarakat.
Unsur utama penyebab terjadinya fenomena ini adalah ekonomi, sederhana alasannya, laki-laki mencari nafkah, pendapatan (income) sementara perempuan yang menghabisinya, artinya pengeluaran (outcome), sehingga wajar kalau kaum laki laki menjadi dominan mendominasi dan menguasai, sementara perempuan yang dikuasai dan dimiliki. Ali syariati menyebutnya hubungan antara laki-laki dan perempuan seperti sawah dan pemilik sawah. Pemilik sawah memiliki keturunan, sementara sawah tidak berpotensi berkembangbiak pasti tidak berketurunan. Jelas bahwa rasa takut masyarakat arab saat itu wajar adanya dan sudah termasuk kategori keputusan yang bijak, sebab perempuan tidak memiliki daya guna sama sekali, termasuk ekonomi bahkan mencoreng nama baik keluarga.
Kelahiran Fathimah, memberangus mitos-mitos arab. Pertarungan suku yang mengizinkan demikian adanya. Dalam Nahj Al-Balaghah Sayyidina Ali memetakan suku yang berpengaruh di semenajung jazirah arab diantara beberapa suku yang ada. Ada tiga suku yang menonjol dan itulah yang mewarnai peta politik dakwah Rasuululah. Ketiga suku itu adalah Bani Ma’zhum dikenal bunga bunga harum quraish, kata-katanya menarik perempuan mereka indah-indah, disana ada abu jahal.
kedua adalah suku bani Abdi Syams, suku ini pendapatnya sangat cerdas, cara pandang yang luar biasa. Ahli strategi didukung oleh IQ yang bagus. Dan mereka sangat berhati-hati apa yang di punggung punggung mereka. Berusaha dan hati hati mengetahui apa yang tidak diketahui, disana ada abu sopyan, ayah muawiyah, kakek yazid. Terakhir Bani Hasyim, paling afzhal paling dermawan, apapun ditanganya pasti akan disedekahkan. Dan (asmah) paling mudah mempersembahkan kematian,( berani). Alhasil Allah memilih Warisan kenabian turun pada suku bani hasyim yaitu Muhammad. Sehingga beberapa kaum quraisy dari suku sebelah tidak suka dengan itu.
Ketika anak Nabi Muhammad (Qosim, Abdullah, Ummu kultsum, Ibrahim, Zainab, Ruqayyah ) semua meninggal dunia kecuali putri bungsu Fathimah Az-Zahra, mereka tertawa riang Karena anak Muhammad adalah perempuan, artinya tidak ada pelanjut dan pemberani serta penerus bani hasyim, ini diceritakan dalam surah Al-Kautsar. Nabi diolok-olok karena tidak mempunyai keturunan laki-laki sebagai pelanjut, Al-Qur’an membahasakan Al-Abthar (yang terputus).
Allah membalas olok-olok mereka dengan memberi hadiah Kepada Muhammad yaitu Al-Kautsar (Nikmat Yang banyak), Dan itu adalah Seorang Putri yang bernama Fathimah. Kemudian berkata bahwa bukan engkau (Muhammad) yang terputus, tetapi mereka. Qur’an Surah Al-Kautsar.
“Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.
Jakarta, 9 Februari 2019.